
❄ DREA OH DREA ❄
Selamat membaca...
Bandara Internasional Soekarno – Hatta, Tangerang, Indonesia
Alvarend Aditama Smith. Si Abang sayang sudah sampai di Indonesia. Tersenyum tipis sambil menganggukkan sedikit kepalanya pada setiap kru kabin di Kelas Utama pesawat komersil yang
ditumpanginya. Hanya ada dua orang yang berada di Kelas Utama pada Maskapai yang ditumpangi Varen. Varen dan seorang pria yang nampak seorang Pengusaha, namun Varen tak ambil perduli.
Meskipun menjadi lebih easy going sejak kuliah, tapi dia tetap cool seperti sedari ia kecil. Tak banyak bicara, tak mau tahu urusan orang dan tak banyak bicara selain dengan keluarganya atau teman – temannya yang juga bisa dihitung dengan jari.
Meski Varen mendapatkan tempat terbaik di pesawat, namun tetap saja perjalanan selama kurang lebih dua puluh lima jam di udara membuat ototnya terasa kurang nyaman sekarang. Meski pelayanan dari pihak Maskapai di rasa cukup nyaman dan profesional di Kelas Utama bahkan jauh eksklusif dari kelas bisnis.
Varen sudah disambut oleh dua orang kru Maskapai sejak saat ia turun dari pesawat dan langsung diantar menuju Lounge Premium untuk para penumpang Kelas Utama. Para kru Maskapai sudah tahu siapa laki – laki muda yang ada di Kelas Utama Maskapai mereka, karena para kru pesawat yang bertugas di Kelas Utama akan mencari tahu segala hal tentang orang – orang yang berada di Kelas Utama pesawat.
Meskipun Varen dan satu penumpang di Kelas Utama mendapatkan komplimen sarapan spesial di Lounge Premium karena pesawat dari Maskapai yang ditumpangi Varen sampai pagi hari waktu setempat, namun Varen segera meminta dicarikan mobil untuk mengantarnya dengan segera ke Kediaman Utama keluarganya yang berada di Jakarta.
Mau buru – buru ketemu si Little Star yang sedang merajuk padanya. Varen menunggu mobil yang dipesannya
datang, sembari juga meminta seorang kru untuk menukarkan cash Dollar Amerikanya ke Rupiah.
“Here, Sir. ( Ini, Tuan ).” Kru Maskapai itu memberikan amplop putih yang sangat tebal pada Varen.
Varen menerimanya dengan menyunggingkan senyum tipis pada kru tersebut. “Thanks.”
“You might be want to count it first, Sir, the .. ( Mungkin anda mau menghitungnya dulu, Tuan. Kur.. ).”
“No, I trust you. ( Tidak, aku percaya padamu ). I think you won’t be dishonest to your klien don’t you?. ( Aku rasa kau tidak akan berlaku tidak jujur pada klien mu bukan? ).” Ucap Varen dengan senyuman tipis namun bernada suara datar, dalam pose duduknya yang nampak berwibawa, meski ia sedang memakai pakaian kasual, dengan sebuah tas punggung yang ia sampirkan di salah satu bahunya.
“I’ll do my best to serve our klien, Sir. ( Aku melakukan segala yang terbaik untuk melayani para klien kami, Tuan ).” Ucap si Kru Maskapai yang dimintai tolong oleh Varen untuk menukar Dollar Amerikanya di Money Changer.
“Here. ( Ini ).”
“Please, don’t be necessary, Sir ( Maaf, Tuan, tapi rasanya itu tidak perlu ).”
“Take it. I don’t accept any refusement. ( Ambil. Aku tidak menerima penolakan apapun ).” Ucap Varen sambil
memberikan lembaran rupiah berwarna merah dengan jumlah yang cukup lumayan besar untuk sebuah tip.
Pada akhirnya si kru Maskapai pun mau menerima tips dari Varen yang lumayan bisa membuat dompetnya tebal itu sambil menunduk hormat.
“Thank you, Mister Alvarend Aditama Smith. ( Terima kasih, Tuan Alvarend Aditama Smith ).” Ucap si kru Maskapai dengan sopannya.
Ya, pria itu sudah mengantongi data diri Varen, yang informasinya ia dapatkan dari kru kabin penerbangan yang melayani Varen selama perjalanannya di udara. Laki – laki muda ini adalah Pewaris Utama dua keluarga di dua negara.
Hanya saja para kru Maskapai termasuk pilot dan co-pilotnya sedikit heran, kenapa anak muda dengan kekayaan
tak terhingga itu naik Maskapai komersil? Sudah pasti dia punya jet pribadi bukan?.
