
Adriano terdiam sejenak di dalam mobil. Dia memperhatikan sejenak pria yang baru keluar dari sedan hitam yang terparkir sedikit di depannya. Namun, sebelum melangkah masuk, pria tadi tertegun kemudian menoleh pada mobil Ferrari merah yang Adriano kendarai. Dia seakan menunggu si pengendara agar keluar. Dengan terpaksa, Adriano akhirnya segera melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil mewahnya. Saat itu, dia hanya mengenakan t-shirt round neck hitam dengan celana tidur dan sepasang sandal. Tak ada kemeja rapi atau penampilan parlente khas ketua Tigre Nero yang seperti biasanya.
“Tuan Herrera? Sedang apa Anda di sini?” sambutan yang tidak terlalu hangat dari Adriano.
Pria yang tiada lain adalah Juan Pablo, tersenyum samar seraya menaikan lengan kaos turtleneck hitam yang dia kenakan. Penampilan pria latin itu pun terlihat lebih kasual dari biasanya. Dia juga mengenakan celana jeans dilengkapi sebuah sabuk kulit. Juan Pablo segera menyalami Adriano dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang kaca mata hitam yang dia lepas beberapa saat yang lalu. “Apa kabar, Tuan D’Angelo?” sapanya dengan raut dan nada bicara yang seperti biasanya. Datar dan terkesan agak dingin. “Syukurlah, karena Anda memang ada di sini,” ucap pria itu lagi.
“Anda kemari untuk mencariku?” tanya Adriano seraya menaikan sebelah alisnya.
“Tentu saja, karena akan menjadi masalah besar jika aku mencari nyonya D’Angelo,” candaan yang sama sekali tidak lucu bagi Adriano. Sang ketua Tigre Nero bahkan tidak menyukainya. Mata cokelat madu milik Juan Pablo, selalu tampak bersinar jika sudah membahas tentang Mia. Hal itu membuat Adriano merasa tidak nyaman.
“Aku pikir Anda masih berada di Inggris,” ucap Adriano kemudian. Dia belum juga mengajak ajudan setia dari Don Vargas itu untuk masuk.
“Aku kembali ke Monaco dua hari yang lalu. Kemarin aku mampir ke mansion Anda, tapi tuan Corbyn mengatakan jika Anda sedang berada di Italia,” jelas Juan Pablo seraya mengarahkan pandangan pada sekeliling Casa de Luca yang indah. “Tidak sulit untuk menemukan tempat ini. Casa de Luca,” ucap pria latin itu kemudian dengan nada bicara yang terdengar aneh, membuat Adriano memperhatikannya sambil memicingkan mata.
“Hal sepenting apa sehingga membuat Anda harus rela datang jauh-jauh kemari hanya untuk mencariku, Tuan Herrera?” tanya Adriano penuh selidik.
Juan Pablo tidak segera menjawab. Dia menatap Adriano untuk sejenak. “Apa Anda tidak ingin mempersilakanku untuk masuk?” tanyanya kemudian.
Tersungging sebuah senyuman kecil di bibir Adriano. “Aku minta maaf. Ini bukan rumahku, jadi aku tidak bisa leluasa mengizinkan tamu untuk ....”
“Tuan Herrera? Anda di sini?” suara lembut Mia membuat Adriano tak melanjutkan kata-katanya. Dia segera menoleh ke arah sumber suara. Mia telah berdiri di teras dengan floral dress chiffon ceruti sebatas lutut, yang bagian bawahnya sesekali bergerak karena terkena tiupan angin. Seperti biasa, wanita itu selalu tampil cantik dan memikat, meskipun tanpa harus mengenakan pakaian minim dan terbuka seperti Carina.
“Silakan masuk,” sambut Mia dengan wajah ramah, membuat Adriano tertegun. Tak dia sangka, sang istri dapat bersikap semanis itu terhadp Juan Pablo. Keinginan untuk meminta maaf pada Mia menguap sudah tatkala perasaan cemburu datang menyerang. Adriano hanya terdiam mengikuti gerak langkah Juan Pablo yang lebih dulu memasuki ruang tamu.
“Ada perlu apa Anda kemari?” tanya Mia beberapa saat setelah Juan Pablo duduk dengan gagahnya di sofa. Sementara wanita itu masih berdiri dengan sikap sopan.
“Sebenarnya, aku ingin bicara dengan suami Anda, Nyonya,” jawab Juan Pablo datar seraya melirik kepada Adriano yang masih berdiri terpaku tak jauh darinya.
__ADS_1
“Oh. Kalau begitu Anda beruntung, Tuan Herrera,” Mia tersenyum lembut. Akan tetapi, tatapannya tampak sinis tertuju kepada Adriano.
“Kenapa begitu?” Juan Pablo menggeleng pelan tanda tak mengerti.
“Seperti yang Anda lihat. Suamiku baru saja pulang entah dari mana setelah menghilang semalaman. Tuan D'Angelo tidak berpamitan, memberi kabar, ataupun mengirimkan pesan. Dia hanya pergi begitu saja,” jelas Mia setengah menyindir sambil melipat kedua tangannya di dada. Tampak jelas jika Mia tengah merasa kesal kepada sang suami. Sedangkan Adriano hanya terkekeh pelan sembari memijit tengkuk saat menanggapi ucapan Mia. Keinginannya untuk segera memeluk sang istri saat tiba di Casa de Luca, tampaknya harus dia tunda.
