
LIVE WITH IT
( Jalani Saja )
Selamat membaca ..
Jakarta, Indonesia..
Beberapa bulan berlalu
“Gimana si Abang, R?. Lulus?.” Tanya Daddy Dewa saat ia sedang bersama Reno yang berkunjung ke salah satu restoran miliknya yang berada di Jakarta.
“Lo segala tanya, Wa. Of course lah anak gue lulus!.. Lupa anak gue terlalu pintar?.” Sahut Daddy R pongah. Dewa pun tergelak, kemudian manggut – manggut.
“Terus rencana lo dan si Donald Bebek untuk besanan masih tetep apa Cuma sekedar angin lalu?.”
“Tidak juga sih. Gue dan Andrew memang sudah tidak pernah membahas soal itu akhir – akhir ini. Kami berdua sih, tetap ingin Abang dan Little Star terus bersama dalam ikatan yang sesungguhnya. Hanya Andrew bilang lihat nanti lah, waktu yang akan menjawab. Dan gue setuju soal itu.”
“Huum.”
“Toh Andrea juga masih sekolah. Dia juga akan pergi kuliah. Belum tahu dia akan terus seperti sekarang pada Varen atau tidak.” Ucap Reno lagi lalu menyeruput kopinya.
“Lalu si Abang?.”
“Dulu saat dia akan mulai kuliah gue sudah bilang soal rencana gue dan Andrew soal menjodohkan dia dan Drea. Tapi ya waktu itu, dia hanya tertawa dan bilang gue ngomong kejauhan.”
“Ya benar juga. Si Drea waktu itu juga baru mau masuk SMP.” Sahut Dewa yang kemudian menyeruput kopinya
juga. “Tapi seandainya si Abang punya pilihan lain pada akhirnya?. Dan memang dia hanya sayang, meski sangat menyayangi Andrea sampai sebegitunya tapi hanya sebatas adik?. Apa lo akan membiarkan si Abang dengan pilihannya?.”
“Yah, si Abang itu kan pria Adjieran Smith juga macam kita. Maunya ya maunya. Memang lo mau dipaksa soal pilihan hidup?. Soal pendamping?. Itu bagaimana nantilah. Dia juga belum gue lihat dekat dengan seorang wanita di Massachusetts sampai sekarang. So let it be ( Jadi biarkan saja dulu ).”
Dewa manggut – manggut. “Yah paling engga, tunggu si Drea setahun lagi. Masih seposesif ini ga sama Abangnya?.” Ucap Dewa. “Kalau memang si Drea, serius dengan perasaannya ke Varen dan sikap posesif nya pada Varen ternyata ga berubah sampai dewasa nanti, lalu si Abang ternyata sampai jatuh cinta pada wanita lain, ga kebayang deh gue.”
Reno manggut – manggut.
“Lebih baik lo bicarakan lagi soal ini ke Andrew. Kita kan ga tahu kedepannya seperti apa, bisa jadi salah satunya punya pilihan lain sementara salah satunya punya perasaan yang lebih dalam dari sekedar adik tau kakak, setidaknya hubungan lo dan Andrew baik – baik saja.” Ucapnya Dewa lagi.
Reno pun manggut – manggut lagi.
“Si Abang juga ga akan langsung meninggalkan Massachusetts setelah kuliahnya selesai kan?. Dia sudah menyewa tempat untuk kantor bisnis yang ia sudah rintis disana.”
“Ya nanti gue bicarakan sama Andrew. Gue juga akan berbicara lagi pada Varen kalau soal kuliahnya di Harvard
sudah selesai. Mungkin setelah acara wisudanya.”
**
Beberapa bulan telah terlewati lagi....
Varen sudah mendapatkan dua gelarnya sekaligus. Ia pun sudah di wisuda dan resmi memiliki dua gelar sekaligus dengan predikat terbaik di kedua jurusannya. Acara wisuda yang dihadiri oleh hampir seluruh keluarganya itu membuat orang – orang di Universitas tempat Varen menimba ilmu akhirnya tahu identitas Varen yang sebenarnya.
