Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Esplorare


__ADS_3

Adriano dan Coco masing-masing menyeret satu jasad ke arah belakang gedung, lalu meletakkan mayat-mayat itu di dekat bak sampah persegi berukuran besar. Dengan cekatan, mereka melucuti seragam mayat-mayat tadi. Setelah melepas seragam yang mereka pakai, kedua pria tersebut lalu membuangnya ke dalam bak sampah, Adriano dan Coco pun mengganti seragamnya dengan yang baru. Tak lupa, mereka juga memasang gelang perak tadi ke pergelangan tangan masing-masing.


“Apakah kita akan meninggalkan jasad ini begitu saja?” tanya Coco.


Adriano berpikir sejenak sebelum menjawab, “Kita buang ke tempat sampah saja sekalian.”


“Ide yang bagus!” Coco menjentikkan jarinya, kemudian membungkuk dan mencoba mengangkat satu mayat, dibantu oleh Adriano. Mereka lalu beralih pada mayat yang lain. Setelah selesai, Adriano dan Coco kembali ke bagian depan gedung sembari menenteng senjata, memakai seragam bercorak hitam milik kedua penjaga yang telah berhasil dilumpuhkan. Adriano terdiam sejenak sambil mengamati pintu geser yang ada di hadapannya.


“Pintu ini terkunci, Amico. Mungkin cara membukanya adalah dengan menempelkan gelang barcode ini pada kotak itu,” ucap Coco seraya menunjuk kotak kecil dari baja, yang menempel pada dinding samping pintu.


Adriano pun mencoba mendekatkan gelang barcode itu ke kotak baja yang Coco maksud, hingga terdengar bunyi yang mirip dengan suara bel. Tak lama kemudian, pintu yang terbuat dari kaca tebal itu bergeser lalu terbuka lebar. “Ayo!” ajaknya pada Coco seraya kembali memakai masker hitamnya dan diikuti oleh Coco. Mereka berjalan menyusuri ruang demi ruang di lantai dasar.


Di dalam gedung itu, banyak sekali orang-orang dengan jas lab berwarna putih yang sedang berlalu lalang. Mereka semua tampak sibuk menuju tempat masing-masing. Adriano juga sempat mendengar mereka bercakap-cakap. Akan tetapi, mereka sepertinya bukan merupakan bagian dari tentara bayaran seperti yang berada di luar tadi.


“Tempat apa ini?” gumam Coco pelan. Namun, belum sempat Adriano menjawab, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dia menoleh dengan sikap waspada sambil mengokang senjata. Begitu pula dengan Coco. Mereka berdua akhirnya bernapas lega ketika menyadari bahwa seseorang itu hanyalah wanita paruh baya memakai jas lab yang tengah membawa sebuah ipad. Wanita itu mengatakan sesuatu yang tidak dapat Adriano pahami. Bahkan Coco sampai harus menggelengkan kepalanya berkali-kali dan menggerakkan tangannya sebagai tanda tak mengerti.


Wanita itu kembali mengucapkan sesuatu sembari menarik-narik tangan Adriano dan membawanya berjalan cepat melintasi lorong panjang, kemudian berhenti di sebuah pintu. Wanita tadi mengisyaratkan agar Adriano dan Coco masuk ke dalam sana. Tak ada pilihan, Coco pun menurut. Dia membuka pintu itu lebar-lebar. Tampaklah ruangan luas semacam laboratorium yang penuh dengan peralatan kimia. “Apa ini?” gumam Adriano sambil melirik kepada wanita tersebut.


Wanita paruh baya tadi malah mengernyit keheranan. Dia menjawab dengan mengulurkan tangan ke arah lemari kaca. Setelah membukanya, dia mengeluarkan tabung-tabung kecil berisi seruk putih dan kembali mengatakan sesuatu dalam bahasa asing.

__ADS_1


“Nyonya Ilena bermaksud untuk melaporkan pada kalian bahwa morfin hasil rekayasa kimia berakibat fatal pada obyek percobaan. Banyak para pemakai yang berada di Gedung Utara menjadi keracunan dan meninggal,” ujar seseorang dalam bahasa Inggris dengan tiba-tiba.


Adriano dan Coco segera menoleh ke arah suara. Seorang wanita muda yang juga memakai jas lab, berdiri kaku dan menatapnya. Sorot matanya menunjukkan ketakutan. “Tolong laporkan pada tuan Nenad jika obyek percobaan membutuhkan bantuan medis. Kita harus membawa mereka keluar dari sini,” terang wanita itu lagi.


“Di mana kami bisa menemukan tuan Nenad?” pancing Coco hati-hati.


“Jika kalian saja tidak tahu, bagaimana denganku? Apakah kalian angkatan baru di sini?” wanita itu malah balik bertanya dengan penuh selidik. Sedangkan wanita paruh baya yang dipanggil dengan nama nyonya Ilena tadi hanya diam dan tampak kebingungan.


“Angkatan baru?” ulang Coco seraya mengernyitkan kening.


“Ya. Setiap tiga bulan sekali, tuan Nenad selalu merekrut tentara baru untuk menggantikan yang lama,” jelas wanita itu lagi. “Bos besar kalian itu tidak pernah mau ditemui secara langsung. Kami harus menyampaikan laporan melalui orang-orang sepertimu,” keluhnya.


