
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
******************************************************************************
Selamat membaca...
“Maaf gara-gara aku abaikan, kamu jadi sampai mendapat musibah di kamar mandi sekolah ...”
“Ya bukan salah Rery kok ... mereka saja...”
“Mereka?....” Potong Rery. "Maksud kamu dengan mereka? .... kamu bilang kamu terpeleset di kamar mandi sekolah kan? .. lalu mereka itu maksudnya, apa? ...."
‘O-ow!’ Ann menggigit lidahnya.
“Ann, ada yang jahat sama kamu?...”
‘Aku rasa juga Rery tidak perlu tahu soal apa yang sebenarnya menimpaku di kamar mandi sekolah hari itu’
Rery kini menatap fokus pada Ann.
“Memang siapa yang mau jahat sama aku?...”
Ann kemudian menyahut dengan juga menatap Rery dengan wajah yang nampak santai dan jujur.
Yah ini salah satu dari kelebihan yang Ann miliki.
Ann bisa dibilang jago mengkondisikan ekspresi wajahnya.
Membuat apa yang terpancar dari wajahnya, berbeda dengan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, jika Ann memang mau atau sedang menutupi sesuatu dan tak ingin orang yang dia tidak inginkan untuk tahu apa yang sedang ia pikirkan, mengetahui apa yang ia sembunyikan itu.
“Karena kamu menyebut kata mereka, soal apa yang menimpa kamu di kamar mandi sekolah sampai perut kamu lebam seperti itu ...” Jawab Rery.
Ann menyunggingkan senyum.
“Rery belum selesai aku bicara sudah memotong sih ...” Ucap Ann kemudian.
“.........”
“Maksud aku mereka tadi itu, ya murid-murid yang seenaknya menggunakan kamar mandi dengan sembarangan, hingga sampai ada genangan air di lantai .... entah air apa”
“Oh itu maksud kamu tadi ....”
Ann mengangguk.
Rery sejenak menatap Ann, tak lama Rery manggut-manggut.
‘Maaf ya Rery, ini masalah aku. Kamu tidak perlu tahu. Lagipula aku belum tahu apa gadis teman sekelasmu yang bernama Maria itu yang menyuruh teman-temannya itu atau bukan untuk menyerang aku. Jika memang itu benar, nanti baru aku katakan deh ke kamu Rery .... Sekaligus aku mau tahu, nanti bagaimana sikap kamu Rery? ....’
Ann membatin.
“Ya sudah kalau begitu, Ann.... kamu istirahat dulu deh ya?”
“Iya....” Jawab Ann seraya mengangguk pelan.
“Oh iya Ann, kalau boleh tahu, kamu kapan jatuhnya?”
“Waktu kita berpapasan saat kamu diantar Sky saat pagi, nah hari itu sebelum istirahat aku ke toilet. Karena sedikit messed up, jadi aku memilih pulang sebelum jam istirahat tiba” Jawab Ann.
Rery manggut-manggut.
“Jadi karena itu ya aku tidak lihat kamu saat istirahat dan jam pulang?”
“Memang Rery cari aku?..” Tanya Ann dan Rery langsung mengiyakan.
“Sekali lagi aku minta maaf ya Ann. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu terjatuh di kamar mandi sekolah ..”
Ann mengangguk lagi dan menunjukkan senyumnya pada Rery.
**
Ann akhirnya jatuh terlelap karena Rery benar-benar menungguinya.
Padahal Ann sudah gatal sekali ingin mengecek ponselnya yang satu lagi, yang baru ia beli dan Ann pergunakan untuk berkomunikasi dengan saudara Italianya-sebutan Ann untuk Ricci, anak dari seorang kerabat papa kandungnya.
Rery tersenyum tipis saat memperhatikan Ann yang sudah jatuh terlelap itu.
‘Is it Ann really okay, Uncle?.. ( Apa Ann benar tidak apa-apa, Uncle? ) ..’
‘If it’s regarding to the pain in her stomach because of the period ache, then she will be okay after she takes the medicine I gave .. Some of women are having those kind of killing pain in her stomach when they have their period ( Jika sakit yang ia rasa di perutnya karena sakit datang bulan, maka dia akan baik-baik saja setelah meminum obat yang aku berikan .. Beberapa wanita memang ada yang mengalami sakit yang hebat di perutnya saat mereka datang bulan )'
‘I see .. ( Aku mengerti ) ..’