Semua teman kampusnya hanya mengira kalau Varen hanya seorang anak orang kaya biasa. Tak sangka, kalau dia adalah Pewaris Utama sebuah keluarga yang sangat terkenal di Inggris, namun lumayan tertutup pada media.
Seperti yang memang sudah Varen rencanakan, ia tidak akan langsung meninggalkan Massachusetts setelah lulus kuliah. Ia tetap tinggal disana beberapa waktu dan akan kembali mengunjungi keluarganya di London atau Indonesia jika ia memiliki waktu senggang.
Seiring waktu, bisnis yang di rintis Varen dengan dibantu beberapa temannya pun kian berkembang pesat. Tapi ia juga kadang membantu mengawasi pergerakan Perusahaan keluarganya.
Membangun sistem keamanan yang canggih untuk tiap Perusahaan milik Keluarganya, mengingat penjahat cyber yang canggih sudah kian bertebaran, yang suka iseng masuk ke Sistem sebuah Perusahaan, untuk mereka curi data rahasia Perusahaan tersebut, lalu menjualnya ke Rival dari Perusahaan yang datanya mereka curi.
Beruntung sejak kecil Varen memang menyukai yang namanya teknologi, bahkan ia belajar secara otodidak untuk
mengotak atik segala yang berhubungan dengan teknologi dan komputer. Otaknya yang cemerlang itu, bisa membuatnya menemukan inovasi – inovasi baru yang bisa Varen tingkatkan dengan sempurna.
Seiring waktu, dengan kesibukannya, juga Andrea yang semakin sibuk dengan sekolahnya. Dan nampaknya juga akan mengikuti pemilihan Ketua Osis, selain Andrea juga getol ikut berbagai macam kegiatan baik di sekolah ataupun di luar sekolah.
Komunikasi Varen dan Andrea tak seintens waktu – waktu sebelumnya. Bahkan Video Call yang biasanya tiap hari tidak pernah terlewat itu, kini bahkan kadang tidak dilakukan sama sekali. Hanya berkirim kabar dan berkomunikasi lewat pesan saja, sekaligus juga karena perbedaan waktu.
**
“Abaaaanngg ....”
“Cie .. calon Ketua Osis.”
Varen langsung menggoda Andrea saat Little Starnya itu menghubunginya dalam panggilan video.
“Salamnya mana?.”
“Oh iya, lupa. Assalamu’alaikum Abangnya Drea yang blaem – blaem????..”
“Wa’alaikumsalam ...”
Varen dan Andrea saling melempar senyum. “Abang lelah banget kayaknya.” Ucap Andrea yang memperhatikan wajah si Abang yang memang nampak lelah itu.
Varen tersenyum.
“Hanya sedikit kurang tidur.”
“Drea ganggu ya Bang?.” Tanya Andrea.
“Engga kok, ini kan masih jam satu siang disini. Abang baru mau keluar makan siang. Baru mau hubungi kamu.”
“Oh iya ya.”
__ADS_1
“Jangan tidur malam – malam.” Ucap Varen. “Besok masih sekolah kan?.” Tanya Varen dan Andrea mengangguk. “Maaf ya kemarin Abang ga sempat menghubungi Drea.”
“Ga apa – apa Abang, Drea ngerti kok Abang sibuk. Kemarin juga Drea ada pertandingan basket antar sekolah. Ga sempet juga hubungi Abang.” Sahut Andrea. “Oh iya, Abang makan siang sendirian?.” Tanya Andrea.
“Engga, sama Ray dan Stevan. Mereka yang kamu temui saat kamu kesini waktu itu aja.”
“Oh..”
“Oh iya menang ga pertandingannya?.”
“Masuk Final.”
“Wow keren. Ya sudah istirahat sana. Wajah kamu juga sepertinya lelah, Little Star.”
Andrea manggut – manggut. “Sedikit.”
“Ya sudah, Drea istirahat. Sudah Sholat Isya?.”
“Sudah Bang.”
