
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
*****************************************************************************
IDAMAN
Selamat membaca ....
“Very sorry for what Ann did to Melly ( Maaf sekali untuk apa yang sudah lakukan pada Melly ), hem? ..” Mama Fabi meraih tangan Seraphine, istri Uncle Ezra selepas perdebatan sengit bersama Adrieanna telah selesai dan kedua bocah perempuan yang tadi berseteru itu sudah diperintahkan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka.
“Don’t you think about it so hard ( Kau jangan terlalu memikirkan soal itu ), Fabi.. It’s just small ordinary thing between the kids ( Ini hanya hal kecil yang biasa diantara anak-anak )”
Seraphine menunjukkan senyumnya sembari menepuk-nepuk pelan tangan Mama Fabi.
Mama Fabi tersenyum tipis saja. “Hh..” Menghela nafasnya kemudian. “Ann is so stubborn ( Ann sangat keras
kepala )”
Disaat yang sama Mama Fabi pun melirik Papa Lucca.
“And that because you, and all Daddies spoiled her that too much!.. Mad, if I reproved Ann! ( Dan itu semua karena kamu, dan semua ayah yang memanjakannya berlebihan!.. Marah, kalau aku memarahi Ann! )” Mama Fabi juga melirik semua Dad dengan sedikit sinis.
“Ya, ya, our mistakes ( Iya, salah kami )” Sahut Papa Lucca sedikit malas menanggapi Mama Fabi jika sudah
mengomel itu. Kurang lebih sama dengan para Dad yang lain, jika istri mereka sedang mengomel tentang masalah anak-anak.
“Ann getting stubborn from time to time you know?! ( Ann semakin keras kepala dari waktu ke waktu kau tahu?! )..”
Ah, Mama Fabi belum selesai berkeluh kesal dengan sebal ternyata. Membuat Papa Lucca menghela nafas lelahnya.
“That thing happen because of you, and those Daddies! ( Semua itu terjadi karena kau, dan para ayah itu! ) See how Ann now? because all of you always defending on her if I reproved Ann, she became vainglorious all the time! ( Coba lihat itu Ann sekarang? Karena kalian yang selalu membelanya jika aku memarahi Ann, dia menjadi besar kepala dari waktu ke waktu! )”
Sesungguhnya Papa Lucca sudah sebal kalau Mama Fabi sudah mulai mengomel. Panjang soalnya itu Mama
kalau ngomel, persis seperti Momma, hanya tidak seekstrim si Momma aja kata-katanya.
‘So lucky that I love you Fabi, if not, I think I will shut your mouth with the duct tape.... Hish! Make my ear hurt! ( Beruntungnya aku ini mencintaimu Fabi, jika tidak, aku rasanya akan membungkam mulutmu dengan lakban! Hish! Membuat telingaku sakit saja! )’
Papa Lucca melirik sebal pada Mama Fabi sembari mengangkat alisnya. Hatinya ingin sekali membungkam mulut Mama Fabi, berikut tangannya yang geregetan ingin membekap mulut istrinya itu.
Tapi...
“What? ( Apa? )” Saat Mama Fabi mendelik dengan masih memberikan tatapan sebalnya pada Papa Lucca.
“Ti amo .. ( Aku mencintaimu )...” Papa Lucca menjawab dengan wajah sok manis.
“Cih!” Mama Fabi berdecih sebal.
“Take it easy Fabi ( Sudahlah Fabi )”
Uncle Ezra menyela.
“They were quiet often like this at London ( Mereka kan sudah sering seperti ini di London )”
“They are ( Iya memang ). But you saw how ‘handy’ Ann was, huh? ( Tapi kamu lihat betapa ‘ringan tangan’ nya Ann tadi, huh? )”
Mama Fabi masih dengan keluhannya.
“I told them quiet often! ( Sudah seringkali aku katakan pada mereka! )”
Menunjuk para Dad.
