THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 292


__ADS_3

SERBA SALAH


 


Selamat membaca ..


♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠


D & M by Dewa Finn Resto, Jakarta, Indonesia 


“Jadi, apa yang orang – orangmu sudah dapat?”


Varen sedang menunggu kedatangan Rendy dan Marsha di restoran milik Daddy Dewa. Dan keduanya berikut


Ammar berada di sebuah private room yang memang ada didalam restoran milik Daddy Dewa itu untuk tamu – tamu yang ingin mengadakan pertemuan bersifat privasi.


“Ammar sudah mendapatkan laporan rekening pengurus panti yang dipercaya Marsha”


“Ada yang mencurigakan?” Tanya Daddy Dewa lagi.


“Tidak ada transfer dari atas nama Dilara pada catatan rekening pengurus panti itu, namun ada beberapa jumlah uang dalam tiga bulan terakhir yang sedang kuminta Ammar menyelidikinya lebih lanjut”


“Lalu?”


“Aku masih menunggu, karena ada tiga nama berbeda disetiap transferan itu jadi sedikit membutuhkan waktu”


“Aku dan dua Dads mu juga masih mencari tahu siapa Dilara itu. Tanpa foto sedikit sulit. Dan dari copy daftar penyandang dana di panti milik pacarnya si Rendy itu hanya mencantumkan nama Dilara saja tanpa ada nama belakangnya, jadi kami juga membutuhkan waktu. Kami bertiga asing sekali dengan nama itu”


“Ya aku mengerti. Aku juga sudah bertanya dengan beberapa kenalanku tapi mereka bilang juga tak pernah


mendengar nama itu. Bahkan public figure disini rasanya tidak ada yang bernama Dilara”


“Bukankah kau juga menyuruh Ammar untuk menempatkan orang mengawasi pengurus itu berikut orang – orang yang keluar masuk panti?”


“Iya sudah. Tapi sampai detik ini tidak ada yang mencurigakan. Pengurus panti itu juga masih berada di dalam panti”


“Kau tidak menggeledah tempat tinggalnya saja selama dia sedang berada di dalam panti?”


“Dia tinggal disana, Dad”


“Huumm” Daddy Dewa manggut – manggut. “Kau sudah mendapatkan seseorang yang akan kau selusup kan ke panti milik pacarnya Rendy itu?”


“Sudah. aku sudah membawanya juga sekaligus akan aku perkenalkan pada Marsha”


“Cepat juga gerak orang – orangmu”


Varen menyunggingkan senyumnya.


“Tentu saja mereka harus cepat. Kepala mereka taruhannya” Ucap Varen santai dan Daddy Dewa pun spontan


tergelak.


“Benar – benar anak naga! ......”


******


Kembali ke tiga deketip ala – ala yang sedang mengikuti sebuah mobil yang berisikan dua orang yang Andrea


curigai.


“Loh kok ga ikut masuk Niki?. Kita harus terus ikuti mereka lah, aku mau ambil foto si Dilara dan orangnya itu”


“Tidak bisa Nona” Ucap Niki yang memberhentikan mobilnya di area parkir sebuah hotel mewah.


“Kenapa ga bisa?!”


“Itu area Private, Nona. Membership access only yang bisa masuk kesana”


“Ck! Sia – sia dong kita mengikuti mereka sampai sejauh ini kalau kita tidak bisa mendapatkan foto mereka!”


“Ya mau bagaimana lagi Nona”


“Ah, kalau begitu begini aja. Aku akan turun dan mengurus untuk menjadi member di hotel itu!”


“Oh tidak! Tidak Nona!”


“Loh kenapa?!”


“Saya tidak akan biarkan anda masuk kesana” Niki langsung mencegah Nona Mudanya yang hendak turun dari


mobil itu dengan menahan kunci otomatis pada mobil yang ia kendarai seraya menoleh dengan cepat untuk memberi larangan pada Andrea.


“Iya tapi kenapa?!”


“Pokoknya tidak boleh”


Niki kekeh.


Andrea mencebik sambil mensedekapkan tangannya.


Niki tahu hotel seperti apa yang dimasuki oleh dua orang yang Andrea curigai itu. Pasalnya, meskipun tergolong hotel mewah, namun hotel tersebut bisa dikatakan tempat bertransaksinya para pria kaum jetset, hidung belang terutama. Yang ingin mencari kesenangan di area basah hutan rimba wanita – wanita bayaran kelas atas.


