THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 328


__ADS_3

SUPERMASSIVE BLACK HOLE


(Lubang Hitam Yang Sangat Besar)


Part Two ( 2 )


******************************************


Selamat membaca ...


************************


‘ The Playground ‘...


“Berani menyentuh istri gue! ... MATILAH!!! ..”


Nathan mengumpat keras seiring ia lemparkan tabung pemadam api yang masih ia pegang ke tubuh yang sudah


tergolek didekat kakinya akibat perbuatan Nathan yang dirundung amarah itu dengan sangat kuat.


Baru kemudian Nathan beringsut dari tempatnya, kembali mendekat pada sang Daddy. Tersungging senyuman miring di bibir Daddy Jeff yang kemudian merengkuh pundak Nathan dan meremat nya pelan lalu menggoyangkannya sedikit.


Direngkuhnya Nathan yang saat ini sibuk menyeka sedikit keringat di dahinya oleh sang Daddy kandung, sembari mengajaknya berjalan ke tempat Abang dan Papi berada sekarang. Lalu anak buah mereka memberikan sebotol air mineral dan handuk kecil pada Daddy Jeff dan Nathan.


***


Di tempat yang sama, disaat yang hampir bersamaan, di sudut yang berbeda ......


“Tuan Muda Alva.....”


Beberapa orang menyapa dan membungkuk dengan hormat lagi setelah Varen sudah sampai dihadapan mereka.


Setelah sebelumnya beberapa orang yang lain juga melakukan hal yang sama, dengan menyapa Varen seraya


membungkuk hormat pada Tuan Muda Utama di Klan Adjieran Smith.


Namun Varen hanya membalas sapaan orang – orang itu dengan anggukan kepala yang begitu tipis saja.


BRAK!


Varen menendang sebuah kursi yang dianggap menghalangi jalannya.


“Mana dia?”


Varen bertanya pada salah seorang anak buah yang ada didekatnya.


Sembari Varen berjalan mendekati sebuah kabinet aluminium yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Dan Varen melihat – lihat, benda apa saja yang ada di atas kabinet aluminium tersebut.


“Itu Tuan” Anak buah yang ditanya Varen itu menunjuk ke satu arah, dimana seorang pria yang rentang usianya kurang lebih seperti para Dad nya sedang dibawa untuk mendekat padanya, dengan tangan yang terikat kebelakang.


Varen membalikkan tubuhnya, lalu bersandar di kabinet aluminium berukuran rendah dibelakangnya dan mensedekapkan kedua tangannya.


Varen diam saja saat seorang anak buahnya yang berbadan paling besar dari yang lain, yang perawakan ototnya


hampir seperti Poppa itu memaksa pria yang dibawanya untuk berlutut dengan cara yang kasar.


Terdengar pekikan dari pria yang dipaksa berlutut dihadapan Varen, sedikit berjarak darinya yang sedang bersandar itu. Kemudian terdengar pula hardikan dari pria yang sedang berlutut tersebut. “Brengsek kalian semua!”


Orang tersebut menoleh sebentar pada anak buah Varen yang membawanya dengan kasar.


“Kalian ini sebenarnya siapa Hah?! Seenaknya kalian memperlakukan gua seperti ini?! Kalian tahu siapa yang ada di belakang gua?!”


Pria itu merepet, menatap Varen kini. Varen masih diam dalam posisinya.


Papi John kemudian muncul disana, dan berdiri di samping Varen sembari memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.


“Danang Arsyad maksud lo?” Sahut Papi John dengan pertanyaan dan nada ejekan terdengar dari caranya bicara, kemudian terkekeh sinis.


Pria yang berlutut itu nampak terkejut.


“Ka-lian tahu? ..”


Papi John menyungging miring dan berdecih sinis.


“Danang Arsyad berikut keluarganya sudah lenyap”


Pria yang berlutut itu nampak lebih kaget dari sebelumnya.


“Ap-a katamu ..?..”


“Humm..” Papi John manggut – manggut sembari menyeringai.


“Ka-kalian ini sebenarnya siapa..?” Tanya pria itu takut – takut. “Mau kalian apa?! Gue tak merasa pernah berurusan dengan kalian! Apa kalian aparat?! Jika iya, sebaiknya kalian jangan mengganggu gue! Dukungan yang gue punya bukan hanya Danang Arsyad tau?!”


Pria itu merepet dan mengeluarkan ancaman.


“Dengar, jika kalian menginginkan uang dengan cara mencoba menginterogasi gua dengan seperti ini, kalian sebut saja berapa! Gua kasih! Tapi jika kalian tetap bersikeras mencoba menahan gua disini dan memperlakukan..”


Bruakk!!!


“Akhhh!! ..”


Belum selesai pria itu menyelesaikan repetan nya, sebuah pistol semi otomatis melayang dan mengenai kepalanya dengan cukup keras.


“Noisy. ( Berisik )”

__ADS_1


Itu Abang yang berbicara.


“L-o .. bocah! ..”


