THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 77


__ADS_3

## PARA PENGGALI AIB ##


****


Selamat membaca ..


“Pas kita sampai sebelum waktu makan malam.” Ucap John saat ia, Prita, Andrew, Fania serta papa Herman dan mama Bela sudah sampai di hotel tempat resepsi pernikahannya dan Jeff akan diselenggarakan besok malam. “Mereka ada dimana, Ndrew?.”


“Sudah berkumpul di lounge katanya.” Sahut Andrew. Tapi wajah si Donald Bebek mesam – mesem.


“Ya sudah kita langsung ke lounge saja kalau begitu. Yuk Pa, Ma.” John mempersilahkan kedua mertuanya untuk jalan terlebih dahulu.


Kemudian John menggandeng Prita dan berjalan di belakang papa Herman dan mama Bela.


John dan Prita spontan menengok ke belakang mereka, dimana ada sepasang bebek yang sedang cekikikan. “Eh Tuan dan Nyonya Bebek m*sum, lo berdua bicarakan apa sih?. Dari tadi turun mobil gue perhatikan cekikikan ga selesai – selesai.” Ucap John.


“Kepooo ....” Sahut Fania.


“Ya habis, kalian berdua kayak asyik banget ketawa.”


‘Paling juga ngetawain gue sama Kak John.' Batin Prita. ‘Yakin gue sih.’


Fania dan Andrew masih asik terkekeh berdua. “Udah sih, biarin aja mereka, Kak.” Ucap Prita sambil melirik sebal pada sepasang bebek dibelakangnya.


Sementara John hanya geleng – geleng dan meneruskan langkahnya menuju lounge dimana keluarganya sedang berkumpul disana.


***


“Hellow Eperibodih.”


Fania menyapa seluruh keluarga nya yang sudah berkumpul di private lounge hotel.


“Andrea mana, Kak Ren?.” Tanya Fania pada kakak gantengnya.


“Di area bermain bersama Nathan, Varen dan beberapa anak – anak dari keluarga papa dan mama sama keluarga dari Bandung, keluarga kita dan keluarga Jihan juga.” Sahut Reno.


“Memang ini hotel ada arena main anaknya?.”


“Sudah diadakan.” Sahut Reno. "Gue minta EO membuatnya."


Fania hanya manggut – manggut. “Heart.” Andrew memanggilnya. “Makan dulu.”


“Iya.”


“Anak – anak sudah pada makan?.” Tanya Andrew pada orang – orang didekatnya.


“Sudah, tadi sebelum main mereka sudah makan terlebih dahulu.”


“Ya sudah.” Sahut Andrew. “Aku lihat Andrea dulu.” Ucap Andrew pada Fania.


“Aku ikut.”


“Kamu makan saja dulu. Biar aku yang lihat Andrea. Nanti kalau dia mau ikut aku bawa kesini.”


“Kamu mau aku ambilin makanan ga, D?.”


“Berdua saja dengan kamu.”


“Oke.” Sahut Fania lalu Andrew melangkah menuju ke area anak – anak dan Fania mengambil makan untuk dirinya dan Andrew.


“Kok lama baru datang kesini sih, Fan?.” Wina yang juga ada ditengah – tengah mereka bertanya pada Fania.


“Ketiduran Win.”


“Kalian nungguin pengantin baru selesai ritual dulu ya?.”


“Engga juga sih. Emang pada ketiduran.” Sahut Fania. “Nah kalo soal ritual penganten baru, tanya langsung sama yang bersangkutan deh mendingan.” Fania menunjuk pada Prita dan John yang juga sedang mengambil makanan.


Prita berdecak pada kakaknya. “Apaan sih, Kak?.” Wajahnya sedikit malu – malu. Namun Fania kembali terkekeh.


‘Sepertinya ada sesuatu yang menggelikan sudah terjadi.’ Batin para sultan dan sultanah yang kadang merangkap jadi gibah skuad melihat ekspresi kocak Fania.


‘Little F pasti punya info soal ritual pengantin John dan Prita.’ Batin Reno. ‘Gue harus cari tahu ini.’

__ADS_1


‘Si Kajol kenapa sih nih?. Dari tadi gue perhatiin cengar - cengir ga karuan.’ Batin John yang sedikit heran.


