
Sekitar dua puluh menit berada di perjalanan, akhirnya mereka tiba di kawasan tepi pantai. Di sana hanya ada beberapa rumah. Namun, semuanya tampak sepi dan seakan tak berpenghuni. Suasana pun terlihat begitu lengang.
“Marcus Bolt. Dia berada di rumah paling ujung,” tunjuk Genaro.
"Apa kau yakin?" tanya Adriano sedikit ragu.
"Coba saja," jawab Genaro sambil mengerutkan alisnya.
“Baiklah. Ayo, Mia. Ikutlah denganku," ajak Adriano lembut. Suami istri itu turun dari kendaraan dan berjalan menuju rumah yang dimaksud. Dia terlihat sangat tenang. Lain halnya dengan Mia yang tampak ragu dan bahkan mungkin merasa was-was. Karena itulah, Mia tak berani untuk berada jauh dari sang suami.
Adriano mengetuk pintu rumah tersebut dengan pelan dan tentu saja tetap memasang sikap waspada. Terlebih ketika
pintu itu terbuka. Tampaklah seorang laki-laki berambut ikal dan bertubuh sedikit tambun, keluar dari sana. Rambut pria itu mengingatkan Mia kepada Coco.
“Hai, apa aku bisa bertemu dengan Marcus Bolt?” tanya Adriano dalam bahasa Inggris.
“Ya, aku Marcus. Siapa kalian? Ada perlu apa?” tanyanya penuh selidik.
“Namaku Adriano, dan ini istriku Mia. Kedatangan kami kemari terkait dengan informasi yang kau muat di laman internetmu,” jelas pria bermata biru itu.
“Laman internet?” tanya Marcus tak mengerti.
“Ya, tentang seluk beluk senjata,” jawab Adriano.
Pria itu membelalakkan matanya dan tersenyum lebar. “Kau membaca websiteku?” serunya bangga. Dia terlihat senang.
“Ya, dan aku sangat tertarik dengan isinya,” ujar Adriano sambil tersenyum kalem. "Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Adriano lagi dengan sikap yang seramah mungkin.
“Oh, tentu. Masuklah, come in! Kalian dari mana?” Marcus mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamunya yang mungil.
“From Italy!” Adriano mengulurkan tangannya.
“Italy?” lagi-lagi pria itu tampak terkejut.
“Apa kau mengenal mendiang suamiku? Matteo de Luca?” tanya Mia begitu saja, tanpa basa-basi.
Pria itu terdiam sejenak dan memandang mereka berdua penuh arti. “Matteo de Luca?” gumamnya. Marcus kemudian terlihat berpikir sejenak.
“Tujuan kami kemari adalah untuk menanyakan salah satu senjata yang kau muat di websitemu. Itu adalah senjata rakitan buatan khusus dari Matteo de Luca. Kau menjabarkannya dengan sangat bagus, seakan-akan kau sudah pernah memegangnya secara langsung,” terang Adriano.
__ADS_1
“Jadi, kau istri Matteo? Mm-maksudku, dulunya? Aku turut berduka cita atas kematian yang sangat tragis,” ucap Marcus sebelum dirinya memberikan penjelasan yang Adriano inginkan.
“Jadi, kau mengikuti beritanya?” Adriano mencondongkan badan dengan raut serius.
“Well, aku adalah penyuka senjata. Aku bahkan mengoleksi banyak tipe senapan laras panjang,” ungkap Marcus. “Eh, jangan salah. Aku hanyalah kolektor, tapi aku tak bisa menggunakannya,” Marcus terkekeh sampai memperlihatkan deretan giginya.
“Salah satu jenis senapan favoritku adalah senapan rakitan jenis baru yang hanya ada satu-satunya di dunia. Aku memilikinya dan menyimpannya di ruang rahasiaku,” jelas Marcus bangga.
“Oh, ya? Lalu, bagaimana kau bisa mendapatkannya? Senjata itu tidak dijual secara bebas,” selidik Adriano. Sedangkan Mia lebih memilih untuk diam, mendengarkan dan menyimak obrolan kedua pria itu.
Marcus termenung sesaat. Dia seperti menimbang apa yang akan diucapkan selanjutnya sebelum menjawab, “Sejujurnya, aku bisa mendapatkan senjata-senjata itu dipasar gelap. Melaui dark web,” jawab Marcus ragu dan setengah berbisik.
“Dark web? Mendiang suamiku tak pernah menjualnya sembarangan. Dia hanya menyalurkannya melalui satu orang rekannya,” sela Mia.
“Sergei Redomir! Apa kau pernah mendengar nama itu?” sambung Adriano. Pikirannya langsung tertuju pada pria asal Rusia tersebut.
