THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 200


__ADS_3

Hai – Hai sayangnya emak semua ...


Sudah episode ke 200 yaa. Ga terasa. Udeh bocen beyom?


Kalo udeh, ya emak mohon maap ye


Kalo belum, Alhamdulillah. Makasih masih setia baca ini novel recehnya emak


Pokoknya terima kasih tak terhingga lah buat reader emak yang blaem – blaem semua.


**


🌑  A WARN  🌑


( Sebuah Peringatan )


**************************


Selamat membaca..


***********************


 


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Aku sudah menyingkirkan semua bintang dilangit ku, agar hanya satu bintang kecilku yang bersinar disana. My One and Only Little Star ( Satu – satunya Bintang Kecilku ). Miracle Andrea. My Beloved Andrea ( Andrea ku Tersayang ).”


‘Ya Allah Abang ....’ Mami Prita membatin dan kurang lebih suara batin sama seperti yang ada dalam hati setiap anggota keluarga mereka saat ini. Melihat Varen yang terang – terangan menunjukkan arti seorang  Andrea untuknya.


**


“Kenapa Abang?.” Ake Herman yang tadinya sedang bermain catur bersama Gappa di ruang keluarga, berpapasan


dengan Varen yang sedang menggendong Andrea. Dua kakek sayup – sayup mendengar ada ketegangan di ruang tamu dan hendak datang kesana.


“Tidak apa – apa Ke. Drea lelah dan mengantuk.” Jawab Varen dengan tersenyum pada Ake Herman.


Tapi Gappa lebih peka nampaknya. “Ya sudah bawa lebih baik bawa segera Andrea untuk beristirahat jika begitu.”


“Tapi Drea ga sakit kan?.”


“Engga Ake.”


Drea yang menyembunyikan wajahnya diantara ceruk leher dan pundak Varen pun akhirnya bersuara karena sang Ake membelai kepalanya.


“Ya udeh syukur deh kalo begitu. Drea kecapean kali.”


“Iya Gappa, Ake. Aku permisi.”


Varen pun kembali melanjutkan langkahnya dan menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua.


**


“Abang....”


“Heeem? ..”


“Drea diturunkan aja Bang. Nanti Abang lelah gendong Drea seperti ini.”


“Engga Little Star, Abang ga lelah. Sebentar lagi juga sampai kamar.”


**


Varen sudah membuka pintu kamar dengan Andrea yang masih menyembunyikan wajahnya diantara ceruk leher dan pundak Varen.


“Eh Abang ini.. kan kamar Abang?.” Ucap Andrea saat dia sudah mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling ruangan tempat dia berada sekarang.


“Memang.”


Varen menurunkan Andrea dan mendudukkannya disisi ranjang.


“Drea tunggu disini sebentar ya?. Istirahat disini saja.”


“Drea ke kamar Drea aja Abang. Nanti Abang ga bisa istirahat kalau Drea tidur disini. Lagipula kan, dua jam lagi jam dua belas malam Abang. Ulang Tahun Drea kan ...”


Varen berjongkok dihadapan Andrea, terkekeh kecil dan tersenyum. Wajah hangat Varen yang seperti biasa muncul lagi. Wajah yang Andrea suka, wajah yang Andrea damba.


“Masih dua jam kan?. Masih bisa beristirahat sebentar. Nanti Abang bangunkan saat jam dua belas, hem?.” Ucap Varen lembut.


Andrea mengangguk patuh. Varen pun kembali berdiri.


“Drea tunggu disini sebentar ya?. Nanti Abang kembali lagi.”


“Abang mau kemana?.”


“Kebawah sebentar.” Sahut Varen. “Drea berbaring ya?. Abang tinggal dulu. Hanya sebentar kok.” Varen menundukkan sedikit tubuhnya dan menangkup wajah Andrea sebentar. Berbicara masih dengan lembut berikut senyuman hangat yang terpatri diwajah tampan si Abang.


Andrea mengangguk, sembari memandangi wajah Varen yang kini begitu dekat dengannya. Bahkan harum mint dari aroma mulut Abang pun bisa Andrea tangkap di indra penciumannya. “Tapi Abang jangan marah – marah lagi ya?.” Ucap Andrea pelan, sedikit ragu.