“Katakan padanya bahwa aku sudah mengirimkan rincian data melalui email!” seru wanita itu dari kejauhan. Sementara langkah Adriano dan Coco semakin cepat. Apalagi ketika dirinya melihat anak tangga menuju ke lantai berikutnya.


“Sepertinya Nenad itu seorang psikopat, Amico. Dari tadi aku tak melihat lift sama sekali. Bagaimana mungkin dia membangun gedung setinggi ini tanpa lift,” sungut Coco.


“Sepertinya ini bangunan lama. Aku melihat area ini dipenuhi oleh gedung-gedung dan rumah-rumah tua yang memang sengaja ditinggalkan," jelas Adriano menanggapi.


“Tetap saja terasa konyol. Nenad pasti memiliki banyak uang. Dia bisa membangun bagian dalam gedung ini dengan menambahkan lift,” gerutu Coco sambil terus bergerak menaiki tangga satu per satu, hingga mereka tiba di lantai dua. “Ruangan apa lagi?” decaknya tak percaya.

__ADS_1


Adriano memperhatikan sejenak lorong panjang di depannya. Di sana hanya ada beberapa pintu. Semua pintu itu pun berbentuk dan berwarna sama, tanpa terdapat penanda sama sekali. “Gunakan instingmu. Pilihkan satu pintu untukku, Ricci,” suruhnya pelan.


Coco maju dan membuka salah satu pintu secara asal. Dia berdiri di ambang pintu tersebut, dan menunggu Adriano masuk terlebih dulu. Barulah setelah itu dia mengikuti sambil menutupnya kembali. Kali ini mereka melihat ruangan yang penuh dengan layar monitor dalam berbagai ukuran. Di sana juga terdapat satu meja besar yang memanjang. Seluruh permukaannya tertutup oleh tombol-tombol dan juga tuas.


“Apakah ini ruang pengawasan? Akan tetapi, ke mana semua orang?” Adriano keheranan. Dengan sangat hati-hati, dia melangkah memutari meja lalu berhenti di salah satu monitor berukuran sedang. “Hei, Ricci! Coba lihat ini!” Adriano memanggil Coco yang masih berdiri terpaku di dekat meja canggih tadi.


“Ada apa?” Coco mendekat dan seketika terbelalak melihat tampilan di layar. “Ada apa dengan orang-orang itu?” gumamnya. Baik Adriano maupun Coco, tak melepaskan pandangan mereka dari adegan mengerikan yang terekam di dalam monitor. Tampak ratusan orang meraung-raung seperti kesetanan. Mereka dihentikan oleh pria-pria yang berseragam seperti dirinya.


“Mereka seperti zombie,” gumam Adriano dengan raut tak percaya.


“Apakah ini yang dimaksud oleh ilmuwan tadi? Percobaan yang gagal itu,” desis Coco, lalu menoleh pada Adriano. “Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?” sambungnya.


“Para tentara ternyata sedang sibuk mengatasi orang-orang itu. Artinya, gedung ini tak memiliki penjaga,” ujar Adriano sembari kembali berpikir. Beberapa saat kemudian, pria bermata biru itu tertawa sambil menepuk pundak Coco. “Ayo, jangan sia-siakan kesempatan emas ini!” ajaknya dengan antusias.


Tak terlihat lelah sama sekali, Adriano mulai menyusuri tangga demi tangga. Mereka berhenti di tiap lantai, tapi tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di lantai kedua, mereka kembali mendapati laboratorium yang sama seperti di lantai satu, hanya saja di lantai kedua itu ruangannya terlihat jauh lebih besar. Mereka kembali berjalan menuju lantai ketiga. Keduanya merasa takjub saat mengetahui bahwa lantai tiga adalah ruangan khusus untuk memproduksi dan merakit senjata. Coco berdecak kagum saat melihat ratusan orang yang tengah sibuk. Semuanya sedang bekerja merangkai senapan. Ratusan orang itu seakan tak menyadari kehadiran Adriano dan Coco di sana. Mereka terlalu fokus pada pekerjaan masing-masing, sehingga tak memedulikan kehadiran Adriano dan Coco di sana.


“Jadi, seperti ini ‘pabrik’ milik Nenad,” Adriano menyunggingkan senyum sinis sebelum berjalan lagi menaiki tangga menuju lantai berikutnya. Di lantai ketiga dan seterusnya, kedua pria itu tak menemukan apapun selain ruangan yang kosong dan juga gelap. Mereka baru berhenti pada anak tangga terakhir di lantai paling atas sambil terengah-engah, terutama Coco yang memang sedang dalam kondisi tubuh kurang fit.


“Akhirnya,” Adriano tersenyum lebar melihat sebuah pintu besar berlapis emas. Pintu itu seakan menjadi penanda bahwa pencarian yang mereka lakukan sejak tadi telah berakhir. Adriano melirik Coco yang segera membalasnya. Sepasang mata pria itu mengisyaratkan sesuatu. "Kita menemukannya," bisik sang ketua Tigre Nero dengan senyum puas. Akan tetapi, senyum itu harus terhenti, saat kedua pria berpostur tinggi besar dengan seragam persis seperti yang mereka kenakan saat itu, berjalan mendekat dengan wajah garang.

__ADS_1


Coco dan Adriano terpaku di tempat mereka berdiri. Sebelum kedua penjaga tadi semakin mendekat kepada mereka, Coco sempat menepuk pinggul Adriano sebagai isyarat agar waspada.


__ADS_2