THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 115


__ADS_3

🌀🌀🌀 BERSIAPLAH, BADAI BESAR MUNGKIN AKAN DATANG 🌀🌀🌀 **********************


Selamat membaca.....


**********************


Tahun berganti


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris .......


Selamat satu tahun ini roda kehidupan dalam Keluarga Adjieran Smith berputar pada porosnya. Normal, bahkan


hidup terasa begitu tenang tanpa masalah yang berarti. Masih sering bolak – balik London – Jakarta dan begitupun sebaliknya.


Hidup berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Tak ada pertengkaran dari setiap pasangan, hanya kadang


suka beda pendapat tapi tak sampai menimbulkan pertengkaran. Cinta diantara mereka tetap berada ditempatnya dan mungkin tidak akan pernah berubah.


Saling merasa kalau pasangan mereka, anak – anak dan keluarga adalah segalanya. Para pria di Keluarga


Adjieran Smith tentunya, yang akan rela melakukan apa saja untuk para wanita spesial mereka, para istri yang mereka cintai sepenuh hati, termasuk anak – anak, keluarga, pastinya para orang tua, baik dari pihak mereka ataupun orang tua dari istri – istri mereka.


***


“Mata gue kedutan melulu ga kelar – kelar perasaan.”


Fania bergumam sendiri.


“Mau nangis kan tandanya itu kalo ga salah?.”


Fania menggelengkan kepalanya.


“Jangan sampe ada apa – apa deh ah.”


Fania bergumam lagi,.


“Astagfirullah.”


***


Seminggu kemudian


“Mana Dad, Mom?.” Tanya Reno saat dia datang bersama keluarga kecilnya dari rumah pribadi mereka yang berada di London, minus Mama Anye karena beliau ada di Jakarta bersama keluarga yang disana.


Reno, Ara serta Varen langsung menyalami Mom dan memeluknya. Wajah Mom yang nampak sedikit sembab itu


tersenyum pada ketiganya, juga pada cucu keduanya dari Reno dan Ara yang langsung ia gendong.


“R.”


Suara Dad terdengar dan Reno langsung menoleh berikut Varen yang berada didekatnya, sementara Ara sudah


pergi kekamarnya dan Reno bersama Mom serta putri kecil mereka yang kini berusia kurang lebih hampir setahun.


“How are you Gappa? ( Apa kabar, Gappa?).” Sapa Varen pada kakeknya itu sembari mencium tangan sang kakek


yang kemudian memeluknya. Reno juga menyalimi Dad.


“I’m good, thank you. And how are you, my handsome whiz? ( Aku baik, terima kasih. Dan bagaimana kabarmu


sendiri, jagoanku yang tampan? ).”


Dad membawa Varen untuk duduk bersamanya, sembari mengacak gemas rambut cucu pertamanya itu.


“I’m good and healthy ( Aku baik dan sehat ).” Sahut Varen yang membuat Reno dan Dad tersenyum. “Where’s


Poppa, Momma and my angel? ( Dimana Poppa, Momma dan malaikatku? ).” Tanya anak berusia kurang lebih sepuluh tahun itu pada kakeknya.


Dia menanyakan Andrew, Fania serta Andrea yang belum dilihatnya.


“In your Poppa and Momma’s room, I guess ( Dikamar Poppa dan Momma mu, sepertinya ).”


“Dad, I’ll go to Poppa and Momma’s Room, okay? ( Dad, aku ke kamar Poppa dan Momma dulu, ya? ).” Ucap


Varen pada Daddynya yang langsung mengangguk.


Varen pun langsung beranjak untuk menyambangi tiga orang yang ia tanyakan tadi dikamar Andrew dan Fania.


**


“Ada apa, Dad?. Seperti ada yang mengganggu pikiranmu?.”


“You were right, R ( Kamu benar, R ).”


“Ada apa?.” Tanya Andrew yang kini sudah bergabung bersama Dad dan Reno, sementara Fania sedang bersama


Varen dan Andrea dikamar mereka.


“Later I tell you guys, after I have a truly clear confirmation of information that I have been received (


Nanti aku akan memberitahu kalian, setelah aku mendapat konfirmasi yang benar - benar jelas dari  informasi yang aku terima ).”


Andrew dan Reno saling tatap namun keduanya tak bertanya lagi pada Dad.


**


“Ibu kamu jadinya sama siapa di Jakarta, Jihan?.”

