
** Berhubung dua episode sebelumnya yang entah kenapa lama banget reviewnya\, ini nambah lagi dah satu episode. Anggap aje tabungan bacaan yak buat para reader kalau seandainya sistem udah normal. **
#TAK TERDUGA#
**************************
Selamat membaca ....
**************************
Studio dance Prita, Jakarta, Indonesia...
“Kayaknya dia cari lo deh tuh.” Diana berbicara lebih dekat dan pelan pada Prita sambil matanya menatap pada arah luar dinding kaca studio.
“Siapa?.” Tanya Prita sembari menengok mengikuti arah pandangan Diana. ‘Duh ilah ngapain dia kesini. Mati gue kalo Kak John tau.’ Batin Prita. “Ck. Mau apa lagi sih dia?.”
“Paling dia masih penasaran sama lo, cun?. Tapi nyeremin juga sih kayak terobsesi sama lo itu dia. Padahal gue yakin dia juga udah liat video sama foto – foto lo sama Kak John di IG lo itu.”
“Bodo ah. Pura – pura ga ngeh aja.” Ucap Prita lalu langsung melanjutkan kegiatannya dengan anak – anak dance yang juga sudah berada di studio tempat mereka biasa latihan itu. Dan Prita juga mendapat ucapan selamat dari rekan – rekannya yang tau berita tentangnya dari sosmed.
“Ntar kita lama – lamain aje, Cun. Pasti kalo kelamaan dia bosen nunggunya.” Bisik Diana pada Prita dan gadis itu mengangguk lalu melanjutkan sesi latihannya sembari pura – pura tak menyadari kehadiran seorang pria yang nampak sedang menunggunya itu.
‘Gue perlu telpon Kak John ga ya?.’ Batin Prita. ‘Ah entar malah ribut disini.’ Prita memilih memfokuskan dirinya untuk mempelajari koreo dance baru untuk kompetisi.
***
“Hai Prita.”
“Hai Tris.” Prita menjawab sapaan Tristan dan bersikap seperti biasa saja pada pria yang beberapa hari lalu ribut dengan John tersebut. ‘Ish, gue kira dia udah pergi. Taunya ngumpet.’ Batinnya lalu ia saling lirik dengan Diana.
“Aku ingin kita bicara Prita.” Ucap Tristan.
“Soal?.”
“Kita.”
“Kita?. Maksudnya?.”
Prita mengernyitkan dahinya dan Tristan mengangguk.
“Ya kita. Selama ini kamu anggap aku apa?.”
Prita saling tatap sebentar dengan Diana, lalu mengajak Tristan ke area sudut studio dance tempatnya latihan itu.
“Sorry sebelumnya ya Tris, gue ralat kata ‘kita’ yang tadi lo bilang. Kita ga pernah ada hubungan apa – apa dan lo tau itu dengan pasti. Dan selama ini ya gue menganggap lo sebagai teman.” Ucap Prita.
“Setelah semua yang kita jalani? Kamu bilang kita hanya teman?.” Sahut Tristan. “Kita lebih dari sekedar teman Prita. Kamu bahkan ga menolak saat aku menggenggam tangan kamu.” Sambungnya.
Prita sedikit terkekeh tak percaya mendengar ucapan Tristan barusan. “Tris, gue perjelas lagi ya.”
Prita sedikit merasa risih namun ia tetap berbicara pelan pada pria didepannya ini.
“Kita ini ga lebih dari sekedar teman, apa lo ingat lo sendiri kan yang minta kesempatan sama gue dan setiap kali lo tanya lagi dan lagi, jawaban guepun selalu sama. Gue ga ada rasa sama lo. Tapi lo seringnya maksa untuk selalu berada disamping gue. Dan gue menghargai lo, karena selama ini lo baik sama gue. Hanya itu, Tris.”
Prita menghela nafasnya.
“Gue bukannya ga menolak lo pegang tangan gue, tapi setiap kali gue coba atau minta lo untuk melepaskan lo akan melakukannya lagi dan lagi sampe gue sendiri yang cape nolaknya.”
“Prita, aku tau sebenarnya kamu itu punya perasaan sama aku, tapi laki – laki bernama John itu kan yang mengganggu kamu?. Di Cloud, lalu Leon dia selalu memaksa kamu untuk ikut bersama dia.”
