THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 283


__ADS_3

🌷 HARI YANG INDAH 🌷


 


Selamat membaca...


Berdamai dengan masa lalu. Kiranya itu memang harus dilakukan. Agar semua ganjalan dan sakit terlepaskan, jika ada hal dimasa lalu ada yang kurang mengenakkan. Seperti Daddy R yang sudah perlahan melepaskan kebenciannya pada sang ayah kandung yang sudah berpulang, kiranya seperti itu antara Nathan dan Kevia.


Memang tak ada benci yang berada diantara keduanya, hanya ganjalan yang tidak mengenakkan dan sempat


meninggalkan luka. Itu saja. Namun kiranya luka bisa disembuhkan, bukan?. Maka itu Nathan minta kesempatan untuk memulai kembali hubungan yang pernah terputus, oh bukan. Hanya terjeda.


Dan Kevia pada akhirnya mengiyakan.


Benci tak pernah ada, cinta yang selalunya meraja. Baik di hati Nathan ataupun di hati Kevia.


Jadi ayo, kita mulai lagi dari awal  dengan cara yang benar. – Pinta Nathan.


“Vi ....” Nathan memanggil Kevia yang sudah datang kembali dipagi hari setelah semalam ia dipaksa pulang oleh Nathan untuk mencukupkan istirahatnya yang terganggu selama dua minggu. Kini sudah lepas tiga hari Nathan siuman dari komanya dan kondisinya berangsur membaik.


Meski juga Dokter mengatakan kalau tangan Nathan yang mengalami patah lumayan parah itu baru mungkin akan


benar – benar membaik setelah tiga bulan, namun selebihnya Nathan sudah jauh lebih baik.


“Ya?” Sahut Kevia.


“Maaf aku mau tanya...” Tanya Nathan yang berbaring duduk diatas ranjangnya dalam ruang perawatan.


“Aku mau jawab”


Nathan terkekeh kecil.


“Mau tanya apa?”


“Jangan marah atau tersinggung. Aku hanya sekedar bertanya”


“Iya, tanya aja.”


“Eum... soal kamu dan papa kamu....” Nathan bertanya dengan ragu. “Apa kamu udah nemuin papa kamu?” Tanya


Nathan lagi. “Dia, cari kamu Vi. Sama seperti aku....”


“.....”


“Yah meskipun usaha aku juga ga maksimal.... saking pengecutnya ....”


“Kan kita udah sepakat untuk ga mengungkit lagi tentang keburukan kamu dimasa lalu sama aku”


“Iya, maaf” Sahut Nathan.


“Kalau soal papa, aku sudah nemuin. Udah bicara juga. Sedang mencoba melepaskan semua dendam aku ke papa dan istrinya”


“Syukurlah ....” Nathan merasa lega.


“Aku bersyukur bisa kenal keluarga kamu. Mereka yang menasehati soal hubungan aku ke papa, tapi tidak mengajari. Dan aku suka cara penyampaian mereka”


“....”


“Dari sejak ketemu, mereka, keluarga kamu sudah membuat aku merasa nyaman. Kak Rendy sebelumnya sih udah


cerita sedikit banyak soal keluarga kamu. Dan ternyata benar. Baik. Keluarga kamu baik. Sangat baik bahkan. Tidak seperti tampak luar”


Nathan menyunggingkan senyum yang terlihat bahagia.


“Dan yah, aku sedang mencoba melepaskan semua dendam pada papa dan juga istrinya. Nasehat keluarga kamu aku dengarkan, entah kenapa membuat aku ingin melakukannya. Melepas dendam. ” Tambah Kevia lagi dan ia tersenyum memandang pada Nathan kemudian.


Nathan tersenyum mendengarkan Kevia yang berbicara tanpa ingin menginterupsi. Memperhatikan lekat – lekat Kevia yang sedang berbicara itu. Yang nampak terlihat lebih dewasa baik penampilan maupun pembawaan dirinya.


“Benar yang keluarga kamu bilang, aku bisa merasa lega jika ikhlas melepaskan semua kebencian. Baru mencoba,


tapi rasanya sudah lega. Setelah benar – benar hilang, mungkin aku bisa merasa benar – benar bahagia”


Nathan membelai kepala Kevia.


“Pasti Vi.... pasti bahagia. Bukan mungkin”


“Iya Aamiin”


“Aku akan berusah sekuat tenaga, buat kamu bahagia” Ucap Nathan.


