Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Godaan Pagi


__ADS_3

Juan Pablo membuka mata, ketika dia merasakan ada seseorang yang menindih punggungnya. Pria berkulit eksotis itu kemudian tersenyum seraya menggeliat pelan, saat sebuah ciuman nakal yang menjalar dari pundak bagian belakang hingga ke leher mulai mengusik dirinya. Pada awalnya Juan Pablo hanya menggumam pelan. Namun, lama-kelamaan dia pun mengangkat kepala dari atas bantal, kemudian sedikit menoleh. "Kau benar-benar pengganggu, Bice," ucapnya dengan suara agak parau khas bangun tidur.


"Kau seorang pemalas, Tuan Herrera," balas Gianna dengan tawa manja yang terdengar begitu menggoda bagi Juan Pablo. Dia semakin merekatkan tubuhnya pada punggung pria itu, kemudian mengusap-usap lengan kekar pria asal Amerika Latin tersebut.


"Ayo turun," suruh Juan Pablo seperti seorang ayah yang berbicara kepada putrinya.


"Tidak mau," tolak Gianna dengan gaya bicaranya yang terdengar sangat manja.


"Ayo turun," suruh Juan Pablo lagi seraya menggerakkan tubuh tegapnya yang hanya ditutupi oleh selimut hingga sebatas pinggang.


"Aku tidak mau," balas Gianna seraya tertawa. Gadis itu malah menggigit pelan daun telinga Juan Pablo.


"Astaga, kau nakal sekali," ujar pria asal Meksiko tadi seraya berdecak pelan. Dia menggerakkan tubuhnya dengan kuat, membuat Gianna terempas ke samping. Dengan segera Juan Pablo membalikkan badan, lalu menindih tubuh polos gadis dengan kulit seputih susu yang kembali tertawa ketika pria itu berada di atas dirinya. "Jangan menantangku, Sayang," ucap pria bermata cokelat madu tersebut sambil menciumi leher Gianna dengan mesra.


"Kita sudah bercinta semalam suntuk. Apa kau masih belum puas?" tanya Gianna dengan gaya bicaranya yang masih terdengar sangat manja.


"Tidak akan pernah ada kata puas bagiku," jawab Juan Pablo seraya mengangkat wajah, kemudian menatap paras cantik Gianna. Dia mengecup lembut kening gadis muda itu sambil mengusap-usap pucuk kepalanya. "Kau sangat cantik, tapi selalu menggangguku," sanjung Juan Pablo dengan diiringi sebuah cubitan pada kedua pipi Gianna. Putri bungsu Emiliano itu kembali tertawa, membuat Juan Pablo kian gemas padanya. Perbedaan usia yang terbilang jauh, tak membuat keduanya merasa risih dalam menunjukkan perasaan masing-masing.


"Kau juga sangat tampan," balas Gianna seraya menyentuh rahang kokoh Juan Pablo. Dia membelai paras rupawan berhiaskan janggut tipis itu. Ujung jemari lentik Gianna kemudian bergerak menelusuri leher, lalu berhenti pada dada si pria bermata cokelat madu. Juan Pablo menanggapinya dengan tersenyum. Dia tampak sangat menyukai perlakuan Gianna terhadap dirinya. "Apa kau mencintaiku, Juan?" tanya gadis berambut pirang tersebut, dengan kedua tangan yang melingkar pada leher pria yang berada di atas tubuhnya.


"Apa aku harus mengatakannya setiap saat?" tanya Juan Pablo dengan suara yang terdengar begitu berat dan dalam. Dia menempelkan keningnya dengan kening Gianna, menjadikan napas mereka saling beradu dan berbaur, kemudian menyatu dalam sebuah irama permainan penuh kehangatan sebagai pembuka hari yang indah bagi kedua sejoli tersebut. Sebuah ciuman lembut nan mesra pun mengawali semuanya.


Kamar bernuansa hitam itu kembali menjadi saksi pembuktian, atas kegagahan dari pria berjuluk Elang Rimba dalam menaklukan seorang gadis melalui sisi manisnya. Mereka kembali mengulang adegan percintaan luar biasa, setelah semalam suntuk keduanya habiskan dengan tetesan peluh yang membasahi tubuh.


