
♥♥♥ ARTI DIRIMU ♥♥♥
*****
Selamat membaca ...
*****
“Heart, this is Lucca. (Heart, ini Lucca).”
Andrew memperkenalkan seseorang pada Fania, setelah istrinya itu berhenti menangis dan sudah terlibat obrolan ringan dengan keluarganya yang sedang berkumpul dalam sebuah ruangan di Mansion megah nan klasik itu.
Seorang pria berperawakan tinggi dan tampan seperti Andrew dan para abangnya yang lain, dengan rambut berwarna coklat yang sedikit terlihat berantakan. Bibir yang mengatup tanpa senyum, tapi tidak mengurangi ketampanan pria itu.
Wajah dengan garis rahang yang tegas dan pandangan yang begitu tajam nan mendominasi itu sedang menatap
pada Fania.
‘Oh, ini yang namanya Lucca... emang bener lebih nyeremin daripada D. Ganteng sih, tapi bikin bulu kuduk gue merinding. Pantes aje setan panggilannya, eh Ghost.’ Batin Fania.
“Andrew told me a lot about you. (Andrew sudah bercerita banyak tentangmu).” Suara berat itu terdengar dari pria yang disebutkan Andrew adalah Lucca, dan wajah tampan nan menyeramkan itu kini tersenyum padanya sambil meraih tangan kanan Fania dan mencium punggung tangan wanita itu. “ Fania Andrew Smith. What a pleasure to meet you again. (Sungguh senang bisa berjumpa lagi).”
Fania menoleh pada Andrew saat pria itu mencium tangannya. Namun Andrew tersenyum sambil membelai lembut
kepala Fania.
“Don’t you worry, Andrew won’t get jealous to me. (Jangan khawatir, Andrew tidak akan cemburu padaku).”
Lucca berkata dengan ramah pada Fania sembari juga tersenyum pada Fania, bersamaan dengan seorang wanita
cantik nan anggun berwajah teduh yang muncul kemudian dan berdiri disamping Lucca dan pria itu langsung merengkuh pinggang wanita yang baru saja datang itu.
“Because I also have my own soulmate. (Karena aku juga memiliki belahan jiwaku sendiri).”
Pria bernama Lucca itu tersenyum pada wanita yang ia rengkuh dan ditatapnya sebentar dengan mesra itu.
“This is my wife, Fabiana .... (Ini istriku, Fabiana....)....”
Lucca memperkenalkan wanita disampingnya pada Fania dan kedua wanita itu pun saling berjabat dan melempar
senyum.
“Nice to meet you, Mrs. Andrew. (Senang bertemu denganmu, Nyonya Andrew).”
“Nice to meet both of you too. (Senang bertemu dengan kalian berdua juga).” Sahut Fania. “By the way, you said like we ever meet before?. (Ngomong – ngomong, sepertinya kamu bilang tadi kalau kita pernah bertemu sebelumnya?).”
Fania bertanya pada Lucca.
Lucca pun tersenyum.
“Mereka datang saat resepsi pernikahan kita di London, Heart.” Andrew yang menjawab sambil juga merengkuh Fania, tak kalah mesra dengan Lucca yang merengkuh istrinya.
“Oh ya?. Kok, aku kayaknya ga pernah lihat wajahnya?.”
“They did not blend with other guests, but you meet them once. (Mereka tidak berbaur dengan tamu yang lain, tapi kamu pernah bertemu dengan mereka sekali). Hanya sebentar juga mereka datang, dan sempat menyalami kamu juga sebentar lalu mereka pergi.”
“Oh ....”
“Very sorry, I can’t talk a lot with you that time. I just don’t like crowd. (Maaf, aku tidak bisa mengobrol banyak denganmu saat itu, aku hanya tidak suka keramaian).”
“Ghost doesn’t like blend with human.... (Hantu tidak suka berbaur dengan manusia).” Sindir Andrew pada Lucca sambil terkekeh.
Lucca langsung tergelak mendengar ucapan Andrew.
"Well, Ghost is better than Donald Duck! ( Yah, setidaknya Hantu lebih baik daripada Donald Bebek! )." Canda Lucca dan ia pun tergelak bersama Andrew, sementara istri Lucca terkekeh dan Fania tersenyum.
Kemudian keempatnya kembali berbaur lagi dan mengobrol santai dengan yang lainnya sambil Lucca dan istrinya
menjamu Fania, Michelle dan Vla.
