THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 295


__ADS_3

ANOTHER FACT


Fakta Lain


Selamat membaca ....


“Wanita bernama Dilara itu keluar dari hotel yang disambangi oleh Nona Muda Andrea dan Kevia berikut Niki, satu jam setelah mereka bertiga pergi dari sana dengan mobil yang berbeda. Dan saya rasa anda perlu melihat siapa orang yang terlihat setelah Dilara pergi .....”


“......”


“Laki – laki yang bersamanya itu diduga kuat adalah tangan kanan Dilara”


“Ini kan....”


“Kenapa Bang?”


“Gadis ini Dad”


“Abang kenal”


“Dia cucu kakek Peter dari Inggrid. Tara”


“Apa dia kekasih dari laki – laki kepercayaan wanita bernama Dilara a.k.a Jessy itu?”


“Atau dia punya hubungan langsung malah dengan si Dilara a.k.a Jessy?”


Varen memperhatikan foto yang ada  Tara didalamnya baik – baik. Mata si Abang kan selalunya jeli pada sesuatu.


“Ada yang janggal sepertinya”


“Apa?”


“Setahu aku, dari pertemuan pertama aku dengan dia hingga sampai aku mendatangi rumah Kakek Peter, cara berpakaian Tara tidak seperti ini ....”


“Apa kau dapat sesuatu dari ini Ammar?” Tanya Daddy Dewa, menoleh pada Ammar.


“Orang yang ku tempatkan untuk mengawasi Dilara mengatakan kalau setelah dari hotel dia hanya datang ke pertemuan dengan kawan – kawan sosialitanya lalu setelahnya kembali lagi ke rumah dan tidak keluar lagi setelah itu”


“Lalu?”


“Kalau untuk gadis bernama Tara dan orang kepercayaan wanita itu orang kita kehilangan jejak mereka saat di persimpangan lampu merah. Dan saat mencoba mengejar, mobil pria tu tidak dapat ditemui lagi”


“Berarti bisa menggali informasi dari sepupu tiri mu itu Bang”


“Hati – hati bicara seperti itu jika ada Dad, Pi. Kita kan tahu sendiri bagaimana Dad pada keluarga Kakek Peter” Sahut Varen pada si Papi yang barusan nyeletuk.


“Okay, okay. My mistake”


“Aku sudah menghubungi orang kita yang berada di Bandung untuk mengawasi rumah Tuan Peter”


“Sudah ada kabar?” Tanya Varen.


“Sampai detik ini belum terlihat tanda – tanda keberadaan gadis bernama Tara itu di rumah Almarhum Tuan Peter”


“Baiklah Ammar, terima kasih. Aku tunggu informasi berikutnya” Ucap Varen.


“Baik Tuan”


****


“Coba kamu hubungi gadis itu Bang. Kamu kan pernah have contact sama dia bukannya waktu mau mengunjungi


almarhum kakek kamu itu?”


“Iya betul Bang. Siapa tahu dari dia, kita bisa mendapatkan informasi tentang wanita yang kita curigai itu?”


Papi dan Papa Bear berucap. Varen manggut – manggut.


“Masih simpan nomor kontaknya dia?”


“Sebentar aku cek dulu” Varen mengecek isi kontak di dalam ponselnya. “Masih ada” Ucap Varen.


“Coba kamu hubungi. Ajak ketemuan. Kamu kan jago memanipulasi orang”


“Heeemmm ...”


**


Varen mematikan ponselnya setelah mencoba menghubungi Tara yang bisa dikatakan memang adalah sepupu tirinya itu karena tidak berhasil menghubungi gadis tersebut. “Sepertinya nomornya sudah tidak aktif”


Varen, Papi, Papa Bear dan Daddy Boo – Boo nampak berpikir kemudian.


“Berarti kita menunggu informan yang di Bandung memberikan informasi lebih lanjut”


Varen dan dua Dad lainnya pun manggut – manggut.


