
Sekedar inpoh, mungkin ada bagian – bagian yang sedikit bikin ngilu tapi kaga sedep iye.
♠♠♠♠♠♠♠
SATU SISI KEJAM
Selamat membaca ...
*************************
Di sebuah tempat rahasia ..
Dimana Papi John dan Daddy Dewa akan melakukan bagian dari ‘tugas’ mereka.
Gedung tersebut nampak seperti sebuah perkantoran biasa. Namun segelintir orang - orang tertentu saja yang tahu, kalau ada tempat yang jauh dilantai bawah gedung, yang dulunya memiliki sebutan sebagai ‘Taman Bermain’ oleh para pria Adjieran Smith.
Lumayan lama tak digunakan, hingga saat ini akhirnya digunakan lagi.
Papi John dan Daddy Dewa sedang menuruni lift yang keberadaannya dapat dikatakan kasat mata karena berada tersembunyi dalam suatu bagian gedung yang tak akan mengira kalau itu adalah sebuah lift yang cukup besar bahkan muat untuk dimasuki satu mobil.
Dan lift rahasia tersebut akan membawa ke sebuah tempat yang kiranya orang tak mungkin pernah menduga kalau ada tempat seperti itu dalam sebuah gedung perkantoran yang cukup mentereng.
Tempat yang kontras suasananya dari sebuah perkantoran itu sendiri.
“Sudah lama sekali rasanya ya Wa, kita tidak menginjakkan kaki disini?” Itu Papi John yang bersuara seraya berjalan sambil menggulung lengan kemejanya., Daddy Dewa pun sama.
“Ya gue juga sudah lupa kapan terakhir kita ‘bermain’ disini” Sahut Daddy Dewa yang berjalan disamping Papi John dengan dua orang lain dibelakang mereka.
Papi John dan Daddy Dewa sudah sampai disuatu bagian ruangan.
Dimana ada dua orang yang nampak babak belur dengan tangan terikat kebelakang, di sebuah ruangan temaram jauh dalam sebuah bangunan gedung yang menjulang tinggi.
Empat orang yang merupakan orang – orang yang bisa disebut sebagai orang – orangnya para pria Adjieran Smith ada didekat kedua orang yang babak belur itu.
Papi John dan Daddy Dewa kemudian berjalan mendekat pada dua orang yang sudah babak belur tersebut. “Dapat sesuatu?”
Daddy Dewa bertanya dengan datar pada salah satu orangnya yang sudah berada lebih dulu di tempat rahasia mereka itu.
“Belum Tuan. Mereka memilih berkelit dan dipukuli dari pada bicara”
Papi John dan Daddy Dewa menyunggingkan satu sudut bibirnya.
“Hmm ... an**ng yang cukup setia” Ucap Papi John.
Daddy Dewa dan Papi John kemudian duduk di atas dua buah bangku lipat yang baru saja dibawakan untuk mereka.
“Kemana kalian membawanya?”
Daddy Dewa bertanya dengan nada suara yang datar sambil menyalakan rokoknya.
“Sudah kami bilang kami tidak tahu maksud kalian!” Seru salah seorang pria yang babak belur.
“Kalian bekerja pada orang yang bernama Emali atau Dilara? Atau .. siapa pria kepercayaan Dilara?”
Papi John yang bicara seraya bertanya pada orangnya. “Lais, Tuan John”
“Ya itu. Kalian bekerja atas perintah dari yang mana?. Atau kalian orang dari dua orang tokoh negeri ini yang bekerjasama dengan Dilara alias Jessy Tabita?”
“Sudah kami bilang kami tidak tahu maksud kalian!” Pria yang babak belur satunya lagi ikut berseru menjawab pertanyaan dari Papi.
Papi John dan Daddy Dewa tersenyum miring. “Waktu kami tidak banyak, jadi bekerjasamalah, mungkin akan kami pertimbangkan untuk mengampuni kalian”
“Kami ini hanya kebetulan lewat sampai mobil kami digulingkan dan kalian menangkap kami tanpa alasan!”
“Begitu ya ..?..” Sahut Daddy Dewa.
Suara deringan ponsel kemudian Papi terdengar, nama Daddy R terpampang disana. Dan dia berdiri dari tempatnya untuk menerima panggilan dari Daddy R.
