THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 26


__ADS_3

😜GEGANA 😜 Gelisah, Galau, Merana 😜


 


Selamat membaca ..


********


Bekasi, Jawa-Barat, Indonesia


“Dasar playboy cap kampret!. Ngaku – ngaku udeh insap, kaga punya pacar. Belum nemu yang cocok! Apaan itu mesra – mesraan sama cewek kek begitu.”


Prita menggerutu didalam kamarnya.


“Bagusan juga pinggang gue dari itu cewe yang die rangkul!.”


Prita menghempaskan dirinya diatas kasur.


“Gue kirain lo ngejar – ngejar buat ketemu gue selama hampir dua taon mau nembak gue!.”


Masih menggumam sekaligus menggerutu.


“Awas lo ya kalo gue pacaran sama si Tristan lo ganggu – ganggu, bule koplak!.”


Prita membenamkan wajahnya dalam bantal.


********


Sebulan berlalu. Masing – masing orang sibuk dengan kegiatan masing – masing. Mereka yang tinggal di London sudah kembali ke Kota yang memiliki sebutan The Smoke City itu. Jeff sudah kembali ke Jakarta, karena Andrew dan Reno sudah berada di London. Sekarang Jeff sudah terbiasa untuk bolak – balik ke London dan Indonesia, sejak ia memiliki Nathan dalam hidupnya.


Tak bisa membawa Nathan ikut serta, karena ibunya Nathan belum bisa Jeff miliki. Kalau Jihan sudah menjadi istrinya, mungkin Jeff bisa seperti Andrew atau Reno yang bisa mengikut sertakan Fania dan Ara kemanapun mereka pergi, begitu juga seperti Dewa dan Michelle.


John, sama seperti Jeff juga disibukkan oleh urusan pekerjaan, baik Bisnis keluarga maupun bisnis mereka sendiri akhir - akhir ini.


Dan sudah dua minggu ini John juga berada di luar Indonesia, jadi intensitas pertemuannya dan Prita juga jarang. Sebenarnya John sengaja menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan. Ucapan Prita yang mengatakan kalau rasa dihatinya pada John sudah tidak ada, benar – benar mengganggunya.


“Kayaknya gue harus jaga jarak nih sama Prita.”


Begitu hati John membatin saat ucapan soal ‘rasa’ yang sudah tidak ada dalam hati Prita terucap dari bibir gadis itu sendiri. Ditambah lagi saat itu ia melihat Prita bersama seorang laki – laki yang ia ketahui bernama Tristan di sebuah restoran.


"Tapi gue ga rela juga lihat dia dekat dengan cowok. Ck!."


Yap, tidak hanya Prita yang melihat John di restoran saat gadis itu janjian dengan Tristan. Tapi John juga melihat Prita disana. Bahkan John yang lebih dulu melihat Prita saat ia memasuki restoran tersebut.


Tadinya ia malas untuk masuk, tapi berhubung dia sudah ada janji, dan ada seorang teman wanita yang bersamanya kala itu, mau tidak mau John tetap memasuki restoran dimana Prita berada, pura – pura tak melihat saat ia mulai memasuki restoran.


Flash back on


“Prita?.”


“Hey John!.”


“Hey Win!.”


“Gue baru mau telfon lo. Liat apa sih?.”


“Bukan apa – apa. Yuk ah.”


“Sok mesra lo ah!.” Ucap wanita yang dipanggil Win oleh John saat laki – laki itu meraih pinggangnya.


“Mesra dari Hongkong! Masih bagus gue bersikap Gentle sama lo nih!.”


“Duh ilah begitu aja sewot!.”


“Kalau ga karena gue kasihan sama sepupu gue yang datang jauh – jauh dari Ireland ke Jakarta dan ga punya teman disini plus Cuma seminggu berada disini, gue juga malas nemenin lo, Win.”


“Iya udah ah jangan marah – marah. Lapar nih.”


********


“Stok wanita matang udah habis?. Sekarang doyan daun muda?.”


“Apaan sih lo?!.”


“Itu dari tadi lo melirik gadis yang disana.”


“Ck. Gue kenal lah!.”

