
CHANGE – PERUBAHAN
#######
Selamat membaca ..
########
“There’s another thing she said to you, when you both talked about your decision to stay in the different room untill Andrea graduated?. ( Ada hal lain yang ia katakan padamu, saat kalian bicara tentang keputusanmu untuk tinggal dikamar yang berbeda sampai Andrea lulus? )”
“Hummm ......”
“What is it?. ( Apa itu? )”
“Dia menyuruhku kembali ke Massachusetts. Aku diusir dengan dengan halus....”
“Hahahaha!....”
Varen mendengus frustasi.
Sementara mereka yang bersamanya itu tergelak karena mendengar Varen bilang dia diusir Andrea secara halus. “She really did that?. ( Dia benar – benar melakukan itu? ). Haha!. Mengusirmu???”
“Ya sudah, Drea paham. Tidak masalah. Begitu yang dia bilang”
Varen bersungut.
“Tapi ujung – ujungnya dia malah bilang, Kalau begitu seperti biasanya sebelum kita menikah. Abang seharusnya berada di Massachusetts kan?.. Kenapa Abang tidak kembali kesana aja, nanti sempatkan diri saat senggang kesini. Seperti biasa. Sampai Drea lulus sekolah”
Para Daddies dan Mommies serta Gamma mesam – mesem sambil cekikikan juga kala Varen bercerita sambil
mengutip ucapan Andrea sebelum mereka turun makan.
“Beritahu saja kapan Abang mau kembali ke Massachussets, nanti Drea bantu packing!. Haahh.. Membuat kepalaku sakit”
“Hahaha!”
**
“Kalau menurut Mami sih ya Bang, udah deh mendingan Abang tinggal sekamar deh sama si Drea” Ucap Mami Prita. “Kalau dia udah bicara begitu sih, menurut Mami nih ya, kamu ga bakal bisa bae – baein dia. Bukan ga bisa sih, agak susah aja kayaknya”
“Benar itu”
Varen merunduk kan tubuhnya sementara Mami Prita bicara dan Poppa menimpali. “Momma kalian kan begitu kalo
udeh ga suka sama sesuatu. Pelan ngomongnya, tapi nyelekit. Kayaknya si Juleha juga begitu tuh. Nanti kalo ga kamu yang dicuekin habis – habisan sama dia, terus dia simpan marahnya dalam hati terus – terusan, nah ujung – ujungnya kejadian dia ngancurin TV atau pukulin orang bisa kejadian lagi”
“Iya betul” Timpal Mommy Ichel.
Varen belum menyahut, ia memainkan dua jari di dagunya kini.
“Udeh sih, tidur aja sekamar memang kenapa? Kan tadi Poppa bilang juga ga masalah kalau kamu mau merubah
keputusan kamu, Bang. Iya kan, Kak?”
“Begitulah”
“Berarti aku mengingkari kata – kataku sendiri”
“Kau sangat pintar tapi sangat bodoh juga!. Kalau untuk membahagiakan wanita yang kau cintai, itu tidak dihitung .. kau kan berjanji untuk selalu membahagiakan putriku, Little Starmu itu. Jika kau merubah keputusan atas dasar itu, bukan berarti kau goyah akan prinsipmu”
“Soal membahagiakan orang yang kita cintai, prinsip itu dikesampingkan dulu, Bang”
Varen masih terdiam, sambil memandangi wajah Poppa dan Daddy Dewa yang barusan bicara padanya. “Sentence, man with a word means nothing ( Kalimat, laki – laki yang memegang kata – katanya tidak berarti ) jika karena itu kau malah mengecewakan wanita yang kau cintai” Ucap Poppa lagi.
Varen kembali manggut – manggut.
“Begitu ya? ...”
Untuk beberapa saat tak ada yang bersuara.
“Baiknya Abang pikirkan lagi aja, soal keputusan Abang soal tinggal di kamar masing – masing sekali lagi, karena itu menyangkut hubungan Abang sama Drea kedepannya” Ucap Mami Prita dan Varen mengangguk.
*****
“Little Star ada mana Dad?” Tanya Varen pada Daddy R setelah dia memisahkan dari Gamma dan para Daddies en Mommies yang tadi mengobrol bersamanya di teras halaman belakang.
“Sudah naik ke kamarnya”
“Baru atau sudah dari tadi?”
“Lumayan”
“Ya sudah aku menyusul Little Star dulu kalau begitu”
“Heeem. Mommy mu masih di belakang?”
“Iya. Mereka masih mengobrol” Sahut Varen. “Aku naik dulu, all!” Pamit Varen pada mereka yang sedang berada bersama Daddy R.
***
“....” Varen membuka pintu kamar Andrea yang untungnya tidak dikunci itu dengan sangat perlahan. Lampu utama sudah dimatikan oleh siempunya kamar dan hanya lampu tidur yang terpasang. Andrea, Varen lihat sudah berbaring diatas ranjangnya. Lengkap dengan penutup mata untuk tidur yang sudah terpasang dimatanya.
