
K I K I S
Selamat membaca ...
Di suatu senja di musim yang lalu
Eh salah,
Di area suatu bangunan yang menjulang tinggi...
Seorang pria tamvan dengan kemeja hitam berbalut jas kasual baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran parkir bangunan tersebut yang merupakan suatu gedung perkantoran ternama, dari sebuah Perusahaan Multinasional yang dimiliki dan dikelola oleh salah seorang tokoh di negeri tempat kakinya berpijak saat ini.
Pria tamvan berparas campuran itu tidak langsung keluar dari mobilnya sesaat setelah ia memarkirkannya. Ia membuka kaca mobil di sisi kanannya lalu menyalakan rokoknya.
Ponsel si pria tamvan yang masih tertempel pada sanggahan mobil itu berdering tak lama setelah ia menyalakan rokoknya. Ia yang sudah menggunakan earphone portable ditelinganya, hanya menyentuh saja perangkat tersebut kemudian langsung terhubung dalam sambungan telepon tanpa harus menyentuh ponselnya.
“Tugas lo sudah selesai, Donald Bebek?” Tanya si babang tamvan sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
“Heh! Piece of cake! ( Urusan kecil ini sih! )” Sahutan dari seberang telepon yang bersuara berat terdengar.
“Untuk seorang bebek tua lo cepat juga” Itu Daddy R yang akan melakukan bagiannya.
“Hahaha .. apa lo ga berkaca diri wahai kakak gantengnya Fania si burung kakak tuaa?” Dan Daddy R sedang terhubung dengan Poppa disaluran telepon.
“Ha! So funny! ( Lucu sekali! )”
“Lo dimana?”
“Sudah sampai di sarang tikus”
“Apa anda membutuhkan saya Tuan Reno Aditama Smith? Hem?”
“Lo selesaikan dulu itu satu tikus tangkapan lo!”
“Halah! Satu keluarga tikus sudah ditangan gue sekarang!”
“Mendendam itu tidak baik Bapak Andrew Eager Adjieran Smith”
“Cih!”
“Hahahahaha!”
“Sudah cepat selesaikan bagian lo!”
“Lo sudah habisi memang itu si Prima?”
“Ga akan gue biarkan mati dengan mudah!”
“Wah, wah pendendam sekali adik merangkap adik ipar gue satu ini?”
“Cepat R! Biar selesai ini semua, habis itu ‘main’ sebentar dengan para tikus – tikus ini!”
“Ya ini gue juga mau kerja!”
“Ck! Lama urusan lo nih pasti! Kenapa ga langsung lo hajar lalu angkut dan selesaikan sisanya di ‘Playground’”
“Gue malas berkeringat!”
“Ck!. Ya sudah cepat lah. Tunjukkan itu pada si Danang langit yang ada diatas dia!. Gue juga sudah tak sabar untuk menyiksa dan melihat wajah – wajah ketakutan mereka!”
“Psycho!”
“Hahaha!! Salah mereka mengganggu!”
“Ya sudahlah. Lo tunggu gue. Atau lo susul si Abang dulu”
“Sudah gue hubungi dan dia bilang bisa handle disana!”
“Lo dimana sekarang?”
“Menjemput satu anak gadis terakhir untuk gue kumpulkan bersama para anak gadis dua tikus dibelakang wanita buruk rupa itu!”
“Sakit memang lo!”
Daddy R terkekeh saja.
“Keselamatan dua anak gadis kita yang terancam itu sudah harus mereka bayar mahal! Di tambah dengan apa yang mereka lakukan pada gadis – gadis polos yang mereka rusak sampai harus menjadi budak prostitusi, belum lagi anak – anak seumur the krucils yang mereka jual, mereka buat cacat dengan sengaja dan dihabisi bahkan!”
“......”
“Meski gue bukan penyelamat, setidaknya gue membantu mengurangi para mafia perdagangan manusia disini kan?”
Daddy R menghela nafasnya sembari terkekeh tipis.
Memang iya semua yang Poppa bilang. Perdagangan anak – anak yang dijual untuk sindikat pengemis dan dibuat
cacat dengan sengaja, bahkan dihabisi dengan cara yang tidak manusiawi hanya untuk organ tubuh benar – benar begitu biadab.
Selain juga menjebak bahkan menculik para gadis muda untuk dijadikan pekerja s**s komersial dibawah tekanan dan ancaman.
Poppa juga benar, mereka bukan pembasmi kejahatan. Hanya kebetulan orang – orang yang menganggu dua putri dalam keluarga mereka ini termasuk dalam lingkup perdagangan manusia, jadi sekalian saja dibasmi.
