
đđđ BERSIAPLAH, BADAI BESAR MUNGKIN AKAN DATANG đđđ **********************
Selamat membaca.....
**********************
Tahun berganti
Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris .......
Selamat satu tahun ini roda kehidupan dalam Keluarga Adjieran Smith berputar pada porosnya. Normal, bahkan
hidup terasa begitu tenang tanpa masalah yang berarti. Masih sering bolak â balik London â Jakarta dan begitupun sebaliknya.
Hidup berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Tak ada pertengkaran dari setiap pasangan, hanya kadang
suka beda pendapat tapi tak sampai menimbulkan pertengkaran. Cinta diantara mereka tetap berada ditempatnya dan mungkin tidak akan pernah berubah.
Saling merasa kalau pasangan mereka, anak â anak dan keluarga adalah segalanya. Para pria di Keluarga
Adjieran Smith tentunya, yang akan rela melakukan apa saja untuk para wanita spesial mereka, para istri yang mereka cintai sepenuh hati, termasuk anak â anak, keluarga, pastinya para orang tua, baik dari pihak mereka ataupun orang tua dari istri â istri mereka.
***
âMata gue kedutan melulu ga kelar â kelar perasaan.â
Fania bergumam sendiri.
âMau nangis kan tandanya itu kalo ga salah?.â
Fania menggelengkan kepalanya.
âJangan sampe ada apa â apa deh ah.â
Fania bergumam lagi,.
âAstagfirullah.â
***
Seminggu kemudian
âMana Dad, Mom?.â Tanya Reno saat dia datang bersama keluarga kecilnya dari rumah pribadi mereka yang berada di London, minus Mama Anye karena beliau ada di Jakarta bersama keluarga yang disana.
Reno, Ara serta Varen langsung menyalami Mom dan memeluknya. Wajah Mom yang nampak sedikit sembab itu
tersenyum pada ketiganya, juga pada cucu keduanya dari Reno dan Ara yang langsung ia gendong.
âR.â
Suara Dad terdengar dan Reno langsung menoleh berikut Varen yang berada didekatnya, sementara Ara sudah
pergi kekamarnya dan Reno bersama Mom serta putri kecil mereka yang kini berusia kurang lebih hampir setahun.
âHow are you Gappa? ( Apa kabar, Gappa?).â Sapa Varen pada kakeknya itu sembari mencium tangan sang kakek
yang kemudian memeluknya. Reno juga menyalimi Dad.
âIâm good, thank you. And how are you, my handsome whiz? ( Aku baik, terima kasih. Dan bagaimana kabarmu
sendiri, jagoanku yang tampan? ).â
Dad membawa Varen untuk duduk bersamanya, sembari mengacak gemas rambut cucu pertamanya itu.
âIâm good and healthy ( Aku baik dan sehat ).â Sahut Varen yang membuat Reno dan Dad tersenyum. âWhereâs
Poppa, Momma and my angel? ( Dimana Poppa, Momma dan malaikatku? ).â Tanya anak berusia kurang lebih sepuluh tahun itu pada kakeknya.
Dia menanyakan Andrew, Fania serta Andrea yang belum dilihatnya.
âIn your Poppa and Mommaâs room, I guess ( Dikamar Poppa dan Momma mu, sepertinya ).â
âDad, Iâll go to Poppa and Mommaâs Room, okay? ( Dad, aku ke kamar Poppa dan Momma dulu, ya? ).â Ucap
Varen pada Daddynya yang langsung mengangguk.
Varen pun langsung beranjak untuk menyambangi tiga orang yang ia tanyakan tadi dikamar Andrew dan Fania.
**
âAda apa, Dad?. Seperti ada yang mengganggu pikiranmu?.â
âYou were right, R ( Kamu benar, R ).â
âAda apa?.â Tanya Andrew yang kini sudah bergabung bersama Dad dan Reno, sementara Fania sedang bersama
Varen dan Andrea dikamar mereka.
âLater I tell you guys, after I have a truly clear confirmation of information that I have been received (
Nanti aku akan memberitahu kalian, setelah aku mendapat konfirmasi yang benar - benar jelas dari  informasi yang aku terima ).â
Andrew dan Reno saling tatap namun keduanya tak bertanya lagi pada Dad.