__ADS_1


“Memang Abang terdengar marah – marah?.” Sahut Varen. “Abang hanya bicara.”


“Tapi wajah Abang tadi membuat Drea takut. Abang jangan bertengkar ya?. Uncle Vla kan baik Abang.”


“Abang tidak marah pada Uncle Vla, Little Star ...”


“Tapi tadi..”


“Abang memberikan peringatan bukan pada Uncle Vla, okay?. Sekarang Drea istirahat. Jangan membantah. Abang


tinggal kebawah dulu.”


“Janji jangan bertengkar?.” Drea menatap memohon dan Varen pun mengangguk padanya. Lalu keluar dari kamarnya, setelah membaringkan Andrea, menyelimuti Little Starnya hingga sebatas pinggang diatas ranjang miliknya.


****


Di lantai bawah..


“Very sorry Vla, I’m sure that he didn’t mean rude to you ( Maaf Vla, aku yakin dia tidak bermaksud tidak sopan padamu ).”


Reno menghampiri Vladimir yang kemudian juga berdiri dan menghampiri Reno sembari tersenyum dan terkekeh


kecil pada Daddy R itu.


“Naahh ... I don’t feel offended at all. He is us, don’t he? ( Tidak .... Gue tidak tersinggung sama sekali. Dia itu adalah kita, bukan? ). Even more like you and Andrew ( Walaupun lebih mirip lo dan Andrew ).” Sahut Vladimir sembari menepuk pundak Reno. “I can understand why he act like that ( Gue bisa mengerti mengapa dia bersikap


seperti tadi ).”


“Thanks, Vla.”


“Don’t mention it, R ( Sudahlah, R ).”


“Vla benar Hon, dia pasti paham mengapa Abang seperti tadi. Abang hanya melindungi Drea agar tidak terluka oleh orang lain.”


Ara melirik pada Danita, dan kemudian semua orang pun melirik gadis tersebut juga. Vladimir pun manggut – manggut mengiyakan ucapan Ara.


Vladimir pun memandangi adik iparnya yang kemudian tertunduk setelah merasa kalau pandangan semua orang


tertuju padanya.


“Excuse me Uncle Vla ( Permisi Uncle Vla ).” Suara Varen membuat semua orang spontan menoleh padanya. “Can we talk personally? ( Bisa kita bicara secara pribadi? ).” Ucap Varen dengan memandang serius pada Uncle Vla yang kemudian mengangguk sambil tersenyum padanya.


“Sure Boy. ( Tentu saja Nak ).”


“Than! Tolong temani Drea. Dia di kamar gue.”


Nathan sama seperti saudaranya yang lain. Sangat menghormati Varen dan menurut pada Abang mereka itu, selain mengagumi dan menghormatinya. Abangnya yang baik, Abangnya yang jenius, tak banyak bicara, namun mengerikan jika marah. Hangat jika berada bersama keluarganya, dan akan berubah aura saat diluar.


Toh Nathan sudah beberapa kali melihat kemarahan si Abang pada orang lain jika adik – adiknya diganggu. Tapi Andrea lah yang paling tidak bisa si Abang lihat terluka, baik hati ataupun fisiknya. Dan saat ini, tak mungkin bagi Nathan untuk menyanggah ucapan Abang.


Varen dan Uncle Vla pun berjalan ke arah halaman belakang dan berbicara berdua secara pribadi disana, setelah


salah seorang asisten rumah tangga menutup pintu penghubung antara halaman belakang dan ruangan dalam kediaman utama.


****


Di ruang tamu...


“Lain kali jangan pernah bicara seenaknya, Danita.” Michelle memandangi gadis itu.


“Chel....”


Michelle menoleh sebentar pada Fania.


“No, Kak. Dia harus tahu peraturan yang tidak tertulis dalam keluarga ini.” Sahut Michelle pada Danita yang kini nampak gugup dan ragu – ragu menatapnya. “Jangan berpikir karena kakakmu menikah dengan Vladimir dan kau begitu saja diterima dalam keluarga kami. Vladimir memang bagian dari keluarga ini dan kamipun berhutang banyak padanya. Tapi kamu..”


