THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 126


__ADS_3

🌕WAHAI PURNAMA BERILAH AKU TERANG🌕


    ( Uye beut judulnya kan. Wkwkwkwkwkwk )


*********************************************************


Selamat membaca.....


*********************************************************


 


“VLA!.” Fania dan Michelle benar – benar terkejut melihat keberadaan pria Rusia kenalan baik mereka itu.


“BI!.” Mereka pun terkejut melihat satu pria lagi yang mereka juga kenal baik.


“KAK BRYAN!.” Seru Michelle kencang saking terkejut seperti Fania.


“FA-NIA?! MI-CHELLE?!.”


Vla dan Bryan menyebut nama dua wanita bersamaan dengan kencang sekaligus juga menunjukkan wajah keterkejutan mereka selain raut kecemasan yang juga nampak.


“Oh God.. We thought that we lost you guys ... ( Oh Tuhan .. kami kira kami sudah kehilangan kalian )....” Ucap Vladimir yang langsung memeluk Fania dan Michelle diikuti Bryan.


Mata kedua pria kenalan baik mereka itu nampak berkaca – kaca melihat Fania dan Michelle yang muncul dihadapan mereka sekarang. Pria Asia muda yang sebelumnya ditegur Fania dan Michelle sebagai Paman Li pun tak lama ikut bergabung dalam ruangan dimana keempat orang yang saling terkejut itu berada.


Fania, Michelle, Vla dan Bryan itupun spontan menoleh pada pria Asia tersebut. “You are Paman Li, right? ( Kamu Paman Li, kan? ).”


Pria Asia itu sontak tersenyum pada Fania dan Michelle. “Yes, I am ( Iya betul ).” Ia pun mengulurkan tangannya pada Fania dan Michelle untuk berjabat. “Nice to meet another two angels of Adjieran Smith Family except Mrs. Erna and Ara ( Senang bertemu dengan dua bidadari lainnya dari Keluarga Adjieran Smith selain Nyonya Erna dan Ara ).”


Fania dan Michelle menyambut uluran tangan pria yang disebut Paman Li itu dengan sopan dan tersenyum juga. “Nice to meet you too ( Senang bertemu denganmu juga ).”


“The pleasure is mine ( Aku merasa terhormat ).” Sahut Paman Li ramah. Kemudian ia mempersilahkan Fania dan


Michelle untuk duduk sementara ia keluar lagi dari ruangan tersebut, entah mau apa. Fanie, Michelle, Vla dan Bryan yang sudah duduk bersama itu pun kemudian saling tatap dengan wajah serius.


Vladimir dan Bryan rasanya masih tak percaya melihat Fania dan Michelle saat ini.


“Jadi, kalian ada dimana selama ini?!.”


Bryan bertanya dengan sangat antusias pada Fania dan Michelle. “Panjang ceritanya, Bi.” Sahut Fania.


“Make it short! ( Pendekkan! ).” Vladimir yang sudah paham Bahasa itu pun bersuara juga.


“By the way, pria tadi itu seumuran Kak Andrew kan?.” Ucap Michelle yang dijawab anggukan oleh Vla dan Bryan. “Tapi kenapa dipanggil Paman?.” Ucap Michelle lagi seraya bertanya.


“Itu panggilan ledekan dari Andrew dan R, sekaligus identitas bagi orang – orang yang memiliki hubungan baik dengan keluarga kalian. Yah mereka yang sudah bisa membuktikan kesetiaannya pada keluarga kalian dan sekaligus dapat diandalkan akan memiliki identitasnya sendiri yang diberikan oleh Andrew atau R.”


Fania dan Michelle ber Oh ria.


“Kalian berdua kenapa bisa ada disini juga?.”


“Gue dan Vla langsung datang ke London setelah mendapat kabar tentang apa yang terjadi pada keluarga kalian.” Sahut Bryan pada Michelle.


“How long you guys been here? ( Berapa lama kalian udah berada disini? ).” Tanya Fania. Disaat yang bersamaan Paman Li datang dengan seorang pria lainnya yang membawakan minuman untuk Fania dan Michelle.


“Five days ( Lima hari ).” Sahut Vla. “By the way, apa kalian sudah makan?.” Tanya Vla lagi.


“Sudah.” Sahut Fania dan Michelle.


“Kapan?.”


“Beberapa jam yang lalu.”


“Berarti kalian harus makan sekarang.”


“Later ( Nanti saja ).” Sahut Fania dan Michelle lagi. “We haven’t hungry yet ( Kami belum lapar ).” Vla dan Bryan pun manggut – manggut.


