
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
Selamat membaca ..
Papa’s Lucca Mansion, London, England...
Dimana Papa Lucca, Mama Fabi yang sudah menasehati Ann habis-habisan itu, ketiganya kini sudah duduk bersama di ruang makan dalam Mansion pribadi mereka.
“Are you still want to go to school tomorrow? ..... ( Apa kau tetap akan pergi ke sekolah besok? ) .....”
“Heemmm.....”
“Good ..... ( Bagus ).....” Papa Lucca manggut-manggut.
“I’m not a coward ( Aku bukan seorang pengecut ), Papa .....”
“You should never be ..... ( Sepatutnya memang jangan pernah..... )”
“I will stand to fight everyone outside who try to mess up with or against me .....”
( Aku akan berdiri untuk melawan setiap orang diluar yang mencari gara-gara denganku ataupun melawanku..... )
“Baby.....” Mama Fabi bersuara. “Do not using an austerity to clean up your problem..... ( Jangan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalahmu..... ),” Nasehat Mama Fabi sembari menatap putri semata wayangnya itu.
“I have to, for people who ignore my warn ( Harus aku lakukan, pada mereka yang mengabaikan peringatanku ),” Sahut Ann. “Them, who ignored my warn, I consider that they defy me ( Mereka, yang mengabaikan peringatanku, Aku anggap sedang menantangku )”
Dan Mama Fabi menghela nafasnya dengan sedikit berat. Mengapa Ann begitu mirip sifatnya dengan sang ayah yang keras padahal dia anak perempuan. Selain itu Ann juga begitu bernyali dalam banyak hal, benar-benar prototypenya Papa Lucca, kecuali wajah Ann yang perpaduan wajah Mama Fabi dan Papa Lucca.
“Baby.....”
Mama Fabi memanggil Ann lagi.
“Just like what me and your Papa said to you..... You can’t always be rude to girls around Rery. Rery has right to make a friend with everyone no matter boys or girls..... Try to understand about that .....”
( Seperti yang tadi aku dan Papamu katakan padamu..... Kamu tidak bisa selalu bersikap kasar pada para anak perempuan yang berada disekitar Rery. Rery punya hak untuk berteman dengan siapapun baik laki-laki atau perempuan..... )
Ann kemudian menarik tipis sudut bibirnya.
“Don’t you worry Mama ..... with who Rery want to make a friend, I won’t disturb anymore .... ( Mama tidak perlu khawatir..... Dengan siapa Rery ingin berteman, aku tidak akan mengganggu lagi ).....”
Mama Fabi dan Papa Lucca menampakkan senyumnya, lalu satu tangan Papa Lucca terulur dan mengusap sayang kepala Ann disela makannya.
“Because from now on I don’t want to be care with everything that Rery want to do ( Karena mulai sekarang aku tidak mau perduli dengan segala hal yang Rery ingin lakukan )”
**
Esok hari..
“Remember Dolcezza, do not protest if the Principal called you and maybe give a punishment for your rudeness”
( Ingat Sayang, jangan melayangkan protes jika Kepala Sekolah memanggilmu atau memberikanmu hukuman untuk sikap kasar mu )
Pagi ini, Papa Lucca yang mengantar Ann ke sekolah karena mereka tinggal di Mansion pribadi Papa Lucca, Mama Fabi dan Ann semalam.
“Yes Papa .. ( Iya Papa ..... )”
“You still want to stay in our Mansion or you have change your mind and back to Main Mansion just like before? .... ( Kamu masih tetap ingin tinggal di Mansion kita atau kamu sudah berubah pikiran dan tinggal kembali di Mansion Utama seperti biasa? .. )
“I even think to move to Italy..... ( Aku bahkan berpikir ingin pindah ke Italia )...” Sahut Ann.
“Go get inside, you may late ( Sudah sana masuk, nanti kamu terlambat ) ..” Ujar Papa Lucca yang tidak mau menanggapi ucapan terakhir Ann.
Yang Papa Lucca anggap itu luapan emosi Ann sesaat yang minta pindah ke Italia, hanya karena Ann masih merasa kesal pada Rery yang sudah memarahinya dengan keras.
Ann manggut-manggut saja, lalu mencium punggung tangan Papa Lucca seperti biasa. Meskipun Ann mengikuti agama sang Papa dan Mamanya, namun kebiasaan mencium tangan yang diterapkan dalam keluarga The Adjieran membuat ketiga orang itu akhirnya terbiasa dengan kebiasaan menyalim takdzim tersebut.