****


Perusahaan Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ...


 


“Halo?” Varen menerima panggilan dari gadis informan yang ia tempatkan dalam panti.


“Maaf mengganggu Tuan”


“Bicara Dara”


“Besok jadwal anak – anak panti keluar dan katanya mereka akan dijamu oleh Nona Muda Andrea dan Kevia” Ucap gadis bernama Dara dari sebrang telpon.


“Ya memang benar”


“Tapi tidak semua akan ikut”


“Kenapa?”


“Gadis yang dibawa wanita kepala panti ke gudang belakang dan diancam itu baru saja mengamuk dan dikurung dalam ruangan khusus”


“Mengamuk?”


“Ya Tuan. Sepertinya dia sakau Tuan. Tapi sedikit aneh, karena saya sempat tanya – tanya pada anak – anak panti disini katanya gadis itu sudah hampir sembuh, tapi tahu – tahu dia mengamuk seperti itu sampai mengiris kulit tangannya seperti dia masih mengkonsumsi barang terlarang dalam jumlah banyak, hingga akhirnya ya sakau begitu karena ya sepertinya dia sedang menginginkan barang tersebut namun tak kesampaian”


“Bisa kau selidiki?”


“Jika besok kepala panti ikut keluar bersama anak – anak panti dan aku tetap tinggal disini, aku rasa aku bisa mencoba mencari tahu Tuan”


“Baiklah. Kalau begitu kau pura – pura saja sakit dan aku akan melakukan sesuatu agar wanita itu besok ikut keluar dari panti”


“Baik Tuan. Itu saja dulu dari saya”


“Okay. Thanks Dara”


“Sama – sama Tuan”



Kampus Andrea....**


 


“Abaanngg!! ....”


Tangan Andrea spontan terentang saat melihat Varen sudah menunggunya sambil bersandar disisi pintu mobil dan tadi nampak sibuk dengan ponselnya.


Meski banyak anak Kampus Andrea kalau pria super tampan dengan tubuh yang proporsional itu adalah suami dari gadis yang sedang memeluknya, namun tetap saja mata – mata gatel para mahasiswi kampus tidak bisa berpaling dari si Abang.


“Little Star....” Varen menyambut pelukan Andrea dengan senyuman dan selalunya si Abang akan menampakkan keuwuan atas sikapnya pada Andrea.


Varen tak suka jika banyak mata pria yang memperhatikan istri kecilnya itu. Padahal dia sendiri jadi objek pemandangan para wanita, namun Varen tak menyadarinya.


Lebih tepatnya si Abang memang tidak perduli. Dimata Varen hanya Andrea seorang, wanita lain dianggap tak ada dimatanya. Satu kecupan manja pun mendarat di tulang pipi Andrea sembari Varen merengkuhnya dan selalunya membuat Andrea menyunggingkan senyum bahagia atas perlakuan manis si Abang.


Dua teman dekat Andrea yang tadi bersama dengan Andrea pun rasanya meleleh campur iri melihat betapa beruntungnya Andrea mempunyai suami yang tampan dan terlihat jelas begitu mencintai Andrea.


Meski begitu, kedua teman dekat Andrea tidak pernah ada niatan untuk mengganggu suami Andrea seperti cabe


– cabe yang masih terus saja menatap Varen walaupun pria itu sudah sangat menunjukkan kemesraan perlakuannya pada sang istri. Keduanya hanya bisa mengelus dada.


“Ya, kita duluan ya?!” Ucap salah seorang teman dekat Andrea yang juga sudah mengenal Varen.


“Okeeeee! Byeeee ..”


“Byeee....”


“Yuk Kak Varen, kami duluan” Pamit teman Andrea yang satu lagi dan Varen hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis saja. Memilih buru - buru pergi karena ga kuat lihat keuwuan.


