
Romeo memarkirkan mobil sedan yang dia kendarai di seberang sebuah salah satu cafè elite. Setelah membukakan pintu untuk Miabella yang sebelumnya telah melepas segala atribut penyamaran, mereka berdua kemudian berjalan menuju cafè tadi.
Pada sebuah meja yang terletak di deretan paling samping, telah menunggu seorang gadis muda berambut pirang dengan panjang sebatas punggung. Gadis cantik tersebut tampak mengedarkan pandangan, mencari sosok yang tengah ditunggunya.
Tak jauh berbeda dengan Romeo. Dia dan Miabella berdiri sejenak, sebelum pandangannya terkunci pada sosok cantik yang langsung melambaikan tangan kepada mereka. Namun, si gadis tampak sedikit kecewa, saat melihat Romeo yang muncul bersama Miabella.
"Patrizia Belsky?" sapa Romeo kepada gadis yang menatapnya dengan sorot penuh kekaguman. Bagaimana tidak, Romeo memang seorang pemuda yang sangat tampan. Walaupun tampilannya kasual, tapi putra sulung Marco tersebut selalu terlihat rapi dan bersih.
"Romeo Donzello de Luca?" balas si gadia yang bernama Patrizia tersebut. Dia berdiri menyambut kehadiran Romeo dan Miabella. "Aku pikir kau datang sendiri," ujarnya.
"Tadinya aku akan pergi sendiri. Akan tetapi, sepupuku sedang membutuhkan hiburan. Jadi, sekalian saja kuajak dia kemari. Aku harap kau tidak keberatan." Romeo mencoba menjelaskan sebelum dirinya memilih untuk duduk.
"Jangan khawatir. Anggap saja aku tidak ada," celetuk Miabella. Dia mengedarkan pandangan pada meja yang lain. Dilihatnya ada satu yang kosong. "Sebaiknya aku pindah saja," ujar gadis itu. Sebelum beranjak dari sana, Miabella sempat berbisik kepada Romeo. "Kau yang bayar pesananku. Selain itu, aku juga pinjam ponselmu."
Romeo mengempaskan napas pelan. "Tenang saja," balasnya. Dia memberi isyarat kepada Miabella agar segera meninggalkan dirinya berdua saja dengan Patrizia. Tak lupa, Romeo menyerahkan ponsel miliknya kepada sang sepupu. "Jangan macam-macam dengan ponselku," pesan pemuda tersebut.
"Tenang saja. Aku hanya meminjam untuk bermain game," balas Miabella tenang. Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu pun segera berpindah tempat. Dia duduk sendiri pada meja yang kosong tadi.
Miabella kemudian membuka ponsel pintar milik Romeo. Jemarinya lincah menggeser layar, melihat setiap aplikasi yang tersimpan di sana. Ternyata, hanya sedikit sekali aplikasi game yang ada di ponsel milik pemuda itu. Miabella pun memilih untuk masuk ke aplikasi pesan.
Naluri nakal Miabella tiba-tiba muncul, ketika melihat nama-nama kontak yang berderet di sana. Rata-rata adalah berasal dari nomor seorang gadis. Namun, sayangnya semua pesan yang coba Miabella intip ternyata hanya berupa kotak kosong. Romeo telah menghapus setiap isi chatnya dengan para gadis dalam daftar. "Dasar buaya darat," gumam Miabella. Dia lalu melambai pada seorang pramusaji untuk memesan sesuatu.
Sambil menunggu pesanan datang, Miabella kembali mengedarkan pandangan pada sekeliling tempat tersebut. Dia memang kerap datang ke Italia, tapi jarang sekali melakukan hal seperti yang sedang dilakukannya saat itu. Kalaupun pergi ke luar, maka Adriano dan Mia akan menyertainya.
Miabella terus memainkan ponsel milik Romeo, hingga akhirnya dia teringat akan satu nomor kontak. Gadis berambut panjang itu pun segera mengetik sesuatu.