‘Kalau Nona Andrea sampai masuk kedalam. Aku akan benar – benar kehilangan kepala!’ Niki membatin ngeri.


“Sebaiknya kita pergi saja dari sini Nona” Pinta Niki.


Andrea menggeleng.


“Kenapa sih aku ga boleh masuk kesana?” Andrea penasaran. “Kalau kau takut aku berpapasan dengan mereka,


aku bisa pakai kacamata hitam aku nih!” Andrea mengeluarkan kacamata miliknya dari dalam tas.


“Hotel ini tidak boleh anda masuki Nona”


“Iya tapi kenapa?!”


“Iya kenapa sih Mas Niki?”


‘Mas – lagi!’


“Nanti silahkan tanya pada Tuan Alvarend dan Tuan Jonathan saja Nona Andrea, Nona Kevia”


“Ck!” Andrea mencebik lagi.


“Dan mohon maaf Nona Kevia, anda bisa memanggil saya dengan nama saya saja tanpa embel – embel ‘Mas’”


“Engga ah. Ga sopan rasanya”


“Saya lebih nyaman jika anda hanya memanggil nama saya saja Nona Kevia”


“Iyakan aja sih Vi!”


“Ya udah, iya”


“Terima kasih Nona” Ucap Niki.


Ponsel Kevia berdering.


“Ya ampun! Aku sampai lupa kalau aku kan harus menyusul Jo ke kampusnya” Kevia nampak sedikit panik.


“Kalau begitu kita harus pergi sekarang Nona”


“Ga bisa! Ga bisa! Kita harus tetap disini sampai dua orang itu keluar lagi”


“Tapi ini Jo menelpon. Gimana dong?” Ujar Kevia.


“Abaikan aja! Nanti kalau dia mengomel bilang aja kamu silence, jadi tak dengar” Sahut Andrea


‘Jangan didengarkan usul menjerumuskan saudara ipar anda Nona Kevia’ Batin Niki. “Jika Nona Kevia tidak


menerima telpon Tuan Muda Jonathan, beliau pasti akan menghubungiku” Ucap Niki.


“Ya jangan kamu terima juga. Bilang saja kamu sedang mengemudi” Sambar Andrea. “Kreatif dikit kenapa?!” Niki


menghela nafasnya setengah frustasi.


Ponsel Kevia berhenti berdering dan tak lama ponsel Niki yang berdering.


“Kan sudah kubilang apa. Tuan Jonathan pasti akan menghubungiku jika Nona Kevia tidak menerima panggilannya karena ia tahu kalau aku yang akan mengantar Nona Kevia untuk menyambangi Tuan Jonathan ke kampusnya”


Niki berkata pada dua Nona Mudanya itu.


’Rasa - rasanya ada hal yang gue lupakan. Tapi apa ya?’ Batin Niki sedang mengingat ingat sesuatu.


“Ya sudah abaikan saja!”


‘Ah sial! Kenapa gue lupa soal Balqis!’ Niki spontan menepak jidatnya sendiri.


Niki langsung buru – buru mengeluarkan ponselnya yang berhenti berdering itu. Namun tak lama berdering lagi setelah ia memegangnya.


‘Habislah ..’ Niki membatin ngeri saat melihat nama si pemanggil di ponselnya.


Tuan Muda Alvarend.


**


D & M by Dewa Finn Resto, Jakarta, Indonesia


“Kalau semua itu benar. Kenapa Emali tega sekali?” Marsha dan Rendy sudah datang ke restoran milik Daddy Dewa dan kini sedang duduk bersama Varen dan Daddy Dewa membahas soal kecurigaan pada pengurus panti yang dipercaya oleh Marsha.


“Kita belum tahu pasti”


“Aku harap kecurigaan kalian itu salah sih”

__ADS_1


“Entahlah Beb. Tapi kalau dari apa yang Alvarend tunjukkan ini aneh juga, kalau dari gajinya bekerja di kamu, dia memiliki apartemen di tempat ini. Dan lagi transferan dana di rekeningnya ini besar sekali. Sementara yang kamu tahu, dia makanya kamu percaya untuk menjadi kepala panti karena dia juga dulu adalah orang yang memiliki masalah seperti anak – anak yang berada di panti”


“......”


