
Keesokan harinya, Arsen dan Olivia yang masih berada di Casa de Luca segera menghampiri Mia yang sudah duduk di meja makan. Mereka telah mendengar berita semalam dari Damiano. Begitu juga dengan Francesca. Semuanya tampak sangat mengkhawatirkan keadaan wanita itu.
"Apa yang terjadi, Mia? Bagaimana kau bisa menjadi sasaran penculikan pria tidak dikenal?" Francesca bertanya sambil terus mengisi piringnya. Pagi itu, dia akan sarapan di dalam kamar bersama Coco yang masih menjadi pasien di Casa de Luca.
"Entahlah, Francy. Aku rasa pria itu memang hanya seseorang yang memanfaatkan keadaan," sahut Mia. Sebenarnya dia tak ingin membahas lagi kejadian kemarin.
"Apa kau bisa mengingat ciri-ciri khusus dari pria itu, Mia?" tanya Arsen. Dia dan Olivia sudah terlihat rapi, karena rencananya mereka berdua akan pergi ke Piacenza untuk menemui kedua orang tua Olivia.
"Pria itu menutupi sebagian wajahnya dengan syal. Itu sangat aneh, karena ini musim panas," Mia terdiam sejenak dan tampak berpikir. "Aku rasa wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti orang Italia. Dia memiliki warna bola mata hijau, terlihat tajam tapi ... entahlah. Aku tidak terlalu memperhatikannya," ucap Mia lagi.
"Jangan paksakan dirimu, Sayang," ujar Adriano seraya mengenggam jemari Mia.
"Ya, itu lebih baik," timpal Arsen seraya memulai sarapan seperti yang lain.
......................
Sekitar satu jam perjalanan dari Brescia menuju Piacenza telah ditempuh oleh Arsen dan juga Olivia. Sepasang suami istri itu akhirnya tiba di sebuah perkebunan anggur, yang hampir sama luasnya dengan kebun di Casa de Luca. Setelah berjalan sebentar, mereka lalu berhenti di halaman sebuah bangunan dua lantai dengan jumlah kamar sekitar tiga puluh buah. Di dalam bangunan itulah, beberapa pekerja perkebunan tinggal, termasuk kedua orang tua Olivia. Sementara adik laki-lakinya berada di sekolah asrama.
Berhubung pernah mengantar Olivia beberapa waktu yang lalu, sehingga Arsen sudah tahu letak kamar yang dihuni mertuanya. Dia pun segera naik ke lantai dua, kemudian menuju ke tempat kedua orang tua Olivia berada.
__ADS_1
"Olivia," sambut Berta, sang ibunda. Wanita itu segera memeluk putri sulungnya. Sesaat kemudian, dia juga menyalami Arsen dengan ramah. Berta lalu mempersilakan putri serta menantunya untuk segera masuk.
"Di mana tuan Bellamy?" tanya Arsen setelah dia duduk di atas karpet yang melapisi lantai dingin kamar dengan ukuran 2x3 meter itu.
"Dia belum kembali dari perkebunan. Xaverio baru akan kembali pukul lima sore," sahut Berta, "Kalian ingin minum apa?" tawarnya kemudian.
"Tidak usah, Bu. Kami kemari hanya untuk menjemput kalian berdua. Bukankah Ibu dan ayah akan pindah ke Brescia dan bekerja di perkebunan Casa de Luca?" Olivia mengingatkan sang ibu dengan rencana yang pernah mereka bicarakan beberapa waktu lalu, saat berada di Yunani.
Mendengar ajakan dari putri sulungnya itu, Berta hanya dapat mengeluh pelan. Ibu dua anak tersebut tampak ragu dan juga merasa begitu terbebani. "Seperti yang sudah kukatakan kemarin-kemarin, Olivia. Ayahmu belum melunasi bunga dari pinjaman yang telah kami ajukan dulu kepada tuan Enzio Varoni. Kami belum memiliki uang sebanyak itu. Terlebih lagi, dalam bulan ini ada pemotongan upah dari pihak pengurus perkebunan yang entah untuk apa alasannya. Mereka melakukan hal itu secara sepihak," jelas wanita berambut hitam dengan scraff yang menutupinya dan terikat di bagian dalam rambutnya yang tebal.
"Sayang sekali," sesal Olivia yang terlihat sedih. Wajah cantiknya tampak murung setelah mendengar penuturan dari sang ibu. "Aku sudah melihat dan merasakan tinggal di Casa de Luca selama beberapa hari berada di Italia. Suasana di sana sangat jauh berbeda dengan di sini, Bu," jelas wanita muda itu tampak antusias. "Di Casa de Luca nuansa keakraban begitu terasa, karena tuan Damiano Baresi sebagai penanggung jawab di sana selalu mengedepankan kekeluargaan di atas segalanya. Berbanding terbalik dengan tuan Varoni. Cih! Aku masih belum lupa hingga saat ini, ketika dia memaksaku agar mau dicium olehnya," cibir Oliva. Dia yang selalu malu-malu dan juga bertutur kata lembut juga sopan, saat itu terlihat begitu kesal.
"Aku selalu berusaha untuk melawan dan menolak semua perlakuan dia. Namun, tidak menutup kemungkinan tuan Varoni melakukan hal yang sama kepada gadis-gadis yang lain di perkebunan ini," ujar Olivia seraya mengalihkan pandangan kepada suaminya.