Varen menunjukkan jempolnya. “Bagus.. tunggu diingatkan sama orang disana, atau kesadaran diri?.” Tanya Varen seraya menggoda dengan menunjukkan senyumnya.
“Kesadaran diri dong!.” Sahut Andrea. “Aku gitu loh.”
Varen terkekeh kecil.
“Ya sudah kalau begitu. Abang sudahi ya?. Abang juga sudah sampai di Restoran.”
“Iya Abang..”
“Nitey nite, Little Star ( Selamat tidur, Little Star ).”
“Selamat makan siang Abang. Jangan lupa istirahat yang cukup.”
“Iya, Bye Little Star..”
Varen menunggu Andrea yang mematikan panggilannya.
“Bye juga Abang. Sayang Abang ..”
“Sayang Drea ..”
**
Massachusetts, United States of America..
“Your sister? ( Adik lo? ).” Varen sudah bersama teman – temannya di sebuah Restoran tak jauh dari kantor mereka. Varen menjawab pertanyaan temannya dengan anggukan sembari ia mengambil tempat.
“She’s very beautiful, too beautiful! ( Dia itu sangat cantik. Terlalu cantik! ).”
“Of course!. Can’t you see how handsome I am? ( Pastilah! Lo ga lihat kalau gue begitu tampan? ).”
“Alvarend?.” Sebuah suara membuat Varen dan teman – temannya mendongak dan menoleh. Seorang wanita cantik yang kira – kira seumuran Varen, yang memanggil Varen dengan menyebut lengkap nama depannya.
“Loh, kamu? Disini?.”
Wanita itu tersenyum pada Varen. “Apa kabar?.” Sapa wanita tersebut.
“Baik. Kamu sendiri, apa kabar Danita?.”
“Aku baik.” Sahut wanita yang menegur Varen terlebih dahulu karena mengenalinya. Danita, adik ipar Vladimir. Ia sudah sama dewasanya dengan Varen. Kemudian Varen memperkenalkan Danita pada teman – temannya juga. Dan mengundang Danita untuk bergabung bersamanya dan teman – temannya itu.
“Jadi dalam rangka apa kamu berada disini?.” Tanya Varen saat dia sudah berdua saja dengan Danita, dan dua teman Varen sudah kembali ke kantor lebih dulu darinya. “Dengan Uncle Vla dan Aunt Shita juga?.” Tanya Varen lagi.
“Tidak. Aku sendirian. Tapi ada temanku disini, dia akan meresmikan galeri seninya besok dan dia mengundang
aku, jadi aku sempat kan datang.” Jawab Danita.
“Hmm..”
“Apa kamu mau ikut?. Kebetulan aku tidak punya teman disini. Sudah lama juga kita tidak bertemu.” Ucap Danita.
“Itupun jika kamu tidak sibuk.”
Varen nampak berpikir.
“Jam berapa?.”
“Jam delapan malam.”
“Aku rasa aku bisa kalau jam delapan. Ini nomor telpon ku, nanti kamu beritahu dimana aku harus menjemputmu.
Maaf, aku tidak bisa menemanimu lama – lama kalau sekarang. Salah seorang kolegaku akan datang sebentar lagi kekantor.”
Danita menunjukkan senyumnya lagi pada Varen. “Tidak apa – apa. Aku justru berterima kasih karena kamu masih meluangkan waktu untuk mengobrol.”
“Baiklah. Aku permisi.” Pamit Varen.
“Sampai bertemu besok ..”
Varen mengangguk sambil tersenyum kemudian segera berlalu dari hadapan Danita.
**
Jakarta, Indonesia..
__ADS_1
Sejak Andrea sudah kembali ke sekolah sejak kasus perkelahiannya, sang Poppa sudah mengijinkan Andrea berpenampilan normal sesuai keinginannya. Pada akhirnya bisa menggunakan seragam sekolah yang lebih dulu disiapkan sang Momma, tidak lagi menggunakan seragam bak anak culun dari sang Poppa.