“And, where is Ara and another women? Your kids?. They’re okay right?! ( Lalu, mana Ara dan para wanita lain di keluarga kalian?. Anak – anak kalian?. Mereka baik – baik saja kan?! ).”


“They’re save, Vla ( Mereka aman, Vla ).”


Vladimir, Bryan dan Paman Li nampak menghela nafas mereka menggambarkan kelegaan.

__ADS_1


“Ara lead us here, to find you, Paman Li ( Ara yang mengarahkan kami kesini untuk menemukanmu, Paman Li ).” Ucap Michelle.


Paman Li pun manggut – manggut. “And where is she now?. Why only both of you who come? ( Dan dia dimana sekarang?. Kenapa hanya kalian berdua yang datang? ).” Tanya Paman Li. “Why she didn’t call me? ( Kenapa dia tidak menghubungiku? ).”


“We haven’t our cell phones with us ( Ponsel kami tidak ada pada kami ). It was taken by our men for the safety reason ( Diambil oleh orang – orang kami untuk alasan keamanan ).”


“I see ....”


Paman Li manggut – manggut.


“Tell me where are they? My men will pick them and make sure that they will be save ( Katakan padaku dimana


mereka?. Orang – orangku akan menjemput dan memastikan mereka aman ).” Ucap Paman Li pada Fania dan Michelle dengan wajahnya yang terlihat bersungguh – sungguh.


Wajah pria Asia itu pun nampak cemas.


“You know I almost have a heart attack when the incident happen ( Kalian tahu aku hampir mendapat serangan jantung saat mendengar insiden itu terjadi ).. I thought, we thought ... ( Aku kira, kami kira )....” Tunjuknya pada Vla dan Bryan. “All of you we’re inside that place when the explosions was happened, cause you guys seems


vanished and never showed up in the days after ... ( Kalian semua berada didalam bangunan itu saat terjadi ledakan, karena kalian seperti lenyap dan tak muncul lagi dihari – hari setelahnya..).”


“Long story, but me and another women also our kids and some of our trusted maid was took to the Save


house directly when the incident happened ( Panjang ceritanya, tapi aku dan para wanita yang lain juga anak – anak dan beberapa pelayan terpercaya kami dibawa ke sebuah Rumah Perlindungan saat insiden itu terjadi ).”


“Save House? ( Rumah Perlindungan? ).” Tanya Paman Li, Bryan dan Vla berbarengan. Michelle dan Fania mengangguk.


Michelle dan Fania pun menceritakan segala hal dari sejak mereka berdua dibawa ke Save House hingga mereka bisa keluar berdua sekarang saat ini. “For now, I think better that they stay there ( Untuk sekarang ku pikir lebih baik mereka tetap tinggal disana dulu).” Ucap Fania setelah selesai bercerita.


Paman Li, Bryan dan Vla kembali manggut – manggut. “Ya, you right. Maybe better they’re all stay at that Save House and take them out untill everything are save ( Ya lo benar. Mungkin memang sebaiknya mereka di Rumah Perlindungan dulu dan baru membawa mereka keluar setelah semuanya aman ).”


Fania dan Michelle saling tatap sejenak, hendak bertanya namun takut untuk mendengar jawaban dari pertanyaan mereka nanti. “Hummmm, what about them?. You guys must be known what happened to our men after all this time, right? ( Huuuummm, lalu bagaimana dengan mereka?. Kalian pasti tahu apa yang terjadi pada mereka setelah selama ini, kan? ).”


“It’s been more than a week, but they never come to pick us. Even, we know exactly what was happened... when Uncle Keenan’s house was blown up, we’re there at the front yard, and the rafale was came before the explosions ( Ini sudah lebih dari seminggu, tapi merekan tidak pernah datang untuk menjemput kami. Meski, kami tahu dengan pasti apa ya terjadi.. saat rumah Uncle Keenan meledak, kami sedang berada dihalaman depan, dan terjadi penembakan sebelum adanya ledakan ).”


Michelle bercerita dengan mata yang berkaca – kaca.


“Ezra was took us inside the car, when the rafale happened and ... not quite long we saw Uncle Keenan’s house was blown up... we know they’re still inside.. but untill this second, we still put a hope .. even... the explosions happened twice, in close time ( Ezra menuntun kami ke sebuah mobil, saat penembakan terjadi dan.. tidak berapa lama kami melihat rumah Uncle Keenan meledak .. kami tahu kalau mereka masih berada didalam sana.. tapi sampai detik ini, kami masih menyimpan harapan.. meskipun ... ledakan terjadi dua kali dalam waktu yang dekat ).”