“Sudah cepat lah, R! Atau lo butuh bantuan?. Gue meluncur ke tempat lo sekarang!”
“Heh! Lebih baik lo persiapkan diri lo untuk menghadapi kemurkaan adik gue nanti karena lo bius setelah semua ini selesai!”
“Oh s**t R!!.. Iya lo benar!!.. Mati gue mati!! .. Habis gue pasti sama Little F nanti sampai Kediaman! ..”
Dan Daddy R tak bisa menahan tawanya. Si Poppa yang tak takut apapun itu bisa auto panik jika dia merasa
membuat masalah pada sang istri.
“Sudah cepat selesaikan urusan lo!!! Kalau Abang, John dan Dewa kesulitan menyelamatkan Via dan Drea, kita bisa segera menyusul!”
“Iyaa Donald Bebek!! ..” Sahut Daddy R.
“Hiiisssshh.. ga terbayang bagaimana nanti gue diperlakukan sama adik lo itu!”
Klik!
Sambungan telepon dari Poppa pun terputus.
‘Bahkan naga kalau sudah punya salah pada si Kajol auto jadi anak bebek’
Batin Daddy R cekikikan. Namun raut wajahnya langsung berubah saat ia keluar dari mobilnya.
‘Baiklah. Waktunya mengecek kekuatan tikus satu ini’
Kemudian Daddy R mengayunkan langkahnya untuk masuk ke dalam sebuah gedung pencakar langit dengan
ekspresinya yang dibuat datar, namun kegagahannya jelas terlihat meski penampilannya tidak terlalu formal.
**
“Danang Arsyad?!” Itu Daddy R yang berseru setelah melihat seseorang turun dari sebuah sedan mewah, setelah
seseorang yang kemungkinan adalah seorang asisten keluar dari mobil tersebut.
Orang yang nampak seperti Bos Besar itu menoleh namun tak menyahut. Kearoganan tampak didirinya saat melihat Daddy R yang berpakaian tidak terlalu rapih itu.
“Bicara yang sopan!” Asisten orang yang nampak seperti bos besar itu maju sedikit ke hadapan Daddy R. “Jangan seenaknya memanggil nama Tuan Danang!”
“Oke baik. Tuan Danang Arsyad?” Ucap Daddy R sembari menatap orang yang ia sebut namanya itu. “Betul itu anda, kan?”
Namun tetap pria arogan itu tidak menggubris Daddy R.
“Rasanya kita perlu bicara”
__ADS_1
Daddy R menyungging miring sembari berdiri dengan memasukkan kedua tangan disaku kemejanya.
“Min, kamu urus! Saya ga ada waktu melayani orang yang ga jelas!”
Orang yang bernama Danang Arsyad itu menyuruh asistennya itu untuk mengurus Daddy R dan dia tetap bergeming sembari terus mengayunkan langkahnya ke dalam gedung yang diketahui adalah miliknya.
‘Cih!’
Daddy R berdecih dalam hatinya. Melihat arogannya sikap dari pria yang bernama Danang itu padanya. Padahal dari data yang dia baca, ia dikenal ramah sehingga masyarakat banyak yang menyukainya sebagai tokoh politik juga selain pengusaha.
'Silahkan saja lah kau mau bagaimana sekarang. Tunggu saja, akan ku permalukan terlebih dahulu sebelum kau ku siksa sampai mati'
“Anda siapa dan ada keperluan apa?”
“Aku sudah mengatakan keperluanku tadi”
“Jangan membuat keributan disini! Jika memang sudah ada janji anda bisa pergi ke Resepsionis untuk bertemu dan bicara dengan Tuan Danang!”
“Jika aku menolak untuk membuat janji?”
Asisten Danang nampak sedang menelisik Daddy R dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Silahkan anda pergi!”
“Jika aku menolak?” Daddy R mengayunkan kakinya selangkah sembari menyungging miring.
“Jangan mencari masalah.....” Pundak Daddy R disentuh dari belakang.
“Jauhkan tanganmu dariku, jangan sembarangan menyentuhku” Daddy R menyingkirkan tangan yang menyentuh
pundaknya, lalu menepuk – nepuk seolah ada debu yang menempel di jasnya kemudian menepuk – nepuk tangannya seolah ada kotoran yang juga menempel disana.
“Maka pergilah”
Asisten Danang itu seperti mengkode pada beberapa orang yang nampak seperti pengawal yang kemudian beberapa maju mendekat sambil menampakkan pistol di selipan celana mereka.