Jangan ditanya reaksi mereka yang melihat sosok asli Andrea saat pertama kali ia datang kembali dengan penampilan sebenarnya. Namun begitu, kalau mengingat betapa sangarnya gadis super cantik dengan wajah blasteran itu. Tidak ada satupun siswa yang berani menggodanya. Namun Andrea tetap menunjukkan keramahannya seperti biasa.
“Drea!.” Sebuah suara dari arah belakangnya, membuat Andrea yang sedang berjalan ke kantin sekolah bersama
teman sekelasnya saat waktu istirahat tiba itu menoleh dengan segera. Andrea mengenali suara orang yang memanggilnya itu.
“Kenapa Kak?.” Arya yang memanggil Andrea. Hanya Arya yang tak pernah takut – takut mendekati Andrea. Lagipula mereka terikat tali kekeluargaan secara tidak langsung, karena ayah – ayah mereka bersahabat.
“Pulang sekolah temenin gue..”
“Ke?.”
“Mal!.”
“Ngapain?.”
“Nyokap suruh gue order bunga buat acara ulang tahunnya si Lena.”
Andrea tampak berpikir.
“Ya ilah, jangan bilang lo lupa lagi Lena siapa?.” Celetuk Arya.
“Lena anaknya Almarhum Uncle Arya, ya?.” Tanya Andrea.
“Yes, betul sekali!. Masa lupa sama saudara sendiri?.”
“Bukan lupa. Dia kan tinggal di Malaysia udah lama. Ga pernah ketemu, ngobrol juga engga. Terakhir waktu berapa tahun yang lalu. Memang dia udah kembali tinggal disini?.”
“Engga, dia lagi liburan aja, kebetulan pas mau ultah juga, sekalian rayain disini.” Jelas Arya.
“Oohhhh ..”
“Ya temenin gue ya?.”
“Okelah. Nanti gue minta Ammar ga usah nunggu gue kalo gitu.”
“Ijin sama Poppa lo.”
“Iya.”
**
“Drea ...”
“Apa?.”
“Nanti ke ultahnya Lena, lo dateng sama gue ya?.” Ucap Arya seraya bertanya saat mereka sudah berada didalam mobil Arya setelah sekolah sudah selesai.
“Memang kapan sih?.”
“Seminggu lagi sih.”
“Oh .. Okelah.”
“Okay, nanti gue jemput ya. Lo sama Bang Jo pasti bakalan diundang Cuma memang belum dikonfirmasi aja. Bang
Varen juga iya sih, tapi kan dia masih di Massachusetts ya?.”
“Iya .. Berarti juga paling gue sama Kak Nathan datengnya. Ngapain lo jemput gue?.”
“Ya ilah Bang Jo pasti dateng sama ceweknya, gue yakin. Mau jadi obat nyamuk lo semobil sama orang pacaran? .. mending sama gue!.”
“Ya udah iyaaa.”
“Siiip! ..”
“Memang lo tahu dari mana Kak Nathan sudah punya pacar?.”
“Yah, Babang ganteng nan genit gitu, pasti banyak ceweknya!.” Celetuk Arya.
Andrea tertawa lebar. “Gue bilangin Kak Nathan loh ya, dibilang genit sama lo.” Timpal Andrea.
“Yah, emang benar si Bang Jo genit kan?..”
“Iya juga sih!.” Andrea tertawa lagi. “Kenapa lihat gue begitu?.”
“Seneng aja lihat lo ketawa.”
“Cantik ya gue?.”
“Banget!.”
“Masih normal berarti mata lo!..” Celetuk Andrea dan kemudian tertawa lagi bersama Arya. “Memang lo ga punya pacar yang bisa lo ajak ke acaranya Lena?.”
“Ga punya. Tapi gue lagi ngincer seseorang.”
“Siapa?. Ada di sekolahan kita?.”
“Ada aja.”
**
__ADS_1
To be continue.....
Woy Goyang Ngapa .. Goyangin Itu Jempoool. Dua episode pan udeh emak persembahkan. Diem diem bae dah ah ah.