THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 28


__ADS_3

♥ MULAI BERJUANG ♥


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Selamat membaca ...


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia..


 


“Mamaa!!. Mama dimana?!!.”


Suara Nathan terdengar saat Jeff dan Jihan sedang dalam posisinya yang membuat canggung bagi Jihan, namun menyenangkan bagi Jeff. Tapi tertunda karena Nathan yang terbangun tiba – tiba.


“Mamaa!!.”


“Iya!....” Jihan buru – buru menghampiri Nathan yang sudah keluar dari kamar itu.


Jihan kemudian berjongkok didepan Nathan.


“Ada apa, Sayang?.”


“Nathan lapar...” Nathan melihat sosok yang berada dibelakang mamanya itu. “Daddyyy!!!!....”


Nathan langsung berlari kearah Jeff dengan wajah yang sumringah.


Jihan memutar bola matanya malas. Pasalnya dia akan menjadi yang nomor dua dimata Nathan kalau Jeff ada bersama mereka, dan Nathan akan menjadi sangat – sangat manja kalau ada Daddynya itu.


“Halo jagoan Daddy!.” Jeff merentangkan tangan dan langsung mengangkat tubuh Nathan dalam gendongannya. “Kangen sama Daddy?.”


“Iya, Nathan kangen sama Daddy.” Ucap Nathan. “Kok Daddy lama kesini ya sih?.” Anak itu mencebik.


“Iya maafin Daddy yah. Daddy kan kerja.”


“Kok Daddy kerjanya lama?. Daddynya Davi setiap hari pulang kerja selalu ada dirumah? Kok Daddy engga?.” Cerocos Nathan pada Jeff.


“Siapa itu Davi?. Teman Nathan?.” Tanya Jeff.


“Iya Dad, Davi itu teman Nathan. Daddynya Davi kalau kerjanya pagi, terus malamnya udah pulang deh. Kok Daddy engga?.”


Jeff setengah meringis. Bingung juga mau menjelaskan bagaimana hubungan dia dan ibunya Nathan pada anak berusia lima tahunan ini.


“Soalnya Daddy kan kerjanya di luar negeri, Sayang.” Jihan menjawab ucapan putranya itu.


“Luar negeri itu jauh?.”


“Jauh sayang, harus naik pesawat.”


Jeff mengacak – acak rambut anaknya itu. Sambil membawa dirinya untuk duduk dan Nathan berada diatas pangkuannya.


“Dad kapan ajak Nathan naik pesawat?.” Tanya Nathan dengan wajahnya yang menggemaskan. “Dad kan pernah


janji?.”


“Iya pasti Dad akan memenuhi janji Dad pada Nathan. Tinggal bilang sama Dad kapan Nathan mau naik pesawat.”


“Asiiikkkk!!!.”


“Kamu bisa cuti Ji?. Aku ingin mengajak Nathan ke Disneyland. Kebetulan keluarga kami mau pergi ke sana bulan depan.”


“Ennggg, aku belum tau Jeff.” Ucap Jihan ragu.


“Ayo ma ... Nathan mau pergi ke Disneyland!.”


Jeff tersenyum lebar, sementara Jihan nampak bingung.


“Kamu ... mungkin bisa ajak Nathan aja. Aku ga usah ikut.”


“Kamu tega sama Nathan? Sementara nanti dia melihat Andrea dan Varen serta Mika bersama orang tua mereka dan dia hanya sama Dadnya saja?.”


Jihan terdiam.


“Aku juga mau ajak ibu sekalian.”


Jihan nampak sedikit terkejut mendengar Jeff akan mengajak ibunya serta dalam acara liburan keluarga Daddynya


Nathan itu.


“Apa ga merepotkan kalau kamu mengajak kami semua?.”


Jeff tersenyum. “Kita keluarga, kan?.” Ucap Jeff. “Lagipula Dad dan Mom, Papa sama Mama Bela dan Mama Anye juga suka menanyakan kalian.” Sambungnya. "Akan lebih bagus kalau ibu kamu dan Mom serta para Mama aku semakin akrab."


Jeff menyeringai jahil sambil menatap Jihan penuh arti. Membuat wanita itu terlihat jadi sedikit kikuk dan Jeff suka melihatnya.


“Dad juga ajak nene?.” Tanya Nathan.


“Iya. Nene, Mama, Nathan, semuanya diajak ke Disneyland.” Jawab Jeff pada putranya itu.


“Yeee.... Asiiikkkk ...”


“Tapiii....”


“Tidak ada tapi Ji. Aku ga suka penolakan.”


***


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa-Barat, Indonesia ..


 


“Udah mau berangkat?.” Tanya Papa Herman pada Prita yang nampak sudah rapih berpakaian.