__ADS_1


“Ibu menginap di rumah Papa Herman dan Mama Bela sampai kami kembali ke Jakarta, Mom. Iseng katanya sendirian di rumah utama.”


Mom manggut – manggut.


“Mom rasa besok anak – anak tidak perlu ikut ke acara pemakaman Keenan, biar mereka disini saja bersama


Hera dan Lita. Theresa dan para maid serta pengawal disini juga akan menjaga mereka.”


“Iya, anak – anak disini aja. Aku juga ga ikut ke pemakaman, jadi biar aku saja yang menjaga mereka.” Sahut Mama Anye.


Para anggota keluarga yang berkumpul mengiyakan. Fania setengah melamun. “Mikirin apa Sweety?.” Ara yang


sadar kalau Fania seperti sedang bengong itu bertanya pada si Kajol.


“Engga Cuma inget aja, beberapa hari ini mata kedutan terus, taunya dapet kabar Uncle Keenan meninggal dunia.”


Anggota keluarganya pun sontak menoleh pada Fania. “Hubungan mata lo yang kedutan sama meninggalnya Uncle Keenan memang apa, Jol?.” Tanya John.


“Ya firasat lah, mau nangis. Aer mata mau banyak keluarnya.” Jawab Fania. "Ini aja masih suka kedut - kedut mata gue."


“Memang beneran kuat intuisi lo ya Jol, bahkan lo punya firasat soal Uncle Keenan yang meninggal.” Ucap Jeff.


“Yah, gue kan cukup baik juga hubungan sama dia.”


“Yah, biar bagaimanapun Keenan sudah banyak berjasa pada kita semua dan keluarga ini, begitu juga dengan keluarganya yang setia pada keluarga kita.” Sahut Mom. “Itulah kenapa Mom dan Dad meminta kalian semua agar bisa datang menghadiri pemakamannya, sebagai bentuk dukacita dan penghormatan kita semua untuk Keenan.”


“Keenan and his family are part of this family also ( Keenan dan keluarganya adalah bagian dari keluarga


ini juga ).” Dad menambahkan dan keluarganya pun mengangguk.


“Hanya saja Mom tidak menyangka kematian Keenan bisa begitu mendadak dan tragis.” Ucap Mom sembari


menyeka airmata dipelupuk nya. “Kasihan Marion, yang begitu mencintai Keenan dan dia pasti sangat terpukul dan sangat shock dengan kematian suaminya yang seperti itu.”


“Iya sih Mom, dapet berita kematian suami tiba – tiba, ditambah tragis meninggalnya begitu. Istri mana yang ga shock.”


Ucapan Fania membuat para wanita manggut – manggut dan memiliki ketakutan mereka sendiri, terkecuali Mama


Anye, karena dia seorang janda, dari mendiang ayahnya Ara yang meninggal karena sakit.


Dad berdiri dari duduknya. “Sons, I need to talk with all of you personally, include you Dewa ( Anak – anak lelakiku,


Aku perlu bicara secara pribadi dengan kalian, termasuk kamu Dewa ).” Ucap Dad. Dan kelima pria muda itu langsung mengangguk serta juga langsung berdiri dari duduknya.


**


“Apa ada masalah Mom?.” Tanya Ara setelah para pria pergi bersama Dad mereka ke ruang kerja pribadi Dad.


“Entah, Ra. Mom juga kurang tahu. Hanya Dad terlihat sedikit gelisah saat mendengar kematian Keenan.”


“Wajar kali Mom, setahu Prita Uncle Keenan dan Dad kan kawan akrab. Dad pasti terguncang lah Mom, mendengar sahabatnya meninggal.”


“Iya pasti. Jangankan Dad, Mom saja sampai detik ini tidak percaya hal buruk itu terjadi pada Keenan, Mom juga shock saat mendengar berita kalau Keenan meninggal setragis itu.”


Para wanita yang berkumpul itu sejenak terdiam, larut dalam pikiran mereka masing – masing.


Juga berdoa dalam hatinya masing – masing agar Tuhan selalu menjaga mereka, suami, anak – anak dan keluarga mereka. Rasanya tak sanggup kalau membayangkan apa yang menimpa Uncle Keenan, menimpa suami mereka.


'Naudzubillah.'


'Coy - Coy.'


'Amit - Amit, jangan sampe.'


**


Hari sudah memasuki malam. Para wanita berada di kamar mereka selepas bercengkrama sebentar bersama keluarga yang sedang berada di London itu.