“Especially to him! ( Terutama padanya! )”
Mendelik lagi pada Papa Lucca yang kemudian membatin. ‘On me .. ( Aku lagi.... )’
“Do not interrupt me, if I reproved Ann ( Jangan menginterupsi ku, jika aku sedang memarahi Ann )”
“But you not only reproved her, My Dear Fabiana ( Tapi kau tidak hanya memarahinya, Sayangku Fabiana )” Sela Papa Lucca. “You did a ‘physical contact’ to Ann, not good you know, do a physical abuse to kid even just a small move? ( Kau melakukan ‘kontak fisik’ pada Ann, tidak bagus apa kau tahu, melakukan kekerasan fisik pada anak meskipun hanya sedikit? )”
“I know, but .... ( Aku tahu, tetapi .. )”
“Leave it ( Sudahlah ) Fabiana, Cara Mia ( Sayangku ) ..” Rayu Papa Lucca yang suka campur-campur bahasanya.
Pada Mama Fabi yang masih merungut itu.
“I promise will not spoiled Ann more than now, okay? ( Aku janji tidak akan memanjakan Ann lagi lebih dari saat ini, oke? )”
“Better you remember and hold your promise is ( Sebaiknya kau mengingat dan memegang janjimu ini )”
Papa Lucca manggut-manggut. Nampak antusias berikut senyuman malaikat yang nampak menggelikan di wajah
seorang iblis yang juga punya sindrom bucin akut.
“Now show me the sweetest smile you have ( Sekarang tunjukkan padaku senyum termanis mu ) Mama Fabi .. Sei
bella if you’re smiling .... ( Kamu kan cantik jika tersenyum ) ..”
“Only beautiful if I smile? ( Hanya cantik jika aku tersenyum? )”
Sedikit sindiran sarkas dari Mama Fabi yang melirik sinis pada suaminya.
“Certo che no ... ( Tentu saja tidak )...”
Papa Lucca menunjukkan deretan giginya.
__ADS_1
“You always look beautiful all the time ( Kau selalu terlihat cantik setiap waktu )..”
Yang melihat kelakuan si Papa Syaiton ke istrinya hanya memutar bola matanya malas saja karena si Papa sedang sok manis itu.
Cukup paham, kalau si Papa cari aman. Daripada ga dapet kekepan. Akhirnya merekapun cekikikan.
“Abbracciami? ( Peluk aku? )”
“Heleh!”
Yang paham berdecih malas.
***
Well, meninggalkan para orang tua yang tadi mengobrol ria, dan mengganti topik bahasan. Dua bocah perempuan tersangka pembuat keributan tadi yang wajah, tubuh dan pakaiannya cemong dengan krim dan serpihan kue, kini sudah turun dari lantai dua.
Dua bocah tersebut sudah bersih, rapih, wangi dan nampak syueger. Termasuk Rery yang tadi juga kena efek
serangan dan wajah, beberapa bagian tubuh hingga ke pakaiannya ikutan cemong karena mencoba menengahi dengan berada ditengah perang kue dari dua bocah perempuan yang memperebutkannya.
Sebagian dari bocah-bocah lain juga sudah nampak bebersih diri dan mengganti pakaian mereka.
Hanya para orang gede aja yang belum ada nampak membersihkan diri atau berganti baju. Mungkin nanti aja
sekalian istirahat.
“Jadi Rery mau pilih Ann atau Melly?” Goda sang kakak, Andrea pada adiknya yang hanya mengendikkan bahunya itu.
Andrea kemudian terkekeh saja dan si Abang yang berada di dekat Rery mesam-mesem sembari meletakkan
tangannya di kepala Rery lalu menggoyangkannya perlahan.
“Amazing anak bebek! Masih kecil sudah jadi rebutan ciwi-ciwi!” Goda Abang dan Rery menjawab dengan cebikan.
Beberapa orang yang berada didekat ketiga orang itu cengar-cengir saja.