__ADS_1


“Kan, doyan daun muda kan lo sekarang?. Mantan partner ranjang lo ya?. Ish! Lo nih anak gadis lo sambat juga.”


“Sembarangan lo! Itu si Pritalah!.”


“Prita....?.”


“Adiknya Fania!.”


“Oh ya?.”


“Yap.”


“Wow, sudah besar ya dia? Terakhir bertemu dia masih abg perasaan.”


“Means that you getting older Miss Wina. ( Artinya lo semakin tua Nona Wina ).” John terkekeh.


“Ye ye ye. Like you’re not. ( Kayak lo engga aja ). Udahlah jangan diganggu, lagi sama cowoknya tuh kayaknya. Mesra gitu sampai pegangan tangan begitu.”


Flash back on


“Cih!.”


John berdecak kesal.


“Katanya ga pacaran!.”


********


Bandung, Jawa-Barat, Indonesia


 


Jeff sudah menginjakkan kakinya di Kota yang memiliki sebutan Paris Van Java itu. Ya apalagi kalau bukan untuk mengunjungi Nathan, sang putra, setelah ia berada selama sebulan di London.


“Hai.” Jeff sudah berada di rumah Jihan.


“Eh, Jeff. Kamu sudah kembali dari London?.” Ucap Jihan seraya bertanya dan Jeff mengangguk.


“Tadi pagi aku sampai Jakarta.”


Jihan mengangguk dan tersenyum. “Silahkan masuk.” Jihan mempersilahkan, gantian Jeff yang mengangguk sambil tersenyum.


“Nathan sedang tidur. Masuk aja ke kamar kalau mau lihat.” Ucap Jihan.


“Nanti sajalah. Aku tunggu Nathan bangun aja kalau begitu. Kalau dia tau aku datang malah terganggu tidurnya nanti.” Sahut Jeff. ‘Takut khilaf kalo lihat ranjang.’


“Kamu mau dibuatkan kopi atau minuman dingin?.”


“Apa saja.” Sahut Jeff. “Oh iya ngomong – ngomong ibu mana?.”


“Ibu sedang ada acara dengan teman – temannya.” Ucap Jihan.


“Oh.”


“Duduk Jeff.” Jihan mempersilahkan Jeff duduk.


“Oh iya, ini ada sedikit oleh – oleh untuk kamu, ibu dan Nathan.”


Jihan menerima paper bag dari tangan Jeff. “Jangan selalu seperti ini Jeff.” Ucap Jihan.


“Apanya yang selalu seperti ini?.”


Jihan sedikit mengangkat beberapa paper bag yang sudah ia pegang. “Ini!.”


“Hanya sedikit oleh – oleh, Ji.”


“Akunya yang ga enak, Jeff.” Ucap Jeff.


Jeff tersenyum jahil. “Jadi gimana biar sama – sama enak?.”


“A-aku buat minum dulu.”


**


“Ji ..”


Jihan sedikit terkejut karena Jeff kini sudah berada dibelakangnya yang sedang membuat minuman.

__ADS_1


“Y-ya ..?.” Jihan nampak gugup, karena Jeff semakin mendekatkan dirinya pada wanita itu.


“Boleh aku tanya sesuatu tentang hal yang sedikit pribadi?.” Tanya Jeff sambil memandang Jihan dengan sedikit serius.


“Soal?.” Jihan menghentikan kegiatannya sejenak sembari menoleh pada Jeff.


“Kamu dan Liam.”


“Ennggg ... kenapa kamu mau tanya soal aku dan Liam?.”


‘Karena aku ingin memastikan langkah.’ Batin Jeff. “Karena hubungan kamu dan Liam, berhubungan dengan hubungan aku dan Nathan.”


Jihan menghentikan lagi kegiatannya membuat minum dan langsung menghadap Jeff.


“Maksudnya?.”


“Apa kamu dan Liam berencana untuk menikah?.”


“Soal itu .. aku....”


“Apa Liam sudah melamar kamu?.”


“Aku belum berpikir untuk menikah.” Ucap Jihan pelan. “Tidak dalam waktu dekat.”


