Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Silly Debate


__ADS_3

Adriano, Coco dan Marco berjalan penuh waspada menuju sebuah rumah berlantai dua yang tampak sepi dan tak berpenghuni. Rumput-rumput di halamannya tumbuh tinggi dan tidak beraturan, seperti tidak pernah dirawat berbulan-bulan. “Aku merasa sangat aneh. Monique dulu tidak menyebutkan tempat ini sebagai persembunyian Nenad. Dulu dia mengatakan padaku jika Nenad berada di sebuah lokasi bekas peperangan,” tutur Coco ragu.


“Lalu kau diam dan menurut saja? Astaga!” Marco mengehentikan langkah tiba-tiba sambil menepuk dahinya. “Kau jelas-jelas sudah terpedaya olehnya,” tegur Marco lagi.


“Tidak apa-apa. Kita sudah terlanjur sampai di sini. Menurutku kita selidiki saja dulu,” Adriano berusaha melerai.


“Kenapa kau terus saja berpikir jika aku jatuh cinta pada Monique?” protes Coco tak terima.


“Kau tak pernah mempertanyakan apapun atas semua yang dia lakukan. Tidak pula rasa curiga! Apa itu artinya?” tegas Marco.


“Aku hanya sekadar kasihan padanya, itu saja!” elak Coco tak mau kalah.


Menyaksikan perdebatan tersebut, Adriano hanya mengembuskan napas panjang. Apalagi saat itu posisinya berada di tengah-tengah. Namun, seketika tubuhnya menegang, saat melihat pergerakan di jendela lantai atas bangunan yang dituju. “Kurasa kita harus menyebar,” ucapnya lirih.


“Apa?” tanya Coco dan Marco secara bersamaan.


“Aku melihat seseorang di lantai dua,” jawab Adriano dengan wajah sedikit menengadah.


“Kita sudah salah langkah. Mereka tahu kita datang.”


“Jadi, semua ini hanya jebakan? Ini gara-gara Coco,” Marco yang geram segera memukul belakang kepala Coco dengan telapak tangannya.


“Hei!” Coco mengusap kepalanya sambil melotot pada Marco. “Lalu, bagaimana?” tanyanya.


Adriano tak segera menjawab. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu menatap Coco dan Marco secara bergantian. “Jika memang ini rumah persembunyian, tidak mungkin tanpa pengawasan. Pasti ada kamera tersembunyi,” pikirnya seraya mengusap dagu. “Kita mundur dulu,” putus Adriano kemudian.


“Mundur? Mundur ke mana?” tanya Marco.


“Ke tempat yang tak terlihat oleh mereka,” Adriano berbalik begitu saja, meninggalkan Marco dan Coco yang kebingungan. Dia lalu berjalan beberapa langkah ke sebuah rumah yang berada tepat di samping tempat persembunyian Nenad. Mau tak mau, Coco dan Marco pun mengikuti langkahnya.


Adriano melangkah pelan, melintasi halaman dan memasuki teras. Dengan gayanya yang kalem dan penuh percaya diri, dia mengetuk pintu rumah asing tersebut. Tak berapa lama, seorang pria paruh baya keluar dari sana dan memandangnya kebingungan.


“Hai,” sapa Adriano sambil mengangkat tangan. Pria itu membalasnya dengan anggukan. “Apa Anda tahu siapa pemilik rumah di samping?” tanyanya dalam bahasa Inggris.

__ADS_1


Akan tetapi, pria itu tak menjawab karena tak mengerti apa yang dibicarakan oleh pria rupawan itu. Tak putus asa, Adriano meraih ponsel dan menghubungi Valerie yang bersiaga di dalam kendaraan yang diparkir agak jauh dari tempatnya berdiri.


“Val, tolong terjemahkan kalimatku,” Adriano menekan tombol loud speaker dan mengarahkannya pada pria itu.


Pria tersebut mengangguk dan menjawab pertanyaan Adriano dalam bahasa Kroasia yang langsung diterjemahkan oleh Valerie.


“Dia bilang itu rumah keluarga pasangan Ljudevit. Akan tetapi, pasangan itu meninggal dunia setahun yang lalu. Rumah itu kosong sampai beberapa hari ke belakang. Seorang pria dan puluhan teman-temannya menempati rumah tersebut. Dia mengaku sebagai cucu dari pasangan Ljudevit,” tutur Valerie.


Adriano hendak bertanya lagi, tapi pria tua itu mengatakan sesuatu lebih dulu. Tanpa diminta Valerie kembali menerjemahkannya. “Dia tidak percaya jika orang-orang itu adalah cucu dari pasangan Ljudevit, sebab sejauh yang dia tahu, pasangan Ljudevit tidak memiliki cucu,” terang Valerie.


“Hm, jadi begitu. Val, tolong katakan padanya. Bolehkah aku meminjam lantai atas rumahnya sebentar saja?” suruh Adriano. Pria bermata biru itu kemudian mendekatkan ponselnya pada si pria paruh baya agar dia dapat mendengarkan dengan jelas kalimat Valerie. Pria itu lalu mengangguk dan mempersilakan Adriano berserta Coco dan Marco untuk naik ke atas.


“Terima kasih.” Adriano mengangguk sopan dan mulai meniti anak tangga. Di lantai atas, dia memilih salah satu kamar yang langsung berhadapan dengan rumah Ljudevit, lalu berdiri di dekat jendela yang tertutup tirai.


Tanpa disuruh, Marco segera mengeluarkan teropong kecil dan memberikannya pada Adriano. “Apa yang kau lihat?” tanyanya.


