
"Tuan, sakit sekali ...." rintih Olivia ketika pria itu terus memaksakan dirinya untuk menerobos masuk, serta mengoyak tirai kesucian yang selama ini Olivia pertahankan. Tak pernah disangka, jika kebanggaannya akan sirna di tangan pria brengsek seperti Arsen dan dengan cara seperti itu. Olivia terus merintih dan meringis kesakitan ketika pada akhirnya Arsen dapat mengemaskan napas berat penuh kepuasan. Pria tersebut tampak begitu menikmati perjuangan besar yang telah dilakukannya sejak tadi, hingga akhirnya dia dapat menguasai permainan dengan sempurna.
Arsen tak memedulikan isakan pelan yang terus meluncur dari bibir Olivia. Pria itu terus memacu dirinya di atas tubuh gadis malang tak berdosa yang sudah tidak berdaya. Dia bahkan sempat membekap mulut gadis tersebut. "Diam dan nikmati saja," seringainya. Setelah itu, pria tersebut melepas t-shirt round neck yang dia kenakan, kemudian melemparnya entah ke mana. Kini, tampaklah tubuh dengan lengan bergelombang dan dihiasi beberapa tato.
Tak puas hanya melepas pakaiannya, Arsen pun membuka kancing blouse yang Olivia kenakan dengan sekali tarikan, hingga bagian depan pakaian itu tersibak sempurna. Seketika dia melihat sesuatu yang masih tampak padat, begitu indah dan pastinya belum terjamah siapa pun. Arsen menaikkan sepasang cup dengan hiasan pita yang menutupinya. Seringai jahat pria itu kembali muncul, ketika dirinya dapat menyentuh dan memainkan sesuatu yang selama ini selalu tertutup rapat, di balik blouse-blouse sederhana yang selalu Olivia kenakan setiap harinya.
Gadis muda berambut hitam itu masih terisak pelan, ketika Arsen terus menjamah setiap bagian-bagian penting dari tubuhnya yang sudah tak berdaya. "Seorang perawan memang sangat berbeda rasanya," bisik pria itu dengan suara berat dan napas yang menghangat di telinga Olivia.
"Kau ... kau sangat keterlaluan ...." Olivia masih terisak. Jangankan untuk menikmati aktivitas panas itu, dia justru malah teringat pada kedua orang tuanya. Pilu dan merana bertahta, menjadikan sebuah kemarahan yang luar biasa dalam diri gadis desa yang masih lugu itu. Namun, Olivia tak kuasa untuk melawan. Dia hanya terdiam membiarkan Arsen menuntaskan semua hasratnya, hingga pria itu terkulai dengan napas terengah-engah di atas tubuh yang sudah terlihat lemah.
Beberapa saat, Olivia membiarkan Arsen yang setengah sadar terkulai di sana. Namun, tak lama kemudian segera disingkirkan tubuh pria yang sudah melakukan kejahatan besar, dengan merenggut harga diri dan kehornatan. Dua hal yang selama ini menjadi satu-satunya harta dan kebanggaan gadis itu. Olivia kembali terisak. Rasa sakit di area tertentu dari tubuhnya, tak seberapa jika dibandingkan dengan perasaan malu dan hina yang kini mendera dengan begitu luar biasa.
Perlahan Olivia bangkit. Di dekat pangkal pahanya, tampak bercak darah yang tidak terlalu banyak. Isakan pelan gadis itu kini berubah menjadi sebuah tangisan pilu. Dia lalu menurunkan bra yang masih menempel di tubuh. Sehabis itu, Olivia kemudian menarik blouse dengan kancing yang telah terlepas, hingga kembali menutupi bagian dadanya. Dia juga merapikan rok bermotif floral yang tadi tersingkap sempurna.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan segenap tenaga serta menahan rasa perih yang masih mendera, Olivia kemudian berdiri. Gontai dia melangkah ke arah pintu dan memutar pegangannya. Sebelum benar-benar keluar, Olivia sempat menoleh kepada Arsen yang saat itu sudah tertidur dalam keadaan telentang dengan resleting celana yang masih terbuka. Dia tak ingin memedulikan apapun lagi. Gadis malang itu bergegas keluar dari sana. Olivia berharap tak ada seorang pun yang melihatnya. Dia langsung menuju kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
......................
Keesokannya, Arsen membuka mata dengan perlahan ketika dia mendengar suara nyaring dari sebuah panggilan yang masuk ke nomornya. Pria itu bangkit dan terduduk untuk sejenak sambil mengumpulkan kesadaran. Kepalanya terasa begitu berat. Selain itu, dia juga teramat lelah. Untuk sejenak, pria asal Yunani tadi mengernyitkan kening, ketika melihat resleting celana jeans yang dia kenakan dalam keadaan terbuka. Namun, karena suara nada dering itu terus berbunyi, membuat Arsen akhirnya mengabaikan hal tersebut. Sial, entah di mana dia meletakkan ponsel itu. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya dia dapat menemukan benda tersebut yang tergeletak begitu saja di lantai. Arsen segera memungut dan menjawab panggilan yang ternyata berasal dari Adriano. "Parakalo," sapanya dengan suara parau.
