THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 31


__ADS_3

# SPESIAL #


😚😚😚😚😚😚😚😚😚


Selamat membaca...************


Author’s POV on


John Darwin Smith tak pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya sebelum ia bertemu dengan seorang wanita yang bernama Aila. Saat itu ia merasa kalau Aila sudah menjadi ratu dalam hatinya. Menggilai nya, memujanya.


John bahkan sempat memacari nya wanita bernama Aila itu dengan serius hingga berniat untuk menikahinya.


John teramat sangat bahagia rasanya saat itu. Saat ia bisa memiliki Aila walau belum menikahinya. Setidaknya saat itu, John berpikir bahwa perasaan yang dia punya pada Aila adalah cinta yang sesungguhnya. Seperti cintanya Dad pada Mom, Reno pada Ara, serta Andrew pada Fania. Hingga akhirnya Aila memutuskan hubungan cintanya dengan John.


Sejenak John merasa frustasi, sakit hati, marah dan kecewa.


Tapi jika memang cintanya begitu besar pada Aila, mengapa rasa frustasi, sakit hati, marah dan kecewa itu tak bertahan lama dihatinya?.


Kenapa justru saat anak gadis ceriwis yang ia jaga dan sayangi itu mulai menjauhi dan memusuhinya karena John sempat membentaknya, menudingnya dengan sinis dan sedikit emosi John yang menaik kala itu, membuatnya jauh lebih merasa frustasi ketimbang saat Aila memutuskan hubungan dengannya. Rasanya sakit atas putusnya hubungan dia dan Aila itu terbang begitu saja?. Sakitnya bahkan tak membekas.


Kenapa malah ia justru lebih fokus pada Prita yang menjauhi, bahkan memusuhinya?. Kenapa John merasa tidak rela hingga larut dalam rasa bersalah atas sikap kasarnya pada Prita, meski bukan kekasaran fisik?.


Rasanya dijauhi bahkan dimusuhi oleh anak gadis yang sedari bocahnya itu sudah dikenal John, bahkan dijaga dan disayangi layaknya seorang adik, lebih menyakitkan daripada saat putus hubungan dengan Aila.


Prita yang ia jaga sejak gadis itu duduk di SMP hingga SMA seperti halnya dia menjaga Fania. Namun sebelum Prita lulus SMA, ada pertikaian pertikaian antara John dan Prita terjadi saat mereka tengah membahas Aila dengan keluarganya yang lain.


Saat itu John tak suka, tak terima Prita yang menjelek – jelekkan sang kekasih hati John, hingga sampai menghardik dan memberikan peringatan pada Prita. Pertikaian yang John anggap adalah suatu hal yang tidak terlalu besar, tapi tidak dengan Prita. Gadis itu mengambil hati atas bentakan dan tudingan John padanya.


Prita tak suka, Prita tak terima.


Sejak itu Prita terang – terangan menjauhi John. Memutuskan segala akses komunikasinya dengan John. Secara terang – terangan juga meminta pada kakak – kakaknya yang lain untuk menjauhkan John darinya.


John tak sadar kalau Prita mencintainya kala itu. Yang John tahu Prita hanya sakit hati atas bentakannya. Hingga si gadis ceriwis itu tak mau lagi berurusan dengannya. John merasa kehilangan. Tak merasa enak dengan Prita yang tampak betul memusuhinya, tapi rasa tak enak yang muncul direlung hati lebih kepada rasa tak enak diabaikan oleh seseorang yang begitu berarti. Perih.


Semakin John rasa perih mengarah pada sakit seperti ada yang meremat hatinya, saat Prita pernah terang – terangan ‘lari’ saat mereka sempat bertemu untuk yang pertama kalinya setelah hampir kurang lebih dua tahun lamanya mereka tak bertemu, bahkan tak saling bertegur sapa. John kesal, sangat kesal.


Kesal namun ada sedih dan kecewa serta getir disaat yang sama dalam hatinya.


John pun sendiri heran, mengapa dimusuhi sampai sebegitunya oleh Prita membuatnya amat sangat frustasi saat itu.