“Setahu kita juga dia tidak punya siapa – siapa kan?. Makanya meskipun sudah dinyatakan sembuh namun dia


tetap memilih tinggal di panti karena tidak punya tempat tinggal dan tidak punya keluarga lagi?”


Marsha mengangguk pada Rendy yang barusan bicara panjang lebar itu.


“Untuk mencari informasi lebih lanjut aku akan meminta kamu memasukkan gadis ini ke panti milik kamu Sha”


Varen memperkenalkan gadis yang dibawa Meissa pada  Rendy dan Marsha.


“Dia sudah tahu persis apa tugasnya. Kamu hanya tinggal membawanya ke panti milik kamu” Ucap Varen dan


Marsha mengangguk paham.


****


“Bicaralah Balqis”


Suara Ammar terdengar setelah ponselnya berbunyi dan ia langsung menerima panggilan dari salah seorang yang


ditugaskan untuk menggantikan Niki yang mengantar Kevia untuk menjemput sekaligus menjaga Andrea di kampusnya.


“Apa kau bilang? ...”


Varen seketika menoleh.


Ia mendengar nama Balqis dan ia segera tahu kalau itu berhubungan dengan Andrea karena Varen sudah pasti


mengetahui siapa orang – orang yang bekerja untuknya, terlebih lagi mereka yang diberikan tanggung jawab besar soal istri kecil tercintanya itu.


‘Hah! Bencana!’ Ammar membatin setelah panggilan dari Balqis terputus.


“Ada apa?”


‘Kalau gue ga jujur soal apa yang dilaporkan Balqis pasti Tuan Muda Alvarend akan marah. Gue jujur juga sama


tapi pasti kena marah! Hahhh Nona Andrea kenapa hobi sekali membuatku dan anak buahku susah!’ Batin Ammar. “Nona Andrea tidak ada di kelasnya dan tidak ada di kampusnya juga Tuan”


“Apa?!”


“Balqis sudah menyambangi kelas Nona Andrea dan dia sudah memastikan kalau Nona Muda Andrea tidak masuk


kelas hari ini” Jelas Ammar. “Balqis juga sudah mencari hampir di seluruh kampus dan memang Nona Muda Andrea tidak ada”


“Apa dia sudah menanyakan pada para penjaga kampus istriku?. Mereka pasti tahu” Ucap Varen.


“Sudah Tuan. Balqis sudah bertanya pada beberapa orang termasuk penjaga kampus perihal Nona Andrea”


“Lalu?!”


“Katanya Nona Muda memang datang bersama Niki dan Nona Kevia. Namun soal Nona Andrea mereka tidak tahu


lagi” Ammar kembali memberikan laporan. “Kalau penjaga kampus bilang mereka hanya melihat mobil yang dikendarai Niki keluar dari kampus dan tidak melihat siapa yang ada didalamnya”


“Hish!”


“Mungkin Little Star membolos dan ikut Via ke tempat Nathan”


Daddy Dewa bersuara.


Varen mengangguk dan meraih ponselnya dalam saku lalu langsung menghubungi Nathan.


***


“Than apa Andrea ada sama Via dengan lo disana?” Varen sudah menghubungi Nathan karena sebelumnya ia


menghubungi Andrea namun tidak diangkat.


“Baru gue mau hubungi lo Bang. Via sama Niki ga diangkat telponnya. Siapa tahu dia menyusul ke resto buat ketemu Kak Marsha. Gue mau telpon si Drea tuh anak takutnya masih di kelas” Jawab Nathan dari sebrang ponsel.


Varen menarik nafas frustasi dan menghembuskannya sedikit kasar.


“Ya sudah gue lihat titik GPS Little Star dulu kalau begitu” Ucap Varen.


“Jadi mereka ga sama lo juga disana?” Tanya Nathan yang suaranya nampak mulai cemas. Varen mengiyakan. “Ya


udah coba gue hubungi Via lagi” Ucap Nathan kemudian dan langsung memutuskan panggilan si Abang.


Berhubung Tan – Tan ini santai orangnya, jadi dia tidak sampai kepikiran untuk memasang chip pelacak di ponsel milik Kevia seperti yang sudah Varen lakukan pada ponsel Andrea, selain ia juga mengkloning ponsel istrinya tersebut. Varen langsung mencari titik keberadaan ponselnya, karena ponsel kloningan khususnya tidak ia bawa saat ini.


