THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 10


__ADS_3

Selamat membaca .....


🔴🔴🔴🔴🔴


DONALD BEBEK PUNYA KELAKUAN


Langit London sudah mulai menggelap. Begitupun hati si Donald Bebek yang juga agak burem.


“Aku pikir kita akan ke Mansion, D?.”


Fania bertanya pada Andrew yang sejak keluar dari kafe dengan gusar tadi, karena anak kecil yang bernama


Sarah yang ngotot memanggil Fania dengan sebutan Mommy ditambah anak kecil itupun ngotot dan terus – terusan merengek.


Namun Andrew tak menjawab pertanyaan Fania barusan. Ia menyuruh supir untuk mengantarkan dirinya, Fania,


berikut Andrea dan Hera kembali ke kediaman pribadi mereka.


Fania hanya menghela nafasnya. Di kafe tadi, ia sempat melotot pada Andrew karena ia membela Sarah


yang menangis setelah dibentak Andrew. Dan suaminya itu juga sempat bersitegang dengan Cornell yang tak terima karena putrinya di bentak Andrew. Jadilah si Kajol pusing sendiri.


‘Gimana ngadepin nya ini?.’


**


Tidak ada ada kata – kata yang keluar dari mulut Andrew sejak mereka sampai ke kediaman pribadi mereka,


apalagi senyuman. Wajah tak senang Andrew juga tak sedikitpun memudar.


Fania meminta Hera untuk membawa Andrea ke kamar putrinya itu dan agar Hera menemaninya. Karena Fania


sudah mencium bau – bau pertengkaran yang mungkin saja terjadi antara dia dan Andrew. Jangan sampai mereka bertengkar di depan putri semata wayangnya itu.


Hingga sampai Fania selesai mengurusi Andrea dan putrinya itu sudah tertidur dikamarnya ditemani oleh sang


pengasuh, dan Fania juga sudah selesai membersihkan dirinya dan berganti baju, Andrew masih acuh padanya.


“D, aku siapin makan malam dulu.”


Fania berbicara namun lagi – lagi Andrew tak menjawabnya. Menoleh pun tidak.


Andrew duduk di balkon kamarnya dan Fania sambil menyesap rokoknya. Fania membiarkan saja suaminya yang nampak sedang merajuk itu.


Membiarkan Andrew untuk sendiri untuk mungkin menetralkan emosinya.


***


Mansion Adjieran Smith, London


“Bukannya Naomy dan Andrew mau menginap disini?.” Tanya Dewa pada Reno.


“Ga jadi.” Jawab Reno.


“Kenapa?”


“Ada masalah di Kafe”


“Ada masalah apa, Hon.” Tanya Ara.


“Iya ada masalah apa, R?. Tadi gue tinggal baik – baik aja perasaan. Kalau ada masalah kok si Naomy ga


info ke gue?.”


“Bukan masalah pada Kafe. Tapi ada insiden yang melibatkan Andrew” Ucap Reno.


“What happened ( Ada apa? ).” Tanya Dad.


Reno menjelaskan pada semua orang yang didekatnya tentang kejadian antara Andrew dengan salah seorang pria


beserta putrinya. Informasi yang ia dapat dari Walker sore tadi.


“Yah resiko punya istri cantik dan ramah seperti Fania.” Celetuk Mom. “Lagian cemburu sih sama anak kecil. Heran.”


“Masalahnya itu anak kecil ngotot bilang Fania itu ibunya, merengek juga sama ayahnya ga mau melepaskan si Fania” Ucap Reno. "Yah itu yang dibilang si Donald Bebek waktu R tanya sama dia, konfirmasi infonya Walker" Sambungnya. "Dan seperti yang kalian tahu kan bagaimana si Donald Bebek punya kelakuan kalau sisi over posesif nya kambuh?"


“Tapi aku ga kebayang juga sih, mukanya Kak Andrew kalau ada anak kecil yang minta Kak Fania jadi ibunya pas dia ada disana. Nah dia over posesif gitu sama Kak Fania.”