Bahkan salah satu ayahnya punya Perusahaan pembuat aneka pesawat pribadi di Italia. Ah entahlah, orang super kaya mah bebas. Mungkin dia bosan naik jet pribadi, begitu pikir mereka mengenai Varen.
Varen kemudian langsung berdiri setelah mobil sewaan pesanannya datang, dan kru Maskapai itu langsung mengantarnya ke mobil tersebut. Sebisa mungkin memberikan kesan yang baik pada anak muda, yang berpenampilan santai dengan kaos daleman ketat yang berbalut kemeja dengan kancing yang sengaja dibuka semua, dan lengan yang dilipat hingga ke siku.
Simpel, namun kaos daleman si Abang harganya bisa membeli satu motor matic standar di Indonesia.
Ah, othor aja ampe butut itu motor metik satu – satunya kaga diganti – ganti. ( Sian beut si Othor ).
Varen pun sudah berada dalam mobil sewaan yang disediakan oleh pihak pelayanan khusus dari Maskapai yang
tadi Varen gunakan. Dan mobil itu pun sudah bergerak dengan kecepatan sedang yang kemudian supirnya disuruh menambah kecepatan, saat kondisi jalanan memungkinkan.
‘Little Star pergi ke sekolah ga ya hari ini?. Apa aku perlu menelpon para Dads dan Moms?. Ah biar aku buat kejutan saja pada Drea.’
Varen menggumam dalam hati, namun masih membiarkan ponselnya berada didalam tas punggungnya, yang ia
matikan selama perjalanannya di udara.
‘Ck!. Gue lupa membawakan Drea sesuatu.’ Gerutunya dalam hati karena buru – buru berangkat dari Massachusetts ke Indonesia gegara anak Thanos lagi ngambek berat. ‘Apa aku perlu mampir ke Mal dulu?.’ Varen melirik jamnya.
Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk langsung saja diantar ke Kediaman Utama yang berada di Jakarta.
**
“Pantes bakul nasi goyang – goyang.”
Mama Bela dan Papa Herman yang khawatir karena mendengar kabar si cucu pertama berantem di Sekolaan sudah sampai di Kediaman Utama di Jakarta sejak kemarin sore dan menginap disana.
“Bakul na-si??.”
“Noh, si Abang pulang!.”
__ADS_1
Semua orang menoleh ke arah jari telunjuk Mama Bela yang sedang membantu menyiapkan sarapan dan embel - embelnya, bersama dua nenek lainnya di halaman belakang sedang mengarah.
Dan mereka kompak menarik sudut bibir mereka bersama, melihat anak muda yang mereka kenal berjalan mendekati beberapa orang yang berkumpul didekat meja kayu di halaman belakang dengan juga menampakkan senyumnya.
***
“The power of Andrea Smith, huh?. ( Kuasanya Andrea Smith, kan tuh? ). Bisa membuat itu anak datang kesini dengan segera.”
Daddy R kasak – kusuk sambil mesam - mesem dengan Fania, Ara, serta dua J versi couple yang sedang menikmati sarapan ala Bekasi yang dibuat Ene Bela. Nasi uduk sambel kacang, plus gorengan jangan lupa pastel bersejarah. Berikut para nenek yang juga ada disana.
“Makinan aja dah tuh si Juleha entar kelakuannya sama si Abang, kalo si Abang bela – belain dateng kesini dari
Massachusetts gegara dia ngambek.”
“Biarin aje si!. Kangen kali die ama si Juleha.” Timpal Mama Bela yang langsung membuka tangannya untuk menyambut Varen yang menyambanginya terlebih dahulu setelah mengucapkan salam.
“Eh, Abang Pulang, Bakul Nasi Goyang – Goyaaaaaang....” Ledek Momma. Yang kemudian ikut memeluk Varen yang baru saja datang itu.
“Apa sih Momma?.” Sahut Varen sambil memeluk dan mencium kedua pipi Mommanya seperti biasa. Daddy R dan Mommy Peri sudah tahu kalau Varen akan datang karena sudah mendapat informasi kalau Varen kala itu keluar tergesa dari Apartemen dengan menggunakan taksi karena hendak ke Bandara untuk terbang ke Indonesia.
“Apa kabar Bang?.” Sapa Daddy Jeff yang juga sudah disambangi Varen dengan pelukan setelah ia menyapa Daddy R dan Mommy Ara dan kemudian melakukan hal yang sama pada Mama Jihan dan dua neneknya yang lain selain Ene Bela.
“Tired. ( Lelah ).”
“Panik nih ye yang dimusuhi Drea?.”
Mommy Ara menggoda Putranya itu sembari terkekeh kecil diikuti oleh orang – orang yang bersamanya juga. Sisanya ada disisi lain halaman belakang dekat lapangan tenis dan kolam renang.
