
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, sedangkan Mia tak dapat memejamkan mata sama sekali. Semalam suntuk dia menunggu Adriano memasuki kama, untuk sekadar memeluk erat dirinya seperti malam-malam yang biasa mereka lewati bersama. Namun, pria rupawan itu ternyata tak juga muncul di sana.
Gelisah, Mia bermaksud mencari keberadaan sang suami. Sebelum itu, dia menuju kamar Miabella terlebih dahulu. Untuk sejenak, Mia sempat terkejut ketika dilihatnya pintu kamar sang putri sedikit terbuka. Dengan terburu-buru, Mia masuk ke kamar itu dan mendapati Adriano tengah mengusap puncak kepala Miabella yang baru saja terbangun. “Adriano? Aku menunggumu semalaman. Ke mana saja kau?” tanyanya membuat pria tampan itu terkejut dan berbalik.
“Mia?” terlihat jelas sorot pilu yang ditampakkan Adriano. Akan tetapi, dia masih tetap memaksakan untuk tersenyum. “Aku masih ada pekerjaan. Sekarang pun belum selesai. Aku menyempatkan diri untuk melihat keadaan Miabella sebentar,” kilahnya kemudian. Adriano mendadak gugup ketika Mia berjalan mendekat. Wanita pujaannya itu selalu terlihat cantik, meskipun tanpa polesan make up sekalipun. “Aku permisi dulu,” ucap pria itu, ketika Mia hendak melingkarkan tangan ke tubuh atletisnya.
“Sampai nanti, Principessa,” Adriano melambaikan tangan untuk sesaat lalu meninggalkan ibu dan anak itu begitu saja.
“Tunggu, Adriano!” cegah Mia. Dia menyalip langkah suaminya, lalu berdiri menghalangi di ambang pintu. “Katakan padaku apa yang terjadi! Kenapa kau bersikap aneh seperti ini? Apa aku telah berbuat suatu kesalahan? Jika iya, maka segera katakan agar aku bisa mengerti dan memperbaikinya!” desak Mia tanpa jeda. Napasnya sampai terengah-engah.
Adriano terhenyak untuk sesaat. Wajah sedihnya semakin terlihat jelas. Akan tetapi, dia tetap tak berniat untuk mengatakan apapun. Rasa sesal dan bersalah kembali menyerang hatinya. Hal itu semakin membuat dia merasa tak pantas untuk menyentuh istrinya. “Perdonami (maafkan aku), Mia. Izinkan aku menyendiri untuk beberapa waktu. Kumohon padamu,” dia memberanikan diri menggenggam jemari lentik Mia, lalu mencium lembut punggung tangannya.
“Setidaknya jelaskan sesuatu padaku,” pinta Mia dengan sorot mengiba. Akan tetapi, Adriano tak menjawab sama sekali. Dia hanya tersenyum lalu meninggalkan Mia dan juga Miabella yang masih menatapnya dengan raut keheranan, saat memperhatikan sikap kedua orang tuanya.
“Apakah Daddy Zio sakit, Bu?” tanya Miabella dengan polosnya ketika Adriano sudah tak ada di sana.
“Sepertinya begitu, Sayang,” jawab Mia. Nadanya terdengar gamang. Dalam hati, dia menghempaskan semua angan-angan buruk dalam kepalanya, dan berusaha untuk tetap berpikir positif kepada Adriano. “Mungkin kita harus membuatkan Daddy Zio sesuatu agar dia kembali ceria,” tercetus ide dalam kepala Mia. Wanita itu mengangkat jari telunjuknya lalu menyentuh ujung hidung mungil Miabella.
“Aku suka itu, Ibu!” Miabella mengangkat kedua tangannya penuh semangat, membuat Mia tergelak melihat tingkah polah Miabella. Kelucuan sang putri, sedikit banyak dapat mengobati kegundahan hatinya.
Setelah memandikan dan merapikan Miabella, Mia lalu mengajak putri semata wayangnya ke dapur. Di sana, dia membuatkan sarapan untuk Miabella. Gadis kecil itu antusias memasukkan sesendok demi sesendok masakan buatan sang ibu. Sementara itu, Mia asyik membuat kue yang akan dia berikan untuk Adriano. Beberapa orang pelayan pun ikut membantunya, sehingga pekerjaan Mia bisa selesai dengan lebih cepat.
Kurang lebih satu jam, waktu yang telah dihabiskan oleh ibu dan anak itu di dapur, hingga kue yang dibuat telah selesai seratus persen. “Ayo, kita berikan kepada Daddy Zio,” ajak Mia pada putrinya.
__ADS_1
“Apakah boleh aku mencicipinya lebih dulu, Bu?” mata Miabella membulat. Balita itu terlihat seperti boneka.
“Tentu saja, Sayang. Nanti kita akan menyantapnya bersama-sama dengan Daddymu,” Mia mencubit pipi Miabella dengan gemas, lalu menggandengnya. Mereka berdua menyusuri lorong. Sementara Miabella terus bernyanyi riang sambil sesekali melompat-lompat kecil.
Sebenarnya, mansion milik Adriano menyediakan lift. Namun, Mia lebih memilih untuk berjalan kaki menuju lantai terbawah bangunan megah tersebut, tempat di mana ruang kerja suaminya berada. Sesampainya di sana, Mia menempelkan ibu jari pada kunci otomatis untuk dipindai. Akan tetapi, ternyata aksesnya ditolak. Wanita itu mengernyitkan kening karena keheranan. Dia mencobanya sekali lagi, tapi tetap saja gagal. “Apa mungkin jika alatnya rusak,” pikir Mia. Tak putus asa, dia hendak mencoba menempelkan sidik jarinya lagi, ketika sapaan seseorang membuat ibu satu anak itu menoleh.