“Iya Pah.” Jawab Prita sambil mendudukkan dirinya di ruang makan.


“Jadinya kamu tiap hari ke kafenya si kakak, Prita?.”


Gantian mama Bela yang bertanya dan Prita pun mengangguk.


“Kan kak Fania mempercayakan kafe yang disini untuk Prita kelola. Biar kaga kuliah juga Prita bisa Insya Allah megang amanatnya si kakak.” Ucap Prita menanggapi pertanyaan mamanya.

__ADS_1


“Iye caya dah Papa si sama kamu. Anak papah kan dua – duanya pinter pada.”


“Bagus dah kalo ca-ya ama Prita.”


Tiga orang itu terkekeh bersama.


“Eh iya Prita.”


“Ape Pah?.”


“Kamu ga mau ngikutin jejak kakak kamu, nikah muda?.”


“Ya ilah. Kaga mikirin. Pacar aje kaga ada.”


“Cari sono lah!. Dulu aje kamu sok – sok-an nasehatin si kakak. Nah kamu sendiri sekarang?.” Celetuk mama Bela.


“Iye bener noh yang si Mamah bilang. Masa anak Papah cakep begini kaga ada cowok yang mau barang atu biji?.”


Timpal Papa Herman. “Kalo Papah saranin sih, cari yang bener – bener biar kaga usah segala pacaran lama – lama. Ya kayak kakak kamu itu. Ketemu si Endru, kaga lama dilamar, nikah dah. Abis nikah aje tuh puas – puasin dah pacaran mau ngapain juga enak.”


“Iye bener.”


“Tau ah. Prita kaga mikirin pacaran. Apelagi nikah.”


Sejenak mereka bertiga terdiam, sambil menikmati makanan masing – masing.


“Ngomong – ngomong Prita.....’


“Apelagi Mah?.”


“Kamu emang beneran udeh kaga ada rasa sama si John?.”


Uhuk .... Uhuk .... Uhuk ....***


“Ya udah Prita berangkat dulu ya.”


Prita berpamitan pada papa Herman dan mama Bela.


“Iye. Hati – hati.” Sahut papa Herman dan mama Bela. “Kamu langsung ke kafe?.”


“I....”


“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara salam terdengar sebelum Prita menyelesaikan kata – katanya.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut Prita beserta papa dan mamanya. ‘Kek kenal itu suara.’


“Eh Nak John.” Ucap papa Herman dan mama Bela. Sementara Prita terdiam.


‘Mau ngapain ini dia?.’ Batin Prita.


John menyalami papa Herman dan mama Bela.


“Hai Prita.” Sapa John pada Prita dengan tersenyum.


“Hai Kak John.”


“Ama siapa John?.”


“Iya....”


“Ini pasti si Prita yang nyuruh jemput ye?. Ngerepotin aje.” Ucap papa Herman. John tersenyum.


“Engga kok, Pah. John yang mau jemput Prita. Kebetulan lagi free hari ini.”


“Oh kirain.” Ucap papa Herman lagi.


“Suudzon aje sama anak sendiri!.”


“Ye Papah kan Cuma nanya.”


“Eh kamu udah makan, John?.” Tanya mama Bela. “Makan dulu kalo belom.”


“Sudah Ma.” Jawab John. “Mau berangkat Prit?.” Tanya John pada Prita yang nampak sudah siap itu dan Prita mengangguk sambil memandanginya dengan sedikit heran. “Ya udah ayo.” Ucap John. Prita mengangguk lagi dan mereka berdua langsung berpamitan pada papa Herman dan mama Bela.


Prita sebenarnya ingin menolak diantar oleh John, tapi berhubung dia ga enak sama papa dan mamanya terlebih lgi tadi pertanyaan si mamah bikin dia tersedak, ga tega juga sama John yang sudah jauh – jauh datang, meski rasanya Prita masih sebal sama si itu bule koplak.


***


“Omongan gue yang semalem kurang jelas?.” Ucap Prita setelah ia bersama didalam mobil dengan John.


“Soal ga perlu lagi antar – jemput kamu?.”


“Soal semuanya.”


John tersenyum.


“Maafkan Kak John ya?.”


“Hah?.”


“Maafkan Kak John kalau terlalu mencampuri urusan pribadi kamu.”


Prita terdiam. Jawaban yang tak terpikirkan olehnya. Karena Prita kira kalau John akan mengeluarkan kalimat seenaknya seperti biasa.


“Please? ....” John mengulurkan tangannya saat lampu lalu lintas sedang merah. Prita menatap John.


“Ya udah.” Pada akhirnya Prita menerima uluran tangan John dan mereka berjabatan.


“Makasih ya?.” Ucap John sambil tersenyum.


“Ya.” Sahut Prita singkat.


