THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 339


__ADS_3

Sebelumnya terima kasih untuk tiap ucapan dan doa baik dari kalian semua reader kesayangan emak.


Mohon maaf jika emak ga sempat balesin satu – satu, yang jelas emak sangat – sangat menghargainya.


Terima kasih sekali lagi sayang – sayangnya emaaaakkk ..


Loph Loph


❤❤❤❤


END OF THE MADNESS


( Akhir dari Kegilaan )


Part 3 ( Three )


******************


Selamat membaca.....


“Apa itu Mayer?”


“Ya that’s the Boca a*s*o*e ( Itu si ba**ngan Boca )"


“Sepertinya dia tidak menyadari kalau kita berada disini”


“Dia terlalu fokus dengan para gadis yang ingin ia jadikan budak se*s gilanya!”


“Tapi coba kau lihat siapa yang bersamanya”


........


“Jika mereka berhubungan baik dengan p*l*c*r tua itu\, maka akan ada pertunjukan kembang api kecil – kecilan disini”


“Kalian dengar Bos R bilang barusan?”


“Dengar Tuan!”


“Maka bersiaplah”


Poppa berkata dengan datar sembari tetap menatap pada orang yang barusan ditunjuk oleh Daddy R.


“If I’m not wrong, he still ‘curious’ with us don’t he?. ( Jika gue tidak salah, dia masih ‘penasaran’ pada kita bukannya? )”


“Hem”


Poppa menjawab pertanyaan Daddy R dengan satu kata andalan dalam keluarganya.


Daddy R juga masih memperhatikan orang yang dia maksud pada Poppa tadi. “B*j*i*n*an songong dan gangster biadab memang perpaduan yang bagus!”


Daddy R nyinyir.


Poppa yang paham maksud nyinyiran Daddy R menyungging miring.


“Dari sekian banyak negara di dunia ini, kenapalah kita harus bertemu mereka disini..”


“I bet they can get here because of that three damned human and the connection with that two son of a bith Russian* ( Gue bertaruh kalau mereka berada disini karena tiga manusia terkutuk itu dan koneksi dengan dua orang Rusia sialan itu juga )”


“Ditambah memang mudah saja mereka melakukan bisnis haram mereka disini, mengingat untuk ukuran penjahat


macam mereka, negara ini terbilang ‘longgar’ untuk dua babi itu!”


“Hem”


****


“Baik, selanjutnya kami akan mempersembahkan sesuatu yang benar – benar fresh dan merupakan produk kami yang paling special untuk malam ini. Seorang gadis Indonesia ..”


“Cih! Product!” Cibir Daddy R, saat si pembawa acara menyamakan seorang gadis dengan sebuah barang karena


menyebutnya sebagai produk. Poppa hanya mendengus sinis dan matanya menatap ke panggung.


“Apa ini anak p*l*c*r tua itu?”


“Seems.. ( Sepertinya ) ..”


“Bawa p*l*c*r tua itu kesini\, Omar. Aku ingin sekali melihat wajahnya saat anaknya jatuh ke salah satu tamunya sendiri”


“Apa tidak beresiko, Tuan R?. Semua orang akan langsung mengenali wanita itu jika kita membawanya kesini”


“Katakan, apa karena kau sudah tua macam Bos mu ini, lalu kau takut menghadapi ‘keributan’ sekarang?”


“Pffh!” Poppa mendengus geli mendengar ucapan Daddy R yang mengatakan dirinya sudah tua.


“Kau belum menjawabku, Omar”


“Tidak, Tuan”


“Bawa p*l*c*r tua itu kesini!”


“Dua puluh lima juta!”


Suara penawaran pertama terdengar setelah si pembawa acara menjelaskan gadis muda yang cantik dan memiliki bentuk tubuh yang bagus dan membuka harga di angka dua puluh juta


“Sudah puas Om?”


Kafeel sudah datang menghampiri ke tempat Daddy R dan Poppa duduk.


Poppa hanya manggut – manggut saja sambil melipat bibirnya lalu tersenyum miring.