“See you, Papa! ( Sampai jumpa, Papa! )”
Ann bergegas keluar dari mobil setelah mendapat kecupan. di keningnya dari sang Papa dan Ann membalas dengan memberi kecupan di kedua pipi Papa Lucca.
“Don’t forget to pick me up! ( Jangan lupa menjemputku! )” Seru Ann sembari merundukkan tubuhnya yang sudah keluar dari mobil tersebut. Dan Papa Lucca menjawab dengan mengangkat jempolnya.
**
Tepat dimana Ann melangkahkan kakinya masuk kedalam sekolah dan menuju ke kelasnya, bel tanda masuk pun berbunyi. Murid-murid yang datang berbarengan dengan Ann langsung melesat cepat menuju kelasnya masing-masing, kecuali Ann yang tetap berjalan dengan santainya menuju kelasnya.
Belum ada guru yang masuk di kelas Ann. Namun saat dia masuk, suasana kelas Ann sedikit ribut.
“Do not talk about me behind, if any of you still want to be able to walk normally ( Jangan membicarakanku dibelakang, jika kalian masih ingin dapat berjalan dengan normal )”
Datar saja Setan kecil itu berbicara di depan kelasnya, namun seketika kelasnya menjadi sunyi dan tak ada lagi yang kasak-kusuk sampai akhirnya seorang guru memasuki kelas Ann dan semua murid mengikuti pelajaran seperti biasa.
**
Sementara itu di bagian lain sekolah tempat Rery dan Ann menimba pendidikan formal mereka, ada Rery yang kini berada didalam sebuah laboratorium praktek sampai akhirnya bel tanda waktu istirahat tiba.
Dan Rery berikut teman-teman sekelasnya yang sedang praktek di lab tersebut, langsung pergi menuju kantin sekolah yang letaknya memang cukup dekat dengan lab praktek. Selain karena memang merasa sedikit lapar, Rery langsung saja pergi ke kantin berbarengan dengan beberapa temannya.
Lalu Rery langsung berbaris di antrian menuju buffet makanan. Rery celingukan sebentar. ‘Ah! Aku lupa menyambangi Ann,’ Batin Rery.
Rery hendak melangkah keluar dari Antrian, tapi tidak jadi.
‘Tidak, tidak. Aku kan sedang perang dingin dengan Ann!’
Rery membatin lagi. Dan tetap berdiri dalam antrian hingga ia sampai di buffet makanan.
Lalu Rery pergi ke meja panjang tempat para murid yang sudah mengambil makanan yang mereka sukai dalam menu harian yang berbeda setiap harinya lalu menempatkannya di atas sebuah tray.
Formasi duduk Rery sama dengan kemarin.
Rery duduk bersama teman-teman sekelasnya yang tergabung dalam satu proyek sains, termasuk gadis yang diserang Ann kemarin yang nampak tidak apa-apa.
Namun gadis tersebut tidak duduk lagi disamping Rery, karena takut jika gadis yang selalu menempel pada Rery itu tahu-tahu datang dan menyerangnya lagi. Gadis itu tadi hendak duduk di meja yang berbeda dengan Rery, tapi Rery melarangnya.
Rery yakin Ann tidak akan melakukan penyerangan pada gadis itu lagi seperti kemarin. Rery kemudian mulai menyantap makanan yang sudah ia ambil sembari mengobrol dengan teman-teman yang duduk bersamanya itu. Hingga saat bel masuk berbunyi, baru Rery menyadari sesuatu.
‘Apa Ann tidak masuk?....’
Rery bertanya dalam hatinya karena ia tidak melihat Ann dalam kantin sekolah hingga sampai waktu istirahat berakhir.
__ADS_1
‘Hahh, mungkin saja dia takut kena hukuman makanya dia tidak masuk!’
Rery membatin lagi. Lalu Rery pergi kembali ke kelasnya setelah meletakkan tray bekas menaruh makanan ke tempat khusus yang telah disediakan di sudut kantin.
****
Waktu pulang sekolah tiba .....
Rery sudah keluar dari kelasnya.
Rery menganggap jika Ann memang tidak masuk sekolah hari ini.
Mungkin memang Ann enggan masuk karena tidak mau menerima konsekuensi atas perbuatan kasarnya pada salah seorang murid lain.
‘Harusnya dia tidak perlu sampai tidak masuk sekolah!.. Toh paling-paling dia hanya diceramahi oleh Principal .... Memangnya Poppa dan Daddy R dan Papa Lucca, bahkan Gappa akan tinggal diam jika Ann dapat hukuman berat?!’