Reno manggut – manggut mendengar ucapan Michelle barusan. ‘Entah apa yang akan dilakukan si Donald

__ADS_1


Bebek untuk mencegah Fania ga usah datang lagi ke kafe.’ Batin Reno bermonolog.


***


“D.” Fania tak tahan dicuekin oleh Andrew. Pada saat makan malam pun suaminya itu tetap diam, tetap acuh, jangankan bicara, melirik dirinya pun engga.


“I’ll be on my office. Don’t disturb me ( Aku akan ke ruang kerja aku. Jangan ganggu ).” Andrew langsung melangkah menuju ruang kerjanya.


“D ....”


Fania mengejarnya.


“Can you just give me some space. Mom-my? ( Apa bisa kamu memberikan aku ruang, Mom – my? ).” Andrew


menghentikan langkahnya sejenak dan berkata pada Fania, namun tak menoleh.


***


“Marah beneran sih ini dia.” Fania menggumam sendiri dikamarnya dan Andrew. Pasalnya sudah dua jam dari sejak pria suaminya itu ‘mengurung’ diri diruang kerja pribadinya, Andrew juga belum muncul kedalam kamar.


Pada akhirnya Fania pun terlelap karena Andrew tak kunjung masuk kamar, dan hari ini ia merasakan badannya lumayan lelah.


***


Fania mengerjap – ngerjapkan matanya. Langit nampak masih gelap, dan ia melirik jam digital diatas nakas. Namun bagian perutnya terasa sedikit sesak. Ia melirik kebawah. Sebuah tangan kekar sedang melingkar disana.


‘Syukur deh kalau dia udah ga marah lagi.’


Fania hendak beringsut untuk bergegas kekamar mandi dan berwudhu. Namun tangan kekar itu menahannya. Fania membalikkan tubuhnya.


“Kamu udah bangun, D”


Fania tersenyum dan membelai lembut pipi Andrew yang masih terpejam itu. Namun Andrew tak menjawab.


“Subuh dulu yuk, D.”


Belum ada sahutan.


“D..” Panggil Fania.


“Nanti aku menyusul.” Andrew mengubah posisi tidurnya jadi terlentang.


“Ya udah aku duluan ya, D” Ucap Fania.


*


Tok .. Tok .. Tok ..*


“Ma’am, there's someone come and bring a lot of clothes, and he said Mister Andrew was ordered it ( Nyonya, ada


seseorang dibawah dan membawa banyak pakaian, dan dia bilang kalau itu pesanan Tuan Andrew ).” Salah satu asisten rumah tangga Fania terlihat didepan pintu kamarnya saat ia sudah membuka pintu tersebut.


“Bring those here ( Bawa itu semua kesini ).”


Andrew langsung menyahut sebelum Fania yang menjawab asisten rumah tangga mereka itu.


Fania menganggukkan kepalanya pada si asisten rumah tangganya itu yang langsung bergegas untuk melakukan apa yang Andrew suruh. ‘Iyain aja dah dulu.’


**


‘Baju cewek semua?.’ Fania keheranan setelah asisten rumah tangganya bersama orang suruhan Andrew membawakan pakaian yang dibilang adalah pesanan Andrew kedalam kamar mereka.


Pasalnya Fania berpikir kalau Andrew memesan jas kerja baru atau semacamnya.


“D, ini baju untuk siapa?. Banyak banget. Baju cewek semua?.” Tanya Fania.


“Untuk kamulah! Siapa lagi.” Jawab Andrew sekenanya.


“Buat aku?” Fania keheranan. “Tapi ini setelan kerja semua?”


“It is ( Memang! ).”


“Kamu mau aku ke kafe pake baju ini gitu?.” Fania melihat – lihat pakaian tersebut satu persatu. “Formal amat. Lagian aku juga ga setiap hari ke kafe, D.”


“Ada aku bilang suruh pakai itu ke kafe?”


“Nah terus baju kerja sebanyak ini?.”


“Mulai sekarang kamu kerja sama aku.” Andrew sudah berdiri didepan Fania.

__ADS_1


“Hah?.”


“Mulai hari ini, kamu, akan ke Perusahaan dan bekerja disana, bersama aku, Momma!.”