‘Ap-pa apaan?! ..’


Mata Varen membulat sekaligus wajahnya nampak terkejut tak senang saat melihat titik keberadaan Andrea dari ponselnya. Lalu tangan Varen hendak menekan kontak Andrea, namun tak jadi ia beralih ke nomor Niki.


“Awas saja jika anak buahmu ini yang mengantar istriku ke tempat ini” Ucap Varen dengan tatapan menusuk pada Ammar sembari menunjukkan ponselnya sebentar dan menunjukkan titik keberadaan sang istri.


“Bukan hanya Niki yang akan mendapatkan hukuman dariku, tapi juga kau, Ammar”


Gluk!


***


‘Habislah ..’


“Jangan diangkat kalau itu si Tan – Tan ya Niki”


“Ini Tuan Muda Alvarend Nona” Wajah Niki nampak ngeri campur pasrah.


Andrea menggigit bibir bawahnya. “Apa dia tahu tentang kita yang ada ya Niki?” Andrea juga sedikit merasa ngeri.


“Entahlah Nona” Jawab Niki. ‘Pastilah suami anda sudah tahu kita disini Nona. Dan aku yang akan menerima


akibatnya’ Batin Niki.


“Ya sudah jangan diangkat”


“Apa anda punya dendam pribadi padaku Nona Andrea?” Sahut Niki. “Aku bukan hanya akan kehilangan pekerjaan tapi juga masa depanku jika aku sampai tidak menerima panggilan dari suami anda Nona”


“Derita kamu itu sih”


'@$^)+##!!'*


"Dan beri aku alasan kenapa kamu melarang keras aku masuk ke dalam hotel itu, atau aku akan biarkan kamu mendapat hukuman dari Abang!"


***


D & M by Dewa Finn Resto, Jakarta, Indonesia


Tiga orang yang baru saja tiba sama – sama meneguk ludahnya kembali saat sampai di restoran milik Daddy Dewa dan sudah memasuki private room tempat dimana Varen dan Daddy Dewa mengadakan pertemuan dengan Rendy dan Marsha.


Namun kini hanya tinggal Varen, Ammar beserta Nathan yang langsung meluncur dari kampusnya setelah Abang menyuruhnya agar datang ke restoran Daddy Dewa.


Daddy Dewa sudah pergi dari restoran miliknya untuk menjemput Mom Ichel di Perusahaannya. Sementara Rendy


dan Marsha sudah pergi dengan membawa orang suruhan Varen yang bersama Meissa ke panti milik Marsha.


Jantung Andrea, Kevia apalagi Niki sudah berdebar tak karuan saat memasuki are private room di restoran milik Daddy Dewa dan mereka disambut dengan pandangan yang begitu menusuk dari Varen saat mereka memasuki ruangan tersebut.


Si Abang duduk di sebuah sofa yang mengarah pada pintu masuk private room dengan Nathan yang berada di


sampingnya. Nathan langsung berdiri setelah melihat Kevia yang datang bersama Andrea dan Niki, sementara Varen masih tetap berada ditempatnya, menelisik Andrea dan Niki yang menelan ludah mereka lagi.


“Apa kau sudah tak membutuhkan kepalamu Niki?” Suara Varen yang datar namun menyiratkan aura dingin dibaliknya kemudian terdengar.


“Maafkan saya Tuan”


“Bukan salah Niki Abang”


“Duduk sini”


Varen berkata pada Andrea dengan juga menggerakkan kepalanya menyuruh Andrea duduk disampingnya. Andrea


mengangguk patuh. Pandangan Varen kembali ke Niki saat Andrea sudah duduk disampingnya berikut Nathan dan Kevia yang juga sudah ikut duduk.


“Abaang..”


“Aku belum menyuruhmu bicara Little Star” Sambar Varen.


Tapi Andrea mengabaikan ucapan Varen dan tetap melanjutkan kalimatnya. “Bukan salahnya Niki. Drea yang paksa dia untuk mengikuti itu si Dilara!”


“Apa kamu bilang?”


“Iya, tadi di kampus aku melihat laki – laki orangnya itu Dilara yang waktu itu memergoki aku mencuri dengar. Jadi aku spontan saja berpikir untuk mengikutinya”


“Oh ya?!” Tanya Nathan antusias.