Rery membatin. Rery sebenarnya sudah lebih dulu menyelesaikan masalah Ann dengan meminta maaf pada teman sekelasnya yang diserang oleh Ann, juga berbicara pada Kepala Sekolah. Yang meskipun tanpa repot Rery melakukan itu, kiranya posisi Ann di sekolah akan aman-aman saja.
Lagipula teman sekelas Rery yang diserang Ann tidak luka-luka, jadi orang tua gadis itu tidak akan memperpanjang masalah.
Mau diperpanjang juga mungkin akan berpikir dua kali. Karena orang tua dari para murid di Sekolah tersebut itu tahu dari keluarga mana Ann berasal.
Rery melewati kelas Ann. Namun karena tidak melihat Ann saat waktu istirahat, jadi Rery beranggapan jika Ann tidak masuk sekolah hari ini.
Rery berjalan dengan beberapa temannya untuk menuju bagian depan sekolah dimana mobil-mobil yang akan menjemput para murid sudah berjejer rapih dan tertib.
“Sky?....” Rery mengenali seseorang yang baru saja muncul dihadapannya.
Seorang pria berbadan tegap itu langsung melempar senyum dan mengangguk hormat saat melihat Rery.
“Mister Rery ....”
Rery hendak berkata lagi, namun tidak jadi.
Kala pria bernama Sky itu kemudian melempar sapaan dengan matanya yang mengarah kebelakang Rery.
“Miss Adrieanne....”
Yang membuat Rery spontan menoleh dan cukup terkejut juga karena Ann tepat berada dibelakangnya.
‘Ann masuk sekolah ternyata?? Tapi kenapa aku tidak melihatnya saat jam istirahat? Apa Ann mendapat hukuman dari Principal?....’ Batin Rery yang bertanya-tanya. ‘Berarti sedari tadi Ann ada dibelakangku?....’
Rery bertanya-tanya dalam hati saja, tidak langsung menegur Ann yang nampak cuek sekali saat ini.
“Mister Rery ....”
Bodyguard pengganti Juan yang tadi pagi bersama Rery muncul dihadapan Rery.
‘Tumben sekali mengirim dua orang untuk mengawal ku dan Ann? .... Apa mereka takut aku dan Ann berkelahi??? ....’
Rery mendengus geli dalam hati.
“Let me take your bag, Miss .... ( Biar aku bawakan tasmu, Nona.... )”
Suara Sky terdengar lagi dan membuat Rery yang melamun itu terkesiap, karena bodyguard yang menyertainya tadi saat berangkat sekolah pun juga bersuara.
Sementara Ann sudah lebih dulu berjalan mendahului Rery.
‘Sepertinya Ann masih kesal padaku.... Lihat saja sampai kapan dia mau merajuk seperti itu. Aku juga masih kesal pada si keras kepala itu....’
Dua bocah itu tidak saling bertegur sapa. ‘Eh?’ Rery mengernyitkan dahinya kala Ann menaiki mobil yang berbeda dengannya.
“Would you please excuse me, Mister Rery .... ( Saya permisi duluan, Tuan Rery.... )” Pria bernama Sky itu menundukkan sedikit kepalanya seraya berpamitan pada Rery, lalu menaiki mobil dan duduk dibelakang kemudi dalam mobil dimana Ann sudah duduk di kursi penumpang belakang.
Rery masih mematung ditempatnya kala mobil yang ditumpangi Ann sudah berlalu dari hadapannya, bahkan Ann duduk disisi bersebrangan dengan Rery. Jadi wajah Ann tidak dapat Rery lihat saat mobil yang ditumpangi Ann itu berlalu pergi dari hadapan Rery. Hingga kemudian Rery mendengus dan sedikit menggelengkan kepalanya.
‘Ini ceritanya kamu mau merajuk padaku, Ann? Dengan menghindariku?....’
Rery membatin seraya masuk ke dalam mobil yang dikhususkan untuknya.
‘Hah, paling lama tiga hari kamu seperti ini paling-paling Ann’ Batin Rery lagi. ‘Habis itu kamu akan seperti biasa menempel lagi padaku pasti!’
**
Prediksi Rery meleset soal sikap Ann padanya. Hari itu kala Ann pulang dari sekolah dengan mobil berbeda dengan Rery dan tak berucap satu katapun padanya, hari berikutnya Ann tidak masuk sekolah.