“Iya makasih. Sembuh aja dulu”


Mereka terkekeh kecil bersama.


“Lalu soal kita, apa kamu cerita juga?” Tanya Nathan kemudian.


Kevia menggeleng.


“Ya sudah nanti aku yang akan bicara sama papa kamu tentang kita, dan perbuatan aku sama kamu dimasa lalu” Ucap Nathan sungguh – sungguh. Kevia menampakkan senyumnya yang teduh.


“Ga perlu Jo”

__ADS_1


“Ga apa Vi. Aku, meskipun terlambat, setidaknya dengan berbicara pada papa kamu tentang perlakuan buruk yang pernah aku lakukan pada putrinya, aku sedikit merasa mempertanggung jawabkan perbuatanku”


“.......”


“Bagaimanapun nantinya reaksi papa kamu. Aku terima”


“.......”


“Kalau memang kamu takut dimarahi papa kamu, ya biar aku yang menemuinya sendiri nanti”


“Aku ga takut sama papa, Jo”


“Lalu?” Tanya Nathan ingin tahu.


“Aku hanya berpikir kalau rasanya itu tak perlu. Toh sedikit banyak papa juga punya andil atas semua yang


terjadi, atas keputusan aku empat tahun lalu. Jadi aku rasa tentang kita, tentang kesalahan kamu itu, dia tidak perlu tau. Dia hanya sudah tau, kalau kita tidak hanya sekedar dekat. Itu aja yang aku bilang sama dia. Jadi soal


kekhilafan kita dan kelanjutan dari hal itu, dia ga perlu tau”


“Yakin ga apa kalau seperti itu?. Ga kasih tau papa kamu soal kelakuan aku?”


“Yakin” Sahut Kevia. “Aku juga sudah sampaikan sama orang tua dan keluarga kamu, termasuk para kakek dan


nenek kamu soal itu. Dan mereka menyerahkan semua ke aku katanya. Terserah Via.... begitu kata mereka, kalau soal perbuatan kamu”


“Ya udah, kalau memang itu yang kamu mau Vi”


Kevia menunjukkan senyumnya lalu tangannya menyentuh pipi Nathan yang langsung ditangkap dan dikecup lembut oleh yang punya pipi. “Mau makan?” Tanya Kevia kemudian.


Nathan menggeleng.


“Makan ah, kan harus minum obat?” Ucap Kevia. “Jangan bandel. Janjinya kan nurut sama aku” Tambahnya.


“Aku belum lapar” Sahut Nathan tanpa memalingkan tatapannya dari Kevia.


“Kamu harus makan Jonathaann....”


“Ngemil aja”


“Ngemil apa?”


“Ngemilikin kamu seutuhnya”


**


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Nathan sudah merasa tubuhnya sudah cukup sehat selain tangan kanannya. Jadi ia memaksa untuk segera keluar dari Rumah Sakit pada keluarganya yang kemudian diiyakan oleh semua.


“Jangan petakilan dulu ya Tan – Tan” Ledek Andrea. “Itu, materi kuliah lo selama tiga minggu terakhir udah di print out sama Kak Sony. Gue letakkan diatas meja belajar lo tuh”


“Iya makasih ya Cute Giirll....”


“Sama – sama Tan – Taan! ....”


“Take a rest then Boy. (Beristirahatlah Nak)”


“Later Pap. Tired and bored of being laid down on the bed. (Nantilah Pap. Letih dan bosan berbaring ditempat tidur)”


“By the way, jadi mau pakai perawat pribadi untuk dia?”


“Ah, memang gue manula harus pakai perawat pribadi segala?”


“Ya siapa tahu?”


“Lagian kalau mau pakai perawat pribadi, nih udah ada”


Nathan tersenyum iseng pada Kevia yang ikut mengantarnya pulang sampai ke Kediaman.


“Halalin dulu!” Celetuk Momma.


“Siap kalau soal itu sih!” Sahut si Tan – Tan.


Sementara Kevia dan sisanya tersenyum dan terkekeh saja. “Mau memang Via, dihalalin sama dia?” Timpal Mama


Jihan.


Kevia hanya melebarkan senyumnya. Kalau boleh jujur sebenarnya ia sedikit merasa malu dan canggung soal pembicaraan halal menghalalkan yang ia pahami kemana arahnya. Namun seperti kesan dari sejak awal pada keluarga Nathan, mereka memang seperti ini orangnya.


“Dia diam saja. Berarti menolak”


Itu Daddy R yang nyeletuk iseng sambil mesam – mesem.