“Hahhh... aku bahkan tidak sempat mandi kemarin, dan aku lapar sekarang.”
Varen mendengus setengah frustasi.
“Slouchy!. ( Jorok! ).” Celetuk Daddy R.
“Salahkan Andrea Smith kesayangan Daddy yang merajuk sampai bilang tidak kenal padaku lagi!.” Sahut Varen. “Apa dia lupa siapa yang mengurusnya selama ini?. Bahkan sebelum aku kuliah, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku daripada Poppa dan Momma. Enak saja bilang tak mengenalku!.”
Semua orang yang berada di dekat Varen pun sontak tertawa geli.
“Ya udeh, makan dulu cucu Ene yang gantengnya kelewatan.”
“Nanti saja deh Ne, aku mau bertemu Drea dulu.”
Varen meletakkan tas punggungnya sembarang.
“Udah Pergi.”
“Kemana?.”
“Mau dimasukin Pesantren!.”
“Apaaa??!!!! .. Jangan bicara omong kosong Momma!.” Varen nampak sedikit gusar. "Aku tidak rela dia dimasukkan ke Pesantren atau Asrama, meski keras kepalanya kadang menyebalkan."
Fania terkekeh.
Varen hendak bergegas ke kamar Andrea, namun kemudian ia melihat gerombolan lain yang sedang berada di area kolam renang dan lapangan tenis. Varen memutuskan untuk mencari Andrea kesana dulu.
***
“ANDREA!.”
Varen sudah berada di area kolam renang, setelah melirik kalau bukan Andrea yang sedang bermain tenis melainkan Papi dan Mami. Mata Varen membulat sempurna ketika melihat sosok yang tengah mengapung terbalik nampak kaku tak bergerak di dalam kolam renang.
“KENAPA KALIAN MALAH ASIK MENGOBROL??!!.” Si Abang pun langsung marah – marah pada mereka yang berada di dekat kolam renang dewasa. Dengan para adik yang sepertinya sedang naik sejenak setelah berenang dan kini sedang meminum susu kotak sambil memakan sandwich.
Byurrr!!.
Varen langsung menceburkan dirinya ke kolam.
“Kenapa itu dia Pop?.” Tanya Nathan pada Poppa yang sedang duduk bersamanya dan Ake Herman.
“Buset dah si Paren, dateng – dateng bukannya salaman ama yang tuaan malah marah – marah.” Celetuk Ake Herman.
“Bocah tengik! Berani sekali membentakku.” Timpal Andrew sambil memandangi Varen yang sudah menceburkan diri ke kolam dan langsung meraih tubuh Andrea yang nampak kaku itu, tapi tiga orang yang kena semprot si Abang nampak santai dan begitupun para adiknya.
“ANDREA! LITTLE STAR!.”
Varen membawa tubuh Andrea ke tangga di tepian kolam.
“KENAPA KALIAN DIAM SAJA?!.” Teriak si Abang panik.
“ISH!.”
“Little Star ....???.”
**
__ADS_1
Waktu sebelumnya ...
“Sejak kapan sih Pop, hobi anehnya itu dia lakukan?. Aku dan seisi rumah ini pernah dibuat sangat heboh dengan aksi anehnya itu.”
“Sama aja kayak emaknya, suka aneh – aneh itu si Drea!.” Timpal Papa Herman.
“Hahaha! Sejak dia sudah menamatkan semua gaya dalam renang dengan sempurna, setelah dia bosan latihan loncat indah dan bosan dengan diving juga snorkling. Dan dia bosan dengan hal yang biasa.”
“Memang benar – benar absurd anak Poppa satu ini. Apa dia tidak bisa mencari hobi yang normal selain pura – pura mati di kolam renang seperti itu?.”
“Hahaha!. Dia terlalu banyak menonton film jagoan wanita yang mampu bertahan dan menahan nafas didalam air tanpa bantuan alat. Entah film apa saja.”
“Hah! Yang engga – engga aja!.”
“Hahahaha.... biarkan saja, siapa tahu dia jadi agen MI – 10 dikemudian hari.”
“Hadeeehhh .... Coba dicek tuh Pop, nanti itu si Drea mati beneran.”
“Hahaha .... tidak akan. Dia sedang mencoba menembus rekornya sendiri.”
“Drea... Drea... hobi kok pura – pura mati!. Apa faedahnya coba?! .... Besok – besok minta dikubur hidup – hidup jangan – jangan.”
***
“KENAPA KALIAN DIAM SAJA?!.” Teriak si Abang panik.
“ISH!.”