Daddy R mengangkat tangannya, ia mundur perlahan. Namun satu sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Boleh juga”
Daddy R menggumam.
“Silahkan tinggalkan tempat ini!”
Daddy R menyentuh earphone portable canggihnya lalu berbicara tanpa mengindahkan ucapan salah seorang
pengawal Danang dimana asisten dari pria Danang yang menghalanginya tadi juga sudah berjalan masuk ke dalam gedung menyusul sang Bos.
“Bisa tolong kalian membantuku membasmi hama? Aku mendanai kalian dengan sangat mahal bukan untuk berleha – leha” Ucap Daddy R dengan santainya.
“Cepat pergi, jangan menguji kesabaran kami!”
“Harusnya aku yang mengatakan itu”
“Dengar Bung, kami tidak akan segan untuk menyakitimu jika kau benar – benar berulah disini! Tapi besar juga nyalimu, ya! Datang sendiri kesini lalu membuat keributan?! Apa kau tak tahu siapa Tuan Danang Arsyad?! Dengan hanya menjentik kan jarinya, satu kesatuan bisa datang langsung kesini untuk memberondong tubuhmu dengan senjata, dan kasusnya tidak akan pernah muncul di permukaan!”
“Hish! Kalian macam istri – istri kami jika cerewet mereka datang!” Daddy R menggaruk dalam telinganya. “Berisik
sekali!” Gerutu Daddy R.
“Kau benar – benar cari mati dengan membuat keributan disini Bung!”
“Hubungi Pak Armin lah! Biar beliau tanya Tuan, kita habisi saja orang ini! Belagu!”
Para penjaga keamanan itu saling bicara, dan Daddy R tetap saja berdiri dengan santainya.
“Oke!”
Mereka juga berbicara di walkie talkie mereka dan beberapa orang lagi dengan potongan seperti dari kesatuan keluar dari dalam gedung.
“Angkut aja ini orang! Habisi! Buang mayatnya!”
“Coba saja ....”
Tiga orang sudah hendak maju untuk memegang kasar Daddy R.
Namun disaat yang bersamaan suara deru dari kendaraan yang kemungkinan lebih dari satu terdengar, membuat
semua perhatian mereka yang mengepung Daddy R teralih.
“Mobil – mobil ini kan milik pasukan Tuan Lingga!”
Salah seorang keamanan congkak itu berseru dan wajahnya nampak panik.
“Amankan dia!” Tunjuk salah seorang pada Daddy R.
Lima mobil berperawakan besar dan rasanya tidak beredar di jalanan kota itu sudah berhenti berjajar di depan lobi gedung.
“Jangan berani kalian menyentuhnya!”
Seseorang turun dengan gagahnya dari salah satu mobil yang datang secara rombongan itu.
Diikuti oleh beberapa orang lagi yang turun dari empat mobil berperawakan besar lainnya dan langsung membuat barisan. Lalu ada lagi yang datang entah dari mana kemudian berdiri melingkar di sisi yang lain. Terhitung ada belasan orang yang baru datang.
Nampak seperti dari sebuah kesatuan, namun kesatuan tersebut bersifat sangat rahasia. Dan keberadaan mereka dianggap sebuah cerita saja.
Tetapi orang – orang tim keamanan yang tadi hendak mengeroyok Daddy R itu mengenali siapa orang yang baru turun dari sebuah Humvee namun nampak sudah dimodifikasi dengan elegan dan bisa jadi banyak perangkat canggih di dalamnya.
“Selamat siang Pak!” Orang – orang tim keamanan Danang itu memberi salam dengan hormat pada pria yang
barusan turun dari Humvee canggih tersebut. Mereka kenal dengan nama Lingga.
Mereka mengenali Lingga, karena Bos mereka pernah menjamu pria ini, dan mereka diminta untuk benar - benar menjaga sikap didepan Lingga oleh Bos mereka.
Daddy R masih berdiri ditempatnya.
“Cepat singkirkan dia” Salah seorang yang nampak seperti ketua tim berbisik tajam pada salah satu anak buahnya untuk menyingkirkan Daddy R dari tempatnya.
Dan tiga orang tadi yang tadi hendak mendekati Daddy R kembali ingin melanjutkan.
“APA KALIAN TULI?!”
Pria yang nampaknya sangat disegani oleh orang – orang di kantor Danang itu nampak tersentak mendengar suara si pria gagah tersebut.
“KUBILANG JANGAN BERANI MENYENTUHNYA!!!!”
Pria itu berteriak lagi sembari melotot tajam pada tim keamanan Danang yang kemudian nampak ciut kini, tak segarang dan searogan tadi.