Penawaran masih berlangsung, karena suara – suara yang masih melontarkan angka – angka yang kian menaik terus bersahutan.


“......”


Daddy R dan Poppa saling tatap, sementara Omar dan beberapa orang mereka nampak berwajah serius ketika


tak lama mereka mendengar sedikit suara yang agak ricuh dari tempat Daddy Dewa berada.


“Sebaiknya kalian sedikit menegakkan tubuh, karena kami mulai sedikit ‘sibuk’ disini”


Suara Daddy Dewa terdengar lagi, berikut sedikit kericuhan dan suara seperti seseorang yang sedang baku hantam terdengar samar – samar oleh Daddy R dan Poppa disaluran telekomunikasi mereka.


DEZIING!


DEZIING!

__ADS_1


DEZIING!


Suara letusan senjata juga terdengar kemudian.


Kafeel seolah menyadari sedang ada yang terjadi. “Kenapa Om?”


“Apa ruangan yang satu lagi kedap suara?” Tanya Poppa pada Kafeel.


Kafeel mengangguk sedikit merasa heran. “Memang kenapa Om?”


“Ada keributan kecil didalam sana ...”


Kafeel refleks menoleh ke satu sisi dan sedikit mendongak menatap lantai atas disebelah kirinya.


“Selesaikan lelang ini ... dan tutup dengan segera! Lalu berikan anak gadis p*l*c*r tua itu pada penawar terakhir. Kemudian bawa keluar gadis – gadis yang tersisa. Sudah ada 'teman' kami yang menunggu di depan”


“Ba -...”


“TELLA!!” Belum selesai Kafeel berucap, suara teriakan terdengar berikut Dilara yang berlari menuju panggung.


Disaat yang sama semua orang menoleh dan nampak terkejut, pasalnya mereka semua mengenal wanita yang barusan berteriak dan hendak berlari menuju panggung dengan air mata yang berderai di wajahnya serta darah di lengan kanannya.


Termasuk orang – orang yang berkerja pada Dilara yang langsung mengepung Daddy R dan Poppa dan orang –


orangnya dimana Omar menjegal leher Dilara dengan tangannya dan wanita itu sudah meronta sembari teriak histeris kearah panggung.


Tangan Dilara seolah ingin menggapai anak gadisnya yang hanya memakai dua pasang pakaian yang sangat


minim.


“TELLAA!...”


“La-ra?! ...” Seorang pria yang diketahui identitasnya oleh Daddy R dan Poppa mendekat pada mereka.


Paria berperawakan asing tersebut nampak heran menatap Dilara yang ditahan seseorang yang sekiranya adalah seorang anak buah, namun Kafeel yang dia kenal sebagai Garvi dan diketahui juga sebagai salah satu orang kepercayaan Dilara selain Lais ada didekat wanita itu namun nampak tidak berusaha untuk membantu Bosnya itu.


Pria itu yang diketahui sebagai Mayer, bertambah terkejut saat ia berhasil mengenali dua pria yang sudah berdiri tegak dari tempatnya. “Ka – kalian??? ... apa – apaan ini???...” Ucap pria bernama Mayer itu, lalu seorang pria yang tadi nampak bersamanya kini sudah mendekat dan menanyakan ada apa pada Mayer.


“TOLONG AKU MAYER! ITU – ITU ANAK GADISKU YANG DI ATAS PANGGUNG! SELAMATKAN DIA! SELAMATKAN AKU! DAN BUNUH ORANG – ORANG INI! MEREKA INGIN MEMBUNUHKU!”


Mayer membulatkan matanya.


“LE-PASKAN LARA!”


Mayer langsung mengangkat senjata, berikut beberapa anak buahnya yang ikut mengangkat senjata mereka dan diarahkan pada Daddy R dan Poppa.


Meski dia nampak seperti orang asing, namun bahasa Indonesia nya cukup jelas meski logat Amerikanya masih ketara.


“Tolong aku May... sakiitt...”


“Ka-lian berdua seharusnya tidak ada disini!”