'Membuat kami yang jomblo ini iri dan dengki aja mereka'


Kemudian Varen membukakan pintu penumpang disamping bangku kemudi lalu ia pun juga masuk mobil setelah memasangkan seatbelt Andrea dan melajukan mobilnya untuk kembali ke Kediaman Utama, karena Poppa dan Momma sudah tiba di Jakarta.


**


“Ada tugas kuliah?”

__ADS_1


“Ga ada”


“Terus kenapa wajah istri kecil Abang ini seperti ini, hem?”


“Memang kenapa wajah Drea?. Masih cantik kan?! ..”


Varen terkekeh kecil.


“Always!. ( Selalu! ). Kamu akan selalu cantik di mata aku, Little Star”


“Ah! Bebeb Abang bisa aja!”


“Cium?”


Gantian Andrea yang terkekeh.


Cup!


“Love you ..”


“Love you more Little Star ..”


**


“Kok Abang ga bilang mau jemput?”


“Ga boleh memang?”


“Ya bukan begitu. Bukannya jadwal Abang padat hari ini?”


“Lebih padat rindu Abang ke Drea”


“Ulalaa makin pintar gombalnya Bebeb Abang”


“Kenyataan dibilang gombal!”


“Iya, iya ..... gitu aja ngambek. Sini Drea kecup lagi”


“Malas kalau hanya kecup sih!”


“Ahaha ...”


Andrea spontan tergelak dan Varen ikutan tersenyum lebar sembari melirik pada Andrea karena mobil masih melaju.


Namun tangannya sudah mengacak pelan dengan sayang rambut Andrea. “Abang juga khawatir kalau pria yang merupakan tangan kanan wanita Dilara itu datang dan melihat kamu”


“Ah Abang, kan ada Niki” Sahut Andrea mengingatkan Varen tentang bodyguard terbaik kedua setelah Ammar yang orangnya sedang mengemudikan mobil yang tadi ia pakai untuk mengantar Andrea ke Kampus, di belakang mobil Varen.


“Meski begitu”


“Lagipula memang ga muncul hari ini sepertinya” Ucap Andrea. “Tadi Drea sama Niki lihat mobil – mobil yang terparkir tapi tidak ada mobil yang kemarin laki – laki itu pakai. Terus mau cari tahu tentang gadis yang bersama laki – laki itu, waktu lihat ga terlalu memperhatikan jadi mau cari juga bingung”


“Kan sudah Abang bilang jangan mencari resiko” Ucap Varen.


“Ya bukan begitu, Drea hanya penasaran. Sudah ga sabar ingin pembuktian tentang si Dilara itu!..”


“Sudahlah. Serahkan saja semua ke aku. Lagipula ada Nathan dan Dads yang juga bantu mencari tahu”


“Iyaa Bebeb Varenku sayaaaang!!” Andrea merangkul manja lengan tangan si Abang.


“Apa kamu sedang menggoda aku?”


“Humm? ..”


“Nih!”


Drea merasakan sedikit senggolan pada nunu dan nana.


“Ih Abang mesuum!!..” Ucap Andrea manja.


“Orang kamu sendiri yang menempelkan”


“Gigit ni yaa ..”


“Boleh. Nanti di kamar kita main gigit - gigitan”


“Oh ya ampyun suamiku sekarang mesum bangeeeettt!!...”


Keduanya pun tergelak bersama.


**


Ponsel Varen yang tertempel di bagian tengah mobilnya berdering dan nama Ammar muncul di layarnya.


“Okay!”


“Tuan”


“Bicara Ammar”


“Tentang gadis bernama Tara Tuan”


‘Tara?’


“Nanti aku ceritakan”


Varen yang melirik Andrea paham kalau istri kecilnya itu pasti sedang bertanya – tanya dalam hatinya.


