
PERTIMBANGAN
*********************
Selamat membaca ...*************************
“Satu lagi Omar ..”
“Ya Tuan?”
“Bawa anak gadis dari perempuan yang bernama Dilara itu padaku”
“Baik Tuan”
“Lakukan sesunyi dan sebersih mungkin. Jangan sampai wanita itu tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya. Kau pasti paham maksud dan keinginanku kan, Omar?”
“Saya paham Tuan. Akan saya sesuai perintah anda Tuan Andrew”
“Setelahnya kau gali informasi mengenai keberadaan putriku!”
“A – pa Tuan?! Mereka juga mengambil Nona Andrea?!” Omar terdengar sangat terkejut.
“Ya! Ambil dua nama yang R akan kirimkan padamu, berikut keluarganya. Bakar tempat tinggal mereka setelahnya”
“Kenapa tidak sekalian kita tempatkan saja mereka didalamnya dan bakar mereka bersama rumah mereka itu! Kurang ajar sekali berani membawa Nona Kevia, lalu kini Nona Muda Andrea! Benar – benar cari mati!!”
“Sebelum matahari terbenam, kau sudah harus menyelesaikan semuanya!....” Tegas Poppa.
“Baik Tuan Andrew, akan segera saya lakukan” Kemudian Omar mohon ijin untuk mengakhiri hubungan teleponnya dengan Poppa.
Poppa dan Daddy R sejenak sama – sama terdiam setelah Omar mengakhiri sambungan telepon.
Kemudian Poppa teringat Momma yang sedang bersama Mommy Ara mengikuti mobil yang membawa Kevia.
“Gue akan hubungi John dulu untuk memastikan kalau dia dan Dewa sudah bersama dua orang yang dibawa Teguh” Ucap Daddy R.
Poppa langsung mengangguk. Tidak perlu mengingatkan karena rasanya Papi dan Daddy Dewa sudah tahu apa yang harus mereka lakukan pada dua orang yang paling pertama diamankan.
Terlebih setelah Daddy R memberitahukan bahwa Andrea juga menghilang dan kemungkinan besar otak pelakunya sama dengan yang membawa paksa Kevia.
***
Sementara itu di lain tempat
“Kak, coba telpon Kak Ren lagi deh. Katanya mau call kita lima menit lagi, tapi ini udah lewat perasaan gue. Gue khawatir banget sama keselamatan Via di itu mobil nih ....”
Mommy Ara dengan cepat mengangguk dan hendak menghubungi Daddy R kembali. “Panjang umurnya”
Mommy Ara menunjukkan layar ponselnya pada Momma, dimana panggilan dari Daddy R terpampang disana.
“Ya Hon gimana?”
Mommy Ara menyapa Daddy R seraya bertanya.
“Orang – orang kita sudah siap menghadang mereka kan?”
“Mereka sudah siap diposisinya masing – masing”
“Kira – kira dimana mau dihadang Kak?”
Momma bersuara, karena Mommy Ara juga sudah membuat panggilan di ponselnya itu loud speaker.
“Kalian tetap pada jarak kalian dulu ya?. Biarkan mobil itu membawa Via ke tempat tujuan mereka dahulu”
“Tapi aku dan Little F sangat mengkhawatirkan keadaan Via di dalam mobil itu, Hon! Kami takut .... kalau Via sampai dilecehkan ....”
“Itu tidak akan terjadi. Aku jamin. Aku dan mereka sudah tahu tujuan mereka membawa Via, Babe” Jelas Daddy R pada Mommy Ara dan Momma dari sebrang ponsel.
“........”
“Tapi Kak....”
Momma hendak menyela namun Daddy R kembali melanjutkan ucapannya.
“Kami perlu tahu kemana mereka membawa Via, Little F.... karena.... mereka juga membawa Little Star ....”
“APA?!”
Momma dan Mommy Ara sama – sama memekik dan terkejut bukan bukan main. Hati mereka langsung mencelos.
“Iya membawa Little Star, Heart ....” Suara Poppa yang kini terdengar dari sebrang ponsel. “Mereka juga melukai Niki”
"Ya Tuhaan...."
“Lo tetap fokus saja dulu dijarak lo sekarang ya, Little F?. Gue, Andrew dan yang lain sedang bekerja keras untuk segera menemukan Andrea. Untuk sementara ini biarkan mobil yang membawa Via bergerak ke tempat tujuan mereka”
“........”
