
Adriano mendehem pelan, setelah mendengar ucapan dari Coco. Dalam hati dirinya merasa gelisah. Begitu juga dengan Marco. Dia sudah terlanjur berbohong kepada Daniella. Jika sampai ketahuan bahwa dirinya tidak jujur, maka wanita itu pasti akan semakin murka. Marco pun berkali-kali mengela napas dalam-dalam, berharap agar Coco berubah pikiran.
"Jadi, apa yang sebenarnya kalian lakukan selama di Monaco?" tanya Francesca. "Terus terang saja kau pun terlihat aneh saat kembali dari sana," ucap gadis itu lagi menatap lekat calon suaminya.
"Kami sudah menjelaskan semuanya," sahut Adriano. Dia menyenggol kaki Coco yang duduk di kursi sebelahnya.
"Biarkan Ricci bersikap jujur dan terbuka, Sayang," ucap Mia dengan senyuman aneh, yang membuat Adriano hanya dapat menggaruk kening. "Baiklah, Ricci. Silakan ceritakan yang sebenarnya." Wanita bermata cokelat itu mengalihkan perhatian kepada Coco yang sudah terlihat siap untuk bercerita.
"Begini, Mia." Coco memulai ceritanya. Sementara Adriano dan Marco harus bersiap untuk menerima amukan dari istri mereka.
"Jadi, setelah dari Monaco kami bertiga menyempatkan diri untuk pergi ke Kroasia," tutur Coco yang membuat perut Adriano tiba-tiba merasa mulas.
"Apa? Kroasia? Astaga, Adriano. Kau berbohong lagi padaku?" Tatap tajam Mia langsung menghujam kepada sang suami, membuat sang ketua Tigre Nero hanya tersenyum kecil dengan raut wajah kurang nyaman. Bahasa tubuh Adriano pun mulai terlihat kikuk. Sementara Marco merasakan kakinya yang bengkak semakin nyut-nyutan.
"Ya, Mia. Kami bertiga pergi ke Kroasia, mengunjungi sebuah rumah dan ...." Belum sempat Coco melanjutkan ceritanya, Adriano kembali mendehem pelan.
Dari arah ruangan lain, terdengar suara ribut anak-anak. Tak lama, Damiano pun muncul dan ikut bergabung. "Selamat pagi semua," sapanya. Namun, tak ada seorang pun yang menanggapi sapaan itu. Semua mata tengah tertuju kepada Coco. "Ada apa ini? Apa aku ketinggalan berita penting," tanyanya.
"Tidak apa-apa, Damiano," jawab Marco. "Sebenarnya aku sudah sangat lapar," ucap ayah dua anak itu.
"Aku pikir kalian sudah selesai sarapan," ucap Damiano.
"Tidak, Paman. Kami sedang mendengarkan cerita dari Ricci," sahut Mia dengan senyum yang dia tujukan kepada Adriano. "Bisakah kau lanjutkan ceritamu, Ricci?" pinta ibunda Miabella tersebut.
"Oh tentu, Mia," jawab Coco dengan tenang. "Jadi, kami pergi ke Kroasia dan mengunjungi sebuah rumah milik salah seorang teman lama. Kami melanjutkan pesta di sana. Pesta yang sangat seru dan ... benar-benar seru," tutur Coco lagi.
"Lalu?" tanya Mia, Daniella, serta Francesca secara bersamaan.
"Lalu, saat kami sedang asyik berpesta ... um ... saat itu Marco melihat ada seekor kucing yang berjalan di atas atap ... dan dia dengan aksi heroiknya menyelamatkan kucing tersebut. Namun, sayang karena Marco kurang hati-hati sehingga dia terpeleset dan akhirnya jatuh. Untung saja hanya kakinya yang terkilir," tutur Coco terlihat sangat meyakinkan.
__ADS_1
Sementara ketiga wanita tadi segera mengalihkan pandangan kepada Marco yang langsung salah tingkah. Dia tersenyum lebar, ketika telah dianggap menjadi seperti seorang pahlawan. Marco yakin, setelah itu tak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan aneh yang akan dilontarkan oleh para wanita terhadap dirinya, Adriano, ataupun Coco.