“Ada juga diam maksudnya mau Dad”


“Pede!” Seloroh Mami Prita dan beberapa lainnya yang membuat mereka kembali terkekeh bersama. “Tangan lurusin aja dulu”


“Iya, bentar lagi juga lurus ini tangan. Selurus niat aku buat mengucap ijab didepan penghulu”


“Heleh!”

__ADS_1


**


Dua bulan telah berlalu semenjak kecelakaan Nathan.


Tangan Nathan sembuh lebih cepat dari perkiraan. Namun Nathan masih diharuskan untuk berhati – hati dalam


mempergunakan tangan kanannya meski gips sudah dilepaskan.


Seperti yang sudah diminta Nathan pada Kevia sejak ia sadar dari komanya, kalau ia ingin memulai semuanya dari awal mengenai hubungan cintanya dengan Kevia.


Jadi bisa dibilang, sudah dua bulan belakangan Nathan dan Kevia pacaran. Sudah sering menyambangi Kevia


yang kini sudah tinggal kembali dengan sang papa dan ibu tirinya. Gadis itu sudah berdamai dengan masa lalu yang terisi dendam dihatinya.


Bahagia. Tak hanya melingkupi Nathan saja saat ini, namun juga keluarganya. Terlepas kesalahan yang begitu fatal yang pernah dilakukan salah satu putra dalam keluarga, tetap saja Nathan memang layak diberi kesempatan, selain karena rasa sayang.


Kekeliruan, kesalahan, biarlah jadi pelajaran dan proses perbaikan diri.


Dan hal itu yang sedang Nathan lakukan. Memperbaiki kesalahan, menebus dengan keseriusan berikut cinta


didalamnya pada Kevia.


Waktu, juga pengalaman yang meniti seseorang menuju kedewasaan. Meski usianya masih dua puluhan, namun


Nathan sudah meyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan akan sebuah kesiapan.


Dan disinilah Nathan sekarang. Menyambangi rumah papanya Kevia bersama keluarga besar, hanya untuk satu alasan.


Meminang Kevia.


Dimana hari Nathan rasanya begitu indah, dengan bahagia dalam hatinya ketika papa Kevia bertanya pada


putrinya,


“Via, gimana, mau menerima lamaran Jonathan?”


Dan Kevia menjawab,


“Iya, Via mau”


**


Dua bulan kemudian .. 


Hari yang ditunggu Nathan sudah tiba.


Hari besar untuknya dan Kevia.


Hari Pernikahan mereka, yang seperti halnya Abang dan Andrea, melakukan ijab kabul dulu lalu resepsi akan


diadakan setelah seminggu kemudian demi kesempurnaan persiapan.


Hati Nathan jumpalitan, tak sabar untuk melihat sang gadis pujaan yang orangnya kini sedang diantar untuk sampai kedekatnya. Mata Nathan tak mau ia kedip kan rasanya memandangi Kevia dalam kebaya pengantinnya.


Tatapan memuja Nathan lemparkan pada Kevia yang berjalan sembari menatap dan melemparkan senyum padanya. Dan akibatnya, hati Tan – Tan yang udah jumpalitan itu seolah akan loncat keluar dari tempatnya.


Ketika Nathan dan Kevia sudah berdekatan, hendak didudukkan untuk disahkan. Telaga teduh keduanya


bersinggungan. Sedikit melempar obrolan.


“Cantik”


“Dari lahir”


“Udah siap?”


“Kamu?”


“Siap”


“Yakin?”


“Sangat”


“Kalau ternyata aku frigid dini?” Pertanyaan absurd dilontarkan Kevia, membuat Nathan dan yang mendengarnya


terkekeh kemudian.


Tapi memang seperti itulah Kevia. Gadis yang Nathan cintai sejak SMA meski pernah ia berikan luka.


“Frigid, Freezer, I don’t care. Nikah aja dulu. Setelah itu itu main pok ame – ame”


Dimana Kevia menautkan alisnya atas ucapan Nathan yang tak tahu kemana maksudnya. Lain hal dengan keluarga Nathan, yang sudah bisa menebak kemana ucapan Nathan barusan mengarah.


Pastinya untuk sebuah gombalan receh yang si Tan - Tan punya banyak stoknya.


“Aku belalang kamu kupu – kupu. Habis Ijab makan nasi, nanti malam minum susu”


Yang ingin sekali ditoyor kepalanya oleh anggota keluarga Nathan sendiri.


**

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2