
U N C H !!
Selamat membaca ...
****************
“Ehem... Ehem...”
Nathan datang menghampiri mereka yang tadi sedang bermain basket di lapangan basket yang berada di dalam
pekarangan rumah mereka.
“Drea mana?”
“Lagi bantu nyiapin sarapan” Sahut Nathan pada pertanyaan Varen.
“Oh ...” Varen yang sedang duduk duduk bersama tiga Daddies yang tadi bermain basket bersamanya itu pun
ber oh ria.
“Cie Abang ...”
Nathan mengambil tempat disamping Varen sambil cengengesan dan menepak salah satu pundak Varen yang
kemudian menoleh sambil menggerakkan dagunya. Tiga Daddies di dekat mereka hanya memperhatikan.
“Kenapa cie – cie kan Abang?” Celetuk Daddy Jeff.
“Abang habis minum susu langsung dari pabriknya”
Varen langsung melotot pada Nathan yang sekarang terkekeh. Ia tahu maksud kalimat Nathan barusan.
‘Ck! Little Star kenapa cerita sama ini anak coba?!’ Batin Varen. 'Lemes kan dia'
“Hah?” Tiga Daddies ber hah ria.
Nathan manggut – manggut ambil mesam – mesem.
“Seperti yang kalian dengar Dad... ada yang goyah tapi bukan iman. Hahahahaha! ...”
Nathan tergelak tanpa akhlak.
'Kan gue bilang juga apa' Batin Varen. “Diam lo!”
“Hahaha ...”
“Sampaikan” Celetuk Daddy Dewa ingin tahu.
“Pertahanan si Abang goyah gaeees ...”
“Maksud ...”
“Hah?! Kamu sudah menjebol gawang anak bebek, Bang?!”
Papi John langsung menyambar sebelum Daddy Jeff menyelesaikan kalimatnya, menggeser dirinya dengan cepat ke samping Varen.
“Ish!”
“Beneran itu Bang?”
Daddy Dewa dan dan Daddy Jeff kemudian ikut mendekat, sementara Nathan cekikikan.
“Apa! ... Engga! ... Belum!”
“Belum sampai jebol gawang Dads, baru sampai pabrik susu!!!!”
“Oh ya? Benar itu Bang?”
“Ck!. Ish! Memang perlu dibahas apa?!”
“Jadi bener kamu sudah minum susu langsung dari pusatnya?!”
“Sudah ah! Aku mau sarapan!” Varen hendak menanggapi, hendak berdiri. Selain risih, malu juga sebenarnya
membahas apa yang sudah ia lakukan pada Andrea semalam.
“Hih nanti dulu! Cerita dulu! Gimana jargon kamu Than?”
“Berbagi itu indah” Sahut Nathan pada Papi.
Para pria itu tergelak kecuali Varen.
“Cuma sampai pabrik susu Bang?”
“Ck!”
“Sampai naked ga?”
Oh Ya Tuhan, Varen jengah mendengar para Daddiesnya yang kepo.
“Tanggung amat Bang!”
“Tapi lumayan deh Bang ada kemajuan”
“Hahaha! ...” Mereka terkecuali Varen tergelak lagi.
“Sudah deh ...” Protes Varen pada mereka yang antusias ga jelas.
“Kenapa ga dituntaskan aja sih Bang?. Sudah halal ini!...”
“Belum waktunya”
“Mampir ke hutan ga?. Nengok aja gitu ...”
Pertanyaan tanpa akhlak meluncur dari mulut Daddy Dewa.
“Ya ampun Daaaad !!”
“Hahaha! ...”
“Keren tapi Bang kalau Cuma sampai pabrik susu saja sih! Sanggup nahan kamu. Lumayan juga pertahanan
anaknya si R nih”
__ADS_1
“Memang aku kalian?!”
“Hahaha! ...”
“Ga pusing memang Bang sampai situ doang?”
“Lanjut make out tapi kan habis itu? Lumayan buat permulaan ...”
“Hish!”
Para Daddies masih menggoda Varen dan Nathan setia tergelak melihat ketiga Daddies mereka sedang mencecar
dan meledek si Abang.
“Baru bakpao. Belum apem!...” Salah seorang mantan PK nyeletuk.
“Apem?” Varen mengernyitkan dahinya.
“Dulu, sekali dapat apem, memang kalian bayar berapa Dads?”
Pertanyaan tanpa akhlak meluncur dari mulut si Tan – Tan.
“Mana ada bayar! Itu cewe – cewe sukarela buka celana”
“Hahaha! ...”
“Makanya bodoh aja itu yang mau ngerasain apem sampai bayar puluhan juta! Kita mah free!”
“Hahaha! ...”
“Kalian bicara soal apem, apem apa sih?. Makanan itu bukan?. Hubungan apem dengan cewe – cewe yang buka
celana tuh apa coba?”
Varen yang tak paham menyela.