“Makan yang Little F, Ichel. Kalian nampak begitu kurus dan pucat ...”
“Tidak hanya kami berdua kak R.” Sahut Michelle. “Kak Ara, Prita, Jihan, Mom, bahkan Theresa dan tiga pengasuh setia anak – anak pun sama dengan kami. Termasuk juga Ben. Selera makan kami rasanya hilang. Hanya anak – anak saja yang kami pastikan mendapatkan asupan makanan dengan cukup.”
__ADS_1
“Iya Kak, kami Cuma mikirin anak – anak aja. Sekaligus mencari alasan disetiap harinya kalo mereka tanya soal
ayah mereka.”
“Maaf ya....”
*****
Andrew memandangi hampir tanpa berkedip pada wanita yang kini sudah berbaring disisinya, diatas sebuah ranjang dalam kamar dimana saat Fania pingsan ditempatkan, kala Andrew menemukannya berada dihalaman Lucca saat para pengawal pribadi Lucca menahannya.
Berikut Lucca yang nampak juga sedang menginterogasi Fania dibawah ancaman pistol yang tertempel dikepala
istrinya itu.
*****
“Guys, I think that we should to take precautions. ( Aku rasa kita harus berjaga – jaga ).”
“What is it?. ( Ada apa? ).”
“There’s someone who came here and said ‘our words’. ( Ada seseorang yang datang dan menggunakan ‘kalimat
kita’ ).”
“Let’s go and see!. ( Ayo lihat ).”
“Let me go first. ( Biar aku dulu yang pergi ).”
*****
“Siapa kira – kira yang datang?.”
“Entah!.”
“Siapa selain kita dan Lucca yang mengerti I Nero Fuoco bagi kita disini?.”
“Apa mungkin Vladimir, Bryan atau bahkan Paman Li?.”
Lima pria yang sedang berdiskusi sambil berdiri namun dengan senjata yang sudah siap terkokang ditangan mereka masing – masing. Andrew, Reno, Dua J dan Dewa.
“Ya Andrew benar. Saat dulu Vla ikut gue dan Andrew membantai Georgii dan Jayvon berikut orang – orangnya, sebutan Black Drake baru muncul dan gue serta Andrew menganggap itu angin lalu. I Nero Fuoco tercetus dari mulut Dad setelah sekian lama. Baru kami gunakan saat akan membantu Lucca, termasuk membuatmatch(pemantik) ini.”
“Lalu siapa kira – kira yang menggunakan kalimat itu, tepat disaat kondisi kita sedang seperti ini dan datang dengan berani kesini?. Joven kah?.”
“Tidak mungkin dia. Joven bahkan tidak mengetahui kalau Vla ikut saat gue dan R membantainya di tempat Georgii. Sebesar apapun kekuatannya dia tidak akan berani menantang Lucca, dan pastinya dia tidak tahu kalau Lucca saudara kita.”
“Jadi siapa?.”
“Lebih baik kita lihat! ...”
*****
“Ti-dak mung-kin...” (Kelima pria itu nampak terkejut bukan main)
“HEART!.”
(Andrew langsung berlari tanpa ragu saat orang yang ia dan empat saudaranya lihat sedang dipaksa bersimpuh didepan Lucca dengan ancaman pistol dibelakang kepalanya itu, mengangkat wajahnya menatap Lucca)
“FANIA!.”
“Hea...rt... Sayang...” (Andrew langsung menyambar tubuh yang sudah lemas dengan mata sudah terpejam. Lucca yang juga nampak sangat terkejut karena mengenali wajah Fania yang sudah pucat itu juga ikut memeganginya bersamaan dengan Andrew. Andrew langsung menggendongnya dengan wajah yang begitu cemas dan matanya yang sudah berkaca – kaca, begitu juga dengan empat saudaranya).
(Sungguh mereka tak menyangka, termasuk Lucca, kalau Fania bisa sampai disana. Lucca bahkan sempat membulatkan matanya dan buru - buru menepis ujung senjata anak buahnya dari belakang kepala Fania. Namun salah satu wanita kesayangan lima pria Adjieran Smith itu nampak begitu kacau dan pucat. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang terakhir mereka lihat dan wanita itu sudah tak sadarkan diri).
*****
“D...” Suara berikut sentuhan jemari Fania diwajah Andrew membuyarkan lamunan Andrew.
Andrew langsung tersenyum pada Fania sambil mendekatkan lagi wajahnya pada wajah yang begitu ia rindukan
belakangan ini.
