Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dancing Girl


__ADS_3

Carlo mengabulkan permintaan tak terucap Miabella. Lembut, dia kembali mengecup bibir gadis itu, melu•matnya penuh perasaan dengan dibumbui sedikit getaran panas. Memang tak terlalu menyengat seperti cahaya mentari di tengah hari, tapi hal itu cukup untuk dapat melumerkan kebekuan di dalam hati mereka berdua.


Pria tampan itu mere•mas tengkuk kepala putri dari sang majikan yang masih mendongak demi menggapai postur menjulangnya. Adegan itu terus berlangsung, dengan diiringi desiran menyejukkan angin di senja.


"Carlo ...." desah Miabella pelan. Kedua tangannya masih berpegangan pada lengan kekar sang pengawal.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menahannya lagi," ucap Carlo sambil menangkup paras cantik Miabella. Dia kembali menatap lekat gadis itu.


"Carlo, aku ... aku ...." Miabella merasa bingung harus berkata apa. Namun, perasaan gadis itu seketika lega. Segala ganjalan dalam hatinya seakan lenyap dan menguap, terbang bersama angin yang mengiringi sang mentari menuju ke peraduan di ufuk barat. Miabella kemudian menggerakkan tangan ke atas, hingga dia dapat menangkup rahang kokoh sang pengawal yang telah menemaninya sejak usia lima tahun.


Carlo mengatur laju napas agar lebih terkendali. Gejolak dalam hati telah memberontak dan membuat dia menjadi gelisah. Pria itu masih merangkul pinggang ramping Miabella dengan erat. "Tuan Adriano tak akan menyukai ini," ucapnya seraya membelai pipi gadis tersebut penuh perasaan.


"Tak masalah, yang penting aku menyukainya. Jangan pedulikan daddy zio. Kau tak harus selalu patuh pada semua peraturan dan apa yang dia perintahkan." Miabella memegangi tengkuk kepala Carlo, kemudian membuat pria tampan itu mendekat. Tanpa sungkan, Miabella menyentuh permukaan bibir Carlo, kemudian menjilatnya. Gadis itu tertawa geli atas sikap iseng tadi.


"Nakal," ujar Carlo seraya mencubit pangkal hidung Miabella dengan gemas. Gadis cantik tersebut kembali tertawa renyah dengan wajah yang masih mendongak, seakan menantang si pria. Sedangkan Carlo kemudian memegangi dagu Miabella dan bermaksud untuk kembali menciumnya. Akan tetapi, suara seorang pria yang mendehem pelan seketika membuat keduanya terkejut.


Carlo segera melepaskan rangkulannya dari Miabella. Begitu juga dengan gadis bermata abu-abu tersebut. Dia menoleh ke arah suara yang ternyata milik Romeo. Pemuda dua puluh tahun itu tengah berjalan ke arah mereka berdua. "Apa aku mengganggu?" tanyanya.


"Sangat ...." Miabella bermaksud untuk melanjutkan protesnya kepada Romeo, andai tak segera dicegah oleh Carlo. Gadis itu hanya bisa mendelik kesal terhadap putra sulung Marco tersebut.


Romeo pun menanggapinya dengan sebuah senyuman. Dia tak hendak membalas jawaban Miabella, karena tujuan utama pemuda berambut pirang tadi ialah Carlo. Karena itulah perhatian kakak Tobia tersebut segera saja beralih kepada si pengawal tampan di sebelah Miabella. "Aku membutuhkan bantuanmu, Carlo," ucapnya.


"Untuk apa, Tuan Muda?" tanya Carlo.


"Tentang yang kita bahas kemarin," sahut Romeo. Dia yakin jika Carlo masih dapat mengingat percakapan mereka. "Aku mendapatkan penemuan baru," ujar Romeo lagi dengan raut wajah yang tampak berseri.


Carlo pun tentunya masih mengingat dengan pasti. Walaupun hati pria itu kembali diliputi keraguan, akan jati dirinya yang belum terungkap dengan jelas. Carlo mengangguk ragu. Belum pernah dia merasa takut untuk melangkah dalam menghadapi sesuatu. Namun, bayangan nama Red Wolf dan Fedor terasa begitu mengusik dirinya.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Miabella penuh selidik.


"Ini tentang organisasi yang malam itu melakukan penculikan terhadapmu dan juga tuan muda Romeo," jelas Carlo. Dia tak ingin jika Miabella sampai berpikir yang macam-macam.


"Bukankah masalah itu sedang ditangani oleh paman Marco dan juga daddy zio? Kenapa kau harus turun tangan sendiri?" protes gadis itu kepada Romeo.


"Aku hanya ingin mempertanggungjawabkan apa yang telah kumulai, Bella," jelas Romeo. "Sebagai putra dari seorang ketua klan, seharusnya aku lebih berhati-hati dan tak sembarangan seperti kemarin. Aku juga sudah membahayakan nyawamu, meskipun saat itu kau yang memaksa untuk ikut," ujarnya lagi.


"Ya, andai kata malam itu aku tidak menemanimu, maka aku tak akan menghubungi Carlo. Maaf untuk ponselmu yang hilang," sahut Miabella dengan angkuhnya.


"Ah lupakan ponsel itu. Lagi pula, nomor yang kupakai juga merupakan nomor khusus," balas Romeo seraya tersenyum penuh isyarat.


"Nomor khusus untuk menggoda para gadis? Bagus sekali. Akhirnya kau kena karma!" ujar Miabella puas. Dia lalu menoleh kepada Carlo. "Kau tak berminat untuk menirunya, kan?"