Nathan dan tiga Daddies minim akhlak itu langsung menoleh padanya dan melongo tak percaya.
“Astagaaaah Abang.... kamu beneran ga paham?! ...”
“Engga!”
“Dah lah bubar bubaaaar! ... ada bocil ga paham soal apem”
“Serius tanya”
“Nyarap! Nyarap!”
Daddy Dewa kemudian berdiri sambil terkekeh, begitu juga Papi dan Papa Bear.
Nathan dan Varen ikut berdiri.
“Ya terus maksud kalian apem itu apem apa?. Makanan?. Masa sampai puluhan juta? Itu kan jajanan pasar
bukannya? ...” Tanya Varen dengan polosnya. Sementara Daddies dan Nathan tergelak saja sambil berjalan menuju kedalam kediaman mereka untuk sarapan. “Apa sih Tan?” Tanya Varen pada Nathan yang berjalan disampingnya.
“Ahahahahaha! Abang, Abang ... jenius tapi oon lo Bang!”
Varen memandang sinis pada Nathan yang tergelak, lalu menepak kepala adiknya yang tak se - ayah itu.
Varen memasang telinganya dan Nathan berbisik disana.
“What the-f...”
Varen hampir mengumpat setelah Nathan berbisik padanya.
“Ahahahahaha!”
Yang kemudian Varen menggeleng – gelengkan kepalanya, yang kemudian ia pun mendengus sebal.
*****
Varen sudah menyelesaikan sarapan bersama Andrea dan keluarganya.
“Minggu depan jangan lupa, selametan anniversary nya aki – aki sama nini – nini yang di Bekasi tuh!”
“Oh iya ya!”
“Kita menginap disana?”
“Ya terserah. Kalau aku dan Kak John sama si kembar sih iya menginap. Mungkin hari Jum’at sore kami sudah
kesana”
“Ara dan yang lainnya jadi datang juga minggu depan?”
“Jadi. Kemarin aku bicara dengan Momma. Sekalian mereka mau membawa pakaian aku dan Abang untuk acara
resepsi dan seragam juga sekalian. Biar masih ada waktu untuk membetulkan kalau ada yang tidak pas atau sebagainya”
“Oh ya sudah”
***
Andrea dan Varen sudah berada di kamar mereka.
“A-aku mandi dulu ya?”
“Iya” Sahut Varen dengan tersenyum pada Andrea yang sedikit nampak canggung. Varen tahu Andrea merasa
canggung soal semalam dan sebenarnya diri Varen pun juga begitu.
Varen melirik ranjangnya dan Andrea. Ranjang itu nampak berantakan, yah meskipun semalam mereka hanya
sebatas make out saja.
Varen mati – matian mengontrol kobaran gairahnya untuk mencabik – cabik Andrea semalam. Meski
setengah pertahanannya goyah, tapi ternyata ia masih bisa sekuat tenaga menahan api yang sudah begitu berkobar dalam dirinya semalam.
Jika saatnya tiba, untuknya dan Andrea menyempurnakan pernikahan mereka dengan ritual suami istri yang
sesungguhnya, Varen ingin membuatnya nampak indah.
Varen merebahkan dirinya diranjangnya dan Andrea sambil menunggu Little Starnya itu selesai mandi.
__ADS_1
“S**t”
Tanpa sadar mengumpat pelan, Varen memegang dadanya yang berdegup sedikit kencang, karena ia mengingat kegiatan semi panasnya dengan Andrea di ranjang mereka itu.
Varen mengatur nafasnya\, mencoba mengalihkan pikirannya dari ingatan atas wajah menggemaskan Andrea semalam\, desa*** pelannya saat Varen berkenalan dan bermain dengan Nunu en Nana.
Untunglah ponsel Varen berdering, jadi fokusnya akan ingatan kegiatan semi panasnya dengan Andrea semalam jadi hilang.
***
Andrea memegang dadanya yang lumayan deg – degan setelah ia masuk dan menutup pintu kamar mandinya rapat – rapat kemudian bersandar dipintu itu sejenak. Lalu ia berjalan ke arah wastafel sambil menanggalkan pakaiannya, lalu menatap pantulan dirinya sebentar.
Andrea tersipu melihat beberapa tato sementara yang diciptakan Varen di area leher dan dadanya. Ia malu sendiri. Padahal itu tercipta karena ia menggoda Varen semalam, dan Andrea sungguh tak menyangka kalau pada akhirnya Varen pun tergoda karena Nunu dan Nana. Meski yah, berakhir dengan make out saja.
Kemudian Andrea bergegas ke bilik shower untuk mandi.
***
Varen berjalan masuk lagi ke dalam kamar setelah menerima panggilan di telpon yang lumayan agak lama karena
ada panggilan lain yang langsung ia terima setelah panggilan pertama yang masuk ke ponselnya berakhir. Melirik ke arah kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat.
Lalu Varen melangkahkan kakinya menuju walk in closet karena menebak kalau Andrea masih didalam sana.