"Benarkah itu, Marco?" tanya Mia dengan tatapan yang terlihat penuh selidik, membuat Marco merasa sedikit terintimidasi.
"Um, itu ... ya, tentu saja," jawabnya sambil tertawa renyah. "Iya kan, Adriano?" Marco menaikturunkan alisnya kepada sang ketua Tigre Nero. Namun, Adriano tak yakin jika masalah itu akan berakhir dengan cerita bualan tentang aksi heroik dari ayah Romeo dan Tobia tersebut. Pria bermata biru itu hanya mengempaskan napas pelan.
"Kau sama gilanya, Ricci!" umpat Daniella ketus yang tak percaya dengan cerita itu. Begitu juga dengan Mia dan Francesca. Kedua wanita cantik tersebut hanya menanggapinya dengan sebuah keluhan panjang.
"Sudahlah. Aku rasa sebaiknya kita sarapan dulu. Apapun yang ketiga pria ini lakukan di sana, setidaknya mereka telah kembali dengan selamat. Ya, walaupun Marco pulang dalam kondisi kaki yang bengkak. Entah itu karena menyelamatkan kucing atau apa, tapi yang pasti dia masih bisa berdiri dan berkumpul bersama kita. Aku rasa, sebaiknya kita semua kembali fokus pada persiapan pesta pernikahan Coco dan Francesca. Itu akan jauh lebih baik daripada kalian saling menyimpan rasa tidak percaya terhadap pasangan masing-masing. Ingat, kebersamaan seperti ini akan sangat berharga dan pasti kita rindukan suatu saat nanti. Terutama bagiku. Saat Marco membawa kedua putranya kembali ke Palermo. Lalu, Mia membawa Miabella pulang ke Monaco, maka aku merasa seperti seorang kakek tanpa cucu. Ayo, kita mulai sarapan," ajak Damiano setelah dia memberikan petuahnya yang panjang lebar.
Jika Damiano sudah berbicara, maka tak ada seorang pun yang bisa membantahnya. Mereka sangat menghormati pria itu dengan segala sikap bijaksananya yang selalu memberikan petuah-petuah menyejukan. Ketiga pasangan tadi pun akhirnya memulai sarapan. Kegiatan pembuka di pagi hari itu belangsung tanpa mengikutsertakan anak-anak, yang lebih memilih menyantap menu sarapan mereka di taman sambil bermain bersama para pengasuh.
Seusai sarapan, Mia segera bersiap-siap. Rencananya hari ini dia akan menemani Francesca untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkan untuk keperluan pesta. Selain itu, keduanya pun akan menemui WO yang akan mempersiapkan segala sesuatu mulai dari pemberkatan hingga acara resepsi.
"Aku baru kembali dan kau sangat sibuk, Sayang." Adriano memeluk Mia dari belakang, berusaha untuk melakukan pendekatan dengan sang istri. Dia mencoba menghilangkan rasa canggung akibat kecurigaan Mia terhadapnya.
"Sebentar saja, Mia," rayu pria bermata biru itu dengan setengah memohon.
"Tidak, Adriano. Francy sudah menungguku," tolak Mia seraya mencoba melepaskan diri dari dekapan erat sang suami. Namun, karena Adriano tak juga bersedia melonggarkan pelukannya, Mia pun akhirnya memilih untuk diam. Sepasang suami istri itu saling pandang lewat pantulan cermin di hadapan mereka.
"Kenapa kau selalu terlihat cantik?" goda Adriano lagi.
"Jangan menggodaku," tolak Mia. "Kita masih harus membahas masalah tadi," tegasnya kembali mengungkit persoalan di meja makan.
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau membahas hal itu," tolak Adriano seraya membenamkan wajahnya pada pundak Mia. Sementara wanita bermata cokelat tersebut kemudian terdiam dan tampak memikirkan sesuatu. Wajah cantiknya terlihat sedikit was-was. "Ada apa, Sayang?" tanya Adriano. Dia kembali menatap Mia dari pantulan cermin rias.
"Kau tahu, Adriano? Tadi Francy bercerita padaku tentang Ricci," ucap Mia pelan dan datar.