“Teruskan Ammar”


“Dari informasi yang orang kita dapat dari pelayan mereka, katanya Tara sudah lama pergi dari rumah itu. Katanya mau bekerja di luar kota. Tapi sudah lama tidak pulang dan sepertinya juga lama tidak memberi kabar, karena keluarganya sibuk mencari gadis itu Tuan”


“Lalu?”


“Sejauh ini hanya itu Tuan”


“Oke”


“Baik itu saja Tuan” Ucap Ammar sebelum memutuskan panggilan.


**


“Tara yang Ammar maksud itu, maksudnya Tara yang sama cucunya Kakek Peter sepupu tirinya Abang?”


“Iya”


“Ada apa Abang mencari tahu tentang dia?”


“Dia ada hubungannya dengan pria dan wanita yang kita curigai itu” Jelas Varen.


“Oh ya?”


“Iya. Tak lama kamu pergi. Satu jam kemudian wanita bernama Dilara itu keluar dari Hotel. Lalu beberapa jam kemudian, orang aku melihat Tara bersama dengan laki – laki yang bersama Dilara”


“Yang benar Abang?”


“Iya. Ada fotonya. Nanti aku tunjukkan di Kediaman. Sepertinya aku harus ke rumah Kakek Peter besok”


“Drea ikut ya?”


“Iya”



Kediaman Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia.....**


 


Varen dan Andrea sudah sampai di Kediaman bersamaan dengan Nathan dan Kevia yang baru saja tiba.


Kemudian ke empatnya langsung memasuki Kediaman setelah saling menyapa.


“EH ANAK – ANAK KAMI YANG BLAEM – BLAEM UDEH PADA SAMPE!” Dan disambut oleh nyaringnya suara yang sudah jelas siapa pemiliknya meskipun jika wujudnya ga kelihatan.


Tak heran mengapa Andrea kalau teriak juga sama nyaringnya. Nah itu Mommanya, orangnya berdiri di dalam rumah, tapi suaranya tembus sampai ke pintu depan. “Keren ya suara Momma, Tantri kotak juga kalah suaranya sama Momma”


Nathan, Andrea dan Varen cekikikan mendengar ucapan Kevia. “Momma! ...”


Andrea yang duluan berhambur ke Momma tercintanya disusul si Abang lalu Nathan dan Kevia yang bergantian memeluk dan mengecup Momma mereka.


“Pop...”


Kemudian juga menghampiri Poppa yang sedang duduk santai bersama Daddy R dan dua Dad yang lainnya, karena yang satu tau kemana. Daddy R dan Mommy Ara tampak baru saja tiba karena pakaian mereka masih rapih.


“Dad ..”


“Mom...”



Esok hari ...**


 

__ADS_1


Empat wanita Keluarga Adjieran Smith termasuk Kevia minus Andrea sedang menjamu anak – anak Panti milik Marsha yang diundang ke Jakarta.


Setelah anak - anak panti itu diajak belanja oleh Kevia, mereka yang datang, semuanya kemudian diajak makan ke Hotel milik Daddy R karena Kevia dan keluarga Nathan sudah sengaja mempersiapkannya.


“Sayang Lala ga bisa ikut ya?” Ucap Kevia pada Emali yang juga ikut datang bersama anak – anak Panti milik Marsha.


“Ya memang disayangkan, tapi dia masih dalam perawatan karena sering ‘kumat’”


“Aneh ya?. Padahal setahu aku Lala bukannya sudah hampir sembuh”


“Ya namanya orang yang pernah ketergantungan dengan narkoba ‘kumat’ begitu udah biasa Vi” Sahut Emali. “Udah deh kamu ga usah dipikirin. Udah ada yang ngerawat dia. Mba Marsha juga tau”


Kevia manggut – manggut.


Kemudian mempersilahkan Emali untuk bergabung menikmati jamuan dan Kevia kembali menyapa anak – anak Panti di meja mereka lalu kembali pada para Sultanah yang bersamanya dimana Marsha juga duduk di meja yang sama dengan para Sultanah itu.