Mayer berseru lagi.


“Aku masih memiliki my personal feud ( dendam pribadiku ) pada kalian yang sudah made me ( membuatku ) kehilangan Perusahaan ku. Jadi don't mess up ( jangan macam – macam disini ) !. Dan segera you guys let her go! ( kalian lepaskan Dia! )”


Anak buah Poppa yang berada di dekatnya sudah juga tidak kalah dan mengacungkan senjata mereka, dan orang


yang bersama Mayer nampak lagi berbicara pada Mayer dan tak lama dia juga mengacungkan senjatanya berikut orang – orangnya.


dengan tenangnya. “YOU! GARVI! BANTU LARA! WHY YOU'RE JUST STANDING THERE, MORON????!! ( MENGAPA KAU DIAM SAJA BODOH??!! ) HAH?!”


“DIA PENGKHIANAT MAY! BUNUH JUGA DIA!”


“YOU FUC**N' AS*HO*E! ( KAU BEDEBAH SIALAN!... )”


“Jangan berani!”


“TOLONG AKU MAY! TOLONG STELLA! BAWA DIA PERGI DARI SINI!”


“Te-nang, Baby...” Ucap Mayer yang memandang pada Dilara dengan tatapan penuh arti dan Daddy R serta Poppa langsung saja menyungging sinis setelah mendengar ucapan pria bernama Mayer itu serta nada bicaranya pada Dilara.


Suara letusan senjata juga masih terdengar di saluran komunikasi yang tertempel di telinga Daddy R dan Poppa dari tempat dimana Daddy Dewa dan Papa Lucca berada. Mayer juga berbicara pada pria yang bersamanya dan kemudian nampak pria tersebut menyuruh salah seorang anak buahnya untuk pergi ke panggung.


DEZIING!


“Not allowed!... ( Tidak diizinkan ) ...” Poppa berkata setelah meletuskan satu peluru dari senjatanya kepada orang dari laki -  laki yang merupakan teman dari pria bernama Mayer itu.


“Bas***d!!” Laki – laki yang bersama Mayer itu mengumpat dengan geram memandang pada Poppa lalu mengokang senjata ditangannya.


“Jika otak kekasih tercinta mu dan anaknya itu tidak ingin kau lihat keluar dari kepalanya, maka jangan kau mencampuri urusan kami” Ucap Daddy R, dan Omar sudah mengarahkan senjatanya ke kepala Dilara serta satu orang yang merupakan anak buah Daddy R dan Poppa juga sudah mencekal anak gadis Dilara sembari menodongkan senjata ke kepala gadis tersebut.


Sementara itu, tamu – tamu lain yang merasa tak ada urusan langsung hengkang dengan segera dari tempat yang kini nampak mencekam karena dua sisi yang nampak berseteru itu sudah saling mengacungkan senjata satu sama lain. Termasuk para wanita penghibur dan pekerja selain para petugas keamanan Dilara yang kini sudah ikut mengepung Daddy R, Poppa berikut orang – orang yang bersamanya.


“HEH! KA-LIAN BAHKAN KALAH JUMLAH!!!...” Mayer berucap sinis sembari menyeringai.


“Oh ya?!”


“Do you realize what is around both of you ( Apa kalian lihat sekeliling kalian ) hah?!”


Mayer menyungging miring, nampak pongah karena merasa menang jumlah dari Daddy R dan Poppa berikut orang


– orangnya. Dan memang, sebagian besar yang jumlahnya dua kali lipat dari orangnya Dilara saat pertama tadi sudah kesemuanya mengarahkan pistol pada Daddy R, Poppa dan semua yang berada bersama keduanya.


“Apa yang bisa kulihat? Mereka bahkan lebih gelap dari pan**t penggorengan tukang nasi goreng pinggir jalan langganan keluarga cemara” Celoteh Poppa asal dengan setengah bergumam, karena memang orang yang bersama Mayer dan orang – orangnya berkulit hitam legam.


Yah seperti biasa celetukan si Poppa yang memang sekate kate kalau ngatain orang, menggelitik perut Daddy R


dan mereka yang mendengarnya.