**
Sebagian besar kerabat ada yang sudah berpamitan untuk pulang ke rumah mereka atau kembali ke Hotel tempat
mereka menginap selama mereka berada di Jakarta.
Kini hanya tinggal Uncle Ezra dan Uncle Nino saja berikut keluarganya yang masih berada di kediaman utama keluarga Adjieran Smith.
Kemungkinan besar mereka akan menginap disana.
Mengingat dua anak Uncle Ezra dan satu anak Uncle Nino itu cukup dekat dengan para pewaris klan Adjieran Smith, terutama mereka yang sebaya umurnya.
Melly dan Ann termasuk juga Rery sebaya umurnya. Tidak bersekolah bersama memang, karena Ann dan Rery masih betah menjalani Homeschooling untuk pendidikan mereka.
Sementara Melly dan kakak lelakinya Felix, mengenyam pendidikan di sebuah asrama, namun bisa pulang saat
Ann dan Melly itu sebelas dua belas keras kepalanya.
Namun yah, tetap Ann yang jadi juaranya kalau soal keras kepala. Belum lagi Ann itu galak.
Mirip seperti Andrea saat kecil, hanya Ann kadang sedikit sukar ditangani.
Benar kata Mama Fabi, kalau Ann kelewat dimanja oleh Papa Lucca dan para Dadnya yang lain. Sama dimanjanya
seperti Rery, Varo, Aisha, Ares dan Aina.
Lebih dimanja dari jamannya Abang, Drea dan Nathan. Bahkan juga mengalahkan manja yang diberikan pada
Valera dan Mika.
Jadi jika enam bocah yang sebelumnya disebut lebih keras kepala ketimbang kakak-kakaknya, yah seperti
itulah adanya. Hanya bisa dimaklumi, tapi tetap tidak akan lolos kena omelan dari para Moms, jika mereka dinilai berbuat salah.
Ann dan Melly sering adu argumen, sering berselisih karena kehendaknya masing-masing. Sering juga adu mulut memang karena Rery. Melly yang sering sebal pada Ann karena dianggap menguasai Rery, sementara Ann yah yang memang sedari orok dekat dengan Rery hingga tumbuh bersama dalam lingkungan keluarga yang sama, membuat Ann tidak bisa jauh-jauh dari Rery.
Termasuk tidak suka berbagi Rery dengan anak perempuan lain. Terkecuali pada saudara-saudara perempuan yang Ann pahami adalah keluarganya. Kak Drea, Kak Mika, Val, Aisha dan Aina.
Nah, hanya lima orang anak perempuan itu saja yang tidak akan membuat Ann merasa ‘cemburu’ jika Rery dekat
dengan mereka.
Lain dari itu, Ann akan macam Pupuma galaknya pada anak perempuan yang dianggap Ann mencari-cari
perhatian Rery.
Ya contohnya si Melly itu. - Menurut Ann.
Padahal Ann sudah sering ribut dengannya soal Rery, namun seringnya Melly tidak mau ambil pusing.
Yang satu sengke, yang satu tambeng. - Kalo kata Momma.
Tapi kalo lagi akur mah akur.
Dan kalo si sengke dan si tambeng kumat, ya seperti itu tadi.
Akan ada keributan antara Ann dan Melly. Namun sampai Ann memukul Melly baru kejadian hari ini.
**
__ADS_1
Ann dan Melly nampak turun bersama dari lantai dua.
Cukup akur, meski masih sama-sama merungut. Biasanya juga seperti itu kalau di London. Bertengkar, lalu
musuhan sebentar ga lama baikan lagi.
Para orang tua dan kakak yang melihat keduanya turun dari lantai dua dengan kondisi yang rapih dan cantik tentunya, mengulas senyum di bibir mereka.
