THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 25


__ADS_3

# GALAU #


Selamat membaca .....


*********************


Keluarga Adjieran Smith dan Keluarga Cemara masih berada di resto mereka setelah sesi jumpa fans dadakan ala


lima babang tamvan Keluarga Smith selesai. Tamu yang datang pun sudah berganti.


“Eh iya Jep, anak kamu siapa itu namanya?... Nathan.” Ucap Papa Herman. "Lupa mulu Papah. Jarang ketemu soalnye."


“Die yang nanya, die yang jawab.” Celetuk si Prita. Membuat Papa Herman terkekeh sendiri berikut yang lainnya.


“Iya Nathan. Kenapa Pa?.” Sahut Jeff.


“Kok ga diajak?.” Tanya papa Herman.


“Kan Nathan di Bandung, Pa.” Jawab Jeff.


“Oh iye, ye.”


“Tinggal kalian berdua nih.” Celetuk mama Bela sambil menunjuk dua J.


“Kenapa dengan kami memangnya, Ma?.” Tanya John sedikit heran.


“Ya tinggal kalian doang yang belum berumah tangga.” Sahut mama Bela. “Pade nunggu apaan lagi si?. Mau cari bini yang kayak gimane emang?.”


“Iya nih kalian. Ganteng iye. Kaya. Apaan lagi yang kurang?. Masa nyari bini aje kaga bisa?. Ga mungkin cewe – cewe pada kaga mau ama kalian, kan?.” Timpal papa Herman.


Dua J hanya cengengesan.


“Ho oh. Lagian kamu Jeff kan udah punya Nathan, kenape ibunya ga dilamar aje sih?. Kan udeh jelas – jelas anak


kamu sama si Jihan Pahira itu.”


“Jihan Shaquita, Ma.”


“Oh iye.” Mama Bela terkekeh sendiri. “Si Jihan belum ada suaminya ini kan?. Masa iye die kaga mau sama kamu?.”


“Ya kalau ga cinta gimana dong?.”


“Ya ilah, cinta mah ntar dateng ndiri kalo keseringan bareng. Apalagi udeh jadi suami istri sering ketemu. Emang kamu ga ada perasaan gitu sama si Jihan?.” Cerocos mama Bela.


“Ada sih Ma.” Ucap Jeff.


“Nah ya udeh tunggu apelagi?. Belom siap nikah juga?.” Ucap mama Bela seraya bertanya. “Udeh ada anak Jeff, kasian anaknya.”


“Siap sih siap Ma. Tapi si Jihan itu sekarang ada pacarnya.”


“Ya ilah baru pacar.” Timpal papa Herman. “Belum dinikahin, ya masih bisa di kejer. Kecuali die udeh nikah tuh, tunangan deh paling engga. Nah baru tuh jangan digangguin. Kalo masih pacaran mah masih bisa di sambet Jeff. Sapa cepat dia dapat.”


“Setuju Pa.” Celetuk Andrew.


“Eh Donald Bebek, lo waktu masih pacaran sama si Kajol, jangankan ada yang gangguin hubungan lo sama dia, si Kajol di lirik cowok lain aja lo ngamuk!.” Sahut Jeff.


Andrew terkekeh. “Gue hanya menjaga apa yang seharusnya jadi milik gue. Jadi milik gue juga kan pada akhirnya?.” Ucapnya. “Kalau seandainya Fania sudah punya pacar sudah jelas dan pasti akan gue rebut. Seperti yang papa bilang tadi. Selama belum jadi istri orang, persaingan tetap berjalan.”


“Tau lo! Gitu aja pakai mikir, Jeff. Merasa kalah keren lo dari si Liam?.” Kakak ganteng jadi kompor dadakan. Jeff pun berdecak.


“Jauh lebih keren gue kemana – manalah.”


“Nah ya sudah sambat lah!. Mikir terlalu lama!.” Celetuk Andrew lagi.


“Gue juga harus memikirkan perasaannya si Jihan juga lah, Ndrew.”


“Nah terus kamu John?.” Papa Herman beralih ke sibule koplak.


“Kenapa memang John, Pa?.” Jawab John dengan balik bertanya.


“Kamu kenapa belom nikah?.”


“Belum ada yang cocok.”


“Masa.”


“Iya Pa.”


“Lo sudah memastikan dengan pasti, kalau lo ga punya jejak di rahim perempuan seperti si Jeff?.” Ledek Reno.


Para wanita masih enggan untuk ikut berkomentar pada pembicaraan para lelaki ini.


“Wah Tolgahan Sayisman jadi lambe turah sekarang, Jol!.” Sahut Jon dan si Kajol pun terkekeh berikut yang lainnya.


“Benar tuh yang dibilang, R. Lo yakin memang kalau lo ga menyisakan sesuatu dimasa lalu dengan para wanita yang pernah lo giring ke ranjang?.” Kalimat tanpa akhlak yang meluncur dari sibule gila tanpa saringan. Ada yang sedikit tersentak mendengar kalimat ‘digiring ke ranjang’ yang diucapkan Jeff barusan.