Sempat – sempatnya Poppa dan rombongan terkekeh dan membuat Mayer serta sekutunya terheran – heran.


 “Lepaskan Lara dan Anak Gadisnya! Maybe I Will Have a Heart ( Mungkin Aku Akan Berbaik Hati  ) Untuk Langsung Membuat You Guys ( Kalian ) Mati Cepat Tanpa Harus Disiksa Lebih Dulu!”


Mayer geram, pasalnya ancaman dia sebelumnya seolah dianggap lelucon oleh dua orang yang ia ketahui


itu berikut orang – orang yang bersama keduanya.


“Sudah Aku Bilang Kalian Semua Pasti Mati! Kamu Juga Garvi! Dasar Brengsek!”


“Hahaha!! ...”


Poppa tergelak saja, sementara Daddy R berdecih sinis sembari menyungging miring.


“Apa kau lupa dengan apa yang kau lihat di depan tadi?”

__ADS_1


Poppa berbisik di telinga Dilara yang masih dicekal kuat oleh Omar.


“Daddy R, Poppa bisa tolong minggir sedikit ...?...” Suara Daddy Dewa terdengar di saluran telekomunikasi.


“Dua Tuan dari Keluarga Smith, ku hitung sampai tiga dan otakmu lah yang akan berceceran”


“Kami punya banyak ‘bayangan’ yang bisa menembus kepala mereka satu – satu ...”


Poppa berbisik lagi, dan Dilara pun seketika mengingat tentang penembak – penembak misterius milik dua orang yang menyandera nya ini.


“Hati – hati May, mereka pu-mphh...”


Dilara tak sampai meneruskan kalimatnya dengan jelas, karena Omar langsung membekap nya, membuat Mayer makin geram.


“Sa ...”


“Apa kau menelan sesuatu yang besar hingga tak bisa meneruskan kata – katamu\, Hah? Boca’s as***le?!”


Daddy R berkata saat banyaknya garis merah sudah berada menyilang di tubuh dan kepala Mayer berikut sekutunya.


Dan Mayer yang sepertinya hendak membuat perhitungan tadi langsung terdiam, setelah tubuhnya dipenuhi garis merah dari senjata yang dapat menembus tubuhnya hanya dalam hitungan detik.


“MOT**R***KER!!!! ( KEPARAT SIALAN!! )” Pria sekutu Mayer mengumpat dan ia langsung melepaskan tembakan ke arah Poppa.


DEZIING!


DEZIING!


DEZIING!


Namun sayangnya tembakan pria berkulit hitam legam itu tak sampai mengenai Poppa yang dengan cepat menghindar setelah sebelumnya menarik satu orang anak buah Mayer yang berada di dekatnya untuk dijadikan tameng hidup menahan tembakan pimpinan gangster sekutu Mayer itu.


Setelahnya suara senjata yang bersahutan tanpa jeda memenuhi seisi ruangan didalam ‘Heaven’ milik Dilara dan sindikatnya itu, berikut orang – orang yang kemudian tumbang setelah mendapat berondongan peluru dari senjata serbu yang berasal dari lantai atas.


Poppa dan Daddy R sudah membalikkan meja bundar di dekat mereka dan berlindung di baliknya, karena Mayer dan kepala gangster sekutunya sudah sempat juga berlindung menghindari kontak senjata dan beberapa orang mereka juga masih ada yang hidup dan menembakkan peluru dari pistol di tangan mereka.


DEZIING!


Suara peluru yang berbenturan juga terdengar, baku tembak masih terjadi. Poppa dan Daddy R sudah juga memuntahkan peluru dari masing – masing pistolnya, bergantian berdiri dan melindungi satu sama lain sembari bergerak untuk berpindah posisi.


Omar sudah diminta untuk berlindung saja sembari memegangi Dilara yang mencoba sekuat tenaga untuk


melepaskan dirinya. Namun tentu saja dia kalah kuat dengan tenaga Omar, yang meski umurnya kurang lebih sama dengan Poppa namun tenaga saat muda seolah belum menghilang.