“Iya”


Andrea menjawab sambil menoleh pada Nathan dan mengangguk dengan antusias juga. “Harusnya kau bicara


dulu denganku Niki!” Varen tetap menyalahkan sang pengawal pribadi yang menemani Andrea.


“Ish! Dibilang bukan salah Niki, Abang!. Drea yang minta dia agar nanti saja menghubungi Abang, setelah kami mendapatkan sesuatu dari hasil kami mengikuti laki – laki itu..”


“Tetap dia salah!”


“Tetap juga Drea ga terima Abang menyalahkan Niki!”


Nathan memijat pelipisnya melihat dua orang yang akan mulai berdebat itu, sementara Kevia diam saja karena masih agak takut oleh Varen yang tadi ia lihat wajahnya begitu horor kala ia masuk ke dalam private room tersebut bersama Andrea dan Niki.

__ADS_1


“Udah jangan berantem dulu!. Terus kalian ada hasil apa dari mengikuti itu cowo?”


Nathan kemudian bertanya untuk menghentikan perdebatan si Abang dan Drea.


“Kami berhasil mengetahui tempat tinggal ibu Dilara” Kevia yang menjawab.


Varen pun kemudian menoleh pada Kevia dan kembali menatap Andrea, marah yang ingin ia siram pada Niki tertunda sesaat namun baik Niki maupun Ammar tetap berdiri ditempatnya.


“Benar begitu?”


“Iya benar. Makanya dengarkan dulu Abang” Jawab Andrea.


“Ck!”


“Udah terusin itu cerita!” Sambar Nathan.


“Jadi saat aku lihat itu laki – laki, aku langsung suruh Via balik badan dan aku sembunyi di belakang Niki ... bla ... bla ... Nah ya sudah sampai itu si Dilara masuk ke area hotel yang kami sambangi saat mengikuti dia, kami bertiga menunggu di parkiran biasa, karena Niki bilang yang bisa masuk melalui akses yang dilalui Dilara hanya Member VIP saja”


“Apa kamu sempat turun dan masuk kedalam hotel tersebut?”


“Tidak Tuan”


“Aku tidak berbicara padamu!”


Varen berkata ketus sambil menatap sinis pada Niki.


“Maaf Tuan”


“Abang ish! Benar memang yang Niki bilang. Drea masih tetap di mobil sampai Abang menghubungi dia. Niki


melarang Drea untuk turun dan masuk ke hotel itu!”


“Tetap saja dia salah!”


Varen tetap tak mau terima.


“Kau tahu hotel macam apa yang kalian datangi itu kan Niki?!”


“Iya Tuan. Makanya saya menahan Nona yang ingin lebih mencari tahu apa yang dilakukan wanita itu disana”


“Tetap kau salah! Kau sudah mengambil resiko jika dia menyadari keberadaan kalian yang mengikutinya”


“Iya Tuan. Saya menyadari kesalahan saya”


“Ga ada! Kamu ga salah Niki! Abang kalau mau menyalahkan ya salahkan Drea. Drea yang memaksa Niki!”


‘Juga mengancam saya Nona’


“Lagipula Drea juga ga apa – apa kan nih?”


“Aku akan tetap memberikannya huku – hmppphh...”


“Sudah sana pergi Niki! Makan sana. Ammar sana pergi makan bersama Niki!”


“Hanya dengan ijin Tuan Muda Alvarend, Nona Andrea”


Ammar bersuara. Varen melepaskan tangan Andrea dari mulutnya yang sempat dibekap itu.


“Aku tidak mengijinkan!”


Syut! Slep!


“Masih ga mengijinkan?”


Ammar dan Niki langsung nampak salah tingkah dan spontan menolehkan kepala mereka ke arah lain saat itu si Nona Muda dengan santainya memeluk sekaligus membawa kepala Tuan Muda mereka ke sepasang mochi raksasa yang membuat wajah Tuan Muda Utama mereka langsung bersemu merona.


Sementara Nathan cekikikan dan Kevia membuka mulutnya sembari mendelik tak percaya dengan apa yang


dilakukan si adik ipar yang kadang absurd itu.


“Masih ga mengijinkan Niki dan Ammar pergi?” Andrea masih menahan kepala Varen yang pipinya sudah


bersandar nyaman pada nunu dan nana yang masih terbungkus atasan yang dikenakan Andrea.


