
đˇ HARI YANG INDAH đˇ
ă
Selamat membaca...
Berdamai dengan masa lalu. Kiranya itu memang harus dilakukan. Agar semua ganjalan dan sakit terlepaskan, jika ada hal dimasa lalu ada yang kurang mengenakkan. Seperti Daddy R yang sudah perlahan melepaskan kebenciannya pada sang ayah kandung yang sudah berpulang, kiranya seperti itu antara Nathan dan Kevia.
Memang tak ada benci yang berada diantara keduanya, hanya ganjalan yang tidak mengenakkan dan sempat
meninggalkan luka. Itu saja. Namun kiranya luka bisa disembuhkan, bukan?. Maka itu Nathan minta kesempatan untuk memulai kembali hubungan yang pernah terputus, oh bukan. Hanya terjeda.
Dan Kevia pada akhirnya mengiyakan.
Benci tak pernah ada, cinta yang selalunya meraja. Baik di hati Nathan ataupun di hati Kevia.
Jadi ayo, kita mulai lagi dari awal dengan cara yang benar. â Pinta Nathan.
âVi ....â Nathan memanggil Kevia yang sudah datang kembali dipagi hari setelah semalam ia dipaksa pulang oleh Nathan untuk mencukupkan istirahatnya yang terganggu selama dua minggu. Kini sudah lepas tiga hari Nathan siuman dari komanya dan kondisinya berangsur membaik.
Meski juga Dokter mengatakan kalau tangan Nathan yang mengalami patah lumayan parah itu baru mungkin akan
benar â benar membaik setelah tiga bulan, namun selebihnya Nathan sudah jauh lebih baik.
âYa?â Sahut Kevia.
âMaaf aku mau tanya...â Tanya Nathan yang berbaring duduk diatas ranjangnya dalam ruang perawatan.
âAku mau jawabâ
Nathan terkekeh kecil.
âMau tanya apa?â
âJangan marah atau tersinggung. Aku hanya sekedar bertanyaâ
âIya, tanya aja.â
âEum... soal kamu dan papa kamu....â Nathan bertanya dengan ragu. âApa kamu udah nemuin papa kamu?â Tanya
Nathan lagi. âDia, cari kamu Vi. Sama seperti aku....â
â.....â
âYah meskipun usaha aku juga ga maksimal.... saking pengecutnya ....â
âKan kita udah sepakat untuk ga mengungkit lagi tentang keburukan kamu dimasa lalu sama akuâ
âIya, maafâ Sahut Nathan.
âKalau soal papa, aku sudah nemuin. Udah bicara juga. Sedang mencoba melepaskan semua dendam aku ke papa dan istrinyaâ
âSyukurlah ....â Nathan merasa lega.
âAku bersyukur bisa kenal keluarga kamu. Mereka yang menasehati soal hubungan aku ke papa, tapi tidak mengajari. Dan aku suka cara penyampaian merekaâ
â....â
âDari sejak ketemu, mereka, keluarga kamu sudah membuat aku merasa nyaman. Kak Rendy sebelumnya sih udah
cerita sedikit banyak soal keluarga kamu. Dan ternyata benar. Baik. Keluarga kamu baik. Sangat baik bahkan. Tidak seperti tampak luarâ
Nathan menyunggingkan senyum yang terlihat bahagia.
âDan yah, aku sedang mencoba melepaskan semua dendam pada papa dan juga istrinya. Nasehat keluarga kamu aku dengarkan, entah kenapa membuat aku ingin melakukannya. Melepas dendam. â Tambah Kevia lagi dan ia tersenyum memandang pada Nathan kemudian.
Nathan tersenyum mendengarkan Kevia yang berbicara tanpa ingin menginterupsi. Memperhatikan lekat â lekat Kevia yang sedang berbicara itu. Yang nampak terlihat lebih dewasa baik penampilan maupun pembawaan dirinya.
âBenar yang keluarga kamu bilang, aku bisa merasa lega jika ikhlas melepaskan semua kebencian. Baru mencoba,
tapi rasanya sudah lega. Setelah benar â benar hilang, mungkin aku bisa merasa benar â benar bahagiaâ
Nathan membelai kepala Kevia.
âPasti Vi.... pasti bahagia. Bukan mungkinâ
âIya Aamiinâ
âAku akan berusah sekuat tenaga, buat kamu bahagiaâ Ucap Nathan.
âIya makasih. Sembuh aja duluâ
Mereka terkekeh kecil bersama.
