THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 42


__ADS_3

# AREA BUCIN #


************


Selamat membaca...


Prita dan John merapikan peralatan makan bekas mereka setelah menyelesaikan sarapan.


“Sini Kak, biar gue aja yang rapiin. Lo kalo mau mandi gih sana.” Ucap Prita.


“Bener ga apa – apa, kalau ini semua kamu yang rapihkan, Prita?.” Sahut John.


“Iya ga apa – apa, Kak. Baru segini doang sih kecil.”


“Ya sudah.” Sahut John lagi. ‘Lagipula kalau lama – lama disini gue takut khilaf.’ Batin John yang melirik Prita yang sedang merapihkan peralatan makan dari meja. ‘Ga kepikiran semalam kalau Prita ga ada pakaian disini.’


‘Mandi deh sono. Lama – lama dideket gue dengan dia tanpa atasan gitu yang ada gue ileran.’


“Oh iya Prita, Kak John pamit ambil baju dikamar ya, sekalian mau gunakan kamar mandinya juga. Peralatan mandi Kak John ada disana soalnya.”


“Ya elah Kak. Itu kan kamar lo. Kenapa ijin ke gue coba?.”


‘Sebentar lagi jadi kamar kita kok, Prita.’ Batin sibule koplak ngarep. “Ya kan itu kamar kamu yang pakai sekarang.”


“Oh iya Kak. Nanti abis lo mandi, langsung anter gue ke apartemennya Diana bisa ga?. Kalo ga bisa ya gue naik taksi.”


“Oh iya baju ganti kamu ya?.”


“Iya.”


“Nanti Kak John minta seseorang mengantarkan pakaian untuk kamu saja kalau gitu.”


Prita yang sedang mencuci piring itu pun menoleh sebentar. “Ga usah sih Kak. Repot banget.”


“Ga ada yang repot untuk kamu.”


John yang sudah kembali mendekat pada Prita sedikit mengacak rambut Prita yang sedang mencuci piring itu.


“Kak John mandi dulu ya.” Ucap John setelahnya. ‘Mau ikut ga?.’ Batin m*sumnya berkata.


“Iya.”


“Love you.” Ucap John dan Prita seketika menoleh. Ia tersenyum pada John dan wajahnya sedikit merona. Hati Prita terasa hangat mendengar ucapan John barusan.


“Iya udah tau.” Sahut Prita malu - malu.


“Itu aja jawabannya?.”


“Emang harus jawab apa, coba?.”


“Ya I love you too, misalnya?.”


‘Dih alay banget sih nih om – om?.’ Batin Prita terkekeh geli. Ia mengulum senyum.


Cup!


“Itu jawabannya.” Prita mengecup pipi John sekilas.


Sejenak Prita dan John saling tatap.


“Dah mandi sana.” Usir Prita yang jantungnya sedikit berdebar.


Wajah John jangan ditanya. Bibir otomatis tertarik keatas. Girang!.


“Ya sudah Kak John mandi dulu ya.”


Prita hanya mengangguk dan John berbalik untuk pergi ke kamar mandi. Senyuman lebar tak luntur dari wajahnya saat melangkah menuju kamar sambil memegangi pipinya yang tadi di kecup Prita.


Alay emang.


Sementara Prita tersenyum sendiri sambil menyelesaikan cuci piringnya.


***


“Prita.”


Prita menoleh saat mendengar suara John.


‘Ganteng.’ Batin Prita saat melihat John sudah nampak segar dengan balutan kaos ketat dan celana panjang.


“Pagi – pagi sudah melamun.”

__ADS_1


“Siapa juga yang bengong. Lagi liat pemandangan dari sini. Bagus viewnya.”


“Lebih bagus view dihadapan aku saat ini malah.” Ucap John yang sudah mendekat ke tempat Prita berdiri sekarang. Namun batinnya sedikit meringis melihat pemandangan dua paha mulus milik Prita.


“Pagi – pagi jangan nge gombal.”