“Now both of you promise try to not get a fight again... Not because Rery nor because anything else!... (
Sekarang kalian berdua berjanji tidak akan bertengkar lagi .. Tidak karena Rery, tidak juga untuk hal yang lain! .... )”
Mama Fabi mengingatkan seraya memperingatkan Ann dan Melly yang manggut-manggut kemudian. Yang melihat Mama Fabi masih saja terus memperingatkan dua bocah perempuan yang sering berargumen itu hanya mesam-mesem saja.
Papa Lucca menghela nafas saja sembari geleng-geleng.
“There are a lot of snacks and food if you guys are hungry! ... ( Ada banyak kudapan dan makanan jika kalian lapar! )....”
Daddy Dewa menunjukkan piring kecil yang ia bawa berisikan dua jenis kudapan Indo dan Barat pada Ann dan Melly. “Rery makan apa?” Ann bertanya sekaligus melirik pada mangkuk kecil di tangan Rery.
“Cilok, Ann” Sahut Rery.
“Huumm...”
“Mau?”
Rery mengangkat garpu yang sudah ia tusukkan sebutir kudapan pinggir jalan namun disukai oleh Rery dan
sebagian keluarganya karena Momma sering membuat kudapan murmer itu.
Ann mengangguk. Karena semua makanan yang Rery suka Ann akan menyukainya. “Aaaa”
Rery bersuara mengkode Ann agar membuka mulutnya. Ann sih tidak terlalu berbunga-bunga kala Rery hendak menyuapinya, meski memang Ann sangat menyukai Rery.
Pasalnya sering saling menyuapi antara dirinya dan Rery itu sudah biasa, macam Abang dan Drea. Rery dan Ann memang sangat dekat.
Makanya Ann sangat tergantung pada Rery.
“What is that? ( Apa itu? )” Tanya Melly yang kebetulan belum pernah sempat melihat makanan yang berbentuk
bulat bulat licin macam kepala Poppa itu.
Bedanya kepala Poppa ga kenyel dan ga berlumur saus kacang. Hanya berlumur keringat kalau lagi ngamar sama Momma. - Hush! Banyak anak kecil.
“This is cilok ( Ini cilok )”
“Ci- what? ( Ci- apa? )” Tanya Melly.
“C (si) – I (ai) – L (el) – O – K (ke)” Eja Rery.
“Cai-lok?”
“C-i-l-o-k stupido!”
Ah, anak Casper emang suka asal mulutnya ngatain orang biar masih bocil juga.
“Ann ..” Papa Lucca menegurnya.
“Iya, I’m sorry ..” Jawab Ann. “Masih ada tidak?”
“Masih”
“Ini masih ada, A’!” Rery mengangkat lagi garpu yang ditusukkan cilok yang tinggal satu dalam mangkuk yang dipegangnya itu.
“Tidak, aku mau ambil sendiri!”
“Sekalian ambilkan aku orange juice ya Ann?”
“Okay, My Sweet Boyfriend Rery! ( Oke, Pacarku Rery yang manis! )”
Membuat para orang dewasa yang mendengarnya terkekeh saja pada anak si Papa Lucca yang bertingkah genit
barusan pada Rery.
Sementara Melly dan para saudara sebaya Ann memutar bola mata mereka malas. Melihat Ann yang bertingkah
genit bahkan mengerlingkan matanya pada Rery yang nampak biasa saja dengan kelakuan Ann yang seperti itu.
Udah ga aneh buat Rery yang sudah kebal pada setiap tingkah Ann.
“Astogeee bocil jaman now, guanjen guanjen banget!”
Itu kakak Tan-Tan yang nyeletuk sembari cekikikan dengan Aisha disampingnya yang sedang menikmati bakso super bertigaan dengan Kakak Via yang juga cekikikan.
"Masih kecil udah main mata, gimana gedenya?!"
“Kita cailok! cailok aja matanya sih Ann!” Celetuk Aisha.
“Coloooookk!!...”
**
To be continue..
Dukungan masih emak tungguin loh ya,
__ADS_1
Belom tamat nieh.
Wkwkwkwkwk.