‘Wah sarap ini cowo.’ Batin Diana yang memperhatikan gelagat Tristan.
“Kamu itu punya rasa yang sama sama aku, tapi kamu takut pada laki – laki yang bernama John itu, iya kan? Kamu ga perlu takut sama dia kalau kamu memang mencintai aku, aku pasti akan membela kamu.” Dengan tiba – tiba Tristan menangkup wajah Prita yang sontak membuat Prita juga Diana kaget. “Kamu cinta kan sebenarnya sama aku?.”
‘Sakit ni orang.’ Batin Prita dan Diana.
Prita melepaskan cepat tangan Tristan dari pipinya. “Tolong jaga sikap kamu Tristan. Aku sudah berusaha sopan karena aku menghargai kebaikan kamu. Tapi sepertinya kamu sulit paham ya.” Ucap Prita yang menatap tajam pada Tristan kini. “Kamu denger baik – baik....”
Prita menghela nafasnya sejenak.
“Aku, Eng – ga cinta sama kamu Tristan. Ga pernah. Karena satu – satunya pria yang aku cintai adalah pria yang bernama John itu.”
“Aku ga percaya ....”
__ADS_1
“Terserah!. Terserah kamu mau percaya atau engga. Aku dan John akan segera menikah.” Prita menegaskan ucapannya. “Aku minta maaf kalau kamu merasa tersinggung. Tapi aku ga merasa memberikan kamu harapan. Permisi.” Prita buru – buru menarik tangan Diana untuk segera pergi menjauh dari Tristan.
“Aku ga rela Prita.” Ucap Tristan saat Prita meninggalkannya.
Prita menghentikan langkahnya sebentar, namun Diana mengkode agar tak usah lagi Prita layani ucapan Tristan.
“Jangan lo layan.”
Bisik Diana dengan serius. Prita mengangguk pelan dan meneruskan langkahnya bersama Diana.
‘Nyeremin banget itu cowo.’ Batin Diana yang sempat melirik pada Tristan sebelum mereka benar – benar menjauhi
pria yang sedang memandang kepergian Prita itu dengan tatapan yang tampak menusuk.
****
“Na, gue mampir ke apartemen lo dulu ya?.”
Prita sudah melajukan mobilnya keluar dari parkiran gedung tempat studi dancenya berada.
“Iya.” Sahut Diana singkat.
“Kenapa sih lo?.” Tanya Prita yang merasa sepertinya Diana sedang memikirkan sesuatu.
“Gue keingetan si Tristan.” Jawab Diana.
Prita mendengus. “Ga usah bahas dia bisa ga?.” Ucap Prita.
“Gue juga males bahas dia sebenernya. Tapi sikap dia tadi itu loh, nyeremin.” Sahut Diana.
Prita menoleh sebentar. “Iya sih. Gue juga merasa begitu. Gue pikir gue doang yang mikir begitu.” Timpal Prita.
“Lo hati – hati deh cun.”
Prita manggut – manggut.
“Lo mending cerita deh sama Kak John soal yang tadi.”
“Abis gue rada ngeri sama si Tristan tadi. Gue khawatir aja sama lo.”
“Dia pasti marah. Tapi apa iya dia bakal tega jahatin gue?. Engga mungkin kayaknya. Kalo gue cerita sama Kak John, ga selesai – selesai. Males tau ga urusan begini. Gue minta Kak John ga usah naroin gue pengawal aje sampe mohon – mohon. Saking gue pengen hidup normal. Kalo dia tau si Tristan kayak gitu tadi kegue, gila lo, yang ada nasib gue sama kayak kakak gue yang kemana mana diikutin kingkong.”
Diana terkekeh.
“Sembarangan lo. Orang pengawal yang waktu itu kita gep aja ganteng bingits, lo bilang kingkong!.”
Prita pun terkekeh sambil melanjutkan mengendarai mobilnya untuk sampai ke apartemen Diana.
***
“Lo ga nginep aja disini? Atau minta Kak John jemput lo?.” Ucap Diana saat Prita akan meninggalkan apartemennya.