“Apa ada yang bisa kubantu, Nyonya?” tawar pria yang tak lain adalah Pierre.
“Ah, iya. Aku tidak bisa membuka kuncinya. Apa alatnya tidak berfungsi?" jawab Mia. Sementara Miabella bergerak mundur dan bersembunyi di balik tubuh ramping sang ibu.
“Itu karena Tuan Adriano sudah mengganti aksesnya, Nyonya,” jelas Pierre dengan agar ragu.
“Mengganti?” Mia menggeleng tak mengerti, membuat Pierre jadi serba salah karenanya
“Mungkin tuan D'Angelo akan menggantinya dengan kunci otomatis yang baru,” ujar pria itu lagi.
“Nyonya, tuan tidak bermaksud untuk ….”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku mengerti,” Mia memotong kalimat ajudan kepercayaan Adriano begitu saja sambil tersenyum getir. Dia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dengan bersikap ramah dan biasa saja.
“Berikanlah tuan D'Angelo waktu, Nyonya. Itu saja yang bisa kusarankan kepada Anda,” ucap Pierre hati-hati.
“Apa itu artinya, Bu?” sela Miabella. Suaranya lirih terdengar dari balik tubuh Mia.
__ADS_1
“Artinya, Daddy Zio sedang sibuk, Sayang. Kau ingin mencicipi kue ini, ‘kan? Kita bisa memakannya di taman samping,” hibur Mia.
“Apa kita tidak menunggu Daddy Zio saja?” tanya gadis kecil itu agak kecewa.
Mia mengela napas panjang, kemudian menggeleng pelan. “Besok pagi akan kita buatkan yang baru untuk Daddy Zio, ya,” bujuknya lagi. Mau tak mau, Miabella mengangguk saja walaupun jelas tersirat rona kecewa di wajah imutnya. Dia juga menurut ketika sang ibu menggandeng tangan mungilnya menuju taman.
Semua yang dilakukan oleh ibu dan anak itu tak lepas dari perhatian Pierre. Pria itu terus menatap lekat ke arah mereka sampai sosok keduanya tak lagi terlihat. Sesaat kemudian, dia membuka kunci otomatis menggunakan sidik jarinya. Pierre sepenuhnya mengerti kenapa Adriano menghapus akses Mia. Dia melakukan semua itu semata-mata demi menghindari sang istri, entah sampai kapan dan untuk berapa lama.
“Apa Anda mendengar percakapan kami di luar tadi, Tuan?” tanya Pierre setelah dirinya berhasil membuka pintu dan masuk ke ruang kerja itu. Matanya lurus memperhatikan Adriano yang tengah berdiri dan menyandarkan bahunya pada rak buku raksasa di sisi dinding. Pria itu menatap nanar ke arah botol plastik kosong yang berada dalam genggamannya.
“Anda terlihat sangat kacau,” ujar Pierre karena Adriano sama sekali tak menanggapi pertanyaannya.
Memanglah benar, Adriano tampak kacau saat itu. Rambut yang biasa tersisir rapi, kini terlihat acak-acakan. Kancing kemeja putihnya pun terpasang asal-asalan. Adriano lalu menaruh botol plastik tadi ke dalam rak, kemudian melipat lengan kemeja hingga ke siku. Dengan gontai, dia berjalan menuju meja kerja dan duduk di kursi kebesarannya. “Aku masih belum siap bertemu dengan Mia,” ujar Adriano pelan.
“Ternyata sisi lemah Anda ada pada istri Anda,” Pierre terkekeh, lalu mengambil tempat duduk di hadapan Adriano. Mereka berdua terpisahkan oleh meja kerja mewah yang terbuat dari kayu mahoni berkualitas istimewa. “Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya? Apa Anda akan terus melanjutkan penyelidikan tentang pembunuhan Matteo de Luca?” tanyanya.
“Tentu saja," jawab Adriano dengan segera. "Aku harus menyelesaikan semua dan membalaskan dendam Mia, karena hanya itulah yang bisa kulakukan untuk membayar rasa bersalahku, meskipun itu terasa amat kurang,” Adriano menunduk dan mengela napas dalam-dalam.
“Kita tahu bahwa itu semua bukan tanggung jawab Anda,” ucap Pierre meyakinkan.
“Tentu saja ini semua tanggung jawabku. Aku yang pertama kali masuk dalam kehidupan mereka. Aku yang mengenalkan Matteo kepada Sergei,” kali ini Adriano memalingkan wajahnya kembali pada rak kaca, di mana dia baru saja menyimpan botol kenangan dari Mia.
“Semuanya didasarkan pada niat awal, Tuan. Bukankah Anda mengatakan bahwa sudah mengurungkan niat untuk membalas dendam terhadap Matteo de Luca?”
__ADS_1
Adriano menggeleng, lalu tertawa saat menanggapi kalimat bernada pertanyaan dari Pierre. Dia terdiam sejenak. Sesaat kemudian, pria bermata biru itu kembali berkata, “Aku merasa tak pantas berada di samping Mia. Karena akulah yang secara tidak langsung telah merenggut kebahagiaannya.” sesal Adriano.
“Apa yang Anda katakan tidak sepenuhnya benar, Tuan. Dulu, mungkin kebahagiaan nyonya ada pada Matteo de Luca. Akan tetapi, kini justru sebaliknya, Anda merupakan seseorang yang menjadi alasan dia untuk tersenyum ceria” tegas Pierre.