Fania sudah selesai mengambil makanan dan duduk disalah satu kursi.


“Tell me, something happened right?. ( Bilang sama gue, ada sesuatu yang terjadi kan? ).” Bisik Reno yang langsung mengambil tempat dengan cepat disamping Fania.


“Lo pasti tahu sesuatu kan Jol?.” Jeff ikut ambil posisi.


“Ga baik menyimpan apa – apa sendiri Naomy.” Dewa juga ikut ambil bagian.


“Apaan sih ih kalian bertiga?.” Sahut Fania.


“Ga usah sok – sok ga paham maksud kita orang. Lo pasti tahu sesuatu kan Little F?. Soal itu pengantin baru.”


“Benar itu yang R bilang. Raut wajah lo itu tergambar jelas kalau lo tahu sesuatu soal si John dan Prita.”


Fania tak bisa menahan gelakannya. Ia sampai mendongak tergelak dikerubungi tiga abang laki – lakinya yang saat ini sedang berusaha menggali informasi darinya.


“Tuh kan, lo pasti tahu sesuatu ya kan, Little F?.” Kakak ganteng makin penasaran.


“Si John sudah sukses itu menjebol gawang Manchester?.” Tanya Jeff. “Tapi pasti ada sesuatu yang lebih dari itu, kan?.”


“Jangan bilang juniornya si John sempat terjepit di gua perawan.”


“NGAHAHAHA ....” Fania tak dapat lagi menahan untuk tidak tertawa. Benar – benar membuat tiga admin lambe turah makin penasaran.


****


“Itu mereka ngapain sih mengerubungi Kak Fania begitu?.” Celetuk Michelle yang heran sambil menatap pada Fania dan tiga pria yang sedang berada didekat kakak iparnya itu.


“Pasti ada sesuatu.” Sahut Ara pelan.


“Soal apa kak Ara?.” Tanya Michelle.


"Apalagi. pasti soal mereka tuh." Ara menggerakkan kepalanya menunjuk pada John dan Prita.


“Kepo banget sih mereka. Pasti mau tau urusan ranjang pengantin.”


“Seperti ga tahu mereka aja, Chel.”


Ara terkekeh mendengar ucapan Michelle.


"Hidup sudah terlalu lurus, masalah ga ada, jadi ya karena mereka kurang kerjaan dan mungkin karena ga ada musuh yang cari gara - gara, nah bosan deh. Gibah jadi hobi mereka sekarang."


Ara dan Michelle pun cekikikan.


**


“Ck. Ish Kak Fania nih. Pasti lemes dia deh.” Prita menggerutu pelan tapi John mendengarnya.


“Kakak kamu kenapa sih, hem?. Dari tadi aku lihat wajahnya kocak, ketawa ga selesai – selesai.” Tanya John sambil memandangi Fania yang sedang dikerubungi oleh Reno, Jeff dan Dewa.


Prita mencebik sambil memandangi John.


‘Oh astaga. Jangan.. jangan....’ Batin John menduga – duga. “Kamu ga cerita sama kakak kamu soal kejadian tadi sore, kan?.” Bisiknya ditelinga Prita.


“Umm .. itu....” Prita menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Hehehehe, Prita keceplosan kak. Cerita soal tadi sore ke kak Fania.”


“Apa?!.”


John memekik dan cukup membuat yang lain menoleh padanya. Sementara si Priwitan nyengir kuda.


“Sorry ....”


“Kenapa John?.”


“Ah, ga apa – apa.” John coba menunjukkan senyumnya.


“HAHAHAHAHA! ....”


Suara tawa membahana dari sudut yang lain, membuat orang – orang menoleh ke arah tawa yang membahana itu. Termasuk John yang mau tidak mau menoleh malas pada Reno, Jeff, Dewa, Fania dan Andrew yang kini sudah bergabung disana. Sedang tergelak segeli – gelinya, memandang ke arahnya.


***

__ADS_1


“Si John sukses itu menjebol gawang Manchester?.” Tanya Jeff.


“Jangan bilang juniornya si John sempat terjepit di gua perawan.”


“NGAHAHAHA ....” Fania tak dapat lagi menahan untuk tidak tertawa kencang. Benar – benar membuat tiga admin lambe turah makin penasaran.