“Kenapa Vi?”


“Aku kepikiran Lala, Teh”


“Sama aku juga ga habis pikir kenapa Lala bisa kambuh lagi seperti itu” Marsha menyahuti perkataan Kevia.


“Ada apa, hem?”


“Ini loh Mom, ada anak yang sebenarnya sudah sembuh, menurut aku. Tapi tahu – tahu dia kambuh dan histeris jadi terpaksa harus diisolasi dalam perawatan khusus di Panti”


“Diisolasi?” Tanya tiga Sultanah.


“Tenang Tante – Tante cantik, bukan diisolasi dalam arti mengerikan seperti di penjara loh ya”


Marsha meluruskan sambil menampakkan senyumnya.


“Ruang isolasi ditempat aku itu sudah dibuat khusus untuk mereka yang mempunyai permasalahan sama seperti Lala. Ya biasanya sih anak – anak yang punya ketergantungan narkoba. Dan mereka ditempatkan disana biasanya saat awal – awal aja”


“.....”


“Itu pun ada staff yang sudah aku siapkan khusus untuk merawat mereka”


“.....”


“Tapi untuk gadis yang bernama Lala ini, karena dia nampak kambuh lagi jadi terpaksa aku tempatkan dia disana untuk ditenangkan dan diobati lagi dengan terapi”


“Tapi kalau kalian bilang gadis itu sudah sembuh atau keadaannya sudah jauh lebih baik, kenapa gitu bisa kambuh lagi?. Apa dia bergaul di luar panti?”


Mom Ichel yang menyertai Kevia bersama Momma dan Mommy Ara pun bersuara.


“Anak – anak panti yang masih kami tangani hanya boleh keluar seminggu sekali, itu pun seperti ini, bareng – bareng. Selebihnya jika mereka sudah jauh lebih baik baru kami akan persilahkan jika mereka mau meninggalkan panti, ya seperti Via ini”


Marsha menjelaskan.


“Kalau seperti itu sih, itu anak berarti dapat supply lagi”


Wanita yang gede di jalan bersuara.


“Orang yang kalau sudah pernah ketergantungan narkoba lalu ia sudah sembuh lah anggap itu anak. Terus tau – tau kambuh, pasti ada pemicunya. Ya narkoba itu sendiri”


“Maksud Momma?”


“Kalau kamu bilang akses mereka, anak – anak panti seperti yang Marsha bilang hubungan mereka dengan orang luar terbatas, itu tandanya ada orang dalam yang memberikan barang haram itu pada itu anak. Dan itu patut kamu selidiki lebih lanjut” Jelas Momma.


“Masa sih Tan?” Marsha memastikan.


“Coba deh kamu mulai interogasi itu perempuan yang tadi bicara sama Via” Ucap Momma yang menunjuk Emali dengan matanya. “Dia penanggung jawab di panti kamu kan?” Tanya Momma.


“Iya, Tan”


“Nah coba kamu interogasi dia”


“Panggillah itu coba dudukkan dia disini dengan kita, Sha!”


Mommy Ara memberi saran pada Marsha. Marshapun mengangguk dan memanggil Emali dengan tangannya.


**


“Em, aku mau bicara soal Lala”


“Euumm.... Mba Marsha, itu kan masalah interen Panti. Ga enak lah kita bahas di depan Via dan keluarganya begini” Ucap Emali seraya melempar senyum pada Kevia dan tiga Sultanah didepannya.


“Ga apa Mba Emali. Keluarga aku ga masalah mendengarnya. Lagipula Lala sudah aku anggap adik sendiri seperti yang lainnya” Ucap Kevia. “Jadi aku juga mau tahu kenapa Lala bisa – bisanya kambuh lagi”


“Begitu ya..”


“Apa Lala pernah didatangi seseorang?”


“Engga Mba”


“Lalu kenapa tau – tau di kambuh begitu?”