Prita memasang telinganya.


“Dosa ranjang gue ga sebanyak lo, bule gila!.” Ucap John cepat. “Jadi kemungkinan gue punya anak yang tersembunyi amat sangat kecil, dan sudah gue pastikan benar – benar sejak lo menemukan Nathan, oke?. Me, have no child! ( Gue, ga ada anak ).” Ucap John lagi dengan percaya diri. “Lo jangan sok menakuti gue Jeff, karena para wanita yang pernah bergelut dalam kenikmatan dengan gue dimasa lalu sudah gue selidiki satu – satu.” Cerocos si bule koplak. “Jadi, gue bersih dari anak.” Ia terkekeh sendiri.


‘Hish! Ini dua orang gila. Bicara hal begitu seenaknya didepan papa dan mama.’ Andrew geleng – geleng.

__ADS_1


“Astagfirullah.” Celetuk mama Bela dan papa Herman.


“Tapi udeh pa Insap kan sekarang?.” Ucap Papa Herman.


“Udah Pah tenang aja. John sudah lebih dulu insaf daripada dia.” Sahut John sambil menunjuk Jeff.


“Bagus dah kalo kayak gitu. Mending udeh pada buru – buru nikah deh kalian berdua.”


“Betuuuullll..” Sahut yang lain.


“Nah si Jeff kan udeh ada bayangan calon nye biar kata masih burem juga. Kalo kamu John?. Emang ga ada pacar sekarang?.” Ucap papa Herman lagi seraya bertanya.


Ada hati yang berdebar menunggu jawaban John.


“Menurut Papa?.” Ucap John kembali balik bertanya.


“Au dah, lah kamu perasaan ga pernah bawa cewe sejak kamu putus sama pacar kamu yang hampir kamu lamar


itu.” Sahut papa Herman.


“Ya udah carikan lah kalau gitu Pa.” Timpal John.


Deg!.


***


London, Inggris


Jeff beserta Reno, Dad dan Mom sudah bertolak ke London. Selama Andrew belum kembali ke London, dia yang


akan in-charge menggantikan Andrew, dikarenakan si Donald Bebek itu akan menemani Fania selama istri tercintanya itu ada di Indonesia, dan berbagi tugas juga karena Andrew  yang mengurus bisnis pribadinya yang ada di Italy, selain dari beberapa bidang bisnis yang dimiliki keluarga mereka.


Meski punya beberapa orang kepercayaan, tapi Reno, Andrew dan dua J tetap terus dan memang harus memantau


jalannya bisnis keluarga dan bisnis pribadi mereka sendiri.


Jeff sedang berada dikamarnya di Mansion. Ia sedang melihat – lihat galeri foto didalam ponselnya. Foto Nathan lebih banyaknya. Sekalian ama foto ibunya Nathan. Jeff menghela nafasnya saat jempolnya berhenti pada foto Jihan seorang diri yang pernah dia diam – diam ambil.


Ingatan Jeff terbang kesaat dia dan Jihan berpisah selepas malam panas mereka.


Hingga pada akhirnya Jeff bertemu kembali dengan Jihan setelah ia tahu perihal Nathan. Dan pada akhirnya intensitas pertemuan Jeff dengan Jihan pun semakin sering karena ia sering, teramat sering mengunjungi Nathan.


Pada awalnya, ya. Jeff ke Bandung hanya untuk mengganti waktu yang hilang dengan sang buah hati. Namun lambat laun, Jihan yang cantik dan sedap dipandang itu juga ikut menarik perhatiannya. Bahkan kini hatinya.


Jeff mengacak rambutnya.


Hatinya gundah gulana saat ini. ‘Cinta..’ Batinnya bermonolog. “Argh.. kena virus bucin ini gue lama – lama!.” Ia menggerutu sendiri.


“Tapi benar juga sih, ga ada salahnya mencoba kan?.”


Jeff mengingat ucapan para anggota keluarganya.


‘Liam ..’ Jeff mengingat satu nama. Teman lamanya sekaligus kekasih Jihan. ‘Sepertinya gue harus memastikan secepatnya sejauh mana hubungan mereka.’ Otaknya sedang menyusun rencana. "Oke, Liam, gue siap bersaing dengan lo, kalau gerak lo masih lambat."


**


Sementara itu di Jakarta, satu bule kw lagi sedang juga gundah gulana.


“Tapi itu dulu Kak. Udah berlalu. Sekarang udah engga. Rasa spesial gue yang pernah gue punya buat lo udah hilang.”


“Sial!.” John sedang mengingat kembali ucapan Prita malam itu.


Ia menjadi kesal sendiri.


‘Prita, apa perasaan kamu terdahulu pada Kak John benar – benar sudah ga bersisa?.’


John memandangi foto Prita yang ia punya dalam ponselnya.