Fania tersenyum getir.


Senyum Fania berubah kekehan pilu hingga Bryan memeluknya karena merasa prihatin pada Fania. Michelle juga


tertunduk sambil menghapus air matanya dan Vla mengusap pelan punggungnya, menyalurkan dukungan morilnya. Sementara Paman Li juga merasa sedih melihat kedua wanita itu atas apa yang terjadi pada sebuah keluarga yang memiliki hubungan baik dengannya.


“Maaf kalau ucapan gue terdengar menyakitkan.” Ucap Bryan setelah Fania dan Michelle kembali tenang, dan dua wanita itu juga menceritakan kalau saat ini mereka punya alat komunikasi portable yang terhubung di telinga Fania dan Michelle, sehingga bisa berhubungan lewat suara dengan mereka yang berada di Save House. “Gue dan Vla


sudah sempat datang ke tempat kejadian langsung saat kami tiba di London. Dan kondisi setelah ledakan dan garis polisi terpasang, sepertinya memang tidak mungkin ada yang selamat.”


Bryan mulai bercerita.


“Even the all of the victim bodies were found, all of the were burned, and  a lot of were not in one piece ( Bahkan semua tubuh korban yang ditemukan, semuanya sudah terbakar, dan banyak juga diantaranya bahkan sudah tidak utuh ). And for that, the forensics found difficulties to recognize them one by one ( Dan untuk itu, tim forensik sulit


untuk mengenali mereka satu persatu ).”


Vladimir melanjutkan. Fania dan Michelle serta Ara yang mendengarkan merasa begitu ngeri, tapi mereka berusaha untuk tetap tenang.


“Luka bakar total membuat forensik kerja ekstra karena akan sulit untuk mengecek DNA. Jadi jasad para korban itu beberapa bisa dikenali dari barang – barang yang masih berada ditubuh mereka.” Sambung Bryan.


“Lalu? Apa ....” Fania dan Michelle menggantung kalimat mereka. Paman Li memberikan Bryan sebuah map besar


putih yang tidak Fania dan Michelle lihat atau sadari keberadaannya yang sudah berada ditangan pria Asia tersebut.


“Ini laporan forensik kepolisian yang bisa kami dapat sampai dengan kemarin.” Ucap Bryan sambil memberikan map putih itu pada Fania dan Michelle.


Rasanya jantung Fania dan Michelle serta Ara berhenti mendengar ucapan Bryan.


Takut dengan hasil laporan forensik didalam map. Takut jika ada nama para pria mereka disana. “Harapan masih ada. Fifty fifty ( 50:50 ). Tidak ada satupun barang – barang dari Andrew, R, Two J, Dewa dan Tuan Anthony myang mereka temukan di laporan para tim forensik” Ucap Bryan lagi. Dan itu membuat Fania, Michelle dan Ara seketika merasa sedikit lega.


Meski hanya lima puluh persen, tetap saja itu sebuah kemungkinan. Berarti ada kemungkinan kalau para pria mereka itu masih hidup.


“But unfortunately, we still have nothing about them. We have been tried to track from every ways, but still nothing untill today ( Tapi sayangnya, kami tidak mendapatkan apapun tentang mereka. Kami sudah mencoba melacak dengan berbagai cara, tapi masih tak dapat apa – apa hingga saat ini ).” Sambung Paman Li. Fania dan Michelle manggut – manggut sambil otak mereka juga berpikir.


Kemudian ketiga pria itu juga menceritakan kalau mereka tahu siapa dalang yang sudah memporak porandakan

__ADS_1


kehidupan seluruh Keluarga Adjieran Smith, serta bagaimana situasi tentang aset keluarga tersebut yang kini sepertinya sudah diambil alih oleh pria yang bernama Joven Zepeto entah bagaimana.


“Jadi gimana Kak Ara?.” Tanya Fania pada Ara di alat komunikasi mereka, setelah lima orang itu selesai berbicara serius dan kini Paman Li menjamu Fania, Michelle, Vladimir dan Bryan dengan makanan dan minuman.


‘Fokus dulu mencari kepastian tentang R dan yang lainnya ya, Sweety.’ Ucap Ara dari sebrang earphone. ‘Lebih baik kalian beristirahat dulu. Aku akan coba mencari petunjuk.’


“Ya udah Kak. Kak Ara juga sebaiknya istirahat dulu. Peluk cium dari gue dan Michelle untuk kalian.” Ucap Fania lalu mematikan alat komunikasinya untuk sementara waktu lalu mencabut dari telinganya yang lumayan terasa sakit akibat sumpalan alat tersebut.