“APA?!” Suara pekikan Papi terdengar, tak lama setelah ia menerima panggilan dari Daddy R. Membuat Daddy Dewa dan orang – orang mereka spontan menoleh kearah Papi John yang wajah datarnya mulai berubah geram.
“Kenapa?!”
Daddy Dewa mendekat dan bertanya pada Papi, setelah Papi selesai berbicara dengan Daddy R di ponselnya. Ia menyadari perubahan raut wajah Papi John yang kini nampak geram.
“They took Little Star. (Mereka mengambil Little Star)”
“Kurang Ajar!!!”
Daddy Dewa menggeram dan mengepalkan tangannya kencang.
Lalu Daddy Dewa dan Papi John kembali lagi mendekat pada dua orang yang babak belur tersebut namun tak mendudukkan diri mereka di atas kursi yang tadi mereka duduki, melainkan tetap berdiri didekat dua orang tersebut.
Duak!
Papi melayangkan tendangan dengan satu kaki jenjangnya pada salah satu orang yang babak belur tersebut tanpa ba-bi-bu lagi.
__ADS_1
“Gue hanya akan bertanya satu kali lagi!” Papi John sudah menunjukkan emosinya. “Kemana gadis yang tadi kalian ambil dengan paksa, kalian bawa?!”
“Sudah kami bilang kami tidak tahu maksud kalian!” orang yang berada disebelah orang yang ditendang Papi itu pun masih kekeh dengan jawabannya.
Dan yang tadi ditendang Papi hingga terjungkal ke belakang dengan cukup kencang mencoba bangun, namun tetap dibuat berada diatas lututnya.
“Kalian yang memilih kalau begitu”
Papi berkata datar, namun tatapannya pada dua orang tersebut sangat tajam.
Papi menggerakkan satu tangannya pada salah seorang orangnya yang berdiri siap dibelakang dirinya, yang langsung mengeluarkan sebuah tab dengan beberapa gambar alat – alat, seolah ia sudah paham dengan maksud salah satu Tuannya itu.
“Ini” Ucap Papi John pada orang yang menunjukkan tab padanya lalu menunjuk satu gambar. Pria berbadan tegap itu pun kemudian mengangguk dan berjalan untuk mengambil sesuatu yang di tunjuk Papi John tadi. Sebentar orang yang di beri perintah oleh Papi John pun kembali dengan sebuah alat di tangannya.
“Kalian tahu apa ini?”
Papi John sudah menerima sebuah alat yang tadi dia minta dari salah satu orangnya.
Dia mengangkat alat tersebut ke hadapan dua pria yang babak belur. Tidak begitu besar, mirip sebuah gunting yang dipadukan dengan tang.
“Yah, entah apa namanya. Tapi ini dapat memotong lidah dengan sangat mudah”
“......”
“Siapa diantara kalian yang harus ku jadikan contoh, hem?....”
Papi menatap kedua orang itu dengan wajah yang nampak datar, namun tatapannya begitu menusuk, kemudian ia
beralih pada alat ditangannya itu sambil ia goyang – goyangkan pelan.
“Lo pikir kami takut?!”
Salah satu laki – laki yang babak belur itu bersuara, seolah menganggap ucapan Papi John hanya gertakan saja.
Papi John dan Daddy menyungging miring.
Keduanya manggut – manggut. “Salut pada keberanian kalian” Ucap Daddy Dewa. Tersungging senyuman miring di wajahnya.
“Berikan aku koin....”
“Ini Tuan”
Salah seorang laki – laki yang bisa dikatakan sebagai pengawal pribadi Papi John dan Daddy Dewa menunjukkan sebuah koin mata uang pada Papi John yang meminta.
“Dia kepala, dia angka”
Papi John menunjuki satu satu dua laki – laki yang sedang berlutut dengan tangan yang terikat ke belakang dan wajah mereka yang babak belur.
“Baik Tuan”
Pengawal yang memegang koin itu pun langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Papi John. Ia melemparkan koin ke udara, lalu menangkapnya dan menelungkupkan diatas salah satu punggung tangannya kemudian.
“Apa?”