Sementara para pria masih duduk berkumpul saat para istri mereka pamit untuk duluan pergi ke kamar,


sekaligus menidurkan para krucil. Jihan muncul dari arah tangga. “Fan ....” Panggil Jihan yang melihat Fania keluar dari kamar Andrea dan baby Mika.


Fania langsung menghampiri Jihan. “Kenapa Ji?.”


“Tau Jeff dimana ga?.” Tanya Jihan.


“Memang ga ada di bawah?.” Fania bertanya balik.


“Ga ada. Makanya aku naik lagi. Maid juga ga ada yang seliweran jadi aku naik lagi. Baru mau ke kamar kamu, mau nanya.” Sahut Jihan. “Andrew juga ga ada di kamar kalian?.” Tanya Jihan lagi dan Fania menggeleng.


Namun kemudian sepertinya Fania bisa menebak kemana para lelaki itu berpindah tempat. “Oh, mungkin mereka di garasi belakang.” Ucap Fania. “Coba gue susulin deh.” Sambungnya. “Mau ikut?.”


“Boleh deh.” Sahut Jihan. "Pengen tau juga."


Dan mereka berdua pun langsung melangkahkan kaki mereka menuju ke lantai bawah untuk terus ke garasi pribadi tempat mereka menyimpan koleksi mobil mahal mereka. Fania menghentikan langkah karena melihat salah satu madi mereka baru saja masuk dari arah halaman belakang Mansion dengan mendorong sebuah tray kosong.


“Intan....” Panggil Fania.


Maid yang merupakan orang Indonesia itu langsung menghampiri Fania dengan sigap.


“Kamu tahu para pria ada dimana?.”


“Para Tuan Muda ada di tempat latihan menembak Nyonya.” Sahut maid yang bernama Intan itu. “Baru saja saya mengantarkan minuman untuk mereka.”


“Semuanya?.”


“Iya Nyonya. Tuan Andrew, Tuan Reno, Tuan Jeff, Tuan John dan Tuan Dewa.”

__ADS_1


“Hmmmm, ya sudah. Makasih ya Tan. Kamu istirahat aja sana.” Ucap Fania dengan tersenyum. Intan pun mengangguk.


“Iya Nyonya. Saya permisi kalau begitu, Nyonya Fania, Nyonya Jihan.” Sahut Intan dengan sopan.


Fania pun langsung mengajak Jihan ketempat yang dimaksud Intan tadi.


“Dirumah ini ada shooting range juga memangnya ya Fania?.” Tanya Jihan yang nampak takjub, karena memang jarang juga dia berada di Mansion yang di London.


“Dirumah ini apaan sih yang kaga ada, Ji?.” Sahut Fania. “Helipad aje ada dan gue aja masih suka keder. Bahkan


sampai dengan detik ini aja, kayaknya gue belom bener – bener pernah ngiderin ini rumah. Saking guedenya ini mansion. Baru setengah jalan juga udeh pegel.” Tambah Fania.


Jihan pun terkekeh. “Iya juga sih, ga kebayang kalau dari gerbang depan kita jalan kaki masuk kesini setiap hari, kalah betis pemain bola bisa – bisa.”


“Eims.” Sahut Fania yang juga terkekeh. ‘Cuman yang gue heran kenape malem – malem gini itu cogans kompak latihan nembak?.’ Batinnya yang merasa sedikit heran, meski ga aneh juga sih, mungkin para cogans itu hanya iseng, pikir Fania. Toh dia juga kadang suka latihan menembak karena Andrew sudah sering mengajari dan melatihnya. Bahkan Ara juga jago menembak karena diajari Reno.


Untuk berjaga – jaga, kalau kata Andrew dan Reno.


***


Dor Dor


Suara tembakan yang bersahutan disebuah ruangan kedap suara yang cukup luas itu membuat Fania dan Jihan spontan menutup telinga mereka saat masuk, karena suaranya yang memekakkan telinga.


Fania dan Jihan tidak menggunakan penutup telinga seperti lima pria yang sedang mengacungkan senjata ke arah papan target yang berjarak dihadapan para pria yang masuk dalam kategori cogan itu. Jadi telinga mereka terasa pengeng mendengarkan bunyi senjata yang mengeluarkan pelurunya. Jeff yang lebih dulu melihat Fania dan Jihan langsung membuka penutup telinganya dan menghampiri dua wanita itu.