Belum menemukan jawaban, belum menyadari penyebab mengapa ia frustasi dimusuhi sama Prita. Mungkin karena rindu, kehilangan seorang gadis kecil yang ceriwis dan lucu yang bisa membuat John tertawa terbahak – bahak.


Tapi ternyata oh ternyata, pada akhirnya John sadar. Rindunya pada Prita bukan sekedar rindu. Rindunya pada seorang gadis kecil yang ia jaga dan sayang bak adik itu sudah berubah. Rindu itu semakin tumbuh dan bertambah yang akhirnya memunculkan riak – riak cinta dalam hati John.


John sempat menyangkalnya. Menyangkal pada diri dan hatinya sendiri atas perasaannya pada Prita.


John bahkan sempat berpikir dirinya sudah gila kalau ia benar – benar menyukai Prita sebagai seorang wanita.


Rasanya John tak mungkin jatuh cinta pada seorang gadis ceriwis yang kecilnya ia tahu, namun tak menampik kalau gadis kecil itu memang cantik. Gadis kecil itu punya daya pikatnya sendiri. Bahkan sangat cantik, terlepas kalau ia sedang tertawa lebar sampai cekakak tanpa jaim. Tapi John malah suka melihat kalau Prita sedang tertawa lepas.


Renyah, kek keripik singkong.


Dan kini John sudah tersadar penuh, dan benar – benar yakin atas perasaannya pada Prita.


Rasa yang John punya bukan lagi sekedar sayang atau perduli. Lebih dari itu.

__ADS_1


John jatuh cinta!. Bahkan rasanya sudah jatuh terlalu dalam pada Prita, lebih daripada saat ia merasa jatuh cinta pada wanita yang bernama Aila.


Si Priwitan yang rowes mulutnya dan kini sedang beranjak dewasa. Dan kecantikannya kian bertambah seiring umur Prita yang bertambah. Sudah cantik maksimal buat John.


Entah sejak kapan dan bagaimana, tapi memang iya. John sudah yakin kalau ia memang sudah jatuh terlalu dalam pada yang namanya cinta. Cinta pada gadis kecil yang biasa dipanggil Prita. Bahkan lebih dari apa yang pernah ia rasa pada Aila.


Hatinya sudah mengkonfirmasi kalau apa yang ia rasa pada Prita adalah rasa seorang laki – laki pada seorang wanita, bukan lagi rasa sayang seorang kakak laki – laki pada adiknya. Tak seperti rasa sayangnya pada Fania dan Michelle.


Dan kini John sudah mengambil keputusan dengan seyakin – yakinnya.


Prita akan ia kejar, hingga hati dan cinta gadis itu bisa dia miliki sepenuhnya. Tak perduli rentang usia mereka yang lumayan jauh.


Cinta itu buta, kan?


Author’s POV off


****


London, Inggris


“Kak, seperti biasa, gue titip liat – liatin Keluarga Cemara yeh.” Fania dan Andrew serta Andrea berikut Ara dan Varen sudah kembali ke London sejak seminggu yang lalu.


Kebetulan John yang memang juga akan meninjau bisnis pribadinya yang masih berjalan bersama seorang pengusaha Australia itu turut juga serta ke London. Michelle dan Dewa menetap di Indonesia bersama Mama Anye yang akan membantu dua pasangan ambyar itu mengurus Mika, bayi mereka. Mengingat Michelle masih nampak


kerepotan dalam perannya sebagai seorang ibu.


“Ga perlu diomong, Kajool ....” Sahut John.


Fania terkekeh. “Sekalian minta tolong tengok – tengokin juga kafe gue, ye. Prita kan masih penyesuaian soal pembukuan sama bikin laporan.” Ucap Fania.


“Wa elah, ngerasa terbebani amat lo gue minta tolong gitu doang.”


“Tuh kan, gue sih serba salah kalo bicara sama lo, Jol. Kalau gue ga bersedia lo ngambek, dan ngambek lo itu jelas menyebalkan. Segala aib gue lo pasti sebarkan.”


Cerocos John.