âLalu soal kita, apa kamu cerita juga?â Tanya Nathan kemudian.
Kevia menggeleng.
âYa sudah nanti aku yang akan bicara sama papa kamu tentang kita, dan perbuatan aku sama kamu dimasa laluâ Ucap Nathan sungguh â sungguh. Kevia menampakkan senyumnya yang teduh.
âGa perlu Joâ
__ADS_1
âGa apa Vi. Aku, meskipun terlambat, setidaknya dengan berbicara pada papa kamu tentang perlakuan buruk yang pernah aku lakukan pada putrinya, aku sedikit merasa mempertanggung jawabkan perbuatankuâ
â.......â
âBagaimanapun nantinya reaksi papa kamu. Aku terimaâ
â.......â
âKalau memang kamu takut dimarahi papa kamu, ya biar aku yang menemuinya sendiri nantiâ
âAku ga takut sama papa, Joâ
âLalu?â Tanya Nathan ingin tahu.
âAku hanya berpikir kalau rasanya itu tak perlu. Toh sedikit banyak papa juga punya andil atas semua yang
terjadi, atas keputusan aku empat tahun lalu. Jadi aku rasa tentang kita, tentang kesalahan kamu itu, dia tidak perlu tau. Dia hanya sudah tau, kalau kita tidak hanya sekedar dekat. Itu aja yang aku bilang sama dia. Jadi soal
kekhilafan kita dan kelanjutan dari hal itu, dia ga perlu tauâ
âYakin ga apa kalau seperti itu?. Ga kasih tau papa kamu soal kelakuan aku?â
âYakinâ Sahut Kevia. âAku juga sudah sampaikan sama orang tua dan keluarga kamu, termasuk para kakek dan
nenek kamu soal itu. Dan mereka menyerahkan semua ke aku katanya. Terserah Via.... begitu kata mereka, kalau soal perbuatan kamuâ
âYa udah, kalau memang itu yang kamu mau Viâ
Kevia menunjukkan senyumnya lalu tangannya menyentuh pipi Nathan yang langsung ditangkap dan dikecup lembut oleh yang punya pipi. âMau makan?â Tanya Kevia kemudian.
Nathan menggeleng.
âMakan ah, kan harus minum obat?â Ucap Kevia. âJangan bandel. Janjinya kan nurut sama akuâ Tambahnya.
âAku belum laparâ Sahut Nathan tanpa memalingkan tatapannya dari Kevia.
âKamu harus makan Jonathaann....â
âNgemil ajaâ
âNgemil apa?â
âNgemilikin kamu seutuhnyaâ
**
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
Nathan sudah merasa tubuhnya sudah cukup sehat selain tangan kanannya. Jadi ia memaksa untuk segera keluar dari Rumah Sakit pada keluarganya yang kemudian diiyakan oleh semua.
âJangan petakilan dulu ya Tan â Tanâ Ledek Andrea. âItu, materi kuliah lo selama tiga minggu terakhir udah di print out sama Kak Sony. Gue letakkan diatas meja belajar lo tuhâ
âIya makasih ya Cute Giirll....â
âSama â sama Tan â Taan! ....â
âTake a rest then Boy. (Beristirahatlah Nak)â
âLater Pap. Tired and bored of being laid down on the bed. (Nantilah Pap. Letih dan bosan berbaring ditempat tidur)â
âBy the way, jadi mau pakai perawat pribadi untuk dia?â
âAh, memang gue manula harus pakai perawat pribadi segala?â
âYa siapa tahu?â
âLagian kalau mau pakai perawat pribadi, nih udah adaâ
Nathan tersenyum iseng pada Kevia yang ikut mengantarnya pulang sampai ke Kediaman.
âHalalin dulu!â Celetuk Momma.
âSiap kalau soal itu sih!â Sahut si Tan â Tan.
Sementara Kevia dan sisanya tersenyum dan terkekeh saja. âMau memang Via, dihalalin sama dia?â Timpal Mama
Jihan.
Kevia hanya melebarkan senyumnya. Kalau boleh jujur sebenarnya ia sedikit merasa malu dan canggung soal pembicaraan halal menghalalkan yang ia pahami kemana arahnya. Namun seperti kesan dari sejak awal pada keluarga Nathan, mereka memang seperti ini orangnya.
âDia diam saja. Berarti menolakâ
Itu Daddy R yang nyeletuk iseng sambil mesam â mesem.