Pria itu memandangi Varen dengan geram.


“Kalo berani satu lawan satu lo sama gue! An***g! ..”


Varen menyeringai.


“Lepaskan ikatannya Black”


Anak buah Varen dan para Dadnya yang dipanggil Black itupun langsung mengangguk tanpa berpikir lama.


Setelahnya pria yang tadinya berlutut dan terikat itu langsung serta merta berdiri dan hendak menyerang Varen dengan tinjunya.


“Cih!”


Varen berdecih sembari menahan tinju si pria dengan satu tangan kekarnya, yang nampak bersemangat untuk menghajarnya sembari menyeringai.


Pria itu ikut menyeringai, mengayunkan satu tangannya yang lain mengarah ke perut Varen.


Namun sayang ..


DAKK!


Satu kaki Varen yang malahan terayun cepat mendarat dengan sangat keras di perut pria tersebut, hingga pria itu terpental kuat.


Namun pria itu tak putus asa. Ia bangkit meski sempat meringis dan memegangi perutnya.


Pria itu dengan geram mengumpat kasar, mengepalkan kembali tangannya,  hendak menyerang Varen. Namun sekali lagi sayang, Varen sudah dengan cepat berada dihadapannya.


BUG!


BUG!


Dua kepalan tinju Varen dengan cepat melesat sampai di dada dan perut pria itu.


BUG!


BUG!


BUGG!


Dan rentetan pukulan membabi buta Varen daratkan di bawah dada serta wajah pria itu hingga darah segar muncrat dari mulutnya, saat tubuh pria tersebut terdorong kuat setelah pukulan terakhir Varen barusan.


Wajah Varen yang berekspresi datar itu nampak bengis tak berperasaan. Ia tidak sedikitpun memberi jeda lawannya untuk melakukan perlawanan.


Hingga saat pria itu tersungkur yang kepalanya langsung disambar Varen dengan mencengkram kuat rambutnya, dan satu tangan Varen sudah mengepalkan tinjunya untuk kembali memukul wajah pria tersebut.


“A-ampun.. tolong, biarkan gua hidup ..” Pria itu memohon, Varen menahan tangannya. “Aku bahkan masih     memiliki anak yang masih kecil..” Ucap pria tersebut dengan memelas dan melirih.


Mendengar satu kata itu rasanya tenggorokan Varen jadi tercekat kuat.


Hati Varen seolah kembali di remat dengan kuat. Ia melepaskan cekalan tangannya dari kepala pria yang habis ia pukuli itu dengan kasar.


Kemudian Varen menegakkan tubuhnya dan berbalik sembari berjalan pelan. Pria yang habis ia pukuli nampak  sedikit lega. Black sudah kembali menahannya, mengantisipasi jika pria tersebut mencoba menyerang sang Tuan Muda dari belakang.


Pria itu merasa dia akan mendapat pengampunan. Tapi nyatanya ...


“Letakkan dia disana” Varen berbalik dan memiringkan badannya, sambil tangannya menunjuk satu tempat dimana


ada sebuah gantungan besi disana.


Black yang paham maksud keinginan Tuan Mudanya yang sedang menunjuk tanpa menoleh, lalu berjalan menuju


kabinet aluminium tempatnya bersandar tadi dan masih ada Papi yang tetap berdiri disana saat Varen memukuli pria yang bernama Prima itu bergerak dengan sigap menyeret Prima ke tempat yang ditunjuk Varen.


“K-kau mau apa???!! ..”


Prima kembali menjadi tak tenang saat Black menyeretnya.


Alih – alih dilepaskan atau mendapatkan pengampunan yang Prima pikirkan, dirinya kini malah sudah di gantung disebuah alat yang dikaitkan ke kedua tangan berikut kedua kakinya yang sebelumnya di ikat kembali oleh Black dan satu rekannya.


Ia meronta, namun Black memeganginya dengan kuat sementara satu rekannya berdiri disamping Black dengan


posisi siap.


Sementara itu Varen menjatuhkan pandangannya pada barang – barang yang ada di atas kabinet aluminium didepannya.


Varen mengambil beberapa benda dari atas kabinet aluminium tersebut lalu berbalik dan berjalan menuju Prima yang sudah tergantung dan mencoba berontak.


“Anak ...”


Varen sudah berdiri dihadapan Prima dengan menyeringai.


“Apa kau memikirkan anak – anak orang lain yang kalian bunuh lalu kalian ambil organ tubuhnya untuk kalian jual?!”


Grepp!


“Akhhh!”


Prima memekik saat sebuah alat ramping bermata tajam ditusukkan Varen di dada kanannya.


“BA**SATT!!! ..” Prima mengumpat.


“Apa kau pernah melihat dan mencium bau usus mu sendiri?”

__ADS_1


“A-apa ...?”


“Hem?” Ucap Varen datar pada Prima, namun sorot matanya menyiratkan kebengisan.


“L-lo... lo GILA! ..”


“Heh, Gila...”


Varen terkekeh sinis.