Marcus menggeleng yakin. Dia lalu menyandarkan punggungnya di sofa sambil bersedekap. “Never heard of it,” ucapnya lugas. Sedangkan Mia dan Adriano saling pandang. Mata mereka memancarkan kebingungan yang teramat sangat.
“Setahuku, karena senjata Matteo yang terjual bebas itu, banyak pihak yang menjadi murka,” tutur Marcus.
“Maksudnya?” sahut Adriano dan Mia secara bersamaan.
“Para mafia dan produsen senjata di sini terancam dengan keberadaan senjata yang sangat luar biasa milik Matteo. Bisa-bisa, senapan mereka tak laku. Apalagi harga senapan Matteo jauh lebih murah,” Marcus kembali terkekeh.
“Tidak mungkin. Setahuku Matteo tak pernah menjual senjata hasil rakitannya secara sembarangan. Dia hanya menjual sesuai pesanan,” sanggah Adriano cukup tegas.
“Namun, buktinya barang-barang itu ada dan terjual bebas di dark web!” elak Marcus yakin dan mematahkan ucapan tegas Adriano.
“Kalau begitu, kau harus menanyakannya pada Sergei Redomir, Adriano!” ucap Mia penuh penekanan.
“Ehm, sepertinya bukan nama itu yang harus kalian khawatirkan,” sela Marcus.
“Lalu, siapa?” tanya Mia sembari mere•mas ujung dressnya.
“Di benua Amerika ini, orang-orang tak boleh menjual senjata secara ilegal. Kalaupun mereka melakukan jual beli dengan cara seperti itu, mereka harus melalui tahapan dan persetujuan dari pihak tertentu. Dalam kasus Matteo de Luca, sepertinya senjatanya diedarkan tanpa melalui prosedur yang benar, sehingga membuat ‘pihak tertentu’ itu menjadi tersinggung dan murka,” terang Marcus panjang lebar.
“Siapa yang kau maksud sebagai 'pihak tertentu' itu?” Adriano mengernyitkan keningnya.
“Penguasa rimba Amerika,” bisik Marcus. “Mereka yang menguasai dunia hitam dan jalur perdagangan barang-barang ilegal. Kurasa, kematian Matteo de Luca juga ada hubungannya dengan itu," terka Marcus.
__ADS_1
Mia hanya dapat menundukan wajahnya. Segala sesal, sedih dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
“Satu lagi,” Adriano kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto dari balik blazernya. Foto-foto itu menunjukkan gambar peluru dengan berbagai tipe.
“Ini adalah empat foto peluru dari jenis senapan berbeda yang ditemukan bersarang di tubuh Matteo. Apa kau bisa mengenalinya? Kira-kira itu adalah peluru dari senapan apa?” tanya Adriano.
“Hmm,” Marcus mengamati foto-foto itu satu persatu. “Aku mengenali dua di antaranya.”
Mia segera mendongak. Tak sabar dia menunggu penjelasan dari pria itu.
“Dua peluru ini biasa digunakan untuk senapan khusus sniper. Senapan laras panjang yang biasa dikhususkan di medan perang, tapi ....” Marcus menjeda kata-katanya.
“Tapi apa?” Adriano dan Mia makin tak sabar.
“Senapan laras panjang pemilik peluru ini, bukan milik tentara asli. Dia adalah milik tentara bayaran. Mungkin kalian bisa menyebutnya sebagai pembunuh bayaran,” penuturan Marcus membuat Mia lemas.
Adriano segera mengusap punggung Mia untuk menguatkan.
“Seperti yang kukatakan. Banyak yang tak suka dengan beredarnya senjata Matteo di Amerika, sehingga menurutku ada seseorang atau satu kelompok yang menyewa pembunuh bayaran ini untuk mengeksekusinya,” ujar Marcus.
“Ada berapa banyak pembunuh bayaran di dunia ini?” keluh Adriano. Terlalu sulit baginya untuk menelusuri. Bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.
“Banyaknya pembunuh bayaran jelas tak terkira. Namun, pembunuh bayaran yang memiliki peluru semacam ini, hanya ada dua orang di dunia,” lirih ucap Marcus.
Harapan kembali muncul dalam diri Adriano. Mata biru pria itu kembali berkilat. “Siapa namanya?” tanyanya.
“Salah satunya, bisa dihubungi melalui sebuah link khusus. Aku akan memberikannya padamu nanti. Sementara yang lainnya, kau tidak akan menemukan jika bukan dia sendiri yang bersedia untuk menemuimu,” jawab Marcus.
“Aku ingin namanya,” tekan Adriano yang mulai kehilangan kesabaran.
“Aguila de la Selva (Elang Rimba),” tutup Marcus.
🍒
🍒
🍒
Hi, reader. Yuk, mampir lagi di novel yang sengaja ceuceu rekomendasikan ini. Pqsti seru lho😉
__ADS_1