"Apa kau baru bangun?" terdengar suara balasan dari seberang. Adriano sudah dapat menebak bahwa Arsen pasti minum banyak semalam, karena sudah menjadi kebiasaan pria itu untuk bangun siang jika dia sudah berpesta semalaman. Sedangkan, Arsen akan terbangun pagi-pagi sekali, apabila dirinya tidak melakukan hal tersebut.
"Bagaimana Adriano?" Arsen tak menanggapi pertanyaan sang rekan. Terlebih, karena saat itu tanpa sengaja tangannya memegangi sesuatu yang membuat rasa kantuknya sirna seketika. Pria tampan itu mengernyitkan kening seraya mengambil benda berbahan spandek dengan warna merah muda tadi. Dia lalu menggenggamnya. Dalam ingatannya samar terbayang apa yang dia lakukan semalam, meskipun tidak begitu jelas.
"Oh, ya tentu. Aku ...." Arsen tak sempat melanjutkan kata-katanya, ketika dia melihat bercak darah di atas sprei. "Baik, Adriano," ucapnya kemudian seraya menutup sambungan telepon. Dia tak peduli meskipun saat itu Adriano terdengar bicara sesuatu, yang segera terpotong. Ditatapnya untuk sejenak noda merah itu. Arsen pun mengempaskan napas dalam-dalam, seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia meraup kasar wajah tampan yang kini tampak gusar.
Sesaat kemudian, pria itu bangkit dan melangkah ke dekat pintu. Dia lalu memungut sebuah botol plastik berisi air putih yang tergeletak tak jauh dari sana. Arsen lalu meletakkan botol itu di atas meja sebelah tempat tidur bersama pakaian dalam berwarna merah muda tadi. Sejenak, pria tampan tersebut mengempaskan napas pelan. Barulah dirinya memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian, Arsen yang telah selesai berpakaian rapi segera keluar. Dia berjalan menuju kamar Olivia dan berdiri di depan pintu. Diketuknya dengan perlahan pintu tersebut. Akan tetapi, tak ada tanggapan dari dalam kamar gadis malang itu. Sekali lagi, Arsen mengetuk pintu kamar Olivia dengan jauh lebih keras. Akan tetapi, masih tetap tidak ada tanda-tanda gadis itu hendak membukanya. Arsen lalu memutar gagang pintu yang terkunci dan menggerak-gerakkannya dengan agak kencang. "Olive, buka pintunya!" panggil Arsen dengan tidak terlalu nyaring. Namun, tetap tak ada respon sama sekali dari si penghuni kamar tersebut. Ketika dia bermaksud untuk kembali memanggil gadis manis itu, tiba-tiba suara dering ponsel berhasil menghentikan niatnya.
Panggilan dari nomor Adriano kembali masuk. Tak ada pilihan lain bagi pria itu. Dia segera menjawab panggilan tersebut. "Kau di mana? Jangan katakan jika saat ini masih tidur," tanpa berbasa-basi, Adriano membuka percakapan mereka.
"Aku sudah siap. Apa kau sudah tiba?" tanya Arsen sedikit lesu. Sebagai seorang cassanova bermulut manis dengan pembawaan ramah dan terkesan selalu ceria, sikapnya kali ini memang tampak sangat jauh berbeda.
Adriano mengatakan bahwa dirinya telah tiba di mansion dan menunggu Arsen di ruang bermain billiard. Pria tampan itu pun meninggalkan koridor dan berjalan menuju tempat di mana Adriano telah menunggunya.Namun, dia kembali tertegun ketika berpapasan dengan Mia dan juga Miabella yang terlihat begitu ceria.
"Aku ingin segera bertemu dengan bibi berambut hitam," ucap Miabella antusias. Gadis kecil tersebut berlari sambil melompat-lompat mendahului Mia yang tengah membalas sapaan dari Arsen.
"Selamat datang, Mia. Bagaimana Inggris?" tanya Arsen berbasa-basi.
"Luar biasa. Kapan kau datang kemari?" Mia balik berbasa-basi.
__ADS_1
"Ini hari keduaku di Monaco," jawab Arsen. "Permisi, Mia. Aku harus menemui Adriano," Arsen pun melanjutkan langkahnya. Namun, pria itu sempat kembali tertegun, ketika mendengar suara Miabella yang memanggil nama Olivia. Dia menoleh untuk sesaat, sebelum melanjutkan langkah dan berlalu.