Kemudian lima orang yang sedang duduk bersama itupun melanjutkan untuk memakan makanan yang sudah


disiapkan Paman Li untuk mereka.


“Don’t worry.... all of this, are halal food ( Jangan khawatir ....semua ini, makanan halal ).”


Fania dan Michelle tersenyum mendengar ucapan pria warga keturunan itu.


“Thank you, Paman Li.” Ucap Fania dan Michelle.


***


“Cigar? ( Rokok? ).” Vla menyodorkan sebungkus rokoknya sembari menawarkan pada Fania selepas mereka semua selesai makan. “Atau sudah berhenti?.” Tanya Vla menggunakan Bahasa dengan logat Rusia nya.


“Belum berhenti total, hanya sudah jarang.” Sahut Fania sembari tersenyum. “Tapi untuk saat ini sepertinya aku lumayan membutuhkannya.”


Fania mengambil sebatang rokok dari Vla. “I forget where I put my match ( Aku lupa dimana meletakkan korek ku ).”


“I have ( Aku ada ).” Ucap Fania yang kemudian mengeluarkan sebuah Zippo yang ia temukan di ruang para pria pada Save House dan sengaja membawanya siapa tahu bisa menjadi tambahan petunjuk sekaligus mencari tahu siapa orang berinisialkan LV yang terukir di pemantik besi tersebut.


“That Zippo .. (  Pemantik besi itu.... ).”


“Hum? ..” Fania menoleh pada Paman Li.


“The Zippo you hold .. Ah, how can I forget! ( Pemantik besi yang kamu pegang itu .. Ah, bagaimana aku bisa lupa! ).” Paman Li berseru dan membuat Fania serta Michelle bingung. Vla meminta Zippo yang dipegang Fania itu setelah mendengar ucapan Paman Li.


“This.. ( Ini )...”


“What is it Vla? ( Kenapa Vla? ). Kenapa dengan Zippo itu?.”


“Damned! Why we never think about him?! ( S**l! Kenapa kita sampai melupakan dia?! ).” Seru Vla antusias dan Bryan juga ikut melihat Zippo yang dibawa Fania itu.


“Oh, Faniaaa .. setidaknya kita punya titik terang!.” Bryan ikutan berseru dengan semangat.


“You guys now something connect with that Zippo? ( Kalian tahu sesuatu yang berhubungan dengan pemantik besi itu? ).”


“This is Black Drakes identity ( Ini identitas Black Drake! ).”


“Black Drakes?.” Fania dan Michelle gagal paham.


“Lucca Valentino!.” Seru tiga pria yang ada bersama Fania dan Michelle. Mata Fania seketika membola. Dia ingat inisial yang ada di Zippo tersebut. ’LV’. Fania dan Michelle memandangi tiga pria itu.


“Kalau ada keajaiban yang memungkinkan bahwa Andrew dan yang lainnya selamat, Dia orangnya!. LV! Lucca Valentino!.”


***


To be continue ...


***


Sekilas inpo dari emak, udeh emak bilang ye di beberapa episode sebelumnye kalo konflik yang sekarang entuh Konflik Utama nye ini Keluarga Sultan. Dari judul pan udeh bisa ketauan Noh, “The Smith.” Yang mencakup itu keluarga berarti, apepun bentuknye itu cerita. Jadi kalo rada gereget pengen unyeng – unyeng emak selaku othor si, emak paham dah. Secara panjang perjalanan kek choki – choki konplik nyang sekarang, iye kan?.


Biar kate ini nopel penuh Kehaluan tetep aje semua ada urutannya sodarah – sodarah.


Jadi pesen emak, baca aje kaga pake ribut. Suka lanjut, kaga suka dadah bay – bay. ( Belagu beut authornya kaan?... ) Emang!.


Paham ye sampe sini Wahai Anak – anak emak yang sholehaaaahhhh, Cerdaaaasss, bae hatiiii,  tidak somboong, rajin menabung serta membaca..


Bukan emak kaga terima kritikan, tapi sejauh emak suka bolak – balik koreksi, kayaknya mah semua udah seiring sejalan. Yang namanye konplik utama ye wajar rada panjang. Noh pelem india aje ampe tiga jam.


Yah, sekedar inpo lagi kalo yang namanya bikin cerita, ngurutin plot, itu pan pake mikir, kaga semudah ngupil!.


Begitu kira – kira.


Mohon maap atas dumelan emak.

__ADS_1


Maacih buat waktunya yang udeh baca ini dumelan. Wkwkwkwkwk.


__ADS_2