“Ma – af P- ak.. Lingga...”
Si ketua tim berucap gugup.
Namun si ketua tim itu juga bingung kenapa mereka sampai diberi peringatan keras untuk tidak menyentuh pria yang bersikeras ingin menemui Bos mereka dengan petantang – petenteng itu.
Anak buahnya juga saling lempar pandang merasa heran. Bertanya – tanya sendiri dalam hati, tentang siapa si pria pembuat keributan itu. Apakah dia seorang tahanan khusus sampai seseorang seperti Lingga yang terkenal hebat, bahkan Bos mereka sendiri mengakui kehebatan Lingga, itu turun tangan langsung ke lapangan.
Padahal pria yang baru turun dari Humvee ini hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja. Bahkan tingkatannya
di atas bos mereka. Dan dia tidak sembarangan muncul secara terang – terangan.
“Mo-mohon maaf sebelumnya Pak .... tapi orang ini ...”
“APA AKU MENYURUHMU BICARA?!”
Pria gagah bernama Lingga itu menghardik ketua tim keamanan Danang sebelum orang itu selesai bicara. Dan kemudian langsung terdiam ciut dan menunduk.
“Ck!” Daddy R malah berdecak. “Suaramu membuat kupingku sakit!” Ucap Daddy R sembari memandang sebal
pada pria gagah itu.
Tim keamanan Danang melotot tak percaya melihat Daddy R yang mereka pikir tak tahu dengan siapa Daddy R
__ADS_1
berhadapan, sehingga dia asal bicara.
‘Berani sekali dia. Mau mati emang!’
Kira – kira begitu yang ada dalam hati orang – orang tim keamanan pria bernama Danang Arsyad.
‘Baguslah jadi kita orang ga repot habisin dia! Dia cari mati sendiri! Ga lihat ini orang – orang yang sudah ada disekeliling dia bahkan senjatanya lebih canggih dari punya kita orang’
“Lama sekali! Kau hampir membuat bajuku kotor!” Ucap Daddy R lagi.
Dan tim keamanan Danang beserta anak buahnya kemudian memberanikan diri mengangkat wajahnya setelah
mendengar suara dari pria si pembuat keributan yang terdengar sedang memprotes orang yang mereka kenal sebagai orang hebat di negeri ini dan biasanya berada dibelakang layar saja.
“Maaf Tuan ...” Tim keamanan Danang membulatkan mata mereka saat melihat pria yang mereka takuti malah meminta maaf pada si pria pembuat keributan tersebut. Lalu bertanya – tanya lagi tentang siapa pria petantang – petenteng itu hingga pria gagah itu bahkan meminta maaf padanya.
“Beruntung moodku sedang bagus hari ini. Jika tidak akan ku cabut pendanaan dari keluargaku untuk pasukanmu dan besok kau akan turun dari bajaj!”
Lingga menarik sudut bibirnya kemudian ia meletakkan kepalan tangan didepan mulutnya dengan bahu yang nampak bergetar dan suara kekehannya terdengar.
“Oke, oke. Maafkan aku Tuan Reno Aditama Smith yang terhormat, aku kan tadi menunggu aba – abamu.”
“Cih!” Decih Daddy R.
Tim keamanan Danang melongo tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar, termasuk interaksi si pria
gagah yang mereka takuti karena punya pasukan yang bukan berdarah dingin lagi, namun beku – jika bisa dibilang, karena mereka bergerak secara rahasia namun cukup mematikan dengan si pria pembuat keributan.
Kini tim keamanan Danang meringis ngeri melihat Daddy R yang sudah berdiri di tengah mereka. Beberapa orang
yang ada didalam area lobi gedung juga nampaknya sudah mulai ketakutan melihat sebuah gerombolan yang nampak sangar berikut senjata api canggih dalam genggaman ada didepan lobi gedung tersebut.
Bahkan yang tadinya ingin keluar, mengurungkan niat mereka karena di depan pintu keluar yang tidak otomatis, berdiri seseorang tinggi besar dengan wajah yang rahangnya mengetat. Tim keamanan Danang kini ragu dan takut memandangi wajah Daddy R yang sudah nampak sebuah seringai disana.
“Kenapa dengan wajah kalian, B – u – n – g?” Daddy R kemudian berucap seolah mengolok tim keamanan di gedung pencakar langit milik Danang. “Tidak jadi menghabisiku?”
“....”
“Sudah, sudah.... jangan menurunkan derajatmu dengan menanggapi mereka Tuan Reno yang baik hati dan kaya
raya...”
“Cih! Penjilat!”