“Angka Tuan”
“Baiklah”
Papi John manggut – manggut.
“Kalian pikir, gue hanya menggertak, huh?!”
Seringai iblis kini nampak di wajah Papi John.
“Black, kuberikan kesenangan ini padamu” Ucap Papi John sembari menyerahkan alat yang berada di tangannya itu pada laki – laki berbadan tegap dan berwajah sangar yang ia panggil Black tadi.
“Dengan senang hati Tuan” Sahut Black dengan menyeringai.
“Well, angka, ini hari keberuntunganmu” Ucap Papi John dingin juga menyeringai.
Pria yang tadi ditunjuk sebagai angka sebelum pelemparan koin kemudian dipaksa berdiri dan didudukkan lagi di kursi yang tadi Papi John sempat duduki. Tiga orang memeganginya dan pria dengan sebutan angka itu mulai pucat dan berusaha berontak.
“JA-JANGAANNN!!!..” 'Si angka' nampak mulai ketakutan.
“MEREKA HANYA MENGGERTAK!!” 'Si gambar' berseru.
“HAHAHA!!!..” Suara tawa Papi John menggelegar.
“Me-reka hanya menggertak kita Sril! Lo jangan takut! Mereka sebentar lagi bakal digulung Tuan Lais!”
“Kalau begitu tunjukkan cara kita menggertak Black”
“Baik Tuan John!..” Sahut Black. “Buka mulutnya!”
Black menyuruh salah satu orang yang memegangi ‘si angka’ yang sudah ditambah ikatannya pada kursi dengan kuat itu untuk membuka mulut ‘si angka’ dengan paksa.
Wajah ‘si angka’ kini pucat pasi sudah, saat mulutnya dipaksa terbuka. Ia meronta kuat, namun percuma. Orang – orang Papi John dan Daddy Dewa jauh lebih besar dari dirinya.
Sepertinya ‘si angka’ hendak bicara.
Papi John dan Daddy Dewa sudah berganti ke mode kejam mereka. Wajah ramah mereka sudah berganti sangat dingin sekarang. Terlalu dingin bahkan. Dengan sorot mata yang nol belas kasihan.
__ADS_1
Wajah tampan yang biasanya nampak hangat itu sirna.
“Gue hanya memberikan satu kali kesempatan, dan kalian melewatinya”
Papi John bersuara, lalu mendekati ‘si gambar’.
Mencengkram dagu ‘si gambar’ dengan kuat dari belakang, memaksanya untuk melihat pada ‘si angka’ yang nampak akan dieksekusi dihadapannya.
“Lo bilang gue hanya menggertak tadi?” Ucap Papi John pelan namun sangat tajam. “Lo lihat baik – baik bagaimana cara alat itu bekerja” Sambung Papi John. “Lakukan Black! agar mereka tahu bagaimana kita menggertak”
“Baik Tuan” Sahut Black seraya mengangguk lalu ia menempelkan alat yang merupakan pemotong lidah itu di lidah ‘si angka’ yang menggeleng – gelengkan kepalanya dengan suaranya yang terdengar tercekat.
Tubuh ‘si gambar’ nampak sudah menggigil melihat temannya yang sudah berada diujung bahaya. “Biar gue jelaskan bagaimana alat itu bekerja untuk memotong lidah para pendusta macam kalian...saat...”
“Aa-rr-ggg-hh!!...”
Papi belum sempat menyelesaikan ucapannya pada ‘si gambar’, karena sebuah suara yang seperti teriakan kesakitan yang teramat sangat membuatnya menoleh.
"Ah, sayang sekali. Gue ga sempat menjelaskan" Ucap Papi John, dengan suaranya yang pelan, namun sarat membuat 'si gambar' bergidik hebat.
Dan dihadapan mereka. Pada bangku dimana ‘si angka’ terikat dan sudah tak lagi dipegangi, namun pria itu sudah tertunduk dan terkulai dengan tetesan darah yang cukup banyak, nampak keluar dari mulutnya.
“Nah, begitu cara kami menggertak!” Papi kemudian melepaskan kasar wajah ‘si gambar’. “Tunjukkan padanya hasil kerjamu Black!”