“Sebelum kami bisa mendapatkan titik keberadaan Little Star, mobil yang membawa Via untuk sementara ini dapat dijadikan alat untuk menemukan Little Star. Karena bisa jadi mereka akan ditempatkan di tempat yang sama nantinya”
“........”
“Karena Little Star tidak membawa apapun yang bisa membantu kami melacak keberadaannya”
Lemas rasanya Momma dan Mommy Ara setelah mendengar penjelasan Poppa dan Daddy R barusan.
Pandangan mata Momma, meski lurus kedepan namun sudah sedikit nanar. Kekhawatirannya kini kian bertambah
besar.
“Sabar ya Heart, aku dan R sedang sangat berusaha untuk menyelamatkan Little Star dan Via. Kamu jangan berpikir yang bukan – bukan, tunggu aku dan R. Kami akan segera menghampiri kalian”
“Oke....” Sahut Momma pelan.
“Ya sudah, kita bertemu sebentar lagi ya” Sambung Daddy R.
“Iya....”
***
Mommy Ara menyentuh lengan kiri Momma yang terdiam dengan pandangan yang lurus seperti bergeming. “Tenangkan diri kamu Sweety. Little Star pasti bisa menjaga dirinya sampai kita bisa menemukan dan menyelamatkannya”
__ADS_1
“Iya, Kak....” Sahut Momma pelan.
“Abang juga pasti sudah bergerak sekarang untuk menyelamatkan Little Star, Sweety ....”
Momma mengangguk sambil menoleh dan tersenyum tipis pada Mommy Ara.
Lalu Momma kembali fokus pada kemudi dan mobil yang membawa Via.
‘Tunggu kami ya Sayang .... Drea pasti bisa jaga diri kan?’
Momma membatin, sambil berusaha menghibur dirinya sendiri.
***
Beberapa menit kemudian
‘Eh?!’ Momma sedikit terkesiap.
Menyadari kalau tiba – tiba mobil yang tadi mengawalnya dan Mommy Ara di belakang tahu – tahu kini sudah menyalip dan berada di depan mobil yang sedang ia kemudikan.
“Mereka kok malah nyalip sih?!”
“Mungkin mereka memang sudah mendapat perintah untuk menyalip kita, Sweety”
“Ya tapi kan, Kak ....”
“Andrew dan yang lain juga pasti sudah memprediksikan segala hal, Sweety. Kita tetap bisa mengikuti di belakang mereka, kan?”
“Iya memang. Tapi gue ga tenang!”
“Iya Kak Ara paham perasaan kamu. Kak Ara juga sama ga tenangnya seperti kamu. Toh dari sini kan kita masih bisa lihat pergerakan mobil yang membawa Via”
Mommy Ara menunjuk layar pipih dibagian tengah mobil.
Momma akhirnya mengangguk.
Namun tak lama Momma mengernyitkan dahinya.
“Loh?!”
Mobilnya kini tahu – tahu disalip satu mobil lagi yang entah dari mana datangnya.
“Ini apa – apaan?!. Orang kita juga itu?!”
Mommy Ara belum sempat menjawab dan Momma hendak memutar kemudinya ke kanan untuk menyalip lagi mobil
yang sudah berada didepan mobil yang ia kemudikan kini.
“Ini mereka orang kita bukan sih?!”
Momma mulai gusar karena saat hendak menyalip mobilnya keburu dipepet oleh sebuah mobil lagi hingga mobil yang dikemudikan Momma tak bisa bergerak ke arah kanannya.
Mommy Ara juga masih bingung dan sedang memperhatikan kedua mobil yang sudah ada di depan dan samping mereka itu.
Namun Momma tak hilang akal.
Rasanya masih bisa jika ia mundur sedikit ke belakang dan kemudian membanting setir sedikit pasti ia bisa lepas dari mobil yang berada cukup rapat di sisi kanannya.
Momma nampak kian gusar dan pada akhirnya ia menekan klaksonnya dengan tergesa.
“Ini apa – apaan sih?!”
Momma berseru dan nampak kesal.
Namun Momma tak bisa berbuat banyak pada kemudi sekarang.
Jika tidak ada Mommy Ara mungkin Momma akan nekat untuk menabrak salah satu dari tiga mobil yang memepetnya sekarang.
Hingga pada akhirnya mobil yang dikemudikan Momma dipaksa berbelok dan berhenti di satu arah.