“Ya saya juga kurang tau, Mba. Tapi kan si Lala itu narkoba dulunya, jadi kalau dia kambuh kan wajar”


“Kalo menurut aku sih ga wajar deh” Sambar Kevia. “Aku inget pernah lihat tekam medisnya Lala, dan seingat aku waktu itu kadar darahnya Lala sudah hampir normal, jadi kalau dia tau – tau kambuh dan langsung histeris gitu apa ga aneh ya?”


“Mungkin kamu salah baca Via” Sanggah Emali.


“Sepertinya engga”


“Gini ya Via, kamu kan sudah lama meninggalkan panti, jadi kamu ga tahu apa yang terjadi di Panti” Ucap Emali yang nampak memandang Kevia penuh arti.


“Memang apa yang terjadi?” Momma bersuara dan Emali langsung teralih. “Apa yang terjadi Panti milik Marsha yang kamu tahu?. Coba jelaskan”


“Maksud, Nyonya?”


“Ya tadi kamu bilang Via ga tahu apa yang terjadi di Panti karena dia sudah tidak tinggal disana. Berarti kamu yang lebih tahu, kan?. Jadi apa yang terjadi pada gadis itu?. Kenapa dia bisa tiba – tiba kambuh kalau dia sendiri sudah hampir sembuh?”


Momma berkata dengan tenangnya. Namun ada maksud dibalik setiap ucapan si Momma.


“Ya seperti yang saya bilang tadi, Nyonya. Gadis bernama Lala itu kan dulunya pecandu, jadi kalau dia kambuh ya wajar”


“Dia sudah lama dirawat di Panti kalian?”


“Sudah”


“Berarti dia sudah melalui serangkaian pengobatan. Apa dia pernah kambuh sebelum ini?”


“Baru ini”


“Berarti ada yang salah”


“Mak-sud Nyonya?”


“Mereka yang kecanduan narkoba, hanya akan ‘aktif’ kambuh kalau mereka masih menggunakan barang itu dengan sering. Kalau sudah lama tidak apalagi sudah hampir sembuh tetapi tahu – tahu mereka sampai mengamuk, itu tandanya mereka kembali menggunakannya kembali. Atau, dia mengkonsumsi barang haram lain yang memicu kelakuan macam orang gila”


“Maaf, saya ga paham maksud Nyonya. Kalau Anda bilang ada orang yang menyelundupkan narkoba ke panti rasanya tidak. Saya yang biasanya menerima tamu soalnya. Bahkan bingkisan pun akan saya cek terlebih dahulu”


“Ya berarti kamu..”


“Mak-maksud Nyo-nya ..”


“Ya berarti kamu yang bertanggung jawab mencari tahu sebagai kepala Panti, bukan?”


“Oh-Iy-iya ..”


“Apa kamu berpikir saya sedang menuduh kamu?”


“Oh-eng-engga Nyonya”


“Kamu sakit?”


“Engga kok Nyonya?”


“Sepertinya agak pucat?”


“Saya hanya belum sempat sarapan”


“Huumm. Ya sudah silahkan makan dulu.”


Momma tersenyum dengan manisnya. Dan kemudian Emali pamit undur diri dari tempatnya. Namun Momma masih


memperhatikan wanita itu dalam pandangannya.


“Itu dia”


Kevia dan tiga wanita yang bersama Momma menoleh pada si Momma yang sedang mensedekapkan tangannya.


“Pelipis yang spontan berdenyut saat kita memberikan tuduhan pada seseorang, berarti dua hal. Dia tahu jelas apa yang terjadi pada gadis yang kalian maksud tadi, atau dia sendiri yang membuat gadis tersebut seperti itu untuk menutupi sesuatu”


“Mantap Kajol!” Celetuk Mommy Ara.


*


To be continue ....*


Terima kasih pada kalian yang masih tak setia, tak bosan emak ucapkan.

__ADS_1


Loph Loph


__ADS_2