
## BIRAMA 2/1 V.S STRATEGI 4.4.2 ##
****
Selamat membaca ...
Setelah acara resepsi telah benar – benar berakhir, semua orang yang sudah merasa lelah, beranjak pulang atau kembali ke kamar mereka masing – masing.
Tiga pria di kamar yang berbeda. Kompak mengajukan pertanyaan yang sama pada istri mereka masing – masing.
“Apa kalian menurunkan jurus maut kalian itu pada dua wanita yang baru menyandang status sebagai istri, hem?.”
Dan tiga istri yang sedang ditanya oleh suami mereka itu juga kompak tergelak diwaktu yang sama, dikamar yang berbeda.
“Sesama istri dan sisters, kami harus saling membantu, bukan?.”
“Dan sekarang waktunya membantu suami untuk relax, mainkan itu birama dua per satu!.”
“Oke, suami!.”
***
Keesokan harinya saat seluruh keluarga dari dua pasang mempelai sudah bersiap akan meninggalkan Hotel, dan setelah mereka melepas para tamu dan menyampaikan terima kasih mereka semua, anggota keluarga Smith berkumpul kembali sebentar sambil santai. Para pangeran berkumpul sendiri di luar lounge untuk merokok, sementara para wanita mengobrol didalam sambil menikmati minuman dan camilan.
Sementara para orang tua menemani cucu – cucu mereka yang sedang asik bermain.
***
Andrew, Reno dan Dewa sama – sama cengengesan pada dua J. “Kalian semalam bilang jurus apa itu milik para istri kalian?.”
Jeff buka suara dan tiga orang yang sedang cengengesan itu langsung tergelak. “Dapat juga kalian merasakan itu jurus maut mereka?.” Celetuk Andrew.
“Aishhh!!!!.. Gila! Gila! Bikin ngilu Guyyysss!!!! ....” Sahut John sambil menggetarkan tubuhnya.
“Enak, tapi .. Brrrr!!!. Benar yang dibilang John. Ngilu! Sampai ke sum – sum!.” Timpal Jeff dan mereka berlima tergelak geli.
“Kan sudah dibilang semalam. Itu jurus andalan mereka, akan membuat dengkul kalian lemas dengan hanya sekali permainan.” Ucap Reno.
“Meski begitu tetap bikin nagih, Bro!.” Sambar Dewa.
“Dapat dari mana sih mereka jurus seperti itu?.” John penasaran. “Apa dari kelas yoga? Atau kelas zumba mereka?.”
“Hahahahaha!.” Andrew, Reno dan Dewa tergelak lagi.
“Iya dapat dari mana sih itu jurus?. Tahu aja mereka jurus begitu.” Jeff ikut nyeletuk.
“Istri – istri kita itu super kreatif jangan lupa. Terlalu kreatif sampai mereka sanggup menciptakan kreasi mematikan untuk di ranjang.” Ucap Andrew sambil terkekeh.
“Dan gue yakin kalau kreasi mematikan itu berasal dari istri lo, Ndrew!.” Sahut John.
“Ya benar. Kalau Ara atau Michelle sepertinya ga mungkin sampai untuk menciptakan itu jurus.” Timpal Jeff.
“Hahaha!....”
“Ck, ck, ck. Tapi gawat ini kalau dipakai terus itu jurus. Kasihan little brother gue kalo hanya sekali aja dalam semalam mendapatkan kehangatan.” Jeff geleng – geleng. Yang lainnya tergelak lagi.
“Harus punya jurus pengimbang ini kita Jeff!.” Celetuk John.
“Kasih tau, Ndrew!.” Dewa berseru.
“Lo punya jurus pengimbang itu jurus Birama Dua Per Satu mereka?.” Tanya dua J antusias.
“Sudah berapa lama kalian kenal gue? ....” Sahut Andrew sambil terkekeh. “Kalian tahu gue bukan orang yang bisa menerima kekalahan begitu saja .. terlebih lagi urusan ranjang dari istri sendiri ..”
“Hahaha. Memang cocok lo berjodoh dengan si Kajol.”
“Hahahahahaha.”
“Tell us now. ( Kasih tahu kita sekarang ).”
“Kasih tahu ini para suami baru Ndrew.”