Ia membuka kaosnya, merasa gerah. Karena tadi ia bermain basket dahulu sebelum sarapan.
Varen lebih baik mengganti bajunya dulu, karena Andrea kan suka lama mandinya.
Varen melangkahkan kakinya. Pintu walk in closet nampak terbuka cukup lebar. Namun langkahnya terhenti
berikut jakunnya yang bergerak kala matanya menatap pemandangan dihadapannya
‘Ga apa – apa kan ya?. Istri sah gue ini kan dia!’ Batin Varen berkata kala tubuh Andrea yang polos itu terpampang nyata meski area belakangnya saja, dengan bathrobe yang sudah turun keatas karpet dikakinya.
Yang orangnya nampak sibuk mencari – cari sesuatu di lemari.
Setiap pergerakan Andrea tak luput dari mata Varen dari mulai gadis itu mengambil sepasang benda berwarna pink lalu mengenakannya.
Jantung si Abang makin deg – degan kala Andrea sedikit merunduk kan badannya untuk meraih bathrobe dikakinya, hingga bongkah indah itu nampak sempurna walaupun sebentar saja. Kalah boncengan motor ninja.
Desiran tanpa akhlak seperti semalam mulai menyelimuti diri Varen.
“A-Abang ...?”
Lamunan Varen seketika buyar, saat suara Andrea yang nampak terkejut itu terdengar. Membuat Varen jadi salah tingkah.
Andrea nampak juga terkejut dengan kehadirannya, Varen memperhatikannya. Terlebih, Andrea tak menutup
sempurna bathrobenya, membuat sebagian area depan tubuhnya cukup terlihat, meski dua bagian penting sudah tertutup oleh sepasang kain berwarna pink.
Tapi tetap saja, kepala Varen seolah terasa pening sekarang, karena sisanya, bagian tubuh Andrea yang tidak tertutup sepasang kain itu terlihat jelas, termasuk area pinggul kebawah yang tak sempat Varen lihat semalam.
***
“Aduh! Gue lupa bawa baju ganti lagi!.....” Andrea menepak jidatnya sendiri saat sudah selesai mandi.
Andrea langsung meraih bathrobe yang tersimpan rapih di dalam buffet kamar mandi, dan langsung mengenakannya. Sedikit ragu saat akan membuka pintu kamar mandi, masih malu
kalau berpapasan dengan Varen gegara semalam.
“Salting ya?”
“Makanya jangan nakal”
Andrea teringat ucapan Varen akibat kenekatannya sendiri yang berakhir dengan serangan dari sang Abang,
meski tak sampai mengobrak – abrik gua yang masih segel, meski semalam perbuatan si Abang cukup membuat gue yang lembab itu lumayan becek. Kini ia jadi salah tingkah jika berhadapan dengan si Abang.
‘Gatal sih lo, Drea!’
Andrea merutuki dirinya sendiri lalu berjalan menuju pintu
Andrea membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, sedikit menyembulkan kepalanya, untuk mengecek keberadaan si Abang dan apa yang kiranya suaminya itu sedang lakukan.
“.......”
Andrea menghela nafasnya sambil buru – buru berjalan ke walk in closet setelah mendengar suara Varen yang orangnya sedang berdiri sambil bersandar membelakangi kamar di balkon. Si Abang sedang berbicara di ponselnya.
***
“Jangan lupa nanti beli lingerie! ...” Andrea menggumam sendiri saat sudah berada di dalam walk in closet sambil membuka lemari.
Andrea kemudian cekikikan sendiri. Merutuki kelakuannya yang seolah murahan di depan si Abang.
Andrea membuka tali bathrobenya hingga benda itu langsung meluncur jatuh ke atas karpet dibawah telapak
kakinya.
Tak ingat kalau ia tidak menutup kembali pintu walk in closet, saking malu kalau harus berpapasan dengan si Abang saat hanya memakai bathrobe saja tanpa sehelai kain apapun lagi dibaliknya.
Andrea kemudian mengambil sepasang benda berwarna pink dan memakainya.
“Eh iya” Andrea menggumam pelan, melirik bathrobe dikakinya lalu merunduk sedikit untuk mengambilnya dan ia sangkut kan lagi ditubuhnya.
Menutup pintu lemari yang terbuka dihadapannya, untuk mengambil pakaian di bagian lemari yang satunya.
“A-Abang ...?”
Andrea terlonjak saat sudah menutup pintu lemari dan matanya menangkap Varen yang sudah berada didalam walk in closet, berdiri ditengah antara pintu dan dirinya.
Varen terdengar berdehem. Ia juga sedang menetralkan dirinya, tapi tak putus memandang Andrea, yang nampak
kikuk saat ini.
Andrea menelan ludahnya, kala Varen berjalan mendekat.
Apa yang terjadi selanjutnya????
Tunggu ae di episode berikutnya.
Hahaha ...
***
__ADS_1
To be continue .......