“Little Star ....???.” Varen tersentak kaget, kala Andrea tiba – tiba bangun dan langsung berdiri, karena Varen kira Andrea tenggelam sebelumnya hingga sampai mengapung tak bergerak dengan posisi kaku.
Andrea berdiri sambil memandang sinis sebentar pada Varen, lalu melangkahkan kakinya menginjak tangga kecil dipinggir kolam renang. “Ganggu aja!.”
“Little Star ...”
Varen terbengong – bengong sendiri. Sementara Nathan, Poppa dan Ake Herman cekikikan. Begitupun para krucil yang kaget abangnya tau – tau datang sambil teriak dan langsung menceburkan diri ke kolam renang.
“Yaaaa Abang, tertipu nih yee ....” Celetuk Mika yang kini berumur sepuluh tahun sambil terkekeh diikuti adik – adiknya yang lain.
‘Tertipu?....’ Varen membatin sembari masih bengong di dalam kolam. Namun kemudian dia kembali sadar saat melihat Andrea yang sudah berdiri dekat dengan Poppanya sambil memakai bathrobe renangnya.
“Woy orang Amrik!. Ngapain?!. Lupa kamar sendiri, sampe mandi di kolem?!.”
Fania dan mereka yang tadi berada diarea bangku kayu sudah ada di sekitar kolam renang karena mendengar si Abang berteriak dan nampak panik.
“Drea.... Little Star.... Varen langsung keluar dari kolam saat suara Momma membuyarkan lamunannya. Kembali teringat pada si cute gir bar – bar itu dan kini sudah mendekati Andrea lagi tak memperdulikan keluarganya yang lain yang sedang cekikikan.
Dia ingat tadi Andrea langsung melirik dan berbicara ketus padanya, padahal selama ini kalau Varen datang si Andrea akan langsung lari dan nemplok padanya.
“Drea.... kamu ga apa – apa?....” Tanya Varen yang belum tahu soal kelakuan aneh Andrea. Tapi Andrea tak menjawab, malah asik mengunyah sandwich sambil melirik sinis pada Varen. “Abang pikir Drea, tenggelam ....”
“Terus kenapa kalau aku tenggelam, hah?!. Ngapain sok – sok perduli sama aku???!!.”
“Ya Allah, Drea.... ga mungkin Abang ga perduli sama Drea ....”
“Heh! Omong kosong!.”
“Tadi Abang lihat Drea kaku tak bergerak, jantung Abang hampir lepas Drea, melihat kamu begitu ....”
“Gara – gara Abang ya!, aku jadi gagal memecahkan rekor aku sendiri tau ga?!. Udah kemarin – kemarin marahin aku itu gara – gara cewe bule sok cantik itu!. Sekarang datang – datang malah gangguin aku!. Sok – sok perhatian! Aku sudah tidak butuh perhatian Abang!.” Dan si Andrea malah ngeloyor ke dalam rumah.
“Drea....” Panggil Varen tapi si Juleha kaga mau noleh dan terus berjalan. “Ya Allah, salah aku dimana sih?? .... aku kan panik dan takut kalau Drea tadi kenapa – kenapa, tapi kenapa juga dia malah marah setelah aku tolong?.”
Si Abang kebingungan.
“Iya, aku tahu mungkin aku salah sudah marahi dia waktu itu, tapi aku ini sudah datang kesini hanya untuk meminta maaf. Dan lagi rekor?. Rekor apa? ....” Varen masih kebingungan, yang cekikikan masih terus cekikikan.
“Abang.. Abang.... makanya pulang sering – sering, jangan pas liburan doang. Biar lo tau kelakuan Little Star kesayangan lo itu, makin kesini, makin absurd.” Celoteh Nathan sambil menepuk – nepuk bahu sang Abang yang basah kuyup bahkan masih memakai sepatu. Varen menatap Nathan dengan pandangan tak mengerti.
“Tapi tadi Drea.... sudah kaku....”
“Itu yang gue bilang, aneh bin absurd! si Drea itu punya hobi menahan napas di air sambil pura – pura mati.”
“Hah?! Apa lo bilang?! Pura – pura mati?!. Buat apa dia melakukan hal itu?!.”
“Lo tanya aja sama Tuhan sana!. Karena hanya si Drea dan Tuhan yang tahu alasannya gue rasa.”
“Astagfirullah....” Varen mengusap wajahnya yang basah dengan tangannya sendiri.
“Siap – siap, mungkin besok dia minta diantar ke Ancol dan berenang dengan tangan dan kaki terikat.” Ledek Nathan lagi.
‘Ya Tuhan Little Staar .... apa kamu mau menjadi Pasukan Katak TNI?.’
**
To be continue...
__ADS_1