Prita menggeleng. “Kakak gue lagi disini. Sayang – sayang waktu gue kalo ga puas – puasin maen sama dia selama dia di Indo. Kalo Kak John lagi repot banget sama kerjaan. Gue ga tega ganggu dia.”
“Hm .... ya udah hati – hati lo.” Ucap Diana. “Gue ga anter kebawah ga apa – apa?.”
“Ya ilah takut beut gue hilang!.” Sahut Prita dan kedua gadis itupun terkekeh.
“Terus lo balik kemana ini?. Ke rumah keluarga kakak lo yang yang gedong bingits itu apa ke Bekasi?.”
“Bekasi. Naro mobil. Sekalian gue mau urus apartemen yang di Bandung. Si Amel kan mau nikah, jadi itu apartemen kosong. Nah rencananya gue mau sewain itu apartemen. Mayan dah wat beli cilok.”
“Jual aja si! Ribet banget lu!.”
“Ya dah nanti gue diskusiin lagi sama kakak gue.” Ucap Prita. “Ya udeh gue balik ya?. Tenkyu.”
“Gue yang makasih udah dianterin. Hati – hati lo.” Sahut Diana.
Prita mengangkat jempolnya. “Siip!.”
**
“🎶🎶🎶Ijinkan ku lukis senja, mengukir namamu disana....🎶🎶🎶”
__ADS_1
Prita bersenandung saat menuju mobilnya. Sambil mengingat seseorang yang sekarang nya seringnya membuat hati Prita berbunga – bunga. Dan orang itu baru saja mengirimkan pesan padanya.
John:
‘Kamu dimana?.’
Prita :
‘Mau otw rumah Bekasi.’
John:
‘Hati – hati saat mengemudi. Sorry aku ga telpon. Sedang makan.’
Prita :
‘Iya Om.😁’
John:
‘Fix nanti aku cium bertubi – tubi.’
Prita :
‘Dasar om – om mesum.’
‘Dah lanjutin makannya. Aku udah mau jalan.’
John:
‘Ya sudah hati – hati. Besok pagi aku kesana.’
Prita :
‘Oke Om.’
**
“Sepi amat ini parkiran.” Gumam Prita sambil melihat sekeliling sebentar lalu melangkah menuju mobilnya.
“Nona Prita.” Suara seseorang membuat Prita yang hampir membuka pintu mobilnya itu menoleh.
“Ya?.” Sahut Prita menoleh. Dan seorang pria berseragam safari sudah berada didekatnya.
“Tuan John mengirim saya untuk menjemput Nona.” Ucap pria yang menggunakan setelan safari tersebut.
Prita mengernyitkan dahinya. ‘Kak John?. barusan di WA ga bilang ngirim orang mau jemput gue?.’ Batin Prita sambil memperhatikan pria berpakaian safari tersebut. “Kok saya ga tau ya kalau Tuan John mengirim orang untuk menjemput saya?.”
“Emm .. Tuan John bilang ini kejutan, Nona.”
“Kejutan?.” Prita sedikit heran. ‘Aneh’.
“Mari Nona.” Pria berseragam safari itu menggerakkan tangannya menunjuk Prita pada satu mobil yang asing untuknya.
‘Perasaan gue kita orang ga ada yang pake mobil begitu. Bahkan para bodyguard seinget gue mobilnya juga ga
ada yang begitu.’ Batin Prita yang belum beranjak dari tempatnya. “Atau engga gini aja deh, saya ngikutin mobil bapak aja deh gimana?. Soalnya saya kan bawa mobil?.”
“Berikan saja kunci mobilnya pada saya.”
Prita tampak berpikir. ‘Gue telpon Kak John deh mendingan kali ya?. Rasanya aneh dah ni orang.’ Prita hendak mengambil ponselnya yang tadi ia selipkan dikantong belakang celana jeansnya.
“Nona, anda sudah membuang waktu saya.”
“Hah?.” Prita keheranan. “Maksud ... mphhhh!.....”
***
To be continue ......
Mohon maaf sekali lagi kalau para reader telat dapet Up episode yah. Othor udah dari pagi up dua episode tapi sepertinya sistem apl ini sedang error.
Loph You All para reader yang blaem - blaem dan terima kasih atas kesabaran dan kesetiaannya menanti kelanjutan The Smith's ini. Uhuy
__ADS_1