**
âIbu kamu jadinya sama siapa di Jakarta, Jihan?.â
__ADS_1
âIbu menginap di rumah Papa Herman dan Mama Bela sampai kami kembali ke Jakarta, Mom. Iseng katanya sendirian di rumah utama.â
Mom manggut â manggut.
âMom rasa besok anak â anak tidak perlu ikut ke acara pemakaman Keenan, biar mereka disini saja bersama
Hera dan Lita. Theresa dan para maid serta pengawal disini juga akan menjaga mereka.â
âIya, anak â anak disini aja. Aku juga ga ikut ke pemakaman, jadi biar aku saja yang menjaga mereka.â Sahut Mama Anye.
Para anggota keluarga yang berkumpul mengiyakan. Fania setengah melamun. âMikirin apa Sweety?.â Ara yang
sadar kalau Fania seperti sedang bengong itu bertanya pada si Kajol.
âEngga Cuma inget aja, beberapa hari ini mata kedutan terus, taunya dapet kabar Uncle Keenan meninggal dunia.â
Anggota keluarganya pun sontak menoleh pada Fania. âHubungan mata lo yang kedutan sama meninggalnya Uncle Keenan memang apa, Jol?.â Tanya John.
âYa firasat lah, mau nangis. Aer mata mau banyak keluarnya.â Jawab Fania. "Ini aja masih suka kedut - kedut mata gue."
âMemang beneran kuat intuisi lo ya Jol, bahkan lo punya firasat soal Uncle Keenan yang meninggal.â Ucap Jeff.
âYah, gue kan cukup baik juga hubungan sama dia.â
âYah, biar bagaimanapun Keenan sudah banyak berjasa pada kita semua dan keluarga ini, begitu juga dengan keluarganya yang setia pada keluarga kita.â Sahut Mom. âItulah kenapa Mom dan Dad meminta kalian semua agar bisa datang menghadiri pemakamannya, sebagai bentuk dukacita dan penghormatan kita semua untuk Keenan.â
âKeenan and his family are part of this family also ( Keenan dan keluarganya adalah bagian dari keluarga
ini juga ).â Dad menambahkan dan keluarganya pun mengangguk.
âHanya saja Mom tidak menyangka kematian Keenan bisa begitu mendadak dan tragis.â Ucap Mom sembari
menyeka airmata dipelupuk nya. âKasihan Marion, yang begitu mencintai Keenan dan dia pasti sangat terpukul dan sangat shock dengan kematian suaminya yang seperti itu.â
âIya sih Mom, dapet berita kematian suami tiba â tiba, ditambah tragis meninggalnya begitu. Istri mana yang ga shock.â
Ucapan Fania membuat para wanita manggut â manggut dan memiliki ketakutan mereka sendiri, terkecuali Mama
Anye, karena dia seorang janda, dari mendiang ayahnya Ara yang meninggal karena sakit.
Dad berdiri dari duduknya. âSons, I need to talk with all of you personally, include you Dewa ( Anak â anak lelakiku,
Aku perlu bicara secara pribadi dengan kalian, termasuk kamu Dewa ).â Ucap Dad. Dan kelima pria muda itu langsung mengangguk serta juga langsung berdiri dari duduknya.
**
âApa ada masalah Mom?.â Tanya Ara setelah para pria pergi bersama Dad mereka ke ruang kerja pribadi Dad.
âEntah, Ra. Mom juga kurang tahu. Hanya Dad terlihat sedikit gelisah saat mendengar kematian Keenan.â
âWajar kali Mom, setahu Prita Uncle Keenan dan Dad kan kawan akrab. Dad pasti terguncang lah Mom, mendengar sahabatnya meninggal.â
âIya pasti. Jangankan Dad, Mom saja sampai detik ini tidak percaya hal buruk itu terjadi pada Keenan, Mom juga shock saat mendengar berita kalau Keenan meninggal setragis itu.â
Para wanita yang berkumpul itu sejenak terdiam, larut dalam pikiran mereka masing â masing.
Juga berdoa dalam hatinya masing â masing agar Tuhan selalu menjaga mereka, suami, anak â anak dan keluarga mereka. Rasanya tak sanggup kalau membayangkan apa yang menimpa Uncle Keenan, menimpa suami mereka.
'Naudzubillah.'
'Coy - Coy.'
'Amit - Amit, jangan sampe.'
**
Hari sudah memasuki malam. Para wanita berada di kamar mereka selepas bercengkrama sebentar bersama keluarga yang sedang berada di London itu.