Hai ....
Pesan terkirim. Tak berselang lama segera terbaca. Akan tetapi, ternyata tak juga ada balasan. Miabella masih sabar menunggunya. Namun, bahkan hingga pesanan gadis itu datang, tak juga muncul balasan kepadanya. Miabella pun mengirimkan pesan teks sekali lagi.
Apa kau sibuk?
Kali ini pesannya langsung terbaca. Akan tetapi, tak berbalas. Jengkel karena niat isengnya tak berjalan mulus, Miabella kembali mengirimkan pesan ketiga.
__ADS_1
Sombong sekali kau ini.
Pesan itu sudah terbaca. Kali ini berbalas emoji jari tengah.
"Ah, sialan!" umpat Miabella. Namun, sesaat kemudian gadis itu tersenyum. Dia lalu memilih ikon kamera, kemudian mengambil foto dirinya yang tengah menjulurkan lidah. Setelah itu, Miabella pun mengirimkan foto tadi pada nomor yang sama. Tak sampai lima detik, pesan gambar yang dia kirimkan langsung mendapat balasan.
Nona.
Miabella tertawa pelan. Dia kembali membalas.
Ya, ini aku. Kebetulan aku meminjam ponsel milik Romeo.
Tak berselang lama, sebuah balasan masuk.
Memangnya ke mana ponselmu?
Ragu, Miabella membalas pesan tersebut. Namun, dia tak bisa menyembunyikan apapun dari seseorang yang tak lain adalah Carlo. Miabella pun menjawab pertanyaan tadi.
Ponselku ada di Casa de Luca. Kebetulan aku sedang keluar bersama Romeo.
"Nona, kau sedang berada di mana?" tanya Carlo yang sepertinya sudah dapat merasakan sesuatu yang tak beres.
"Aku sedang di cafè bersama Romeo. Jangan katakan apapun kepada ibuku atau daddy zio," pesan gadis itu dengan tenang, tapi terkesan serius.
"Bisakah aku bicara dengan Dante?"
"Kurasa ... mungkin saat ini dia sedang memeluk mesra anjing-anjingnya di dalam kandang." Miabella tertawa geli atas ocehan tak pentingnya.
"Astaga, jadi kau ... kau pergi tanpa pengawalan?" Suara dan nada bicara Carlo terdengar gusar.
"Apa masalahnya? Aku baik-baik saja. Aku bukan seorang target pembunuhan atau saksi kunci sebuah kasus penting. Karena itu, kenapa diriku harus terus di kawal ke manapun?" Miabella mencicipi makanan serta minuman yang sudah dia pesan.
"Mengertilah, nona. Itu demi keamananmu sendiri. Kumohon agar jangan mencari masalah lagi dengan tuan D'Angelo," tegur Carlo khawatir. Sikap dewasa serta ketenangan pria itu, memang sangat dibutuhkan oleh seorang gadis seperti Miabella. "Sebaiknya kau segera pulang, nona. Ini sudah terlalu malam," saran Carlo penuh perhatian.
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku sedang menemani Romeo dalam acara kencan buta dengan seorang gadis pirang." Miabella kemudan menjauhkan sejenak ponsel dari telinganya, untuk mengambil gambar Romeo bersama Patrizia. Wajah gadis cantik tadi terpampang jelas di dalam foto yang dikirimkan oleh Miabella kepada Carlo.
"Baiklah. Kuharap kau bisa menjaga dirimu, nona," tutup Carlo yang terdengar cukup kecewa atas ulah Miabèlla.
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan Carlo, Miabella kemudian memutuskan untuk ke toilet sebentar. Sayup-sayup dia mendengar perbincangan beberapa orang gadis di sana. Miabella pun mengakhiri aktivitasnya di dalam bilik toilet. Dia berjalan ke meja wastafel untuk mencuci tangan. Sedangkan gadis-gadis yang berjumlah sekitar tiga orang tadi masih berbincang hangat sambil tertawa-tawa.