Michelle beralih pada Shita.


“Terlebih lagi adikmu itu, bukan. Bukan bagian dari kami.”


Michelle menegaskan. Mommy Ichel nampak serius dan keluarganya pun tak menyela ucapannya.


“Kalian berdua kami terima dengan baik, karena kami menghargai dan menghormati Vladimir, sebagaimana kami


menghormati dan menghargai semua orang yang menjadi bagian dalam keluarga kami. Jadi berhati – hatilah dalam bicara dan bertindak mengenai kami.”


Michelle tersenyum tipis.


“Kami tahu persis sifat Alvarend. Dan Alvarend yang kau temui selama ini bukan dirinya yang sesungguhnya. Kau terlalu naif jika berpikir ia menyukaimu hanya karena ia baik padamu atau dia melonggarkan hubungan nya dengan Andrea, Danita.” Sambung Michelle. “Bagi Alvarend, Andrea itu dunia dan nyawanya.”


Danita dan kakaknya menatap Michelle yang sedang serius berbicara pada mereka.


“Aku. Kami.. tahu mengapa Andrea berusaha menjauhi dan menjaga jarak dengan Alvarend beberapa waktu belakangan ini. Kami yakin kaulah alasannya. Tapi seperti yang Alvarend bilang, kau, berhentilah bermimpi dan membual tentang Alvarend yang kau pikir menyukaimu.”


“Chel, udahlah.”


Fania yang merasa tak enak pada Shita mencoba menyudahi lagi Michelle yang sedang mengintimidasi Danita dengan ucapan dan tatapannya yang serius.


“Tak apa Kak. Dia harus tahu, agar dia sadar diri.” Sahut Michelle. “Kami tidak pernah membeda – bedakan orang lain. Kami selalu menerima dengan tangan terbuka pada siapapun yang ingin berbaur dengan kami. Tapi sikapmu yang seolah – olah ingin mengumumkan pada semua orang bahwa kau dekat dengan pewaris utama keluarga ini,

__ADS_1


sudah cukup lancang, Danita.”


“Aku....”


“Dan aku cukup yakin, kalau Alvarend sudah memperingatkanmu untuk setiap foto yang kau tag ke akunnya. Namun kau menghiraukannya. Dan kau besar kepala, karena kau pikir Alvarend tak mengambil pusing soal itu dan baik – baik saja, karena mungkin ia tak membahasnya lagi padamu. Kau tidak tahu saja apa yang ada dipikirannya.”


Michelle kemudian berdiri dan mendekati Danita yang duduk di dekat kakaknya.


“Aku peringatkan, jangan lancang dengan mulut dan tindakanmu. Kau punya mata untuk melihat bukan?.” Michelle menundukkan sedikit tubuhnya dan mencondongkan wajahnya lebih dekat pada Danita.


“Chel ..”


“Biarkan saja.” Andrew menahan tangan Fania yang sepertinya ingin menghampiri Michelle yang sedang menyudutkan Danita. Shita, memegangi tangan adiknya yang nampak mulai takut pada Mommy Ichel.


“Matamu cukup baik untuk melihat bagaimana arti seorang Andrea untuk Alvarend bukan?.” Ucap Michelle. “Lihat


aku, jika aku sedang berbicara padamu.” Ucap Michelle, lalu Danita mendongak perlahan, sembari takut – takut menatap Michelle. “Lakukan apa yang Alvarend suruh jika dia memintamu, sebagai penebus kesalahanmu itu. Jika tidak, kau akan menyesalinya.”


****


“Aku sudah memperingatkanmu soal adikmu itu bukan?.”


Vladimir kini sudah berada dalam mobilnya yang dikendarai oleh seorang supir. Ia duduk dikursi penumpang tengah bersama Shita, sementara Danita bersama Ana, putri Vladimir yang sudah nampak terlelap.


“Aku sudah bilang, agar kau mengatakan pada adikmu itu jangan terlalu besar kepala dan bertindak gegabah. Aku


lebih tahu Alvarend daripada kalian. Tapi kau, begitu membela adikmu atas nama demi kebahagiaannya. Begitu besar kepala hanya karena Alvarend baik padanya selama di Massachusetts.”