âAda juga diam maksudnya mau Dadâ
âPede!â Seloroh Mami Prita dan beberapa lainnya yang membuat mereka kembali terkekeh bersama. âTangan lurusin aja duluâ
âIya, bentar lagi juga lurus ini tangan. Selurus niat aku buat mengucap ijab didepan penghuluâ
âHeleh!â
__ADS_1
**
Dua bulan telah berlalu semenjak kecelakaan Nathan.
Tangan Nathan sembuh lebih cepat dari perkiraan. Namun Nathan masih diharuskan untuk berhati â hati dalam
mempergunakan tangan kanannya meski gips sudah dilepaskan.
Seperti yang sudah diminta Nathan pada Kevia sejak ia sadar dari komanya, kalau ia ingin memulai semuanya dari awal mengenai hubungan cintanya dengan Kevia.
Jadi bisa dibilang, sudah dua bulan belakangan Nathan dan Kevia pacaran. Sudah sering menyambangi Kevia
yang kini sudah tinggal kembali dengan sang papa dan ibu tirinya. Gadis itu sudah berdamai dengan masa lalu yang terisi dendam dihatinya.
Bahagia. Tak hanya melingkupi Nathan saja saat ini, namun juga keluarganya. Terlepas kesalahan yang begitu fatal yang pernah dilakukan salah satu putra dalam keluarga, tetap saja Nathan memang layak diberi kesempatan, selain karena rasa sayang.
Kekeliruan, kesalahan, biarlah jadi pelajaran dan proses perbaikan diri.
Dan hal itu yang sedang Nathan lakukan. Memperbaiki kesalahan, menebus dengan keseriusan berikut cinta
didalamnya pada Kevia.
Waktu, juga pengalaman yang meniti seseorang menuju kedewasaan. Meski usianya masih dua puluhan, namun
Nathan sudah meyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan akan sebuah kesiapan.
Dan disinilah Nathan sekarang. Menyambangi rumah papanya Kevia bersama keluarga besar, hanya untuk satu alasan.
Meminang Kevia.
Dimana hari Nathan rasanya begitu indah, dengan bahagia dalam hatinya ketika papa Kevia bertanya pada
putrinya,
âVia, gimana, mau menerima lamaran Jonathan?â
Dan Kevia menjawab,
âIya, Via mauâ
**
Dua bulan kemudian ..Â
Hari yang ditunggu Nathan sudah tiba.
Hari besar untuknya dan Kevia.
Hari Pernikahan mereka, yang seperti halnya Abang dan Andrea, melakukan ijab kabul dulu lalu resepsi akan
diadakan setelah seminggu kemudian demi kesempurnaan persiapan.
Hati Nathan jumpalitan, tak sabar untuk melihat sang gadis pujaan yang orangnya kini sedang diantar untuk sampai kedekatnya. Mata Nathan tak mau ia kedip kan rasanya memandangi Kevia dalam kebaya pengantinnya.
Tatapan memuja Nathan lemparkan pada Kevia yang berjalan sembari menatap dan melemparkan senyum padanya. Dan akibatnya, hati Tan â Tan yang udah jumpalitan itu seolah akan loncat keluar dari tempatnya.
Ketika Nathan dan Kevia sudah berdekatan, hendak didudukkan untuk disahkan. Telaga teduh keduanya
bersinggungan. Sedikit melempar obrolan.
âCantikâ
âDari lahirâ
âUdah siap?â
âKamu?â
âSiapâ
âYakin?â
âSangatâ
âKalau ternyata aku frigid dini?â Pertanyaan absurd dilontarkan Kevia, membuat Nathan dan yang mendengarnya
terkekeh kemudian.
Tapi memang seperti itulah Kevia. Gadis yang Nathan cintai sejak SMA meski pernah ia berikan luka.
âFrigid, Freezer, I donât care. Nikah aja dulu. Setelah itu itu main pok ame â ameâ
Dimana Kevia menautkan alisnya atas ucapan Nathan yang tak tahu kemana maksudnya. Lain hal dengan keluarga Nathan, yang sudah bisa menebak kemana ucapan Nathan barusan mengarah.
Pastinya untuk sebuah gombalan receh yang si Tan - Tan punya banyak stoknya.
âAku belalang kamu kupu â kupu. Habis Ijab makan nasi, nanti malam minum susuâ
Yang ingin sekali ditoyor kepalanya oleh anggota keluarga Nathan sendiri.
**
__ADS_1
To be continue ..