“Kak John bukannya ingin mencampuri urusan pribadi kamu Prita, Kak John khawatir justru.” Ucap John lagi setelah lampu berganti hijau dan ia melajukan kembali mobilnya.


‘Hanya khawatir?.’ Batin Prita.


***


Triiinnngg....


Ponsel John berhenti ditengah perjalanan.

__ADS_1


“What’s up Jeff?. (Kenapa, Jeff?).”


Sahut John pada Jeff yang menghubunginya. Prita juga ikut tahu siapa yang menelpon John saat ini, karena ponsel itu sibule koplak tertempel di tengah mobil.


“Dimana lo?.”


Suara Jeff dari ponsel John yang ter – loud speaker otomatis.


“Jalan.”


“Lo sudah di Jakarta kan, John?.”


“Sudah.”


“Data Perusahaan Smith yang di Jakarta sama lo atau sama R?. Si botak nanyain gue nih.”


“Sama gue.”


Prita hanya diam saat dua J terlibat pembicaraan di telpon.


“Kirimin ke gue secepatnya bisa?.”


“Datanya di apartemen, Bro!.”


“Urgent John. Si botak bilang datanya ga valid. Gue disuruh cek ulang. Lo tau dia kan?.”


“Dia masih lama di Italy?.”


“Harusnya dia pulang hari ini. Tapi tertunda. Ada masalah sedikit juga disana. Makanya dia minta gue buru – buru cek data yang tadi gue bilang.”


“Ya sudah gue usahakan secepatnya gue kirim.” Ucap John.


“Okay gue tunggu!.” Sahut Jeff dan ia memutuskan panggilan.


John nampak terdiam sebentar. Ia sedang berpikir.


“Prita.”


“Iya Kak?.”


“Ke Apartemen kak John sebentar ya, mau ga? Kak John perlu ambil data yang diminta Jeff tadi. Kamu buru – buru ke kafe?.”


“Engga sih, Kak. Santai.”


“Mampir ke apartemen Kak John bentar ya?. Sudah dekat kalau dari sini. Sebentar kok, kamu tahu sendiri kakak ipar kamu, kan. Apa – apa harus cepat.”


“Iya ga apa – apa, Kak. Santai kok gue di kafe.”


“Ya udah.”


**


“Yuk masuk, Prit.” John sudah sampai di apartemennya dengan Prita. Enggan sih Prita pada awalnya dan sempat bilang untuk menunggu John dimobil, tapi John tak membiarkannya. Mana tega itu sibule koplak ninggalin si Prita sendirian dimobil.


“Iya Kak...” Prita masuk dengan ragu. Deg – degan lebih tepatnya. Pertama kalinya dia masuk ke dalam apartemen si bule koplak.


‘Gila ini sih rumah. Bukan apartemen kalo segede gini mah.’ Batin Prita takjub dengan apartemen John yang terdiri


dua lantai itu. ‘Gedean juga ini apartemen dari rumah gue yang dulu.’ Mata Prita sedikit berkeliling.


“Duduk dulu ya Prit, Kak John mau mengirimkan data yang diminta Jeff dulu tadi.” Ucap John sembari bergegas menuju lantai atas. “Anggap saja rumah sendiri. Kalau haus kulkas di dapur sana.”


John menunjuk ke arah dapur dalam apartemen yang lebih bisa dibilang sebuah penthouse mewah itu.


“Iya..” Sahut Prita sambil mengangguk.


John tersenyum. “Tinggal sebentar ya....”


“Iya..”


Lagi – lagi Prita menjawab sambil mengangguk.


***


Setelah sekitar lima belas menit, John tampak sudah turun dari lantai dua menghampiri Prita yang sedang duduk disofa sambil bermain dengan ponselnya.


“Sudah yuk.”


“Udah selesai Kak?.”


“Sudah.”


“Ya udah ayo.”


Prita berdiri dari duduknya dan melangkah untuk keluar dari penthouse milik John.


“Oh iya Prita. Ini.”


“Apaan ini?.”


“Kartu akses lift untuk ke lantai ini.”


“Terus?.”


“Terus ya itu kamu simpan.”


Prita mengernyitkan dahinya.


“Kenapa gitu?. Nah nanti lo mau masuk ini apartemen lo gimana kalo kartu akses lift lo dikasih ke gue?.”


“Kartu aksesnya ada dua.”


“Kenapa lo kasih ke gue?.” Tanya Prita.


“Agar kamu bisa memakai apartemen Kak John daripada kamu harus menginap ditempat lain saat kamu ga pulang ke rumah Keluarga Cemara atau ke rumah Dad dan Mom.”


“Tapi ...”


“Passwordnya tanggal ulang tahun kamu.”


***

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2