“Seberapa serius hubungan kalian?.” Tanya Jeff.


“Itu terlalu pribadi... Jeff.” Jihan berbalik dan mengambil minuman yang sudah ia buat. “Ini, minum dulu.” Memberikan cangkir berisi kopi yang ia buat pada Jeff.


Jeff meraihnya. Namun langsung meletakkannya lagi. Ia memajukan dirinya lebih dekat pada Jihan. “Aku tanya, seberapa serius hubungan kalian?.” Tanya Jeff sambil menatap Jihan lekat – lekat. “Karena kalau hubungan kalian masih terbilang santai, aku akan masuk diantara kalian ....”


Mata Jihan membelalak. Kaget atas ucapan Jeff, terlebih lagi kini Jeff mengukung nya, hingga Jihan merasa terpojok dipinggiran kitchen set.


Jihan nampak kikuk. “Jeff.. please.. jangan begini.” Jihan merasa tak nyaman dengan posisinya saat ini. Ia bergerak untuk melepaskan diri dari kukungan Jeff.


‘Haish..’ darah Jeff seketika berdesir sedikit karena gerakan Jihan untuk melepaskan diri dari Jeff malah menyentuh benda ‘keramat’ miliknya. Jihan sepertinya juga sadar kalau tubuhnya sedikit menyentuh bagian sensitif Jeff yang amat sangat ngat sensitif. Wkwk.


Jihan nampak langsung membeku ditempatnya, tak berani bergerak lagi.


Jeff menyeringai jahil sambil menatap Jihan yang tampak sangat gugup itu. Karena walau pelan, Jeff mendengar Jihan menarik nafasnya.


Jeff makin lagi memajukan tubuhnya. Kakinya kini benar – benar ia tempatkan persis didepan kedua kaki Jihan yang saat ini mengenakan dress santai. Ah, rasanya pengen ia singkap bawah roknya si Jihan kalau ia adalah Jeff yang terdahulu, atau kalau ia tidak mencintai Jihan saat ini. Tak akan berpikir dua kali untuk membawa Jihan terbang ke awang – awang.


Tapi Jeff yang sekarang sudah berbeda. Sudah insap soal kepuasan bermain dengan wanita. Setidaknya ucapan – ucapan horor si Kajol selalu membayanginya setiap kali dia berpikir untuk melakukan ‘dosa’ ena – ena. Terlebih lagi, seorang Jihan sepertinya sudah menguasai hatinya. Saat ini Jeff hanya ingin menggoda wanita itu, selain memang


sedang mengejarnya juga.


“Jihan Shaquita ..”


Jeff sengaja berbisik ditelinga Jihan, meski suaranya yang terdengar sedikit serak, agak – agak ga tahan.


Namun Jihan sama sekali tak menoleh. Tapi Jeff menyadari ada semburat merah kini nampak diwajah Jihan.


Jeff terus menggoda. Kini kedua tangannya yang tadi berada disisi kanan dan kiri Jihan sudah berpindah ke pinggang wanita itu.


Lagi – lagi kalau soal beginian mah, sibule gila jagonya bikin cewe berdebar – debar. Ia memegang dagu Jihan agar wanita itu menatapnya. “Sepertinya aku mau meminta pertanggung jawaban kamu, Jihan Shaquita...”


Jihan nampak bingung, makin linglung saat Jeff benar – benar merapatkan tubuhnya dengan tubuh Jihan. “J-Jeff ..”


Jeff makin menyeringai jahil.


“Sepertinya kamu paham maksud aku, hem?.”


“Ming-gir Jeff ..” Jihan mencoba mendorong dada Jeff yang akan semakin rapat padanya.


“Gugup, hem?.”


Jeff mencondongkan wajahnya. Hidung mancung nya sudah sedikit menyentuh hidung Jihan. Wajah mereka sudah


teramat dekat, sedikit lagi bibir mereka bertemu. Dan...


“Mamaa!!. Mama dimana?!!.”


Sayang sungguh sayang.... Sepertinya Nathan terbangun.


Gagal dah Babang Jeff ncup ncup...


***

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2