Lalu sejenak kemudian Varen tertawa. Tawa yang terdengar mengerikan, namun juga ada kepahitan didalamnya.


Papi merasa prihatin dan pilu juga melihat kondisi mental Abang sekarang. Namun Papi memahami yang Varen


rasakan saat ini. Jadi Papi membiarkan saja, apa yang sedang Varen lakukan hingga ia merasa puas.


“LO DAN KOMPLOTAN LO YANG MEMBUAT GUE GILA!!!”


Grepp!


“AKKKKHHH!”


Pekikan Prima terdengar lebih kencang dan memilukan dari sebelumnya, karena Varen menusukkan satu lagi


benda bermata tajam didekat tempat pertama ia tusukkan benda yang sama jenisnya berikut selembar foto dari salah seorang korban dari komplotan Prima yang sudah diambil beberapa organ tubuhnya.


“MANUSIA GILA!!!...”


Varen hanya menyeringai, lalu berjalan menuju kabinet aluminium sekali lagi”


“Matilah!”


“AKKKKHHH!”


Suara pekikan Prima kembali terdengar.


Dan kini pekikan nya itu mengerikan karena bercampur jeritan yang cukup memulas telinga siapa saja yang mendengarnya.


Bersamaan dengan semburan berwarna kuning kemarahan yang keluar dari sebuah alat berbahan besi yang sudah


dipegang Varen dan kemudia menyemburkan api dalam skala yang cukup untuk membuat kebakaran pada        ruangan.


Dan api itu kini sudah berada ditubuh Prima yang tergantung setelah Black dan satu rekannya menjauh sebelum Varen menyemburkan api dari alat yang dipegangnya itu.


“Itu perasaanku yang rasanya terbakar melihat istriku, dan membunuh anak kami ..” Gumam Varen sembari


menatap tubuh Prima yang terbakar hidup – hidup didepannya. Menatap tubuh yang ia dengan sengaja bakar itu dengan tatapan dingin tanpa perasaan.


Menonton dalam diam, tubuh yang menggelepar dilalap api. Dan mereka yang berada didekat Varen pun mematung saja, tanpa bicara, tanpa bereaksi, termasuk Papi meski sempat terkejut tadi.


Disaat yang sama Nathan dan Daddy Jeff sudah muncul di tempat Varen berada, yang sedang berdiri mematung di


tempatnya, sembari memandangi tubuh yang tergantung dan dilahap api bulat – bulat.


Nathan, spontan membuka mulutnya saja. Saat mata tampannya mendapati pemandangan yang cukup membuatnya bergidik ngeri. Sempat ia lihat tubuh yang terbakar itu menggelepar bak ikan yang dikeluarkan dari air, hingga tubuh tersebut tidak bergerak lagi, dan bau menyengat dari lapisan kulit dan daging yang terbakar sudah mulai menyeruak.


Oh Abang, begitu datar dan dingin wajahnya. Meski sangat terkejut, namun Nathan diam saja. Daddy Jeff dan Papi juga tak bersuara. Hanya sunggingan tipis disudut bibir mereka, melihat salah seorang putra yang sedang berdiri memegang sebuah alat penyemprot api disatu tangannya memandang nanar pada tubuh yang masih dilalap api dihadapan mereka.


Hingga setelah api itu padam dengan sendirinya, menyisakan sebongkah tubuh yang sudah hampir menyerupai


arang dengan kondisi yang menyedihkan. Barulah Abang beringsut dari tempatnya, dan Ammar sudah mengambil alat penyemprot api dari tangan sang Tuan Muda lalu meletakkan kembali ke tempat semula.


“Tak perduli kalian mau apakan jasadnya .. tapi kalian tidak boleh mengembalikan tubuh keparat itu pada keluarganya” Abang, mengeluarkan titahnya.


“Baik, Tuan”


Sahutan dari Black dan anak buah lainnya pun terdengar, yang kemudian langsung memindahkan jasad yang hangus sembilan puluh persen itu dari gantungan.


“Ammar ..”


Suara Varen kembali terdengar.


“Ya, Tuan” Sahut Ammar.


“Mana dua orang yang aku inginkan?” Mata Varen menyorot tajam pada Ammar, meski wajahnya nampak datar.


“Sudah dalam perjalanan Boy”


Papi yang menyahut, sembari merangkul pundak Varen. Varen hanya manggut – manggut tanpa berkata.


‘Entah hal mengerikan apa lagi yang Abang sanggup lakukan untuk meluapkan sakit hatinya atas Drea dan bayi mereka’


****


To be continue ...


Sampai sini apa kalian cukup terhibur wahai reader emak yang berjiwa bar – bar?


Wkwkwkwkwk


Jika belum cukup, emak Cuma mo bilang


Jangan – jangan reader emak psikopat rata - rata??


Awokwkwkwkwk


Noted: Masih ada part 3. Panteng terus, tapi sebelumnya, ya..

__ADS_1


Jempol jangan lupa  jika syuka, engga juga kaga ape - ape. Hehehe


__ADS_2