
BERBUNGA LAGI
*********************
Selamat membaca ..
***********************
“Ma-kasih.. ya-Vi .....”
“Aku yang seharusnya bilang itu..”
Kevia juga menunjukkan senyumnya.
“Terima kasih, karena sudah kembali”
“Ma-af, sudah merepotkan...”
“Engga ...”
“Te-rima kasih... ka-mu..... pu-langlah .... a-ku sudah cukup .. me-nyusahkan kamu...... sejak empat .. tahun lalu..”
“Jo....”
“Pu-langlah Vi..” Ucap Nathan dengan senyuman. “Ma-afkan aku .... a-ku tidak bisa mengembalikan anak kamu ... anak kita ...”
Kevia terdiam sejenak. Tak lama ia kemudian tersenyum tipis, meski matanya nampak berkaca – kaca.
“Apa itu penyebabnya? Apa karena kamu mencarinya ‘disana’ jadi lama kembali?”
“I – ya...”
“Bertemu, dengannya?”
“I – ya...” Nathan masih menyahut pelan dengan tatapan yang tak putus pada Kevia yang juga sedang
menatapnya. “D – ia menyuruhku kembali... tapi ga mau ikut ... Ma – af...” Sebulir air mata lolos dari pelupuk mata Nathan.
Kevia terdiam sesaat.
“Ya sudah...”
Kevia yang juga meloloskan air mata dipipinya, lalu menoleh kearah lain untuk menghapusnya dan kemudian bersuara, menatap Nathan kembali.
“Aku permisi Jo...” Ucap Kevia yang nampak menelan salivanya lalu mendekat dan merundukkan sedikit
tubuhnya pada Nathan. “Baik – baik, ya?. Jaga kesehatan” Ucap Kevia lagi sambil menyentuh satu sisi pipi Nathan dengan punggung tangannya. “Aku pulang ...”
Satu kecupan Kevia daratkan di kening Nathan, yang membuat Nathan memejamkan matanya sejenak merasakan
kecupan dari hangatnya bibir Kevia yang sangat ia rindukan pada keningnya. Membuat bulir air mata Nathan turun lagi.
Demi Tuhan, Nathan begitu merindukan Kevia. Betapa ingin Nathan memeluknya.
Tapi Nathan ingat janjinya pada Kevia sebelum ia pergi dari Apartemen Marsha dan sebelum kecelakaan, kalau ia tidak akan mengganggu hidup Kevia yang sudah menolaknya dengan tegas itu.
Kevia menatap Nathan sebentar, lalu melemparkan senyumnya yang juga amat dirindukan Nathan.
“Seharusnya kamu jangan pergi sendiri kalau ingin bertemu ‘dia’ Jo...” Ucap Kevia sarat arti.
Kevia mengusap pipi Nathan sekali lagi.
“Get well soon ( Cepat sembuh ), aku pergi ...”
Kevia pamit pada Nathan.
“Ja – ngan merepotkan diri lagi untuk datang kesini, Vi .... Ak – u begini, bukan salah kamu ...”
Kevia hanya mengangguk dengan senyuman. Lalu membalikkan tubuhnya dan hendak berpamitan pada empat
orang keluarga Nathan yang berada dalam ruang rawat Nathan.
“V – i...”
“Ya?”
Kevia membalikkan badan saat mendengar suara Nathan yang memanggilnya. “Ke – napa?”
Kevia menautkan alisnya. “Kenapa apanya? Ia balik bertanya pada Nathan.
“Ke – napa merepotkan diri... menunggui orang yang sebenarnya... kamu benci ...”
Kevia menyunggingkan senyumnya kemudian, sementara itu empat orang yang berada didalam ruangan Nathan dan berjarak dari Nathan dan Kevia itu diam memperhatikan keduanya.
“Aku ga benci kamu Jo... kamu memang pernah menorehkan luka dihati aku ... tapi aku ga pernah sampai
membenci kamu ... mencoba pun engga ...”
Kevia berkata dari jaraknya.
“Dan kenapa aku disini, meminta kesempatan pada orang tua dan keluarga kamu untuk terus berada disini... karna aku, ingin memastikan ... jika kamu tidak pernah kembali, ... maka aku akan pergi menyusul”
Kevia menyunggingkan senyumnya.