“Silakan mengobrol. Akan kubuatkan minum dan kudapan, khusus untuk Anda,” ujar Mia seraya berbalik meninggalkan ruang tamu.
“Tunggu sebentar, Tuan Herrera,” Adriano memberi isyarat dengan tangannya, sebelum berpamitan kepada Juan Pablo. Dia tak ingin tinggal diam. Dengan segera, diikutinya wanita cantik yang sudah beberapa langkah di depan. “Kenapa harus dirimu, Mia? Bukankah banyak pelayan di rumah ini yang bisa mengerjakannya?” protes Adriano lirih sesaat detelah mereka tiba di dapur.
“Oh, memangnya kenapa? Aku hanya ingin memberikan pelayanan istimewa untuk tamu kita,” Mia menjawab dengan menghadapkan badan seluruhnya kepada Adriano. Dia tersenyum puas ketika melihat raut wajah Adriano yang merah padam menahan emosi.
Mia bahkan kembali melipat tangannya di dada, seakan hendak menantang pria rupawan bermata biru tersebut.
Tak ada yang dapat Adriano lakukan selain berkacak pinggang sambil mencoba merangkai kata di dalam kepala. “Untuk apa pelayanan spesial itu, Mia?” tanya Adriano lirih seraya mengembuskan napas perlahan.
“Bukankah dia tamu? Kita harus menghormati siapa pun tamu yang datang dengan memberikan pelayanan yang baik,” kilah Mia dengan senyuman yang tak juga pudar.
“Ulahmu yang mana? Banyak sekali ulahmu, Adriano. Salah satunya adalah ketika kau meninggalkanku begitu saja dan tak pulang semalaman,” wajah Mia tampak bersungut-sungut sekaligus menggemaskan bagi Adriano.
“Aku pulang ke apartemen dan tak sengaja tertidur di sana, Sayang,” paparnya lembut.
“Terserah kau saja,” Mia mendengus kesal. Tubuh ramping itu berpindah ke dekat meja dapur dan mulai meracik minuman. Dia juga sempat memerintahkan seorang pelayan untuk membantunya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menemui tamu spesial kita. Ah, ralat. Tamu spesialmu,” giliran Adriano menyindir sang istri sembari tersenyum geli, kemudian berlalu meninggalkan dapur.
Dia kembali ke ruang tamu di mana Juan Pablo masih menunggunya sambil memainkan ponsel. “Maaf menunggu. Ada apa Anda mencariku, Tuan Herrera?” tanpa basa-basi, Adriano bertanya lalu duduk tak jauh dari koleganya tersebut.
__ADS_1
“Ini tentang Sergei Redomir, Tuan D’Angelo,” Juan Pablo segera memasukkan ponsel ke saku celana, kemudian mencondongkan badan ke arah Adriano.
“Ada apa dengannya?” nada bicara Adriano terdengar datar.
“Sudah beberapa hari ini dia tak bisa dihubungi,” terang Juan Pablo.
“Oh, jika boleh aku tahu, kenapa Anda ingin menghubungi Sergei? Apakah ada masalah bisnis atau yang lain?” Adriano memandang dengan sorot mata tenang kepada Juan Pablo, meskipun kalimat yang dia lontarkan penuh dengan penekanan.
Akan tetapi, belum sempat pria berparas rupawan itu menjawab, Mia terlebih dulu muncul di sana. Dia berjalan anggun sambil membawa nampan. Mia juga segera menyuguhkan minuman beserta camilan ke atas meja. “Silakan dinikmati, Tuan Herrera," ucapnya kembali melayangkan senyuman lembut kepada Juan Pablo, membuat pria latin itu sempat mengernyitkan keningnya
“Gracias,” ucap Juan Pablo dalam bahasa Spanyol. Tatapannya tak lepas dari Mia yang kini melangkah, lalu duduk tepat di samping Adriano.
Lagi-lagi, Adriano hanya mampu menarik napas panjang. “Apa kau bahagia, Sayangku?” tanyanya lirih dan setengah berbisik. Namun, Juan Pablo dapat mendengar pertanyaan itu dengan sangat jelas.
“Tidak sebahagia saat mendapati bahwa kau sudah pulang setengah jam yang lalu, Sayang,” balas Mia sambil tetap memamerkan senyum manisnya.
Juan Pablo keheranan atas sikap sepasang suami istri yang terlihat aneh itu. Namun, dia memilih untuk tidak mau tahu dan kembali fokus pada tujuan awal. Urusan rumah tangga belum ada dalam catatan kehidupannya. “Maaf, apakah aku datang di saat yang tak tepat?” Juan Pablo menatap pasangan suami istri itu secara bergantian.
“Tidak!”
“Iya.”
Mia dan Adriano menjawab secara bersamaan, kemudian saling lirik, lalu saling memalingkan muka.
Sementara Juan Pablo tak tahu harus berbuat apa. Dia bersikap canggung ketika meraih cangkir teh yang sudah disuguhkan untuknya. Sesekali pria latin tersebut melirik kepada Adriano dan juga Mia yang kini terlihat lebih tenang jika dibandingkan sebelumnya. Namun, meskipun begitu dia tetap merasa tidak nyaman berada di antara perselisihan menggelikan seperti itu.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Hai, pembaca tersayang. Ini ceuceu bawakan lagi rekomendasi novel keren.