Namun Momma dan Mommy Ara tidak langsung turun dari mobil. Dua wanita itu sedang membaca situasi, siapa tahu mobil – mobil yang memepetnya bukanlah orang – orang mereka.
Mobil yang tadi memepet mobil Momma di sebelah kanan sudah bergeser, bersamaan dengan dua orang yang muncul disisi samping pintu mobil Momma dan Mommy Ara.
“Mereka ini siapa? Kak Ara tahu? ..” Momma bertanya pada Mommy Ara sambil memperhatikan dengan seksama dua orang yang baru muncul, juga mobil yang mereka gunakan.
“Mereka orang kita”
“Kak Ara yakin?”
Mommy Ara mengangguk.
“Kak Ara kenal wajahnya. Dia orangnya kakak kamu”
Mommy Ara berkata sembari menunjuk pria yang berdiri di sisi Momma.
“Ish!” Momma mendesis kesal dan kemudian segera melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dengan tergesa.
“Nyonya...”
“KALIAN INI APA – APAAN SIH?! KENAPA MEMBERHENTIKAN KAMI, HAH???!!”
Momma langsung menyemprot pria yang ada di dekatnya itu tanpa ba-bi-bu lagi, setelah ia keluar dari mobil.
Wajah tak senang Momma mendominasi.
“Maafkan kami, Nyonya...” Pria itu menjawab hardikan Momma dengan sikap yang santun.
“KA- ....”
“Heart” Poppa muncul saat Momma kembali ingin menghardik pria yang ternyata memang adalah salah satu orang mereka.
“D! KAK REN!”
Momma berseru dengan kencang pada Poppa dan Daddy R.
“Kenapa kalian malah memberhentikan aku sih?! Via gimana?! Drea?!”
“Sshh.... tenang Heart ..” Poppa langsung mendekap Momma yang gusar dan setengah histeris itu.
“Gimana bisa tenang sih?! Via terus Drea! Aku harus menyelamatkan mereka D! Aku harus menemukan Via! Menemukan Drea! Anak kita itu, D!!!”
Poppa terus mendekap Momma yang nampak amat sangat kian gusar dengan matanya yang sudah berkaca – kaca. “Sshh ... Heart ... Sayang.. Fania.... My Lovely Fania ..” Poppa mengecup pucuk kepala Momma sambil mengelus punggung Momma, berusaha menenangkannya.
__ADS_1
Poppa paham Momma sangat gusar dan khawatir. Ia pun sama gusar dan khawatirnya seperti sang istri tercinta. Bahkan amarahnya sudah kian memuncak, hanya saat ini tak Poppa tunjukkan di depan Momma.
Poppa kembali mencoba menenangkan Momma.
“Kalau sampai terjadi apa – apa pada Via, terlebih Drea... aku ga akan maafin diri aku, D ...” Momma mulai terisak.
“Tenang dulu, Sayang...”
“Aku ga bisa tenang, D...” Lirih Momma.
“Kamu harus tenang. Aku dan R juga dua J dan Dewa sudah mengurus semuanya. Ga akan kami biarkan hal yang
buruk menimpa Via apalagi Drea, Heart. Percaya kami, hem?”
“Ya udah ayo .. ayo kita kembali ikutin mobil yang bawa Via ... aku mau ketemu Drea ...”
“Sudah kami tempatkan orang – orang terbaik, Heart ...”
“Ga mau, aku mau kita juga ikut menyelamatkan Via dan Drea, D ...”
Momma terus melirih dalam dekapan Poppa.
Poppa menghela nafasnya yang terdengar sedikit berat.
“Ya sudah. Ya sudah. Tenangkan dulu diri kamu, hem?”
Poppa menangkup wajah Momma sembari menyeka buliran air mata Momma di pelupuk mata dan pipi wanita tercintanya itu.
“Masuk dulu ke mobil bersama aku, R dan Ara. Kita sama – sama menyelamatkan Drea dan Via, hem?” Ucap Poppa membujuk Momma sekaligus agar Momma tenang.
Karena jika tidak diiyakan, Momma pastilah nekat. Bahkan untuk mendesak Momma agar tak lagi mengikuti mobil
yang membawa Via pun tadi Poppa bicarakan seksama dengan Daddy R, mengingat tingginya kemampuan Momma dalam menyetir mobil.