"Pria seperti dia tidak boleh dibiarkan begitu saja. Varoni mengambil kesempatan dari kesusahan yang dialami oleh orang lain yang merupakan pekerjanya sendiri. Tidak adakah di antara para pekerja yang pernah mengajukan protes padanya?" Arsen tampak sudah gemas sekali terhadap tuan tanah yang tengah mereka bicarakan saat itu.
"Siapa yang berani melawan orang besar dan berkuasa seperti dia. Kami para pekerja terlalu takut. Namun, untuk pergi dari perkebunan pun rasanya begitu sulit. Kebanyakan dari warga di sini sangat bergantung dengan pekerjaan ini. Kami kesulitan menemukan usaha yang lain, karena itulah harus tetap memaksakan diri dengan apapun keadaannya," tutur Berta. Raut wajahnya terlihat sulit untuk diartikan. Ada penyesalan, kesedihan, dan juga rasa ingin memberontak dalam dirinya. Akan tetapi, semua itu nyatanya hanya ada dalam angan dia dan Xaverio saja.
Arsen berdecak kesal. Dia melirik Olivia untuk sesaat. "Aku ingin merokok dulu," ucap pria tampan itu seraya beranjak dari duduknya. Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, Arsen pun keluar dari dalam kamar tersebut. Sambil berdiri di dekat pagar pembatas, pria asal Yunani itu mengeluarkan rokok dari saku blazer. Dia mengambil sebatang kemudian menyulut rokok tadi. Asap tipis pun mengepul dari dalam mulutnya. Tatapan mata Arsen menerawang pada perkebunan anggur yang terhampar luas tak jauh dari bangunan itu. Dia lalu berjalan turun ke halaman. Arsen juga melanjutkan langkahnya menuju area perkebunan tadi.
__ADS_1
Sepasang mata milik pria berparas rupawan itu, terus bergerak menyisir setiap sudut yang dia lewati. Ada beberapa orang yang terus berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Namun, Arsen tak melihat keberadaan sang ayah mertua di sana. Sepertinya, Xaverio berada di bagian lain dari perkebunan tersebut. Sementara Arsen terus melangkah. Kira-kira seratus meter di hadapannya, dia melihat sebuah bangunan megah dengan banyak pilar dan bukaan. Arsen sempat tertegun sejenak. Dia lalu mendekat pada beberapa orang pria yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. "Permisi. Di mana aku bisa menemui tuan Enzio Varoni?" tanyanya dengan ramah. Kelihaian Arsen dalam memberikan image postif bagi lawan bicaranya, kembali dia perlihatkan kali ini.
Para pria itu seketika menoleh. Mereka memperhatikan pria tiga puluh dua tahun tersebut dari ujung kaki hingga ujung rambut. Penampilan Arsen yang rapi, menandakan bahwa dia bukanlah orang sembarangan. "Tuan Varoni biasa ada di kediamannya. Anda pergi saja ke sana," tunjuk salah seorang dari mereka, yang mengarahkan telunjuknya pada bangunan megah tadi.
"Oh, terima kasih, Tuan-tuan. Silakan lanjutkan pekerjaan Anda semua. Akan kukatakan kepada tuan Varoni, bahwa dia memiliki pekerja perkebunan yang sangat rajin dan terampil seperti Anda berenam," sanjung Arsen dengan senyuman lebar dan hangat di paras tampannya. Setelah itu, dia mengangguk sopan kemudian berpamitan untuk melanjutkan langkahnya.
Sambil terus menyusuri jalan setapak yang dia lewati, mata Arsen tak henti bekerja. Awas, tatapannya memperhatikan setiap detail dari lokasi sebagian perkebunan itu hingga akhirnya dia tiba di depan bangunan megah tadi yang merupakan kediaman Enzio Varoni, sang tuan tanah. Masih tetap terlihat tenang, Arsen mendekat pada pos penjagaan di dekat gerbang masuk.
Tampaklah seorang petugas keamanan yang segera menghampirinya, sebelum suami dari Olivia itu benar-benar mendekat. "Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanyanya. Wajah sangar dengan postur tinggi besar pria itu, telah mengingatkan Arsen pada sosok Benigno, yang merupakan orang kepercayaan Adriano di Italia.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Varoni," jawab pria asal Yunani itu dengan satu tangan di dalam saku celana panjangnya.
"Ada kepentingan apa Anda menemui tuan Varoni?" tanya petugas keamanan itu lagi penuh selidik. Wajar jika dia merasa curiga, karena baru kali ini dirinya melihat sosok Arsen di sana.
"Aku punya urusan bisnis dengan tuan Varoni. Namun, tentu saja akan kubahas langsung dengan dia. Kurang etis rasanya jika harus kujabarkan di sini," jelas Arsen tenang. Dia memberikan sebuah alasan yang terdengar sangat masuk akal.
"Oh, baiklah," petugas keamanan itu percaya begitu saja, terlebih ketika dia memeriksa tubuh Arsen untuk memastikan jangan sampai siapa pun tamu yang masuk ke sana membawa sesuatu yang berbahaya. "Silakan masuk. Ikuti saja jalan yang dilapisi dengan paving block itu. Di sana Anda akan bertemu dengan dua orang penjaga. Katakan saja pada mereka maksud dan tujuan Anda menemui tuan Varoni," pesan pria itu kemudian, sambil membukakan gerbang.
Dengan senyuman ramah, Arsen segera mengangguk sambil melangkah masuk.
__ADS_1