‘But still, I suggested that she needs to go for a lab check up .. ( Tapi tetap, aku menyarankan kalau dia perlu melakukan pemeriksaan lab )..'
‘I will persue her then.. ( Kalau begitu aku akan membujuknya )..’
‘You better will, Rery.. ( Seharusnya iya, Rery ) .. Because I little bit doubted that the bruise in at her belly was because she was bumped a wastafel just like what Ann said.. ( Karena aku sedikit meragukan jika lebam yang ada di perutnya karena terbentur wastafel seperti yang Ann bilang )..’
Rery mengingat kembali percakapannya dengan Dokter Owen saat Rery mengantar Dokter yang merupakan kerabat keluarganya itu ke pintu utama Mansion setelah selesai melakukan pemeriksaan pada Ann.
‘Aku juga berpikir yang sama seperti Uncle Owen’ Batin Rery sembari ia memperhatikan Ann. ‘Aku harus mencari tahu ..’ Kata batin Rery lagi. ‘Tidak ada yang aneh pada sikap Ann memang, tapi aku merasa ada yang Ann sembunyikan ya? ..’
Rery merapihkan selimut Ann, dan kemudian ia berjalan menuju sofa santai dalam kamar pribadi Ann dan menyalakan televisi dengan volume yang sangat kecil sembari membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang tersebut.
Rery menyetel alarm di jam digitalnya untuk waktu minum obat Ann berikutnya, karena Rery merasa sedikit mengantuk, dan ia takut jatuh terlelap lalu melewati waktu yang diharuskan Ann meminum obat keduanya. Karena sedikit banyak Rery merasa bersalah atas apa yang menimpa Ann.
‘Tapi jika Ann benar dianiaya? Siapa yang menganiaya Ann? .. Pokoknya aku harus mencari tahu yang sebenarnya’
Rery masih rasa tak tenang.
__ADS_1
‘Jika benar Ann dianiaya seseorang, tapi kenapa Ann tidak mau mengatakannya padaku? Apa karena aku bentak lalu sekarang dia jadi sedikit menjaga jarak ya? ..’
Rery menghela nafasnya.
‘Pokoknya aku akan mencari tahu, bagaimanapun caranya. Dan jika benar memang ada yang berani menganiaya serta mengancam Ann, awas saja. Walau Ann tidak meminta pertolonganku, aku akan membuat perhitungan pada mereka yang menganiaya Ann!’
****
Rery yang sempat jatuh terlelap itu terbangun karena alarm yang berbunyi dari jam tangan digitalnya. Kemudian bergegas bangun lalu membangunkan Ann, agar gadis itu meminum obat keduanya. “Ann...”
Rery memanggil Ann yang nampak pulas itu dengan pelan-pelan. Dua kali memanggil namun karena Ann tidak bangun, akhirnya Rery menepuk pelan lengan Ann, baru gadis itu menunjukkan pergerakan.
“Sorry ya Ann aku bangunkan, tapi ini waktunya kamu minum obat yang kedua..” Ucap Rery dan Ann pun mengangguk seraya mengumpulkan nyawanya sejenak.
Rery membantu Ann untuk duduk.
“Masih sakit perutnya?”
“Masih, tapi tidak sesakit yang pertama” Jawab Ann. “Mana obatnya? ..”
“Ini” Jawab Rery.
Sembari Rery menunjukkan obat dalam kemasan namun tak langsung memberikannya pada Ann yang menadahkan tangan padanya itu.
“Tapi sebaiknya kamu makan dulu ya?” Ucap Rery.
Ann menggeleng pelan. “Aku tidak lapar Rery”
“Sedikit aja ...”
Ann tetap menggeleng.
“Please?”
“Ya sudah deh...” Ann akhirnya mengalah dan mengiyakan bujukan Rery untuk dia makan. “Tapi aku tidak ingin makanan berat ya Rery?.....”
Rery pun mengangguk.
“Ya sudah” Sahut Rery. “Tunggu sebentar ya?”
**
‘Haish. Baru aku mau menghubungi Ricci....’
Ann sedikit menggerutu saat Rery sudah melangkah menuju luar kamar untuk mengambilkan nya makanan kecil yang Ann anggap adalah kesempatan bagi dirinya untuk menghubungi sekutunya.
Yakni si saudara Italia besarnya yang Ann mintai tolong untuk mengurus dua orang yang terlibat dalam penganiayaan dirinya kala itu. Tapi ternyata Valera tahu-tahu nongol.