Meski begitu, kenyalnya sudah terasa dipipi Varen yang sudah bersemu itu.


“O – oke...”


Varen kemudian mengibaskan tangannya menyuruh Niki dan Ammar pergi.


“Ehem! Kalian boleh pergi”


Varen sok cool.


Namun begitu, semu kemerahan masih nampak di wajahnya. Sadar, harga dirinya sedikit turun didepan mereka yang bersamanya terlebih lagi kedua pengawal pribadi mereka akibat ulah Andrea yang menempelkan wajahnya pada Nunu dan Nana. Tapi yaa ... tak menampik juga kalau si Abang rasanya damai sentosa bahagia sekaligus deg – deg ser saat berdekatan dengan Nunu dan Nana walau masih terhalang kain itu.


“Tapi sebentar, aku ingin bicara dengan kalian”


Varen bangkit, masih dengan sikapnya yang sok cool menghampiri Ammar dan Niki.


“Memang kalian penyelamat bangsa ya Nunu, Nana” Gumam Andrea sambil menatap sendiri sepasang mochi


raksasa miliknya.


Nathan tetap cekikikan sementara Kevia masih menganga, namun dia mendengar gumaman Andrea.


“Jadi Nunu Nana itu maksudnya ...???...” Kevia sampai tergugu berkata.


“Nunu...”


Andrea menunjuk mochi raksasa sebelah kanan dengan telunjuknya pada Kevia tanpa malu meski ada si Tan – Tan


disana.


“Nana...”


Kemudian menunjuk mochi raksasa sebelah kiri.


‘Oh – Ya Tuhaaaaan ...’ Kevia membatin sambil geleng – geleng geli sendiri pada si Juleha.


“Kalau nanti dia masih marah – marah di rumah aku tinggal sumpal aja dengan mereka ini nih”


Kevia jadi malu sendiri mendengarnya sembari menopangkan dahinya pada tangan dan menunduk sambil geleng – geleng. Sementara si Tan - Tan tak tahan lagi untuk tidak tergelak kemudian lalu mengambil bantal kursi yang ada disamping Andrea untuk membekap gemas muka si Cute Girl.


***


Varen kembali lagi mendekat pada Andrea, Nathan dan Kevia setelah selesai berbicara pada Ammar dan Niki.


“Ehem!...”


Varen berdehem sok cool.


“Lain kali jangan begitu”


“Begitu bagaimana?” Tanya Andrea yang tahu kalau ucapan Varen mengarah padanya.


“Melakukan hal yang tadi kamu lakukan sebelumnya”


“Peluk Abang?”


“Ya” Sahut Varen. “Kamu bukan hanya sekedar peluk kan tadi ...”


“Kenapa sudah bosan sama Nunu dan Nana?”


“Ya bukan begitu ...”


“Pasti sudah! Aku tahu kenapa Niki mati – matian melarang aku untuk masuk ke hotel tadi!”


“.....”


“Abang sering kesana iya?! Makanya sudah bosan sama Nunu Nana aku?!” Tuding Andrea.


“Enak saja! Bukan ...”


“Halah! Kalau Abang ga sering kesana mana tahu sekali tentang hotel macam apa itu?!”


Andrea berdiri dengan segera lalu melemparkan bantal kursi yang sudah ia pegang tadi saat Nathan selesai


membekap nya.


“Dasar hidung belang!”


‘Eeeh??... kenapa jadi gue yang salah ini?’


Abang membatin sementara Andrea sudah melangkah untuk keluar dari ruangan tempatnya, Varen, Nathan dan


Kevia berada dengan sengaja menekan beberapa kali diderapan langkahnya.


"Jangan harap bisa bertemu Nunu dan Nana nanti di rumah!"


“Little Star!!!! ...” Varen bangkit untuk mengejar.


Nathan cekikikan dan juga bangkit sambil menggandeng Kevia yang ikut juga bangkit.


“Tunggu! Jangan berpikir yang engga – engga dulu!!”


"Masa bodoh! Nunu Nana Nananina, No Way!"


"Aaa ... Little Staaarr..."


***


To be continue..

__ADS_1


Ini satu episode tapi kurang lebihnya tiga ribu kata loh ya


__ADS_2