Hari terus merayap menuju siang, ketika Juan Pablo dan Gianna sudah membersihkan diri masing-masing. Mereka bahkan telah berpakaian lengkap. Seperti biasa, Juan Pablo selalu tampil menawan dengan t-shirt lengan panjang yang dinaikkan bagian lengannya hingga tiga per empat. Begitu juga dengan rambut gelap yang sudah tersisir rapi, membuat Gianna tak tahan untuk kembali menggoda pria asal Meksiko tersebut.


Gadis itu segera memeluk Juan Pablo dari belakang, melingkarkan tangan dengan erat pada perut rata dengan pahatan-pahatan kokoh yang membuatnya terlihat maskulin. Gianna juga membenamkan wajah di belakang pundak seseorang yang kini telah resmi menjadi kekasihnya. "Apa kau yakin ingin bertemu dengan kedua orang tuaku?" tanya gadis bermata biru itu.


"Aku tidak suka asal bicara," jawab Juan Pablo menghentikan sementara aktivitasnya, karena terganggu oleh Gianna. Dia lalu membalikkan badan sehingga mereka jadi berhadapan. Juan Pablo kemudian menangkup paras cantik gadis yang sudah berhasil menawan dan mengalihkan dunianya. Tak ada hal lain yang ingin dia lakukan, selain memberikan sebuah ciuman mesra untuk gadis bertubuh semampai itu.

__ADS_1


Gianna pun mendongakkan wajah sambil berjinjit. Tak lama kemudian, dia lalu tersenyum saat Juan Pablo melepaskan bibirnya.


"Aku selalu menyukai ciumanmu," ucap gadis dengan skinny jeans tersebut. Namun, Juan Pablo tak menanggapinya dengan kata-kata. Pria itu hanya menatap lekat dan dalam, gadis cantik di hadapannya. Tatapan dengan sorot mata yang begitu tegas, terkesan menakutkan, tapi tampak seksi dan melenakan.


"Kita berangkat sekarang?" ajak Juan Pablo. Setelah Gianna mengangguk setuju, pria itu menyempatkan diri untuk mengecup keningnya. Barulah dia menggenggam tangan si gadis lalu menuntunnya keluar kamar.


Sudah terlalu siang untuk sarapan. Mereka pun langsung menuju mobil, lalu pergi meninggalkan villa dengan nuansa asri itu. Tujuan utama kali ini adalah kediaman Emiliano Moriarty. Keduanya harus menempuh sekitar kurang lebih lima jam perjalanan hingga tiba di kota Milan.


Selama di dalam perjalanan, ada banyak hal yang menyenangkan bagi keduanya. Mereka menyempatkan diri untuk mampir di sebuah tempat makan dan mengisi perut di sana. Setelah kenyang, perjalanan pun dilanjutkan. Tak terlihat rona lelah di wajah keduanya. Terlebih bagi Juan Pablo yang memang telah terbiasa berkendara dengan jarak yang jauh. Dulu, pria itu bahkan pernah berkendara selama kurang lebih sebelas jam dari Serbia menuju Monaco, saat membawa jasad tanpa kepala Don Vargas.


Menjelang petang, barulah dua sejoli itu tiba di kota Milan. Mobil sedan hitam yang dikendarai Juan Pablo berhenti di depan bangunan megah tapi tak terawat. Dia keluar terlebih dahulu, barulah membukakan pintu untuk Gianna.


"Inilah rumahku, Juan. Dulu jauh lebih indah dan terawat saat kami masih mempekerjakan beberapa orang pelayan. Namun, setelah bisnis ayahku goyah ...." Gianna tak melanjutkan penuturannya. Dia menoleh kepada Juan Pablo yang berdiri terpaku menatap bangunan megah di depannya. "Apa kau ingin masuk?" tawar Gianna.


Juan Pablo menoleh. Dia kembali menggenggam jemari gadis di sebelahnya dengan erat. "Lima jam perjalanan yang sia-sia jika aku hanya berdiri di sini," jawab Juan Pablo dengan nada bicara yang seperti biasanya.


Tanpa harus menunggu lama, seseorang datang dan terdengar membuka kunci. Setelah itu, pintu pun terbuka sehingga menampakkan sosok pria paruh baya yang berdiri di baliknya.