"Tapi syukurlah karena kamu sudah kembali. Jadi aku memang sudah tidak lagi harus berada disini"
__ADS_1
Kevia menyambung ucapannya.
“Aku pamit” Sekali lagi Kevia berpamitan pada Nathan. “Semoga sehat dan selalu bahagia ya Jo” Lalu Kevia berbalik pergi, meninggalkan Nathan menatap punggungnya yang kini sedang menghampiri Daddy R, Mommy Ara, Varen dan Andrea.
Lalu pergi keluar dari kamar Nathan tanpa lagi menoleh kebelakang.
***
“Apa Yang Telah Memautkan Kita Selain Kata. Seperti Darah Ketika Luka Mengungkapnya”
-Iswadi Pratama-
***
Dan kenapa aku disini, meminta kesempatan pada orang tua dan keluarga kamu untuk terus berada disini... karna aku, ingin memastikan ... jika kamu tidak pernah kembali, ... maka aku akan pergi menyusul
Tapi syukurlah karena kamu sudah kembali. Jadi aku memang sudah tidak lagi harus berada disini
Nathan tak bisa menahan buliran air matanya yang turun saat Kevia keluar dari ruangan tempatnya di rawat. Nathan bukan hanya sayang, tapi ia mencintai Kevia.
Sakit, menyuruh Kevia pergi. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah merasa dirinya tak pantas untuk Kevia.
“Dia mencintaimu, My Boy” Daddy R langsung menghampiri Nathan yang nampak menyeka air matanya sendiri.
“Selama kau belum sadar, air matanya tumpah lebih banyak daripada kami bahkan. Selain Mama - mu”
***
Kevia sudah memasuki lift yang akan membawanya turun ke lantai satu Rumah Sakit tempat Nathan dirawat. Ia
sedang menyeka sebulir air matanya sembari menunduk saja hingga lift sudah mencapai lantai satu dan pintunya kemudian terbuka.
Kevia melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, hingga sebuah suara membuatnya spontan menoleh
“Via!”
***
Waktu sebelumnya ..
“Dia mencintaimu, My Boy” Daddy R langsung menghampiri Nathan yang nampak menyeka air matanya sendiri.
“Selama kau belum sadar, air matanya tumpah lebih banyak daripada kami bahkan. Selain Mama - mu”
Nathan memandangi Daddy R yang baru saja berkata padanya.
“Jangan sampai ada penyesalan lain lagi dalam hidup kamu, Sayang”
Mommy Ara ikut berucap sembari mengelus pelan kepala Nathan.
“Yes, My boy?” Sahut Daddy R.
“He - lp me .... (To – long aku)....” Nathan mencoba bangkit dengan susah payah. Daddy R dan Varen yang juga sudah mendekat pada Nathan selepas kepergian Kevia langsung memegangi Nathan yang memang tubuhnya belum stabil itu akibat dua minggu koma.
“Wo – wo! Mau apa lo?! Slowly man. Tubuh lo belum stabil”
“Abangmu benar. Kau mau apa?!”
Daddy R ikut bertanya karena Nathan hendak bergerak turun dari ranjangnya.
Sedikit kerepotan memegangi Nathan, karena tangan kanan Nathan yang masih digips itu belum pulih, sementara
Nathan seolah memaksakan dirinya.
Bahkan Varen sampai memutar tiang infus Karena Nathan sudah menurunkan kakinya yang masih tergantung dan
Nathan sedikit menunduk mencoba menstabilkan diri dan pandangannya yang masih terkadang buram.
“Kamu, mau apa Nathan? ...”
“Me-ngejar Via, Mom...” Sahut Nathan pelan.
“Tapi tubuhmu belum stabil, Boy”
“Ga apa Dad. Aku bisa. Lagipula aku butuh peregangan otot”
Nathan bersikeras.
“Biar gue kejar Via dan ajak dia balik kesini, okay?. Lo disini saja” Andrea menawarkan namun Nathan menggeleng.
“Gu-e khawatir dia menolak ....”