"Aku? Tentu saja tidak," bantah Carlo dengan segera. "Kau sudah tahu bahwa aku tidak suka menggoda gadis manapun," tegas pria itu yakin. Namun, Miabella tak menyahut. Dia hanya menatap Carlo dengan kerlingan nakal yang membuat pria bertato tersebut menjadi salah tingkah. Miabella terus saja melakukan hal demikian. Dia tak peduli meskipun di sana ada Romeo yang terus memperhatikan.


"Aku sudah berhasil menemukan tempat di mana gadis itu berada. Dalam beberapa hari ini, aku terus mencari informasi tentangnya. Kuanggap ini sebagai sarana pelatihan diri," jelas Romeo tenang.


"Kau akan melibatkan Carlo dalam hal ini? Kenapa tidak mengajak Dante saja? Carlo adalah pengawal pribadiku." Miabella sepertinya tak setuju dengan rencana dari sepupunya.


"Tidak, tidak. Aku tidak terlalu mengenal Dante. Ayolah, Bella. Aku hanya meminjamnya sebentar saja. Setelah selesai, maka akan langsung kukembalikan padamu," bujuk Romeo.


"Enak sekali kau bicara! Kau pikir Carlo sepasang sepatu?" protes Miabella.


“Tidak apa-apa, Nona. Aku akan menemani tuan muda sebentar saja. Sementara aku pergi, kuharap kau tidak keluar dari Casa de Luca." Sorot mata biru Carlo terlihat amat serius. “Aku juga akan meminta tolong Dante untuk menjaga di depan kamarmu,” sambungnya seraya tersenyum kalem.


“Astaga, Dante lagi?” protes Miabella. Namun, pada akhirnya dia bersedia menerima, sebab Carlo lah yang memberikan perintah. “Baiklah. Selamat bersenang-senang,” ujar gadis cantik tiu malas-malasan seraya berjalan lebih dulu meninggalkan dua pria berbeda usia yang masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1


“Sebentar, Tuan. Aku akan menemani nona dulu sampai tiba di kamarnya,” ucap Carlo. Dia lalu bergegas mengikuti Miabella menuju bangunan utama.


“Kau tak sampai masuk ke dalam kamarnya, ‘kan?” seru Romeo setengah menggoda. Carlo yang mendengarnya segera menoleh sembari melotot, lalu melanjutkan kembali langkahnya. Romeo tertawa nyaring. “Baiklah. Kutunggu kau di depan garasi!” serunya lagi.


Setelah memastikan bahwa Miabella aman dan nyaman di kamar, Carlo bergegas mengambil perlengkapan motornya lalu mendatangi Romeo yang telah menunggu di depan garasi. “Oh, jadi kau membawa motormu,” ucap Romeo.


“Iya, Tuan muda. Aku tak begitu nyaman menaiki mobil,” jawab Carlo santai.


“Baiklah. Kalau begitu kau ikuti saja mobilku dari belakang,” suruh Romeo kemudian.


“Tentu, Tuan. Tidak masalah.” Carlo memamerkan senyum menawan, lalu menaiki motornya. Dia menunggu sampai mobil Romeo keluar dari garasi, barulah Carlo menyalakan motor dan melajukannya pelan.


Carlo menambah kecepatan, ketika Romeo juga mempercepat laju mobilnya sesaat setelah keluar dari gerbang pertama. Mobil Romeo terus bergerak meninggalkan kota Brescia dan memasuki wilayah Bergamo, salah satu kota terdekat. Beberapa menit kemudian, mobil Romeo berhenti di sebuah klub malam mewah, lalu parkir di seberang jalan.


Carlo pun mengikuti apa yang Romeo lakukan. Dia menghentikan motor tepat di belakang kendaraan Romeo. Setelah melepas helm, dia turun dari motor lalu mengetuk jendela mobil Romeo yang tampak asyik meneropong seseorang.


Romeo meletakkan teropong, lalu buru-buru membukakan pintu untuk Carlo. “Hei, Carlo! Lihat itu!” Dia menyodorkan teropong sesaat setelah Carlo duduk di sebelahnya.


Pengawal Miabella tersebut menerima teropong dan mulai mengamati sosok yang ditunjukkan oleh Romeo. Carlo mengingatnya sebagai teman kencan Romeo sebelum pemuda di sampingnya itu diculik.


“Apakah dia Oxana Miroslava seperti yang tadi Anda ceritakan?” tanya Carlo tanpa melepas teropong tadi.


“Iya ” jawab Romeo singkat. Sementara Carlo tetap serius memperhatikan gadis tadi. Si gadis tengah asyik menari di depan pintu masuk klub. Dia meliuk-liukkan tubuh rampingnya yang terlihat sangat lentur dalam balutan pakaian super seksi. Gadis bernama asli Oxana Miroslava itu menari pada sebuah tempat khusus berbentuk lingakaran, dengan pembatas terbuat dari stainless di sekelilingnya.


"Kita tidak perlu masuk untuk melihat tontonan seperti ini," ujar Carlo sambil tersenyum.


"Bayangkan wajah sepupuku," celetuk Romeo yang membuat senyuman di wajah Carlo segera memudar. Dia bermaksud untuk mengembalikan teropong yang baru digunakannya, sebelum pandangan pria itu menangkap sebuah pemandangan yang jauh lebih menarik. Carlo melihat ada sekitar tiga orang pria dengan pakaian serba hitam. Mereka menghampiri Oxana. Ketiga pria tadi tampak berbincang serius dengannya.

__ADS_1


__ADS_2