Sementara para pria masih duduk berkumpul saat para istri mereka pamit untuk duluan pergi ke kamar,
sekaligus menidurkan para krucil. Jihan muncul dari arah tangga. âFan ....â Panggil Jihan yang melihat Fania keluar dari kamar Andrea dan baby Mika.
Fania langsung menghampiri Jihan. âKenapa Ji?.â
âTau Jeff dimana ga?.â Tanya Jihan.
âMemang ga ada di bawah?.â Fania bertanya balik.
âGa ada. Makanya aku naik lagi. Maid juga ga ada yang seliweran jadi aku naik lagi. Baru mau ke kamar kamu, mau nanya.â Sahut Jihan. âAndrew juga ga ada di kamar kalian?.â Tanya Jihan lagi dan Fania menggeleng.
Namun kemudian sepertinya Fania bisa menebak kemana para lelaki itu berpindah tempat. âOh, mungkin mereka di garasi belakang.â Ucap Fania. âCoba gue susulin deh.â Sambungnya. âMau ikut?.â
âBoleh deh.â Sahut Jihan. "Pengen tau juga."
Dan mereka berdua pun langsung melangkahkan kaki mereka menuju ke lantai bawah untuk terus ke garasi pribadi tempat mereka menyimpan koleksi mobil mahal mereka. Fania menghentikan langkah karena melihat salah satu madi mereka baru saja masuk dari arah halaman belakang Mansion dengan mendorong sebuah tray kosong.
âIntan....â Panggil Fania.
Maid yang merupakan orang Indonesia itu langsung menghampiri Fania dengan sigap.
âKamu tahu para pria ada dimana?.â
âPara Tuan Muda ada di tempat latihan menembak Nyonya.â Sahut maid yang bernama Intan itu. âBaru saja saya mengantarkan minuman untuk mereka.â
âSemuanya?.â
âIya Nyonya. Tuan Andrew, Tuan Reno, Tuan Jeff, Tuan John dan Tuan Dewa.â
__ADS_1
âHmmmm, ya sudah. Makasih ya Tan. Kamu istirahat aja sana.â Ucap Fania dengan tersenyum. Intan pun mengangguk.
âIya Nyonya. Saya permisi kalau begitu, Nyonya Fania, Nyonya Jihan.â Sahut Intan dengan sopan.
Fania pun langsung mengajak Jihan ketempat yang dimaksud Intan tadi.
âDirumah ini ada shooting range juga memangnya ya Fania?.â Tanya Jihan yang nampak takjub, karena memang jarang juga dia berada di Mansion yang di London.
âDirumah ini apaan sih yang kaga ada, Ji?.â Sahut Fania. âHelipad aje ada dan gue aja masih suka keder. Bahkan
sampai dengan detik ini aja, kayaknya gue belom bener â bener pernah ngiderin ini rumah. Saking guedenya ini mansion. Baru setengah jalan juga udeh pegel.â Tambah Fania.
Jihan pun terkekeh. âIya juga sih, ga kebayang kalau dari gerbang depan kita jalan kaki masuk kesini setiap hari, kalah betis pemain bola bisa â bisa.â
âEims.â Sahut Fania yang juga terkekeh. âCuman yang gue heran kenape malem â malem gini itu cogans kompak latihan nembak?.â Batinnya yang merasa sedikit heran, meski ga aneh juga sih, mungkin para cogans itu hanya iseng, pikir Fania. Toh dia juga kadang suka latihan menembak karena Andrew sudah sering mengajari dan melatihnya. Bahkan Ara juga jago menembak karena diajari Reno.
Untuk berjaga â jaga, kalau kata Andrew dan Reno.
***
Dor Dor
Suara tembakan yang bersahutan disebuah ruangan kedap suara yang cukup luas itu membuat Fania dan Jihan spontan menutup telinga mereka saat masuk, karena suaranya yang memekakkan telinga.
Fania dan Jihan tidak menggunakan penutup telinga seperti lima pria yang sedang mengacungkan senjata ke arah papan target yang berjarak dihadapan para pria yang masuk dalam kategori cogan itu. Jadi telinga mereka terasa pengeng mendengarkan bunyi senjata yang mengeluarkan pelurunya. Jeff yang lebih dulu melihat Fania dan Jihan langsung membuka penutup telinganya dan menghampiri dua wanita itu.