“Gue bisa yakinkan dia. Percaya sama gue!”
Andrea langsung melesat keluar dari kamar Nathan.
“Litlle Star hati – hati!”
Varen dan Daddy R spontan berseru bersamaan melihat Andrea yang melesat keluar dari kamar Nathan itu.
***
“Via!” Andrea memanggil Kevia yang sudah hampir keluar dari lobi Rumah Sakit dan Keviapun menoleh seketika.
“Andrea?!”
__ADS_1
“Vi ...”
Andrea mengatur nafasnya. Pasalnya dia turun tanpa menggunakan lift dengan tergesa tak sampai kepikiran untuk
menelpon Kevia.
“Kenapa Drea?!”
Wajah Kevia nampak sedikit cemas.
“Apa sesuatu terjadi pada Jo?!”
“Tan... Tan....”
“Ayo, Drea!”
Kevia langsung menggandeng tangan Andrea menuju lift karena khawatir jika kondisi Nathan buruk lagi, tanpa
memberi kesempatan Andrea berbicara lagi.
“V-i...”
Kevia menoleh saat pintu lift terbuka. Ada Nathan diatas kursi roda bersama Daddy R dan Varen dikedua sisinya. Kevia sontak membulatkan matanya.
“Jo?!” Ucap Kevia sedikit terkejut, lalu Daddy R mendorong kursi roda Nathan untuk keluar dari lift dan Varen membantu menggeserkan tiang infus yang selangnya masih terhubung ditubuh Nathan.
“V-i ..” Panggil Nathan lagi.
“Iya, Jo, kenapa?. Kenapa kamu sampai turun dari ranjang. Kamu baru saja sadar, Jo..”
“Ja-ngan pergi, Vi ..” Ucap Nathan pelan. “Ka-lau kamu memang berkenan ..”
“Ya Tuhan Jo, kan bisa telpon ..”
‘Bodoh berjamaah. Iya juga kenapa ga kepikiran untuk telpon aja coba?’ Batin Daddy R, Varen dan Andrea. ‘Cape – capein’
“Mu – lai dari awal .. kita mulai dari awal .. mau?”
‘Awas bilang ga mau. Ini anaknya si Mustafa akan gue sekap di Kediaman Utama sampai Nathan kembali kesana’ Batin Daddy R yang dongkol karena si Tan – Tan yang tambeng tetep mau mengejar Kevia, meski tenaganya belum kumpul.
“Iya udah, ayo. Tapi kamu balik ke kamar dulu”
“Te - menin?”
***
Pada akhirnya Kevia tidak jadi pulang dan kini sudah kembali ke ruangan Nathan. Daddy R, Mommy Ara, Varen dan Andrea memberikan lagi ruang untuk Nathan dan Kevia sambil menunggu keluarga datang selepas Andrea mengabarkan kalau Nathan sudah siuman dari komanya.
“Sakit banget kepalanya?”
“Eng – ga, hanya pusing sedikit”
“Kamu sih, segala bangun dari tempat tidur dan sampai turun ke lantai bawah”
“A – ku takut menyesal untuk yang kedua kali, Vi .. “
“Apa yang perlu disesali sih, Jo?”
“Mem - biarkan kamu pergi..”
“Jo..”
“Per-tanyaan aku, yang tadi.. belum kamu jawab, Vi.. ka – mu .. apa mau memulai lagi dari awal sama aku?”
“......”
“Ga – mau, ya?..”
“Tadi kan udah aku jawab”
“Be – lum jelas ..”
“Ngeledek?”
“Ha-nya minta kepastian .. takut ke ge –er – an ..” Senyuman Nathan sungging kan.
Kevia terkekeh kecil.
“Istirahat aja dulu”
“Ga – mau .. takut, kamu tinggal pergi lagi ..”
Kevia menampakkan senyumnya.
“Bucin”
“Me – mang ..”
Kekehan kecil terdengar dari arah ranjang Nathan.
Empat orang yang sedang duduk mengobrol disofa pun spontan menoleh, lalu tersenyum dari tempat mereka.
“Love will find the way (Cinta akan menemukan jalannya)”
***
__ADS_1
To be continue......