“Kalian pakai strategi sepakbola Eropa. 4.4.2.”
“What?!. ( Apa?! ).”
“Formasi empat pemain bertahan?.”
“Hahahaha.”
“4 menit biarkan mereka menguasai permainan. 4 menit kemudian ambil alih keadaan. Tahan sekuat tenaga mereka dibawah lo, langsung hajar 2 serangan. Setelahnya jangan kasih ampun!.”
“Hahahaha!!.”
__ADS_1
Andrew, Reno dan Dewa tergelak lagi.
“Gila memang lo Ndrew!. Tapi terdengar keren juga itu strategy.”
“Sudah gue bilang, gue ga mau menerima kalah begitu saja diranjang sama istri gue. Punya istri yang kelewat kreatif, ya gue harus menjadi suami yang super kreatif.” Sahut Andrew. “Harga diri guuys....”
“Hahaha.”
‘Suami sama istri sama gesreknya.’ Batin dua J. “Is it work?. ( Apa itu bisa berhasil? ).”
“Kalian tanya pada dua suami itu.” Tunjuk Andrew pada Reno dan Dewa.
“Setidaknya kita tidak menggelepar sendirian setalah dapat itu jurus Birama Dua Per Satu Release Contraction.”
“Skor akan menjadi 1 – 1.”
“Hahahaha....”
***
“Gimana semalem, kalian dihajar lagi itu sama para predator ranjang?.” Tanya Fania cekikikan.
“Jangan ditanya kalo soal itu sih.” Sahut Prita.
“Betul!. Pintu baru ketutup aja serangan udah dimulai.” Timpal Jihan.
“Terus, kalian praktekkan ga itu jurus yang semalam kami beritahu pada kalian?.” Ucap Michelle. "Manjur buat kapok para suami itu meski hanya semalam."
Prita dan Jihan saling tatap.
“Kak Jihan praktek?.” Tanya Prita.
“Kamu?.” Jihan bertanya balik pada Prita.
“Dipraktekkan ga?.” Goda Ara.
Prita dan Jihan kompak mengangguk lalu cekikikan bersama.
“Terus?!.”
Prita menutup wajahnya dengan tangan. “Ya ampun, aku malu sendiri kalo inget semalem.” Ucap Prita. “Tapi itu jurus manjur ternyata... hahaha! .... kelojotan, nyembur kaga pake lama!.”
“Hahahaha..”
“Idem!. Hahahaha!.” Jihan sampai tergelak geli. “kalau inget mukanya, aku mau ngakak sumpah!.”
“Ingin hati mau nambah kayaknya itu laki gue, tapi apa daya, dengkul dah kaga kuaaaat.”
“Hahahahaha ....”
“Jadi pengen ngulangin lagi yang semalem.. Hahaha.” Si Prita geli sendiri. “Oh ya ampun, kenapa gue jadi m*sum begindaanggg..”
“Hahahahaha ....”
“Tapi hati – hati..”
“Hati – hati dengan?.”
“Hati – hati dengan strategi 4.4.2.”
****
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia..
Setelah check out dari Hotel, seluruh Keluarga Adjieran Smith kembali ke Kediaman Utama keluarga itu sesuai permintaan Dad dan Mom selama mereka berada di Jakarta hingga sampai nanti bertolak untuk liburan ke Disneyland, California, USA.
Dad dan Mom ingin menikmati momen bersama seluruh keluarga, terutama dengan anak – anak mereka yang kini sudah menikah semua. Juga dengan para menantu pilihan masing – masing anak mereka yang dipilih atas dasar hati, bukan atas perjodohan seperti banyak yang terjadi di kalangan mereka.
Dad dan Mom bukanlah orang tua yang memandang strata sosial. Kebahagiaan anak – anak mereka diatas segala – galanya ketimbang status sosial. Jadi dua orang tua yang masih nampak tampak dan cantik diusia paruh baya mereka tak mementingkan dari kalangan manapun menantu – menantu mereka.
Toh para menantu perempuan mereka juga satu menantu laki – laki mereka juga amat sangat dapat mereka banggakan karena mereka punya kelebihannya masing – masing. Dewa memang berasal dari kalangan yang tak berbeda jauh status sosialnya dengan Keluarga Adjieran Smith. Tapi empat menantu perempuan mereka juga amat sangat mereka sayangi, cintai dan banggakan meski berasal dari kalangan yang berbeda.