Tapi sayang, Kafeel yang juga ikut menembak membantu Daddy R dan Poppa tidak awas pada keadaan di dekatnya dimana Mayer dan dua orangnya langsung meringkus Kafeel dan menyeretnya.


“LEPASKAN LARA ATAU I WILL BLOW HIS HEAD! ( AKAN KUPECAHKAN KEPALANYA! ... )” Mayer menjambak rambut Kafeel yang dibuat bersimpuh di hadapannya, dan anak buahnya sudah juga mengangkat senjata disampingnya.


Daddy R mengangkat tangannya, mengkode orang – orangnya untuk menahan tembakan.


Kemudian Daddy R mengkode dengan tangannya agar Omar mendekat padanya dan Poppa, lalu keluar dari pilar


tempat mereka berlindung.


“LEPASKAN LARA!” Perintah Mayer pada Daddy R dan Poppa.


“Tidak sebelum kau berikan dia pada kami!”


“JANGAN MACAM – MACAM! I SAID TO YOU ONCE AGAIN! ( AKU KATAKAN SEKALI LAGI PADAMU! ) ATAU AKU LEDAKKAN KEPALANYA!”


“Maka Akan Ku ledakkan Juga Kepala Kekasihmu Ini!”


Daddy R mengarahkan pistol semi otomatisnya ke kepala Dilara. Dan Mayer nampak sedikit bimbang.


“Bagaimana?!”


Daddy R lebih menempelkan senjatanya di sisi kiri kepala Dilara.


“Lepaskan orangku! Maka akan kuberikan dia padamu!”


“TIDAK A-K...”


DEZIING!


“ARGGHHH!...”


“MAY!!!”


Belum sempat pria bernama Mayer itu menyelesaikan kalimatnya, Kafeel yang tidak Mayer sadari berkomunikasi dengan mata pada Poppa itu mendorong tubuh Mayer hingga pria itu terhuyung dan satu tembakan melesat cepat dari arah belakang menembus punggung Mayer, hingga pria itu mengaduh kesakitan, dan disaat yang bersamaan Dilara memekik memanggil Mayer.


Dimana disaat yang sama, anak buah Mayer juga memuntahkan pelurunya sembari memutarkan badannya untuk


menembak ke segala arah.


DEZIING!


DEZIING!


DEZIING!


DEZIING!


Namun Mayer tidak sempat menyahut pada Dilara, karena dengan cepat Poppa memuntahkan beberapa tembakan


beruntun ke tubuh Mayer yang membuat pria itu dengan cepat terjerembab ke belakang dan jatuh dengan keras ke lantai dibawahnya. Anak buah Mayer pun ikut tumbang, karena beberapa peluru dari orang – orangnya Poppa dan Daddy R menyapa tubuh dan kepala mereka dari lantai atas dan bawah.


Ruangan yang tadinya penuh dengan suara desingan peluru dari pistol dan suara dari senapan serbu pun kini


menjadi hening seketika.


“Cih!”


Daddy R dan Poppa sama – sama berdecih setelahnya. Tak sedikit pun keduanya terluka, termasuk juga Kafeel yang merunduk dan berlindung agar tidak terkena sapaan peluru yang beterbangan dari banyak sudut. Seperti halnya Poppa dan Daddy R berikut Omar yang masih mencekal leher Dilara dengan lengannya, karena mereka sempat berkelit untuk menghindari peluru – peluru yang dimuntahkan oleh anak buah Mayer dari pistol mereka.


“What a perfect! ( Sungguh sempurna! )” Seru Poppa sembari berbalik dan menatap ke lantai atas dimana selain para penembak jitu yang merupakan orang – orangnya ada disana bersama Daddy Dewa dan juga Papa Lucca.


Namun, sepersekian detik kemudian ...


BANG!


Suara letusan senjata api terdengar, berikut dengan peluru yang keluar dari senjata tersebut dan mengarah pada


Poppa.


***

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2