Tanpa memedulikan mereka yang teramat berisik, Miabella segera keluar dari dalam toilet. Dia berjalan di antara para pengunjung lain. Namun, Miabella segera menghentikan langkah saat melihat Romeo dan Patrizia sudah tidak ada di mejanya. Gadis itu pun mengedarkan pandangan. Sepintas dia melihat sepupunya yang tampan tersebut berjalan dengan empat orang pria tinggi besar. Dua berada di depan, dua lagi di belakang. Entah akan ke mana mereka, karena saat itu Romeo digiring keluar dari area cafè.
Tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diharapkan kepada sepupunya, Miabella berjalan mengikuti mereka. Dia lalu merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. "Carlo, aku melihat Romeo digiring oleh para pria tinggi besar. Satu yang pasti mereka bukan berasal dari klan de Luca," ucap Miabella pelan sambil terus berjalan.
"Nona, kembali!" suruh Carlo. Dia dapat mencium sesuatu yang tak beres.
"Aku harus tahu ke mana mereka membawa Romeo," sahut Miabella.
"Nona kembali. Itu terlalu berbahaya untukmu!" Carlo sudah terdengar sangat gusar.
Sesaat kemudian, Miabella pun menghentikan langkah saat melihat Romeo dibawa masuk ke dalam sebuah mobil. Tanpa pikir panjang, Miabella mengambil gambar kendaraan tersebut dan mengirimkan kepada Carlo yang masih berada dalam sambungan telepon bersamanya.
"Nona! Nona! Apa kau masih di situ?" tanya Carlo tak tenang.
"Mereka membawa sepupuku Carlo. Astaga! Bagaimana ini?" Miabella mulai panik ketika mobil yang membawa Romeo sudah semakin menjauh dari pandangan. "Aku akan segera menghubungi paman Marco," ucap Miabella lagi.
"Nona, kembali ke mobilmu dan pulanglah ke Casa de Luca. Setelah itu baru kau beritahukan ini kepada tuan Marco de Luca," saran Carlo.
"Baiklah. Aku akan segera pulang, tapi ... tapi kunci mobil ada pada Romeo ...." Miabella terdiam sejenak.
"Astaga! Kalau begitu carilah taksi atau apapun itu, asalkan kau bisa segera kembali ke Casa de Luca! Aku tak ingin jika kau terus berada di luar!" Belum pernah Carlo berbicara dengan begitu tegas kepada Miabella. Sementara gadis itu juga langsung menurut tanpa banyak membantah.
"Nanti kuhubungi lagi setelah tiba di Casa de Luca." Miabella bermaksud untuk memutus sambungan teleponnya bersama Carlo. Akan tetapi, pria bertato itu mencegahnya.
"Jangan matikan sambungan teleponnya sebelum kau tiba di Casa de Luca," ujar Carlo. Dia harus terus memastikan Miabella tetap aman.
"Baiklah," balas gadis itu. Dia melihat ke jalan untuk mencari taksi. Namun, karena saat itu sudah hampir tengah malam, Miabella pun kesulitan menemukannya. Gadis cantik tersebut tak putus asa. Dia berjalan ke arah lain. "Aku kesulitan mendapatkan taksi. Aku akan minta Fabio untuk menjemput kemari," ucap Miabella mencoba tetap bersikap tenang, meskipun saat itu dia merasa resah dengan keadaan Romeo yang dibawa pergi oleh orang-orang tak dikenal.
__ADS_1
"Itu bukan ide buruk. Kembalilah ke dalam cafè dan tunggu di sana," saran Carlo.
Miabella pun menurut. Dia berbalik menuju ke arah cafè tadi. Namun, belum sempat gadis itu beranjak dari sana, sebuah mobil SUV hitam berhenti. Dua orang pria menariknya masuk dengan paksa.