‘Entah bagaimana dia sampai punya info dan jejak semua aib gue, ini si istrinya si Donald Bebek!.’ Gerutu John dalam hatinya.


Fania terkekeh lagi.


“Sekarang gue tanya benar – benar mau minta tolong apalagi lo bilang gue merasa terbebani.”


“Ca ilah gitu aje ngambek sibule koplak.” Ucap Fania sambil mencubit pipi John. “Kek ABG lo.”


‘Efek jatuh cinta sama adik lo ini.’ Batin John. “Masih ada lagi ga?.” Tanya John saat ia akan memasuki mobil.


“Katanya lo lusa baru balik ke Indo?.”


“Urusan gue disini sudah selesai.” Ucap John. “Lagipula nanti abang lo yang cerewet itu bakalan ngomel kalau gue ga fokus sama R Corp dan urusan Perusahaan yang lainnya.”


Fania manggut – manggut


‘Selain itu gue sudah tak sabar ketemu sama si Prita.’ Batin John.


“Eh iya Kak. Lo belum kasih tau kita – kita calon istri lo?. Yang waktu itu lo bilang sama gue, Michelle en Kak Dewa?.”

__ADS_1


“Penasaran nih ye.” Ucap John sambil menoel dagu Fania.


“Ya iyalah gue penasaran sama cewe yang akhirnya  bisa buat lo move on dari si Aila.”


“Tunggu tanggal mainnya.”


“Du ilah segala rahasia – rahasiaan. Bikin jiwa bigos gue bergelora. Penasaran kayak apa sih cewe inceran yang bisa meyakinkan abang gue satu ini sebagai calon istri?. Se-spesial apakah dia?.” Cerocos Fania. “Kaga mungkin si Priwitan kan?. Hahahaha!.”


***


“Du ilah segala rahasia – rahasiaan. Bikin jiwa bigos gue bergelora. Penasaran kayak apa sih cewe inceran yang bisa meyakinkan abang gue satu ini sebagai calon istri?. Se-spesial apakah dia?.”


“Kaga mungkin si Priwitan kan?. Hahahaha!.”


John sudah berada didalam pesawat pribadi milik Reno yang memang sering ia gunakan juga.


‘Pada kenyataannya memang dia, Jol. Memang si Priwitan yang sedang gue incar.’


John membatin sambil memandangi langit dari balik jendela pesawat. Ia sedang membayangkan wajah Prita.


‘Si Priwitan lah cewe spesial itu.’


John tersenyum sambil teringat akan Prita.


‘Ah gue jadi kangen, kan.’ John memejamkan matanya. Tak sabar ingin segera sampai di Indonesia dan bertemu dengan Pritanya.


**


Jakarta, Indonesia


 


John memilih untuk pulang ke apartemennya selepas ia sampai di Indonesia. Ingin segera mencharge ponselnya yang sudah mati itu dan buru – buru menelpon Prita untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Tak sabar ingin bertemu.


Ingin segera juga mendengar laporan dari orang yang ia suruh untuk mengawasi kegiatan Prita selama John tidak ada.


John memasuki apartemennya. Penthouse sih lebih tepatnya. Badannya lumayan lelah saat ini.


“Se-spesial apakah dia?.”


John teringat lagi sepenggal ucapan Fania saat ia sudah sampai didalam apartemennya saat ia melihat pemandangan menakjubkan di ruang olahraga pribadinya dalam Penthouse.


‘Dia .. sangat spesial..’


John terpaku ditempatnya saat melihat Prita yang sedang menari dengan lumayan bersemangat hingga peluhnya bercucuran. Gerakan – gerakan Prita ditambah lagi pakaian yang dikenakannya lumayan nampak ketat membalut tubuh indahnya, membuat John tak sadar menelan salivanya.


Tubuh indah Prita yang sedang meliuk itu benar – benar membuat John terpaku ditempatnya.


Ah John sepertinya sedikit gemetar.


*****


To be continue.......


Ritual jangan lupa. Maapkeun juga kalau masih ada kekurangan author dalam novel ini yah.

__ADS_1


__ADS_2