Empat wanita yang merupakan menantu Dad dan Mom itu memang dirasa patut mereka berdua sayangi.
Empat wanita itu tetaplah menjadi diri mereka sendiri, meski sudah menyandang sebagai Nyonya dari para pangeran yang memiliki kekayaan jauh diatas rata – rata.
Empat pasangan sudah memiliki keturunan. Hanya tinggal satu pasangan lagi yang diharapkan agar segera mendapat momongan. John dan Prita.
***
Setelah mengistirahatkan diri masing – masing saat sampai di Kediaman Utama tadi siang, kini seluruh anggota keluarga sedang berkumpul lagi, sambil membuka kado pernikahan dua pasang pengantin baru yang dibawa ke Kediaman Utama.
“Oh iya, Kak Jeff, Jihan, ini dari gue, Andrew and Andrea.” Fania memberikan sebuah kotak pada Jeff dan Jihan dalam pegangan Andrea. “Give it to Daddy Jeff and Mama Jihan. ( Berikan ke Daddy Jeff dan Mama Jihan ).”
__ADS_1
Andrea memberikan kotak yang dipegangnya pada Jeff yang tersenyum dan langsung membawa Andrea dalam pangkuannya.
“Ini buat kalian Kak John, Priwitan.” Fania juga memberikan kotak berukuran sama pada John dan Prita. “Happy Wedding untuk kalian. Semoga Nathan dapet adek dan semoga kalian berdua juga cepet dapet momongan.”
“Thanks Jol, Ndrew!.”
“Makasih Fania, Andrew.”
“Makasih Kak Andrew, Kak Fania.”
“Sama – sama.” Sahut Fania dan Andrew.
Keluarga yang lain juga memberikan hadiah mereka pada dua pasang pengantin baru itu lalu bercengkrama sambil mengobrol santai.
“Kalian berdua ga menunda untuk punya momongan kan?.” Tanya Ara pada John dan Prita.
“Tentu engga lah, Ra.”
“Good!. ( Bagus! ).” Ucap Dad.
“Semakin banyak cucu, kami para Grandpa dan Grandma akan semakin senang.” Sahut Mom.
**
“Alright, waktu sudah semakin larut. Sudah waktunya kita beristirahat. Bukan begitu Tuan Jeff?.”
John berdiri sambil cengengesan pada Jeff yang kemudian terkekeh.
“Ah ya, betul sekali, Tuan John!.”
Tiga pasang saudara mereka yang lain hanya terkekeh saja karena sudah paham maksud omongan si bule koplak dan bule gila itu.
“Ayo, Sugar. Kita harus bekerja keras untuk mewujudkan doa semua orang agar kita segera dapat momongan.” Ucap John yang meraih lengan Prita agar berdiri. Ia sendiri masih cengengesan meski Prita mencubit pinggangnya.
“Ayo Mama Jihan!.”
Jeff sudah menyeringai jahil.
“CAYO!.” Dewa berseru sambil terkekeh.
“Harga diri ingat.” Celetuk Andrew sambil terkekeh.
“Tenang....” Timpal Jeff.
“Waktunya pembalasan ....” Sambar John yang sudah menunjukkan muka tengilnya. Dan memainkan alisnya pada Prita. Termasuk juga Jeff yang menunjukkan seringainya pada Jihan.
‘Perasaan gue ga enak.’ Batin Jihan dan Prita.
“Liga Eropa akan dimulai.”
“Taruhan?.”
“Birama Dua per Satu dari para istri yang masih pemula itu sudah dipastikan akan kalah melawan formasi 4.4.2!.”
Si Donald Bebek berkata yakin sambil terkekeh.
“Kayaknya sih begitu.”
“Hahaha!....”
“Tapi kalau kami yang praktekkan itu Birama, formasi kalian kalah dong ya?.” Celetuk Ara.
“Boleh dicoba lagi.” Ucap Andrew, Reno dan Dewa kompak.
“Siapa takut.” Sahut istri mereka. “Kalau kalian kalah, uang belanja naik.”
“Deal!.”
*****
To be continue ...
💖 THE COUPLES 💖
__ADS_1