“Little F! Jangan ketawa terus dong, gue penasaran ini!.” Kakak ganteng makin tak sabaran. “Memang iya seperti yang si Dewa bilang barusan?. Little brothernya si John sampai terjepit?.”


Fania sedang mencoba menyelesaikan gelakannya, lalu menarik nafas.


“Cerita Jol!. Penasaran gue asli!.” Jeff juga sama seperti Reno dan Dewa.


“Kalian ngapain mengerubungi istri gue sih?.” Andrew menghampiri empat orang yang sedang rapat darurat itu.


Menarik lengan Fania untuk berdiri, lalu ia mendudukkan dirinya dikursi yang Fania duduki tadi kemudian memangku istrinya.


Tiga pria, saudara laki – lakinya itu berdecak kompak. “Kita ini mau tahu apa yang terjadi dengan itu si John.” Ucap Reno. “Pasti ada sesuatu kan?. Wajahnya nih,” Tunjuk Reno pada Fania. “Ga bisa bohong kalau ada sesuatu yang menggelikan.”


Andrew terkekeh. “Sesuatu yang menggelikan dan bodoh.....”


“Nah, lo tahu juga, Ndrew?. Cerita cepat!. Benar little brothernya si John terjepit di gawang Manchester?.” Jeff mencecar Andrew.


“Hal itu sepertinya lebih baik. Setidaknya berhasil menjebol itu gawang Manchester!.”


“Jadi maksudnya?.”


“Jadi gini.. “ Andrew menahan kekehannya. “Si bodoh itu .. bla .. bla ....”


“HAAAH???!!.”


“Yah kan gue bilang dia bodoh?. Padahal tinggal sekali dorong, sukses, tapi malah dia cabut itu adik kecilnya menjauh dari sarang.”


“BUAHAHAHAHAHA! ....” Pecahlah tawa tiga pria yang baru saja mengetahui kejadian konyol ritual pengantin John dan Prita tadi sore. Fania yang juga ikutan tergelak juga ikutan geleng – geleng dengan kelakuan empat orang pria didekatnya itu.


“Benar – benar bodoh. Hahaha.” Celetuk Dewa.


“Memalukan ....” Celetuk Reno. “Hahahaha.”


“Ya Tuhaaan, gue ga sangka kita punya saudara laki – laki yang bodoh macam dia.” Jeff juga ikut nyeletuk. “Hahahaha.”


“Kan gue sudah bilang. Padahal tinggal dia tega sedikit demi kenikmatan yang hakiki, malah dia lepas dan memilih menderita.”


“Mungkin dia kangen sabun , Ndrew.”


“HAHAHAHAHA! ....”


‘Maap ye kak John, Priwitan, dosa beut dah gue sama Rojali en Juleha.’ Batin Fania yang merasa sedikit bersalah, namun ia cekikikan.


***


“Pasti pada ngebahas soal si John yang gagal belah duren itu die pada.” Bisik papa Herman pada mama Bela.


“Ho oh pasti.” Sahut mama Bela juga berbisik. “Emang dasar si Kajol ember bocor.”


“Tapi emang kocak dah ah, Papah aje ampe sekarang kaga abis pikir itu ama si John.”


Papa Herman dan Mama Bela masih saling berbisik dan cekikikan pelan.


“Saking kelewat cinta ama si Prita ono si John, itu bocah teriak kesakitan dikit aje die kaga tega.” Timpal mama Bela masih berbisik. “Padahal di tegain dikit kan enak dah abis itu. Kaga nyeri – nyeri teuing itu si otong. Yang ada si Priwitan beda teriakannya ye Pah?.”


“Ho oh.”


Dua orang tua kelewat woles itu saling cekikikan lagi berduaan.


***


John menghela nafas frustasi nan pasrah menatap para saudara laki – lakinya yang sedang tertawa terbahak – bahak sambil memandang ke arahnya.


‘Ck. Habislah gue jadi bulan – bulanan itu para penggali aib.’


***


To be continue ....

__ADS_1


Ritual jangan lupa


Loph Loph sekebon dari Author buat jempol dan love kalean zhayank - zhayanknya emak.


__ADS_2