Yang orangnya langsung ngeloyor masuk saat Rery keluar dari kamar Ann.
Valera yang sudah mendekati Ann itu menanyakan hal yang sama seperti Rery perihal sakit di perut yang Ann rasakan.
“Val, maaf deh, bisa tolong ambilkan tas aku di kamar kamu ga?” Pinta Ann pada Valera.
“Oh iya, padahal tadi sudah mau aku bawakan kesini, eh malah lupa. Sebentar ya?..” Tukas Valera dan Ann mengangguk.
“Thanks ya Val” Ucap Ann dan Valera menunjukkan jempolnya sambil lalu untuk pergi ke kamarnya dan mengambilkan tas milik Ann.
Dimana Ann mempergunakan tersebut untuk membuka laci nakas di samping tempat tidurnya dan mengambil ponsel lain miliknya yang kemudian ia sembunyikan di bawah pahanya.
‘Haaahh untung saja aku cepat! Rery pasti akan disini lagi sampai waktu minum obat yang ketiga aku tiba. Sementara aku sudah tidak sabar untuk menghubungi Ricci..’
Bukan tanpa alasan Ann merasa lega telah mengamankan ponsel lain miliknya itu, karena para Mom bergantian datang ke kamar Ann selepas Valera keluar dari sana.
‘Setelah ini aku bisa beralasan untuk pergi ke kamar mandi agar aku bisa menghubungi Ricci’ Ann dengan rencananya.
**
Ann mencuri-curi pandang pada Rery saat si Poppa junior yang tak botak itu sudah duduk di dekat Ann setelah membawakan Ann sepotong kue coklat untuk Ann makan agar perutnya tidak terlalu kosong, sembari menunggu seorang maid membawakan makan siang untuk Valera dan Rery yang memilih untuk makan di kamar Ann, tidak bergabung dengan para orang tua dan orang tua yang makan siang di ruang makan mansion utama mereka itu.
Valera nampak fokus dengan ponselnya.
“Oh iya Rery ...” Ucap Ann sembari melihat pada Rery.
Tadinya ia ingin beralasan ke kamar mandi meski tidak ada panggilan alam, namun Ann ingin bertanya sejenak dengan Rery selain karena Ann belum bisa menemukan celah untuk menyembunyikan ponsel rahasianya yang hendak ia bawa ke kamar mandi.
Namun Ann memang ingin mengganti tamponnya.
“Iya, kenapa Ann? ...” Sahut Rery.
“Kamu kan seharusnya sedang ikut kunjungan sekolah ke Chapel Down? ...”
“Ya aku batal ikut”
“Kenapa?”
“Aku kepikiran kamu Ann”
“Memang kenapa? ....”
“Ya kamu kan memusuhi aku, aku ga nyaman dengan itu ..”
“Makanya apa-apa itu dibicarakan dengan kepala dingin!”
Valera menyambar.
“Jangan langsung pakai emosi”
“Iya kakak Valeraaaa..” Sahut Ann sembari terkekeh kecil.
__ADS_1
Sementara Rery tak menyahut. Cuek saja. “Mau tambah lagi cakenya?”
Ann menggeleng pada Rery yang sudah meraih piring kosong bekas kue yang sudah habis dimakan oleh Ann.
Dan Rery memberikan obat kedua Ann kemudian.
**
“Ada-ada saja..” Rery yang duduk disamping Ann diatas ranjang pribadi Ann sekarang ini, dan mengapit Ann bersama Valera itu terdengar menggumam saat melihat ponselnya. Membuat Valera dan Ann sontak menoleh dan bertanya pada Rery tentang apa yang sedang si Poppa junior itu lihat hingga ia menggumam seraya geleng-geleng.
“Kenapa Rery?....” Tanya Ann seraya melirik ponsel Rery.
Rery kemudian mendekatkan ponselnya pada Ann.
“Ada dua murid perempuan yang katanya terperosok di saluran pembuangan dekat perkebunan dan mereka menjadi bahan tertawaan semua orang karena mereka menjadi terlihat sangat kacau. Lihat deh”
Valera yang ikut melihat foto dan juga video yang Rery tunjukkan pada Ann itu langsung cekikikan.
“Ya ampuunn ..” Celetuk Valera sambil cekikikan. “Kok mereka bisa sampai terperosok di saluran pembuangan bersamaan begitu?...”