“Hah?!.”


“Kafe bisa kamu pantau tanpa harus datang bukan?. Karena mulai sekarang kamu akan mendampingi aku di Perusahaan. Aku ga mau kejadian ada anak dari seorang Duda yang meminta kamu jadi Mom – my nya!. Ga sudi!.”


**


Fania hanya diam sepanjang jalan menuju Perusahaan Pusat keluarganya yang dikelola Andrew dan Reno. Sedang


melapangkan hatinya atas doktrin Andrew padanya untuk bekerja di Perusahaan. Tak punya daya untuk menolak, menghindari marahnya si Donald Bebek kalau sampai ia menolak apa yang Andrew katakan. Terlebih lagi ini efek insiden dengan Cornell dan putrinya Sarah yang ngotot mengatakan kalau Fania adalah ibunya.


Sementara Andrew merasa puas hati karena Fania tak membantah ucapannya untuk ikut bekerja bersamanya.


“Ayo.” Ucap Andrew mengulurkan tangannya pada Fania saat mereka sudah sampai di lobi Perusahaan.


“D, apa ini perlu?”


“Kamu mau pulang atau ke Cafe?” Andrew menghentikan langkahnya dan menatap Fania.


“I..tu.. maksud aku, posisi aku ini sebagai apa di Perusahaan?. Kan mendadak gini, D?.”


“Itu biar aku yang mengurusnya. Kamu hanya perlu patuh” Ucap Andrew.


“Iya, iya, ini aku kurang patuh apa coba?” Sahut Fania.


“Bagus. Setidaknya kamu masih menghargai aku, dengan tidak membantah perkataan aku. Anak siapa dia, berani – beraninya manggil kamu, Mommy?. Kamu itu Mommanya Andrea dan Varen serta Mika. Ga ada anak orang lain yang berhak panggil kamu Mommy or whatever it is ( atau apapun itu ) diluar Keluarga Smith!.”


Andrew dengan cerocosan nya.


“Kamu tinggal pilih mau kerja disini atau aku acak – acak kafe kamu sekalian”


‘Ck!’ Fania berdecak dalam hati. Sebal, tapi tak berdaya.


“Kenapa mau protes?”


“Aku ga ngomong apa – apa juga.”


“Baguslah” Ucap Andrew. “Silahkan kalau mau protes, tapi akan aku pastikan kafe dan garasi kamu aku tutup untuk selamanya”


‘Sesungguhnya Allah bersama orang – orang yang sabar, Fania. Hadehh’


Fania mengelus dadanya.


***


“Jadi aku ngapain ini?.”


Fania kini sudah berada dalam ruangan pribadi Andrew.


“Tunggu aku disana” Andrew menunjuk kamar pribadi yang ada dalam ruangannya itu.


“Hah?. Ngapain?.” Fania keheranan.


“Pekerjaan kamu akan dimulai diatas ranjang didalam sana”


“Apa?....”


“Apa kamu punya gangguan pendengaran?”


“Apa hubungannya ranjang sama kamu suruh aku kerja disini sih?.”


“Kamu asisten pribadi aku yang sangat pribadi, jadi pekerjaan kamu dimulai dengan menyenangkan Bos kamu ini” Ucap Andrew dengan santainya. “Jadi tunggu aku disana dan pastikan apa yang kamu pakai sekarang sudah kamu lepas”


‘Demi apa ini si Donald Bebek’ Fania melongo. ‘Donald Bebeeek mesuumm Dasaarr ...!’ Batin si Kajol geregetan . 'Kalo ujung - ujungnya gue disuruh tel*nj*ng juga\, ngapain segala suruh gue pake baju kerja!. Beda tempat doang!. Pengen gue kerok kepalanya itu si Donald Bebek rasanya'


Pada akhirnya Fania hanya bisa pasrah.


'Sabar ..... sabar .... daripada kafe gue diacak - acak ama si botak!.'


***


To be continue....


Ritual jangan lupa ye,  reader emak yang blaem – blaem ....


LIKE

__ADS_1


VOTE


KOMEN


__ADS_2