"Padre," sapa Gianna. Dia melepaskan tangannya dari Juan Pablo, kemudian memeluk sang ayah yang segera menyambut dirinya dengan penuh suka cita.


"Siapa yang datang pada jam seperti ini, Emiliano?" seru Claudia terdengar cukup nyaring.


"Putrimu datang berkunjung, Claudia," sahut Emiliano dengan raut bahagia.


"Untuk apa dia kembali lagi kemari? Bukankah dia lebih memilih mengikuti anak harammu?" seru Claudia dari bagian dalam rumah. Sebuah kalimat yang tentu saja menimbulkan rasa tidak nyaman untuk didengar. "Anak tidak tahu terima kasih, seharusnya kau ...." Claudia yang terus mengumpat sambil menghampiri ke arah pintu, segera tertegun ketika melihat bahwa Gianna tidak datang sendiri. Sementara Emiliano hanya mengempaskan napas panjang penuh sesal dengan sikap istrinya.


"Maaf, Juan," sesal Gianna pelan. Namun, Juan Pablo tidak menjawab. Pria bertubuh tegap itu meraih jemari Gianna, lalu kembali menggenggamnya dengan erat. Sebuah isyarat bagi gadis itu bahwa dirinya tak masalah dengan penyambutan tak mengenakan dari Claudia.


"Siapa yang kau bawa kemari, Gia?" tanya Claudia pada akhirnya, setelah dia berdiri di hadapan Juan Pablo.

__ADS_1


Juan Pablo mengulurkan tangan, mengajak untuk bersalaman kepada Claudia. "Juan Pablo Herrera," jawab pria itu dengan tegas.


"Juan Pablo Herrera?" ulang Claudia membalas jabat tangan pria asal Meksiko tadi. "Namamu tidak seperti nama orang Italia," ujarnya kemudian.


"Aku berasal dari Meksiko," jawab Juan Pablo lagi.


"Oh, luar biasa," decak Claudia dengan sepasang mata yang tampak berbinar. "Ayo, silakan duduk." Tangannya mengarah ke ruang tamu, di mana terdapat sofa dengan warna merah marun.


"Mari, Nak," ajak Emiliano. Dia mengarahkan Juan Pablo ke sana, kemudian mempersilakannya duduk.


"Kau ingin minum sesuatu?" tawar Claudia.


"Tidak usah, Nyonya. Aku tidak akan lama. Aku kemari hanya untuk menemani Bice sekalian ingin mengenal keluarganya," tolak Juan Pablo dengan sopan, meskipun gaya bicaranya masih terkesan datar dan agak dingin. Namun, memang seperti itulah pembawaan pria itu.


"Selamat datang di keluarga kami, Nak," sambut Emiliano. "Seperti inilah keadaannya. Perkenalkan, namaku Emiliano Moriarty dan dia istriku Claudia," tunjuk Emiliano setelah memperkenalkan dirinya. "Ke mana Agustine?" tanya Emiliano seraya menoleh kepada Claudia.


"Dia keluar sejak siang dan belum kembali hingga saat ini," jawab Claudia yang duduk di sebelah suaminya.


"Siapa Agustine?" tanya Juan Pablo.


"Gianna memiliki dua orang kakak laki-laki. Agustine adalah putra kedua kami. Sementara kakak pertamanya bernama Ilario. Namun, dia sedang tidak di rumah," jelas Emiliano.


"Apa Ilario masih belum kembali?" tanya Gianna.


"Entah dia akan kembali lagi atau tidak. Kakakmu bahkan tidak pernah menghubungiku sama sekali. Aku sudah bertanya pada beberapa teman dekatnya, tapi tak ada satu pun yang mengetahui keberadaan dia," jawab Claudia antara kesal dan khawatir bercampur menjadi satu. Terlebih, karena Ilario merupakan anak kesayangannya.


"Memangnya apa terjadi dengan putra pertama Anda?" tanya Juan Pablo yang merasa penasaran setelah mendengar jawaban dari Claudia.


"Kami tidak tahu dengan pasti. Tiba-tiba dia pergi hingga saat ini. Kami kehilangan jejak Ilario, karena dia pun tak pernah memberikan tanda tentang keberadaanya. Begitulah jika bersinggungan dengan mafia," tutur Claudia.

__ADS_1


__ADS_2