“Entah!”
Rery mengendikkan bahunya.
“Lagian main dekat saluran pembuangan. Seperti tidak ada tempat lain saja!” Tambah Valera.
“Mungkin mereka tersesat saat diberi waktu jam bebas” Tukas Rery.
“Ceroboh... dan bodoh!..” Timpal Valera yang mendengus geli. “Jam bebas bukannya berkeliling di taman indah yang ada disana atau mencicipi quiche lorraine mereka yang enak sekali itu, malah main ke saluran pembuangan. Haah ... aya-aya wae, kalau kata Momma!....”
“Aku sih tidak terbayang betapa bau tubuh mereka itu...” Timpal Rery. “Terlebih malunya”
Valera dan Rery sama-sama cekikikan kemudian, sementara Ann hanya terkekeh kecil saja.
Di permukaan.
Tapi di hati, Ann sedang tersenyum lebar.
‘Ricci melakukan tugasnya dengan baik’ Batin Ann. ‘Tapi tentu saja, itu hanya permulaan’
Dan seringai dingin tersungging tipis di bibir Little Devil itu.
**
Dan akhirnya , Ann punya waktu yang cukup untuk bisa sendirian, dan melakukan hal yang sejak tadi tertunda, yakni menyalakan ponsel rahasianya yang ia beli secara diam-diam, untuk tahu kabar dari Ricci. Selain mengganti tamponnya.
Ann tidak berhenti tersenyum dengan apa yang ia baca dan lihat di ponselnya. Pesan chat dan foto berikut video yang sama dengan yang tadi Ann lihat di ponsel Rery perihal dua murid perempuan yang katanya terperosok di saluran pembuangan sebuah perkebunan anggur, memang hasil karya Ricci dan beberapa temannya untuk mengerjai balik murid yang sudah menganiaya Ann.
Ricci:
‘Sorry, I just make them dirty since I don’t have any confirmation from you about my question of their voice... Even I really love to kick them. But I hold it after I hear something from you my dear little Italian sister .. ( Maaf, aku hanya membuat mereka kotor saja karena aku tidak mendapat konfirmasi darimu atas suara mereka ... Padahal aku akan senang sekali jika bisa menendang mereka. Tapi aku tahan sampai aku mendengar kabar darimu wahai adik kecil Italia ku )....’
Ann:
‘Ya I’m sorry, I don’t expected that I can get that bloody pain in my stomach ( Iya maaf, aku juga tidak berharap mendapat sakit yang menyiksa di perutku )...’
Ricci:
‘No need to be sorry, baby.. ( Tidak perlu meminta maaf, sayang )...’
‘You sick, and I’m sorry to hear that ( Kamu kan sakit, dan aku turut prihatin ) ..’
Ann:
‘Grazie ( Terima kasih )’
Ricci:
‘How about the two? They’re are your upperclass ( Bagaimana dengan dua yang lain? Mereka kakak kelasmu )’
‘And I’m pretty sure that they who pushed and kicked you .. ( Dan aku sangat yakin jika mereka yang mendorong dan menendangmu ) ..’
‘One of them is the cousin of the girl that you told me... ( Satu dari mereka adalah sepupu dari gadis yang kamu bilang padaku )..’
‘Let me handle them if you still sick, is easy peasy lemon squeezy to make that bloody arrogant girls like them an forgetable lesson ( Biar aku saja yang mengurus mereka jika kamu masih sakit, sangat mudah untuk membuat gadis-gadis sialan yang sombong itu pelajaran yang tak terlupakan )’
Ann:
‘I’m sure my big Italian brother could handle it very well ( Aku yakin saudara lelaki Italia besarku dapat mengurus itu dengan baik ) ..’
‘But I won’t to satisfy myself ... ( Tapi aku ingin memuaskan diriku )...’
‘Still, with your help to make it easy of course .... ( Tentu saja, tetap dengan bantuanmu untuk mempermudahnya ) ...’
‘To give them a lesson for disturbing me ( Untuk memberikan mereka pelajaran karena menggangguku )...’
‘With my own hand..... ( Dengan tanganku sendiri ) ..’
'And feet .... ( Juga Kaki ) ...'
**
🍹 BONUS CHAPTER 20 🍹
Ditunggu Bon-chap yang ke 21 ye
Jangan lupa tinggalkan jejak
Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari
__ADS_1