“Iya, Heart? ..”
__ADS_1
Andrew menyahut dengan lembut sambil tetap membelai kepala, hingga mengabsen tiap inci wajah wanita tercintanya itu dengan jemarinya.
“Jangan pernah pergi dari aku lagi, D...”
“No Heart, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi.”
“Aku ga sanggup D, kalau harus menjalani hidup tanpa kamu ... Belum lagi dada aku sesak setiap kali Andrea bertanya tentang Poppanya yang ga kunjung pulang.” Ucap Fania lirih.
“Maafkan aku... yang membuat kamu dan Andrea harus menderita seperti ini.”
“Ga apa D, yang penting kamu dan kalian semua para daddy selamat. Itu sudah lebih dari cukup....”
Air mata Fania turun lagi. Andrew rasanya sakit melihat Fanianya serapuh ini. Ia langsung mendekap Fania dengan erat. “Tidurlah Heart, istirahat ya?. Aku akan selalu ada disamping kamu... semua akan kembali baik – baik saja. Kita semua akan segera kembali berkumpul lagi.”
Fania mengangguk dalam dekapan Andrew. Menikmati dekapan yang sudah lama rasanya tidak ia rasakan, hingga dekapan dan harum pemilik tubuh orang yang sedang mendekapnya seakan menjadi aroma terapi tersendiri untuk Fania hingga akhirnya ia terlelap.
*****
“D!!! ....”
Fania langsung berdiri kaget dari ranjang, saat ia terbangun dan menemukan sisi ranjang disampingnya kosong. Andrew tak ada disana, orang yang mendekapnya semalaman tidak ada lagi.
“D!!! ....”
Fania berseru lagi. Ia langsung keluar dari kamar tempatnya tanpa berpikir panjang. Masih menggunakan piyama tidur yang diberikan oleh istri Lucca semalam padanya dan Michelle.
“D!!! ....”
Fania berlari dengan kaki telanjang menyusuri tangga besar dengan perasaan cemas, takut kalau yang terjadi kemarin hingga semalam hanya mimpi. Fania begitu panik berlari mencari Andrew sampai tak memperhatikan sekitarnya.
Bruk!
“Kak Fania, kenapa??!!!.” Fania menabrak Michelle yang nampak sedang berjalan dari arah yang lain.
“D!!! ....” Fania mengguncang bahu Michelle dengan panik. “Kak Andrew! Kita benar – benar ketemu mereka kemarin kan?!.” Wajahnya begitu panik bertanya pada Michelle. Michelle tersenyum padanya.
“Iya Kak.... “
“Terus mana?! Mana dia?!.”
“Tenang Kak ...”
“Mana dia?!. Gue ga bisa tenang kalau ga liat dia!.”
“Ya udah, yuk!.” Michelle menggandeng Fania ke arah belakang Mansion megah nan klasik itu.
“Tuh, Donald Bebeknya Kak Fania.” Michelle menunjuk ke satu arah, dimana para pria sedang berkumpul bersama di halaman yang luas, nampak sedang mengobrol santai atau mungkin sedang menyusun rencana. Entahlah. “Kak Andrew!.”
Michelle setengah berteriak pada kakaknya yang berada sedikit jauh dari tempatnya dan Fania berdiri saat ini.
“D ..” Fania seketika lega, saat melihat Andrew yang kemudian berdiri melihatnya sambil melempar senyuman lebar ke arah Fania yang kemudian berlari ke arah Andrew dengan sumringah.
Emak inget adegan pelem india jadinya. Wkwkwk
“D!!! ....”
Begitu bahagianya Fania, D-nya ada disana dalam pandangannya, tetap ada bersamanya. Tak pergi lagi, tak menghilang lagi dan ia tak akan lagi berhalusinasi karena rasa kehilangannya.
Andrew pun berjalan menghampiri Fania yang sedang berlari kearahnya.
Ah, seandainya si Donald Bebek itu adalah Shahrukh Khan, mungkin dia akan berdiri sambil merentangkan tangan saat si Kajol berlari ke arahnya. Bak Anjali yang sedang lari nyamperin Rahul.
Lalu Andrew Nyanyi dah ....
🎵🎵🎵🎵TUJHE DEKHA TO YE JANA SANAAM .... PYAAR HOTA HAI DIVANA SANAAM ..🎵 🎵🎵🎵
💃💃💃💃💃
😁😁😁😁😁😁
__ADS_1
*****
To be continue ..