âMama Bear, kamu kok belum tidur?.â Ucap Jeff seraya bertanya. âNathan sama siapa?.â Tanyanya lagi pada Jihan setelah menegur Fania yang kemudian menghampiri Andrew yang nampak masih serius dan fokus menembaki papan target, termasuk juga Reno. Sementara John dan Dewa pun sudah berhenti.
âNathan sudah tidur dengan Varen di kamar mereka. Tadi aku cari kamu dan berpapasan dengan Fania.â
âHeeeem, ya sudah ayo kita ke kamar. Meskipun kamu sudah pulih, tetap kamu belum boleh terlalu lelah.â Ucap Jeff pada Jihan dan wanita itu pun mengangguk pada suaminya itu.
"Kalau jalan kan bagus juga supaya panggul aku ga kaku." Sahut Jihan pada suami yan tersenyum dan kemudian merangkulnya itu.
Kemudian melangkah pergi untuk keluar dari tempat latihan menembak pribadi mereka itu. John dan Dewa pun turut mengekori mereka untuk menyambangi Prita dan Michelle yang kemungkinan besar berada di kamar mereka masing â masing.
âR, Ndrew, kami duluan! ....â
âNaomy! Duluan ya!.â Timpal Dewa setelah John.
Tiga orang yang disebut namanya tadi hanya mengangguk dan mengangkat tangannya.
âAra sudah tidur, Little F?.â
âKak Ara langsung masuk kamar sih habis menidurkan Varen dan Nathan bareng Jihan tadi. Ga tau udah tidur apa belom.â
âHeem, ya sudah kalau begitu. Gue duluan ya.â
âIya kak.â
Fania menyahut dan Andrew lagi â lagi hanya mengangguk. âAku kira kamu sudah tidur, Heart.â Ucap Andrew sambil menangkup wajah Fania dan mengecup bibirnya.
âSelimut hidup aku ga ada, mana bisa tidur.â Goda Fania dan Andrew terkekeh.
âYa sudah, ayo aku selimuti dengan kehangatan.â
Gantian Fania yang terkekeh lalu berjalan berdampingan saling merangkul pinggang dengan mesra.
âD.â
âHeemmm?.â
âApa kalian sedang ada masalah?.â Tanya Fania pada Andrew, karena Fania menilai, wajah Dad nampak serius ketika meminta anak â anak lelakinya berbicara secara pribadi tadi.
***
Flash back...
âAda masalah apa, Dad?.â (Â Andrew yang bertanya ).
âAbout Keenanâs death ( Tentang kematian Keenan ).â ( Dad menyahut sambil memberikan beberapa berkas pada putra â putranya yang kemudian mengernyitkan dahi mereka bersamaan ).
âCartel? ( Kartel? ). Uncle Keenan terlibat dengan jaringan kartel?.â ( Reno gantian bertanya ).
âNo, Keenan was clean (Â Tidak, Keenan itu bersih ).â ( Dad menyahut lagi ).
âWho is he? ( Siapa dia? ). Sepertinya aku familiar dengan wajah laki - laki ini.â ( John bertanya sambil menunjukkan sebuah foto ).
âYou guys, take a note to his face very well ( Kalian coba perhatikan wajahnya baik â baik ).â ( Ucap Dad ).
âWait ...Isnât he Jaeden grandson?... ( Tunggu .. Bukankah dia ini cucunya Jaeden?.. )
âIndeed! ( Benar! ). Jaedenâs Grandson. You guys cousin ( Cucunya Jaeden. Sepupu kalian ).â
âTetapi seharusnya dia sudah mati saat kita menyerang Georgii, ketika kita tahu dia yang membantu Georgii saat pria itu dan gerombolannya mencoba menghancurkan dan membunuh kita waktu itu, kan?.â
âWell, heâs alive ( Yah ternyata dia masih hidup ).â
âSo you want to say that Uncle Keenanâs death is have connection with him? ( Jadi apa Dad mau bilang kalau kematian Uncle Keenan ada hubungannya dengan dia? ).â
âIâm afraid.... Keenanâs death is a message for us ( Aku khawatir... kematian Keenan adalah pesan untuk kita ).
âIf that so.. ( Jika begitu.. )....â
âWe must be prepared ( Kita harus bersiap ). A Big Storm, might come to our family ( Badai besar, mungkin akan datang pada keluarga kita ).â
***
__ADS_1
To be continue .....