“Siapa juga yang meng gombal. Memang benar terlalu indah sesuatu eh seseorang yang sedang aku pandangi sekarang.”


Aish, author yang meleleh


“Apa sih......”


Prita menoleh sebentar pada John yang kini sedang bersandar di kaca dekat jendela persis disamping Prita.


“Maaf Prita.”


John merubah posisinya.


“A – “


“Maaf untuk ini.”


Prita belum sempat melanjutkan kata – katanya, saat John melingkarkan kedua tangannya pada perut Prita dari belakang.


Prita sontak merinding dibuatnya. Ia sampai terpaku sendiri sambil merasakan jantungnya kembali berdebar. Berada diposisi ini, memang pernah muncul dalam angannya. Didalam angannya itupun dia pernah mengkhayal bisa memeluk John. Tapi sekarang malah John yang memeluknya erat. Kikuk, tapi Prita bahagia.


“Ga marah kan kalau aku peluk kamu begini?.”


Prita hanya bisa menggeleng.


“Makasih ya..”


Prita menoleh dan wajahnya langsung kembali merona, karena wajah John sudah ada disalah satu bahunya dan wajah ganteng itu sedang menatapnya dengan senyuman.


“B – buat apa?.”


“Untuk pagi yang indah ini, untuk aku yang kamu ijinkan buat memeluk kamu seperti ini. Terlebih lagi untuk hati kamu.”


Wajah Prita tak pelak makin merona saat ini.


‘Abis ini kayaknya gue harus minum obat diabetes.’ Batin Prita yang matanya kini saling tatap dengan John.


Prita hanya tersenyum dan  langsung memalingkan wajahnya. Belum sanggup menatap John lama – lama dalam jarak yang sedekat ini, meski semalam mereka sudah berciuman, atau tepatnya John sudah mencium bibir Prita.


Toh semua yang dikatakan John, apa yang sedang dilakukan olehnya pada Prita hingga detik ini memang keluar dari hatinya. “Aku, jelek banget ya?.” Ucap John yang merubah lagi posisinya dari merengkuh Prita dan kini ia membuat dirinya dan Prita berhadapan.


“Ha?....”


“Aku jelek banget pasti ya, soalnya dari tadi kamu selalu memalingkan wajah.”


“Ih, siapa juga yang bilang Kak John jelek?.”


“Jadi?.”


“Jadi apaan sih?.”


“Jadi menurut Prita, kak John bagaimana, hem?.”


“Ya seperti pendapat cewe – cewe yang matanya normal lah.”


Prita memalingkan lagi wajahnya.


“Lihat aku bila sedang bicara.”


John menyentuh dagu Prita, membuat agar wajah gadis yang dicintainya itu menghadapnya agar ia bisa menatap lekat – lekat wajah gadis yang sudah begitu memperdaya akal sehatnya, sehingga kebucinan yang akan mencapai level akut mendera diri dan hatinya.


“Aku ga butuh pendapat wanita atau orang lain.” Ucap John. “Yang ingin aku dengar itu pendapat kamu. Yang lainnya ga penting.” Sambungnya sambil tak henti menatap lekat iris mata Prita. “Bagaimana aku dimatamu, hem?.”


“Eng.. yang anter baju.. kapan dateng, Kak?.”


Prita mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia ingin menghentikan keadaan yang membuat jantungnya makin berdebar saat ini. Ga kuat rasanya dipandangi dengan pandangan yang terasa menusuk namun hangat dan pandangan John seperti sangat memuja dirinya.


Prita sampai menggigit bibir bawahnya sendiri saking kikuk.


CUUPP!


Ah, John sudah tak tahan lagi untuk tak mengecup dan merasakan bibir Prita yang nampak menggemaskan saat ini. Bibir yang rasanya sudah menjadi favorit John sejak semalam.


Deg.. Deg..


Jantung keduanya berdebar, menjadi mulai tak karuan.