Dan strategi mereka dengan cara menempatkan tiga mobil untuk mendesak Momma pada akhirnya berhasil. Poppa
dan Daddy R sudah bisa menebak jalan pikiran Momma, saat mereka memutuskan memberitahukan Momma apa yang menimpa Andrea. “Ayo, kita masuk dulu ke mobil itu”
Daddy R yang sudah mendekat pada Poppa dan Momma menunjuk satu mobil model Jeep yang bisa membawa mereka berempat, dengan seorang supir dan satu pengawal pribadi.
Sementara mobil Andrew dilimpahkan pada salah satu orang mereka yang lain.
“Mobil Okky ini juga sudah cukup lama berjalan” Ucap Poppa.
Momma pada akhirnya mengangguk dan berjalan menuju mobil yang tadi ditunjuk Daddy R.
“Kalian masuk duluan”
Momma mengangguk setelah Poppa berucap dan Poppa berdiri di belakangnya.
“D- .. hmph ...”
Momma meronta saat Poppa merangkul ringan Momma dengan satu lengan kekarnya, sementara tangan satunya
membekap hidung dan mulut Momma dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberikan obat bius untuk membuat Momma tak sadarkan diri.
“Maaf, Heart...” Lirih Poppa.
Tak tega sebenarnya, namun hanya ini satu – satunya cara agar bisa membawa Momma kembali ke Kediaman Utama tanpa memperoleh perlawanan dari Momma. Karena jika sadar akan dibawa kembali ke Kediaman bukannya menyelamatkan Via dan Drea, Momma tidak akan bisa terima dan diam begitu saja.
“Sorry Little F ....”
Daddy R membelai lembut kepala Momma, setelah Momma benar – benar tak sadarkan diri dan Poppa sudah membaringkan Momma di dalam mobil, dengan kepala Momma yang diletakkan diatas pangkuan Mommy Ara.
“Titip ya Ra?”
Poppa berkata dengan raut wajah yang sebenarnya tak tega harus membuat Momma seperti ini. Tapi tak ada pilihan lain baginya dan Daddy R untuk mencegah Momma mengalami hal yang mungkin saja membahayakannya. Trauma Poppa yang hampir kehilangan Momma sampai dua kali itu benar – benar tidak bisa hilang hingga sekarang.
“Iya Drew, pasti.”
“Efek obat ini cukup lama. Mudah – mudahan saat dia sadar, kami sudah membawa Via dan Drea kembali”
Poppa menambahkan.
“Tapi jika dia keburu sadar dan kami belum kembali, sampaikan maaf gue yang harus melakukan ini sama dia”
Poppa mengelus kepala Momma lembut.
Mommy Ara mengangguk pada Poppa seraya menarik sudut bibirnya.
“Ya sudah pergilah. Mereka akan mengawal kalian sampai Kediaman. Dan akan standby disana. Tolong awasi benar – benar Fania jika dia keburu sadar sebelum kami kembali”
“Iya ...” Jawab Mommy Ara yang paham kekhawatiran Poppa akan pemikiran Momma. Lalu mobil yang ditumpangi
oleh Mommy Ara dan Momma yang dibuat tak sadarkan diri itu melaju lebih dulu, dan Poppa bersama Daddy R pergi bersama beberapa orang dengan mobil yang berbeda dan berpisah arah.
***
Di tempat yang berbeda lagi
“Apa kau yakin tidak memukulnya terlalu keras?!”
“Yakin Tuan”
“Kenapa dia tidak menunjukkan kesadarannya sampai sekarang?!”
“Memang seharusnya dia sudah sadar sih Tuan”
“Jika sampai dia tidak selamat, kau akan membayar mahal untuk itu kau tahu?! Dia aset berharga Ibu Dilara yang akan bernilai sangat besar di Rusia! Dan jika dia sampai meregang nyawa karena perbuatanmu, kau tahu apa yang Ibu bisa lakukan padamu! Dan bukan hanya kau! Tapi juga keluargamu!”
“I – iyya Tuan ..”
‘Memang dasar perempuan iblis!’
Andrea dapat mendengar percakapan orang – orang didekatnya dengan jelas.
Hingga sampai Andrea merasakan mobil yang membawanya kemudian berhenti.
‘Sepertinya sudah sampai’ Batin Andrea menduga. ‘Apa gue harus lepas ikatan gue sekarang? Tapi gue benar – benar ingin mencabik - cabik wajah si Dilara itu! Mungkin wanita iblis itu sedang menungu mereka membawa gue. Duh, harus bagaimana ini?????!!!. Thinking Juleha, thinking ......’
***
To be continue ...
__ADS_1