Adriano memutar titik fokus agar dapat melihat dengan jelas bayangan di seberang sana. “Tak terlihat apapun di jendela atas, tapi ... tunggu!” serunya tertahan.


Adriano menjauhkan teropong itu untuk sesaat, lalu memakainya lagi. “Ada seseorang di jendela loteng,” ujarnya, “dan orang itu melambai padaku.”


“Bukan! Aku belum pernah melihat wajah itu sebelumnya.” Adriano buru-buru meletakkan teropong itu di sisi jendela, lalu berjalan ke luar kamar.


“Hei, kau mau ke mana?” tanya Coco lagi.


“Tetaplah di sini. Aku akan menemuinya sebentar. Sepertinya dia ingin berbicara sesuatu denganku,” jawab Adriano enteng.


“Apa kau gila? Dari mana kau tahu kalau dia ingin berbicara denganmu?” Marco melipat tangan di dada. Sorot matanya menunjukkan rasa tak percaya.


“Instingku mengatakan demikian,” sahut Adriano santai. Dia menuruni anak tangga untuk berpamitan pada pemilik rumah, lalu berjalan ke samping halaman kediaman Ljudevit.


“Aku tak mau jauh-jauh kemari dan tidak melakukan apapun,” Coco beranjak mengikuti Adriano.


“Hei, apa kau tidak dengar perintah Adriano? Dia meminta kita menunggu di sini!” cegah Marco.

__ADS_1


“Aku tidak menerima perintah dari siapa pun,” seringai Coco. Kali ini dia mengambil jalan yang berbeda dari Adriano. Dia bergerak ke belakang rumah pria tersebut dan melompati pagar belakang kediaman Ljudevit.


“Ck! Dasar bandel!” gerutu Marco. Pada akhirnya dia memilih untuk mengikuti Coco.


Di halaman depan rumah Ljudevit, seorang pria yang Adriano lihat dari balik jendela tersenyum dan mendekatinya. Adriano bersikap waspada. Satu tangannya memegang pistol yang masih disarungkan di sabuk pistol yang melingkar di paha. Sementara tangan lainnya tengah menggenggam belati.


“Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapa pria itu saat sudah berada tepat di depannya.


“Kau tahu namaku?” Adriano menautkan alisnya.


“Siapa yang tidak mengenal Anda? Pemilik organisasi hitam terbesar di Eropa.” Pria asing itu merentangkan tangan, berniat untuk memeluk Adriano.


Namun, tentu saja Adriano menghindar. “Ini tidak adil. Kau tahu namaku, tapi aku tidak tahu namamu,” tolaknya.


“Panggil saja aku Jacob. Aku adalah sahabat Lionel,” jawab pria itu.


Sontak, Adriano menarik pistol dan mengarahkannya pada pria yang mengaku bernama Jacob tersebut.


Jacob juga tak kalah gesit. Pria itu juga menarik sesuatu dari jaket hitamnya, yang ternyata juga pistol semi otomatis dan menodongkan ke kepala Adriano. “Jangan gegabah, Tuan. Aku tak bermaksud mencari masalah denganmu. Aku hanya mengajak bicara. Sungguh. Tataplah mataku dan nilailah sendiri apakah aku berbohong atau tidak,” tutur Jacob pelan.


Belum sempat Adriano menjawab, terdengar suara berisik dari arah belakang rumah. Adalah Coco yang mendobrak pintu belakang sampai jebol. Dia mengeluarkan dua pistolnya dan menarik pelatuk. Di ruangan yang ternyata adalah dapur, Coco melihat seorang wanita muda yang terpaku menatapnya. Wanita itu tengah menata sesuatu di meja makan.


“Siapa kau?” tanya Coco dengan nada tinggi. Namun, wanita itu menggeleng tak mengerti.


“Dia tak bisa bahasa Inggris,” sahut Marco sambil mengokang senjatanya. Dia berada tepat di samping Coco yang bersikap waspada.


Wanita itu menggumamkan sesuatu yang tak mereka mengerti, lalu lari ke luar dapur.


“Aku tak bisa menembaknya. Aku tak bisa melukai wanita. Lagi pula, dari pakaiannya, dia terlihat seperti pelayan,” ujar Marco.


“Ayo. Kita ikuti ke mana dia pergi,” ajak Coco. Dia membuka pintu dapur dan melihat sebuah ruangan kosong yang luas. Tak ada apapun di sana, selain beberapa patung dan hiasan dinding dan beberapa pilar penyangga di tengah ruangan. Di sudut ruangan, terdapat tangga melingkar ke lantai atas. Suara sepatu Marco terdengar beradu dengan lantai kayu, lalu berhenti ketika terdengar desingan peluru.


“Berlindung!” Marco menyeret Coco dan mengajaknya bersembunyi di balik salah satu pilar. Satu peluru kembali menyasar mereka dan mengenai sudut pilar.

__ADS_1


“Sialan!” Coco dan Marco membabi buta membalas tembakan ke segala arah, hingga terdengar bunyi berdebum. Mereka menghentikan aksinya dan mengintip dari balik pilar yang telah berlubang. Dua tubuh pria misterius tergeletak tak bernyawa di bawah tangga.


Hampir saja mereka berdua keluar dari persembunyian, ketika terdengar lagi tembakan. Mereka kembali ke tempatnya dan berniat membalas. Akan tetapi, sebelum Coco sempat menarik pelatuknya, terdengar dering telepon dengan nada khusus yang Coco pakai untuk kontak Francesca. “Gawat! Francy menghubungiku!” serunya panik.


__ADS_2