__ADS_1


Prita bahkan menahan nafasnya, tapi lagi – lagi ia tak memberi penolakan pada John yang menciumnya seperti semalam. Bahkan ciuman kedua dari John ini terasa lebih lembut juga lebih em ... sedikit menuntut?.


‘I won’t stop ( Gue ga mau berhenti ).’


John yang tadinya hanya ingin mengecup bibir Prita sekilas, nyatanya tak kuasa menahan keinginannya untuk merasakan bibir Prita lebih lama.


Terlalu sayang bagi John kalau hanya sebentar saja merasakan bibir Prita, yang terasa begitu manis untuk John. Ia sedikit menghisap bibir bawah Prita. Menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan agar tak beralih darinya.


Terlalu menuntut, tapi John tak kuasa untuk menghentikan ciumannya saat ini.


Bahagia dalam hati John rasanya membuncah. Bibir Prita yang tadinya pasif itu kini mulai bergerak mengikuti irama bibirnya.


‘Oh Prita, aku rasanya ingin khilaf.’


John melepaskan ciumannya pada Prita. Khawatir kalau semakin lama dan ciuman mereka semakin dalam bisa


bahaya.


Tapi John tak menjauhkan wajahnya dan tangannya belum melepaskan wajah Prita dari tangkupan nya.


“The Apple of My Eyes .. ( Sayangku .. ) Prita Eriselena.”


Cie... reader... mupeng nih yee..*****


“Kak, ini baju buat gue?.” Tanya Prita saat seseorang sudah mengantarkan pakaian untuknya atas perintah John.


“Iya.”


“Kaga salah ini?.” Tanya Prita lagi. ‘Dikata musim dingin kelles.’ Prita membatin melihat atasan berlengan panjang berikut celana panjang.


“Kenapa?. Bagus kan?. Pasti muat kok. Aku tahu persis ukuran tubuh kamu.” Sahut John. “Und*rwear juga ada kan?.”


Prita mendelik sekaligus mengernyit, sambil membongkar lagi paper bag yang berisi beberapa kotak didalamnya.


“Ada?.” Tanya John yang sudah mendekat.


“I – iya, ada ...” Jawab Prita sedikit gugup. ‘Ih kok dia bisa pas tahu ukuran daleman gue?.’ Batin Prita.


“Sudah benar kan ukurannya?.” Tanya John lagi. ‘Pasti benar meski gue belum pegang.’


“I – iya ...”


“Ya sudah mandi sana.”


“Tapi bajunya ini ga ada yang lain apa?. Diluar panas Kak.”


“So? ( Jadi? ).”


“Ya gue bakalan kegerahan lah.” Ucap Prita sedikit jengah melihat pakaian yang John berikan padanya.


“Aku mau ajak kamu keluar.”


“Nah itu apalagi. Yang ada gue mati kepanasan pake baju begini diluar. Ga mau ah!.”


“Dengar ya Prita, sayangnya Kak John."


Ca elah bule koplak. 😄


"Kamu itu kan sudah jadi milik Kak John, jadi aku ga mau tubuh kamu ini jadi objek pandangan laki – laki lain diluar.”


“Enak aja milik – milik. Baru pacaran. Belom nikah.” Ucap Prita sedikit sebal. “Aku baru jadi pacar Kak John tau ga?. Jadi ..”


“Apa?. Coba ulang.”


“Apaan? Ulang apaan?.”


“Coba ulang tadi kamu siapanya Kak John?.” Goda John sambil cengengesan.


“Dih, norak!.” Celetuk Prita sambil mengulum senyumnya.


“Tapi cinta kan..?.”


“Dah ah, mendingan gue mandi.”


Prita segera beranjak menuju kamar John yang ia tempati sejak semalam dengan membawa paper bag berisi pakaian yang diberikan John itu.


“Jangan lama – lama mandinya!.” Teriak John. ‘Ga sabar mau rasa itu bibir lagi.’


Sibule koplak pun mesem - mesem sendirian.


*****

__ADS_1


To be continue......


__ADS_2