"Tentang apa?" Adriano balik bertanya. Sebenarnya dia merasa malas untuk terus membahas masalah yang sama.
__ADS_1
"Francy mengatakan bahwa tiba-tiba Ricci mengatakan jika dia ingin menjalani hidup dengan lebih religius," tutur Mia.
"Bukankah itu bagus?" Adriano menanggapi santai penuturan sang istri. Namun, Mia justru bersikap sebaliknya. Wanita itu segera melepaskan tangan kekar yang masih melingkar di perut. Mia pun berlalu dan memilih duduk di ujung tempat tidur. "Apa yang salah dari keinginan Ricci, Sayang?" tanya Adriano. Dia setengah berlutut di hadapan Mia yang terlihat murung.
"Andai kau tahu, Adriano. Dulu, sebelum kematian datang menjemput Theo, dia tiba-tiba berubah menjadi sangat tenang dan begitu religius. Aku menyukai perubahan itu dan tentu saja sangat bersyukur, tapi ...." Mia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dia bahkan harus berkali-kali mengela napas dalam-dalam.
"Astaga, Sayangku. Kenapa kau menjadi sangat sensitif? Jika perubahan baik selalu diarahkan pada kematian yang semakin mendekat, maka aku yakin sebagian besar orang akan merasa takut untuk menjadi jauh lebih baik. Jangan berpikir terlalu berat, Sayangku. Ingat, kau tidak sanggup untuk hal seperti itu," saran Adriano. Dia memegangi dagu sang istri yang tertunduk, kemudian mengangkatnya perlahan. "Semua akan baik-baik saja. Yakinlah," ucap pria bemata biru tersebut dengan lembut.
Mia awalnya hanya terdiam sambil menatap sang suami dengan nanar. Namun, tak lama kemudian ibu satu anak itu akhirnya tersenyum. Dia juga tak menolak ketika Adriano menyentuh bibirnya dengan mesra. Keduanya asyik berciuman, hingga terdengar suara ketukan di pintu. "Mia, apa kau sudah siap?" seru Francesca dari luar kamar.
Adriano mengeluh pelan seraya melepaskan bibir Mia. Sementara Mia sendiri hanya tertawa pelan melihat raut kecewa sang suami. "Aku pergi dulu. Tolong jaga Miabella hingga aku kembali," pesan Mia seraya meraih tas dan berlalu keluar kamar menyambut sang adik. "Ayo, Francy. Aku tidak mau kita pulang terlalu sore," ajak Mia.
"Sayang sekali karena Dani tidak bisa ikut," sesal Francesca. Dia berjalan berdampingan bersama Mia menuju pintu keluar. Di sana, dirinya berpapasan dengan Coco yang sepertinya akan kembali ke perkebunan. "Aku pergi dulu sebentar," pamit adik bungsu Mia tersebut.
"Hati-hati. Maaf aku tidak bisa menemanimu, Sayang. Ada banyak sekali pekerjaan di perkebunan," sesal Coco setelah mencium calon istrinya dengan mesra.
"Tidak apa-apa. Aku akan pergi dengan Mia," balas Francesca seraya menoleh kepada Mia yang tengah berbicara dengan seorang penjaga pintu gerbang. Pria itu tampak memberikan sebuah amplop kepada Mia.
"Ricci, ada kiriman untukmu." Mia menyodorkan amplop tadi kepada Coco.
Sementara Francesca terlihat penasaran. Dia tak kunjung pergi. "Apa itu, Ricci?" tanyanya.
"Entahlah. Aku tidak merasa memesan apapun," jawab Coco seraya menautkan alisnya.
"Kalau begitu coba bukalah. Aku ingin melihat apa isinya," pinta Francesca dengan antusias.
"Nanti saja. Aku harus segera kembali ke perkebunan," tolak Coco. Dia hendak menyimpan amplop tadi ke dalam laci.
"Aku sangat penasaran. Biar aku yang membukanya," ucap Francesca segera merebut amplop tadi dari tangan Coco. Sementara Mia hanya tersenyum melihat ulah sang adik. Namun, senyuman itu berangsur pudar, ketika dia memperhatikan perubahan wajah Francesca setelah melihat isi amplop tadi.
__ADS_1