Namun sepertinya Andrea belum tidur, karena headset nampak terpasang ditelinganya dan jarinya masih terlihat bergoyang seperti sedang mengikuti irama lagu yang sedang gadis itu dengarkan.
Varen tersenyum ditempat ia memandang Andrea saat ini. Tak lama ia merapatkan kembali pintu kamar Andrea, dan melenggang masuk ke kamarnya.
**
🎶Kini Kutahu Bila Cinta Tak Bertumpu Pada Lidah.. Lidah Bisa Berkata Namun Hati Tak Sejalan.. Kata – Kata Tak Menjamin Cinta..🎶
“Hh ..”
Andrea menghela nafasnya sambil mendengarkan musik disalah satu aplikasi musik dalam ponselnya.
‘Abang kira – kira akan balik Massachusetts ga ya? Setelah ucapan gue tadi?’
Andrea menopangkan satu tangannya diatas mata, meski matanya sudah ia pasangkan penutup mata tidur.
__ADS_1
“Ah masa bodoh!”
Sungut Andrea sambil mematikan musik dalam sebuah aplikasi diponselnya lalu mencabut earphone nya dan meletakkan ponsel dengan earphone yang masih terpasang disana dengan sembarang diranjangnya. Kemudian ia berbaring miring untuk segera tidur, setelah sebelumnya ia menaikkan penutup matanya ke kening lalu memasang alarm di wekernya. Dan menurunkan lagi penutup mata tidurnya setelah ia kembali berbaring, mencari posisi nyaman untuk segera tidur.
***
Baiknya Abang pikirkan lagi aja, soal keputusan Abang soal tinggal di kamar masing – masing sekali lagi, karena itu menyangkut hubungan Abang sama Drea kedepannya.
Varen menatap pantulan dirinya dicermin wastafel kamar mandi dikamar pribadinya. Ia teringat lagi ucapan Mami Prita saat mereka mengobrol tadi bersama Gamma dan beberapa Dads dan Moms nya di teras halaman belakang.
Kau sangat pintar tapi sangat bodoh juga!. Kalau untuk membahagiakan wanita yang kau cintai, itu tidak dihitung .. kau kan berjanji untuk selalu membahagiakan putriku, Little Starmu itu. Jika kau merubah keputusan atas dasar itu, bukan berarti kau goyah akan prinsipmu.
Soal membahagiakan orang yang kita cintai, prinsip itu dikesampingkan dulu, Bang.
Sentence, man with a word means nothing ( Kalimat, laki – laki yang memegang kata – katanya tidak berarti ) jika karena itu kau malah mengecewakan wanita yang kau cintai.
***
Varen menarik nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan.
“Little Star ..”
Varen sudah membuat celah dipintu kamar Andrea, melongok kan kepalanya ke arah ranjang Andrea sambil menyebutkan panggilannya pelan. Gadis itu sudah berbaring menyamping kini.
“Little Star..” Varen memanggil Andrea sekali lagi, lalu berjongkok disisi ranjang Andrea kemana gadis itu menghadap dalam baringnya.
Varen menarik sudut bibirnya sambil membetulkan rambut Andrea yang sepertinya sudah pulas itu.
Varen memandangi wajah cantik gadis tercintanya sejak gadis itu masih bayi dan kini sudah menjadi istrinya. Kemudian Varen berdiri dan berjalan ke satu sisi ranjang yang lainnya. Varen menyibak bed cover disisi ranjang yang dipunggungi Andrea, lalu membaringkan badannya tepat dibelakang Andrea.
Sedikit ragu, namun akhirnya Varen melingkarkan tangan kirinya di perut Andrea, sambil merapatkan kepalanya
mendekat ke kepala Andrea, lalu menghirup harum rambut Andrea dalam – dalam. Sedikit berhati – hati, karena takut tidur Andrea terusik. Dengan mata terpejam, Varen mengecup bahu Andrea yang tertutup piyamanya.
“Nitey Nite, Little Star.. my Little wife.. I love you .. so much ..”
***
Trriinngg.....
“......”
“Hish!”
“......”
“Duuh Reryyy ..”
“......”
“Pasti mimpi seram lagi!”
“......”
“......”
“A – Ab-bang..??”
“Hai .. nyenyak tidurnya?”
“A – Abang .. kok disini ..? se - jak kapan ..?”
“Sejak semalam”
“Hah? ..”
“Yuk bangun, kita Subuh berjamaah”
“......”
“Kamu mau langsung mandi atau mau langsung wudhu?”
“Ma – mau langsung mandi biasanya..”
“Ya sudah”
“......”
“Abang juga terbiasa mandi dulu sebelum subuh. Lagipula juga masih lumayan cukup kalau mau mandi lalu subuh berjamaah”
“......”
“Drea mau mandi duluan?”
“Engg ..”
“Atau mau mandi bareng?”
Gluk!
***
Drea mau mandi duluan?.
Engg ..
Atau mau mandi bareng?.