“Dengan senang hati Tuan”
Blackpun menghampiri ‘si gambar’ disaat Papi John menjauh dari laki – laki yang sudah sangat pucat dan menggigil dengan raut wajah yang penuh kengerian, setelah apa yang barusan ia saksikan terjadi pada temannya oleh orang – orang suruhan dua pria yang ternyata punya sisi kejam yang ia pikir hanya gertakan seperti beberapa orang yang pernah ia hadapi sebelumnya.
“Bagaimana?. Apa lo masih berpikir kalau gue hanya menggertak, hem?”
“JA-JAUHIN ITU!!...” Si gambar yang sudah sangat ketakutan itu bergerak mundur saat Black menunjukkan sesuatu
yang menjijikkan dan menyeramkan disaat yang sama masih menempel pada alat yang dipegang Black.
“Giliran lo sekarang!” Daddy Dewa yang kini mendekat pada ‘si gambar’.
“Ja-jangan ... jangaann!!! ... a-akan gue kasih tau ... akan gue kasih tau kemana cewek itu dibawa! ...”
‘Si gambar’ yang sudah sangat ketakutan itu bersuara dengan gemetar, dan sesekali melirik temannya yang masih terikat di bangku lipat, entah pingsan atau bahkan sudah meregang nyawa setelah indra perasanya di pisahkan dengan cara yang pastinya amat sangat menyakitkan.
“Katakan”
“Ta-tapi kalian harus berjanji satu hal ... ka-kalau kalian ga akan motong li-dah gue ...”
“Oke” Sahut Papi.
“Sekarang beritahu secara detail semua yang lo tahu!”
Daddy Dewa menimpali dan ‘si gambar’ pun mengatakan semua hal yang dia tahu tentang Bosnya, berikut segala
tempat yang berkaitan dengan bisnis milik Bosnya, dan beberapa rencana yang ia ketahui.
Daddy Dewa dan Papi John kemudian beranjak pergi setelah rasanya informasi yang mereka dapat dari ‘si gambar’ sudah sangat cukup untuk mereka.
“Lalu apa yang akan kita lakukan padanya Tuan?” Tanya Black pada kedua Tuannya yang hendak pergi dari tempat mereka berada sekarang. Papi John dan Daddy Dewa terdiam sejenak.
“Gue udah kasih tau kalian semua informasi! Lo juga udah janji ga akan motong lidah gue, kalau gue bicara!”
“Oke, oke, santai” Papi John berucap santai.
“Bagaimana Tuan?” Tanya Black.
“Jangan potong lidahnya..” Sahut Papi John.
Wajah ‘si gambar’ nampak lega. Namun...
“Lakukan yang lain selain itu...”
Wajah ‘si gambar’ yang tadi nampak lega, kini jadi penuh tanda tanya.
“Ada banyak cara untuk memberinya hukuman bukan?” Ucap Papi John dengan menyeringai.
“A-apa??!! ...”
“Lo hanya minta ga dipotong lidah, bukan?. Sudah gue kabulkan... tapi an**ng hina macam kalian tak boleh dibiarkan berkeliaran!” Ucapan Papi penuh ketajaman. “Lakukan semaumu Black! Tunggu perintahku untuk kau kirim mereka kembali pada Bos mereka”
Papi berkata pada Black kemudian lalu melanjutkan langkahnya bersama Daddy Dewa meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan ‘si gambar’ pada tangan salah satu orangnya yang memang berdarah dingin kalau soal mengeksekusi mereka yang sudah ditargetkan oleh para Tuannya.
“Baik Tuan” Jawab Black dengan patuh, setelah perintah dari Papi John turun.
Papi John dan Daddy Dewa melangkah dengan cepat kemudian, sembari sibuk dengan ponselnya untuk berbagi
informasi yang mereka dapat pada semua saudara laki – lakinya, juga pada Abang dan Nathan.
Entah apa Black buat pada ‘si gambar’. Yang jelas suara lolongan sayup – sayup terdengar, setelah beberapa langkah Papi John dan Daddy Dewa ayunkan menjauh dari tempat mereka tadi.
Papi John dan Daddy Dewa tetap meneruskan langkahnya seolah tak ada hal yang terjadi dibelakang mereka.
‘Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan!’
****
__ADS_1
To be continue .....