“Mama Bear, kamu kok belum tidur?.” Ucap Jeff seraya bertanya. “Nathan sama siapa?.” Tanyanya lagi pada Jihan setelah menegur Fania yang kemudian menghampiri Andrew yang nampak masih serius dan fokus menembaki papan target, termasuk juga Reno. Sementara John dan Dewa pun sudah berhenti.


“Nathan sudah tidur dengan Varen di kamar mereka. Tadi aku cari kamu dan berpapasan dengan Fania.”


“Heeeem, ya sudah ayo kita ke kamar. Meskipun kamu sudah pulih, tetap kamu belum boleh terlalu lelah.” Ucap Jeff pada Jihan dan wanita itu pun mengangguk pada suaminya itu.


"Kalau jalan kan bagus juga supaya panggul aku ga kaku." Sahut Jihan pada suami yan tersenyum dan kemudian merangkulnya itu.


Kemudian melangkah pergi untuk keluar dari tempat latihan menembak pribadi mereka itu. John dan Dewa pun turut mengekori mereka untuk menyambangi Prita dan Michelle yang kemungkinan besar berada di kamar mereka masing – masing.


“R, Ndrew, kami duluan! ....”


“Naomy! Duluan ya!.” Timpal Dewa setelah John.


Tiga orang yang disebut namanya tadi hanya mengangguk dan mengangkat tangannya.


“Ara sudah tidur, Little F?.”


“Kak Ara langsung masuk kamar sih habis menidurkan Varen dan Nathan bareng Jihan tadi. Ga tau udah tidur apa belom.”


“Heem, ya sudah kalau begitu. Gue duluan ya.”


“Iya kak.”


Fania menyahut dan Andrew lagi – lagi hanya mengangguk. “Aku kira kamu sudah tidur, Heart.” Ucap Andrew sambil menangkup wajah Fania dan mengecup bibirnya.


“Selimut hidup aku ga ada, mana bisa tidur.” Goda Fania dan Andrew terkekeh.


“Ya sudah, ayo aku selimuti dengan kehangatan.”


Gantian Fania yang terkekeh lalu berjalan berdampingan saling merangkul pinggang dengan mesra.


“D.”


“Heemmm?.”


“Apa kalian sedang ada masalah?.” Tanya Fania pada Andrew, karena Fania menilai, wajah Dad nampak serius ketika meminta anak – anak lelakinya berbicara secara pribadi tadi.


***


Flash back...


“Ada masalah apa, Dad?.” ( Andrew yang bertanya ).


“About Keenan’s death ( Tentang kematian Keenan ).” ( Dad menyahut sambil memberikan beberapa berkas pada putra – putranya yang kemudian mengernyitkan dahi mereka bersamaan ).


“Cartel? ( Kartel? ). Uncle Keenan terlibat dengan jaringan kartel?.” ( Reno gantian bertanya ).


“No, Keenan was clean ( Tidak, Keenan itu bersih ).” ( Dad menyahut lagi ).


“Who is he? ( Siapa dia? ). Sepertinya aku familiar dengan wajah laki - laki ini.” ( John bertanya sambil  menunjukkan sebuah foto ).


“You guys, take a note to his face very well ( Kalian coba perhatikan wajahnya baik – baik ).” ( Ucap Dad ).


“Wait ...Isn’t he Jaeden grandson?... ( Tunggu .. Bukankah dia ini cucunya Jaeden?.. )


“Indeed! ( Benar! ). Jaeden’s Grandson. You guys cousin ( Cucunya Jaeden. Sepupu kalian ).”


“Tetapi seharusnya dia sudah mati saat kita menyerang Georgii, ketika kita tahu dia yang membantu Georgii saat pria itu dan gerombolannya mencoba menghancurkan dan membunuh kita waktu itu, kan?.”


“Well, he’s alive ( Yah ternyata dia masih hidup ).”


“So you want to say that Uncle Keenan’s death is have connection with him? ( Jadi apa Dad mau bilang kalau kematian Uncle Keenan ada hubungannya dengan dia? ).”


“I’m afraid.... Keenan’s death is a message for us ( Aku khawatir... kematian Keenan adalah pesan untuk kita  ).


“If that so.. ( Jika begitu.. )....”


“We must be prepared ( Kita harus bersiap ). A Big Storm, might come to our family ( Badai besar, mungkin akan datang pada keluarga kita ).”


***

__ADS_1


To be continue .....


__ADS_2