Canda .. ga usah tegang gitu mukanya. Kalau Drea mau mandi sekarang, ya Abang juga mandi dikamar sebelah,
kan baju Abang masih dikamar Abang.
“Dasar Alvarend rese!”
Andrea bersungut di dalam walk in closetnya, untuk berpakaian lalu turun untuk Subuh berjamaah dan kemudian naik lagi untuk rapih – rapih dan pergi ke sekolah.
Ia teringat kala beberapa waktu lalu Varen menggodanya saat bangun tidur tadi. Namun tak lama, senyuman Andrea melengkung sempurna.
Morning. ( Pagi )
__ADS_1
A – Ab-bang..??
Hai .. nyenyak tidurnya?
A – Abang .. kok disini ..? se - jak kapan ..?
Semalam
‘Iiihhhh .. berarti Abang semalam tidur sambil peluk gue gitu???.. OMGG!! ..’
Andrea gemas sendiri, lalu cengengesan ga jelas.
‘Eh, tunggu – tunggu’ Andrea memastikan sesuatu. ‘Ga sakit?.. kan katanya kalau pertama kali, cewe itu akan merasakan sakit diarea ini?.. tapi ini engga?.. Aaaah.. udah dijajah belum sih gue ini??? ..’
“Little Star ..” Suara panggilan dari luar pintu walk in closet membuyarkan apa yang sedang otak Andrea pikirkan.
“Eh, I-iya..”
“Sudah berpakaian?” Tanya suara diluar. Suara milik Varen.
“I - ya Sudah ..” Ucap Andrea sambil membuka pintu walk in closetnya.
“Sudah berwudhu?”
“Sudah ..”
“Ya sudah yuk, semua orang sedang siap – siap untuk jamaah”
“Iya..”
Setelah Subuh berjamaah, sebagian orang kembali ke kamarnya dan sebagian membantu para asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan sarapan, terutama untuk orang – orang yang akan beraktifitas dipagi hari, dari yang kerja, sekolah dan kuliah, yang mana hanya Nathan seorang yang masih kuliah di keluarga mereka saat ini.
**
“Masih marah sama Abang?” Tanya Varen pada Andrea saat mereka sudah dalam perjalanan menuju sekolah Andrea.
Andrea yang sedang membalas chat dari temannya itu seketika menoleh pada Varen yang kini sedang tersenyum
padanya, lalu menoleh lagi kearah jalanan dibalik kemudi.
Andrea menggeleng pelan. “Memang Drea sedang marah sama Abang?”
“Kan kemarin Drea mengusir Abang?” Ucap Varen sembari menoleh sebentar sambil melempar senyum lalu fokus lagi ke jalanan, karena mobil yang dikemudikannya masih melaju. “Bicara ketus sama Abang, mengacuhkan Abang”
“Drea ga merasa kalau Drea seperti yang Abang bilang barusan. Drea kan bicara kenyataan sesuai yang Abang bicarakan kemarin”
“Ya sudah, Abang minta maaf ya?”
Satu tangan Varen terulur keatas kepala Andrea yang kemudian mengangguk.
“Engg ...” Andrea nampak sedikit ragu untuk bicara.
Varen menoleh sebentar karena ia mendengar gumaman Andrea.
“Ada apa, Little Star?”
“Soal tadi pagi ...”
“Soal yang mana?”
“Itu... soal Abang yang ada di kamar Drea saat Drea bangun tadi ... Abang ... beneran semalam tidur sama Drea ...?”
Varen tersenyum. Lalu menatap Andrea saat lampu lalu lintas sedang merah, setelah ia menari tuas rem tangan
disampingnya. “Kenapa memang?”
“Hanya tanya”
“Iya, benar. Semalam Abang tidur di kamar Drea, diranjang, disamping Drea”
“Hummm ...”
“........”
“Kenapa?” Tanya Andrea.
“Kenapa apanya?”
Andrea menatap Varen sebentar.
“Kenapa Abang tidur dikamar Drea?” Tanya Andrea kemudian. “Bukannya Abang bilang sendiri kita tidur terpisah sampai Drea lulus nanti?”
Andrea lalu memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil disamping kirinya.
“Iya. Memang Abang bilang begitu. Dan rasanya keputusan Abang itu salah”
“........”
“Dan Abang benar – benar minta maaf soal itu. Mengambil keputusan seperti itu tanpa membicarakannya dulu dengan kamu. Seolah Abang tidak menghargai kamu sebagai istri Abang” Ucap Varen sambil menurunkan tuas rem tangan lalu menginjak pedal gas perlahan karena lampu lalu lintas sudah hijau.
“........”
“Maaf ya, Abang sempat egois pada kamu”
Varen mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Andrea, hingga membuat gadis itu spontan menoleh dan Varen
tersenyum padanya.
“Dan sejak semalam dan seterusnya akan seperti itu”
“........”
“Kita akan tinggal di kamar yang sama”
**
To be continue..
Semoga terhibur, seperti biasa.... Enjoy!!!
__ADS_1