Kejar


Engga


Kejar


Engga


“Ah Prita, kalau Kak John tau dari dulu kamu punya perasaan sama Kak John, ga akan Kak John biarkan kamu menjauhi Kak John sampai hampir dua tahun.”


John menggumam sendiri.


“Sialaannnn.”


**


Pindah ah ke Bekasi


“Ya udah carikan lah kalau gitu Pa.”


“Carikan John pacar. Eh, calon istri.”


Prita sedang termenung dikamarnya.

__ADS_1


Ia sedang memikirkan ucapan John serta sikap John yang sedikit nampak berbeda padanya.


‘Hanya perasaan gue, atau memang Kak John sedang menjaga jarak ya sama gue?.’


Prita sedang menerka – nerka.


“Benar tuh yang dibilang, R. Lo yakin memang kalau lo ga menyisakan sesuatu dimasa lalu dengan para wanita yang pernah lo giring ke ranjang?.”


Ia teringat lagi pada ucapan Jeff.


‘Kenapa gue harus merasa terganggu dengan itu coba?. Selama hampir dua tahun ini, udah gue apus itu rasa ke dia, kan?.’


Batin Prita sedang bermonolog.


Prita memejamkan matanya. ‘Oh c’mon Prita, jangan bilang lo masih cinta?.’


Bertanya – tanya sendiri.


“Tau ah!. Puyeng gue!.”


****


“Prita...”


Prita sudah berada disebuah restoran di daerah Jakarta.


“Hai Tris.” Prita menoleh sekaligus menyapa Tristan yang memang sudah janjian dengannya siang ini.


“Sorry ya, agak macet dari kantor.”


“Santai Tris.”


Sejenak keduanya terdiam. Prita sendiri masih merasa tidak enak pada laki – laki didepannya itu sejak insiden saat John datang kala ia bersama Tristan dan mengajaknya pulang dengan paksa.


“Tris, soal yang waktu itu gue benar – benar minta maaf ya?.”


Prita berkata tulus pada Tristan.


Tristan tersenyum.


“Aku agak kecewa sih sebenarnya, karena malam itu aku mau mengungkapkan perasaan aku kekamu.”


“Gue..”


“Tenang aja Prita, aku ga marah kok. Santailah.”


“Thanks ya Tristan.” Ucap Prita dan Tristan tersenyum lagi.


“Sama – sama Prita.” Ucap Tristan. “Aku yang makasih sih sebenarnya karna kamu mau memenuhi undangan aku


hari ini.”


Prita menjawab dengan senyuman. “Iya, Tris sama – sama.” Ucap Prita kemudian. “Kita order sekarang ya?. Laper nih.” Prita mengangkat tangannya pada salah seorang pelayan yang sedang berdiri. ‘Eh?.’


Pandangan Prita tertuju ke pintu masuk.


‘Katanya ga punya pacar..’ Batin Prita saat melihat sosok yang baru saja masuk bersama seorang wanita. ‘Ga punya pacar apaan .. belom ada yang cocok... belom ada yang cocok apaan?!.’


“Trus cowok yang waktu itu sebenarnya siapanya kamu?.” Tanya Tristan pada Prita yang nampak bengong itu.


‘Bilangnya belom ada yang cocok. Nah itu apaan, mesra begitu.’


“Prita.”


‘Bule koplak sialan!. Bikin gue gegana aja lo bisanya!.’


“Prita. Hey.” Tristan melambaikan tangannya kedepan wajah Prita yang kemudian terhenyak. “Kamu lagi liatin apa sih?.”


“Bukan apa – apa.” Ucap Prita sambil memandang Tristan yang sempat celingak – celinguk saat Prita tiba – tiba ia lihat nampak melamun. “Tadi kamu tanya apa?.” Tanya Prita.


Tristan tersenyum lagi.


“Cowok yang waktu itu mengajak kamu pulang. Kamu belum kasih aku penjelasan soal dia loh. Dia pacar kamu?.” Ucap Tristan seraya bertanya. “Sorry, waktu itu aku ngaku – ngaku jadi pacar kamu, maklumlah aku emosi.”


Prita mencoba tersenyum.


“Tapi saat kamu pergi ya aku berpikir kalau dia memang pacar kamu, berarti kalian dipastikan ribut karena aku bilang kamu pacar aku. Aku merasa ga enak untuk itu.”


Prita hanya mendengarkan Tristan berbicara, mencoba fokus pada laki – laki didepannya ini.


“Tapi bertanya – tanya juga, karena aku dengar kamu menyebutnya Kak. Tapi setahu aku kakak kamu Cuma satu


dan cewek juga. Dan dari yang aku lihat juga, cowok itu usianya bahkan diatas aku. Jadi hari ini aku mau memastikan Prita, dia itu siapanya kamu..”


“Mm ..”


“Karena kalau memang kamu ga ada hubungan apa – apa sama dia, aku ingin mengatakan hal yang tertunda malam itu sama kamu.” Ucap Tristan dengan serius pada Prita. “Kamu, mau jadi pacar aku?.”


****


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2