Suara Vladimir tidak terdengar ber-intonasi tinggi, namun wajah dan suara datarnya berikut detail wajah Rusia nya itu sudah cukup menggambarkan keseriusannya dalam berbicara saat ini.


“Kau yang selalu berusaha mendekatinya bukan?.”


Vladimir menoleh pada Danita yang tertunduk saja.


“Kau yang seolah selalu ada, dimana Alvarend berada. Temanmu yang memiliki Galeri di Massachusetts hanya


sekutumu, bukan?. Kau tidak benar – benar bekerja bersamanya. Bukan begitu Danita?.”


Vladimir menegaskan ucapannya.


“Kau memang menyukai Alvarend sejak lama, aku tahu itu meski aku tak pernah membahasnya. Tapi tak kusangka, kau nekat juga meski aku sudah mengatakan jangan macam – macam dan kini kau sudah bertindak terlalu jauh, dengan mencoba menekan Andrea, Danita.”


“Sudahlah sayang. Danita mungkin salah, tapi tolong jangan menyudutkannya terus. Apa salah, kalau dia mencintai Alvarend?.” Shita menyela, membela adiknya.


“Apa kau sudah lupa, bahwa aku tidak suka disela jika aku sedang berbicara?.”


“Maaf.”


“Kalian dengarkan aku baik – baik. Kalian sudah membuatku malu malam ini didepan keluargaku, didepan para saudaraku yang sangat berarti dalam hidupku. Cukuplah ini yang pertama dan terakhir kalinya.”


Vladimir menatap sebentar Danita yang berada dibelakang, lalu menatap istrinya.


“Mereka sudah lebih dulu ada dalam hidupku sebelum kau muncul, Shita. Aku memang mencintaimu, tapi jika aku


harus memilih antara kau yang selalu membela adikmu dan keluargaku.. merekalah yang aku pilih.”


“Sa – yang......”


“Kuberi waktu satu minggu untukmu menghabiskan waktu dengan adikmu. Setelah itu aku akan mengirimnya jauh


dari kita, dari Indonesia dan London. Jauh dari keluargaku. Jika kau tak terima, pergilah bersamanya. Namun jangan berpikir kau akan membawa Ana bersamamu.”


****


“I’m sorry if I offended you, Uncle ( Aku minta maaf jika aku telah menyinggungmu, Uncle ).”


“I don’t feel offended at all, Boy ( Aku sama sekali tidak merasa tersinggung, Nak ). Aku justru yang ingin meminta maaf padamu setelah semua yang kau ceritakan tadi.”


“Bukan salahmu Uncle. Adik iparmu yang terlalu lancang.”


“Maaf soal itu. Aku sudah memperingatkannya saat aku tahu dia akan tinggal di Massachusetts. Tapi kau tahulah, sebagai kakak Shita selalu membelanya. Tadinya aku juga datang kesini untuk membicarakannya denganmu. Ingin memastikan perkataan Danita padaku dan Shita tentang kedekatannya denganmu.”


“Tidak akan ada yang lain dimata, hati, pikiran dan hidupku selain Andrea. Dan dia sempat terluka karena ucapan dan tindakan adik iparmu itu. Dan aku, sulit menerimanya.”


“Sekali lagi aku minta maaf padamu, Boy. Aku sungguh tak enak hati padamu.”


“Never mind, Uncle ( Tidak masalah, Uncle ). Kau tidak perlu meminta maaf atas namanya. Aku hanya ingin meminta satu hal padamu.”


“Dengan senang hati akan kuberikan dan lakukan, Boy.”


“Pastikan dia jauh dari Andrea. Itu saja.”


“Baiklah.”


“Bahkan jangan sampai bayangannya mendekati Andrea lagi. Aku tak segan pada siapa pun yang mencoba mengganggu Little Starku, terlebih sampai membuatnya berusaha menjauhiku hingga ia terluka dan bersedih. Jika mataku melihat adik iparmu lagi disekitar kami, aku sendiri yang akan menghabisinya.”


****


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2