“Hahaha!!!” Lingga tergelak. “Aku kan hanya menjilat padamu. Kalau di rumah aku menjilat istriku”
Daddy R memutar bola matanya malas lalu hendak berjalan memasuki gedung milik pria bernama Danang Arsyad
tersebut.
“MINGGIR KALIAN!” Hardik Lingga yang ditakuti oleh tim keamanan Danang tersebut sambil melotot pada orang –
orangnya Danang yang nampak ciut itu. Daddy R berdecak lagi.
Sementara orang – orang yang datang bersama Lingga tetap sedia diposisi mereka, seyogyanya mereka sedang dalam tugas.
Beberapa dari mereka bahkan membuka jalan untuk Daddy R untuk memasuki lobi dalam gedung, karena mereka
tahu siapa pria yang berjalan di depan atasan yang mereka segani ini. Bahkan atasannya sendiri pun begitu menghormati pria tersebut.
“Sekali lagi kau berteriak didekat telingaku, benar – benar akan kuganti dengan bajaj semua kendaraan canggih mu!” Ucapan Daddy R bernada sebal.
“Haha! .. oke oke. Sorry sorry. Terbawa suasana melihat orang – orang kurang ajar itu tak sopan padamu, Tuanku...” Sahut Lingga yang tergelak sembari berjalan di samping Daddy R.
“Aku heran orang sepertimu sampai begitu ditakuti disini!”
Daddy R melirik sebal pada Lingga.
“Tak ada yang bisa menandingi ku disini!”
“Kau bicara dengan siapa?!”
“Kau tidak termasuk Ren. Kau kan Bosque. Apalah anaconda dihadapan naga?”
Lingga berceloteh sembari cengengesan.
“Bagus kalau sadar diri!”
“Hahaha!!!...” Lingga tergelak lagi. “Okelah. Ayo kita jemput makhluk kotor yang sudah menodai negeri ini” Ucap Lingga. “Gila! Aku ga sangka kalau dia bisa terlibat hal seperti ini! Kalau bukan kau yang bilang aku mungkin tidak akan percaya dia sekotor ini”
“Itu karena kau bodoh!”
“Ya ya! Aku hanya bodoh didepanmu Bosque! Lagipula harap maklum, kami kan selalunya fokus pada *******. Dan juga berjuang di medan perang yang sesungguhnya. Jadi kalau ada yang terlewat disini wajar dong!. Hahaha!...”
“Cih!”
“Pak! Mohon maaf!”
Salah seorang anggota pasukan Lingga tersebut menginterupsi dengan kesigapan nya.
“Kenapa?” Si pria gagah itu menyahut datar pada anak buahnya setelah berhenti dan menoleh. Daddy R ikut
menghentikan langkahnya.
“Orang – orang yang tadi hendak menyentuh Tuan Reno Aditama ini bagaimana?”
Anak buah si pria gagah itu menunjuk pada tim keamanan Danang, lalu menoleh lagi pada atasannya dan pada
Daddy R.
Lingga menoleh pada Daddy R.
Daddy R kembali mendekat pada tim keamanan Danang. Ia kemudian menyeringai.
“Kau tanya apa tadi?”
Daddy R bertanya pada anak buah Lingga yang langsung dengan sigap menjawab pertanyaan Daddy R.
“Orang – orang ini yang tadi hendak menyentuh anda Tuan, mau kami apakan?”
Tim keamanan Danang meneguk saliva mereka berikut wajah kengerian yang juga tampak pada masing – masing mereka.
Memasukkan mereka ke balik jeruji adalah hal yang sangat kecil bagi seorang Lingga yang mereka kenal cukup
kejam untuk orang – orang yang bermasalah dengannya.
Dan dari apa yang mereka dengar, pria yang tadi hendak mereka keroyok bahkan disegani oleh Lingga. “Tinggal
bilang Ren, aku masukkan mereka ke penjara di tengah laut pun bisa”
“Hem ..”
Daddy R memilin bibirnya seolah berpikir.
“Angkut! Habisi! Buang mayatnya!”
Daddy R berkata dengan keseriusan diwajahnya memandang pada tim keamanan Danang yang merasa tubuh
mereka kini begitu lemas, setelah sebuah perintah yang membuat bergidik keluar dari pria yang tadi mereka remehkan kini membuat mereka ketakutan setengah mati.
“Kalian dengar yang Tuan Reno katakan barusan?”
“Siap Pak!”
“Bersihkan jangan sampai ada sisa”
"Mutilasi hidup - hidup sekalian jika melawan"
****
To be continue ...
__ADS_1