Ann juga tidak berkunjung ke Mansion Utama dan tetap memilih tinggal di Mansion pribadi Papa Lucca, dan mau tidak mau ya Papa Lucca dan Mama Fabi juga tinggal di Mansion pribadi mereka itu. Hari berikutnya Rery bertemu Ann saat tiba di Sekolah, namun tetap Rery maupun Ann belum lagi saling bertegur sapa.
Dua bocah beranjak gede itu masih sama-sama kekeh dengan ego masing-masing.
Bertemu lagi saat jam istirahat di kantin, bahkan mengambil antrian makanan di waktu yang sama dimana Ann berdiri dibelakang Rery yang diselang oleh dua murid.
Rery tetap tidak menegur Ann, hanya matanya saja yang tertoleh otomatis saat melihat Ann yang matanya lurus saja kedepan. Jangankan menegur Rery, menoleh pun tidak.
Rery pun membiarkan sikap Ann padanya itu. Mau lihat sampai mana – kalau kata Rery. Dan Rery duduk ditempat dia dan teman-temannya yang sering bareng dengan Rery itu duduk saat di kantin.
Meski tidak bertegur sapa, namun Rery menyisakan satu kursi kosong di mejanya.
Mungkin saja Ann tahu-tahu menyambanginya untuk duduk bergabung di meja yang sama. Si Ann itu kan, kalau menurut Rery, macam-macam tingkahnya plus Moody-an banget orangnya.
Tapi kursi yang Rery sisakan untuk jaga-jaga jika Ann mungkin saja mau duduk bergabung di meja yang sama dengannya dirasa percuma, karena saat Ann sudah membawa tray berisikan makanan diatasnya, Ann melewati meja tempat Rery dan teman-temannya duduk. Ann mengambil tempat di area pojok, disebuah meja bundar dekat jendela besar.
Gerak-gerik Ann tak luput dari pandangan Rery. Ann yang duduk sendirian di meja tersebut sebenarnya membuat hati Rery sedikit tak tega. Kebiasaan Ann yang selalu menempel dengan Rery di Sekolah, membuat Ann tak mau berteman dengan murid lainnya. Mungkin jika ada Melly dan Elena atau Felix, Ann tidak akan kesepian.
Sayangnya dua anak Uncle Ezra dan anak Uncle Nino itu tidak satu sekolah dengan Rery dan Ann. Selain itu, mereka juga seusia Mika dan Val. Jadi saat untuk pertama kalinya Rery dan Ann perang dingin seperti ini, Ann yang sulit berbaur itu jadi sendirian.
Sementara Rery sendiri adalah kebalikan dari sifat Ann.
Rery begitu humble dengan murid-murid yang lainnya. Dan walau Ann selalu menempel padanya di Sekolah, tetap Rery akan mengajak Ann berbaur, setidaknya saat jam istirahat. Dan saat ini, Rery ingin beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Ann yang sendirian itu.
‘Tapi jika aku menghampirinya sekarang, Ann akan semakin besar kepala.. Nanti sifat buruknya tidak hilang-hilang.. Akan selalu seenaknya. Lagipula ini sudah tiga hari, dan Ann pasti tidak akan tahan sendirian seperti itu dihari-hari berikutnya!.. Nanti malam atau besok dia juga pasti sudah kembali tinggal di Mansion Utama’
Rery dan spekulasinya.
***
Hari berganti...
Prediksi Rery meleset.
Sudah lima hari dan sikap Ann masih sama.
__ADS_1
Saat Rery untuk pertama kalinya tidak makan bersama dengan Ann di kantin sekolah bahkan tidak saling bertegur sapa, esoknya Ann tidak masuk sekolah lagi.
Lalu hari ini baru Ann kelihatan lagi.
Tapi tetap, Rery juga tidak mau menegur Ann duluan dan Ann juga masih nampak kekeh dengan sikapnya pada Rery. Tidak menegur, menoleh pun tidak. Hanya saat jam istirahat Rery tidak melihat Ann. Dan saat pulang sekolah pun Rery juga tidak melihat Ann. Termasuk supir dan bodyguard Ann.
‘Kemana Ann?. Apa dia sudah pulang?. Tapi kelasnya baru bubar. Saat istirahat pun tidak ada. Jangan-jangan dia membolos!’ Batin Rery yang sedang memperhatikan anak-anak kelas Ann yang berhamburan keluar sampai guru pelajaran Ann juga sudah keluar dan menutup pintu kelas.
Meski begitu, Rery yang penasaran, membuka lagi pintu kelas Ann dan memang kosong sudah kelas tersebut.
‘Belum berubah juga itu dia!..’
Rery menggeleng pelan mengingat sifat Ann, lalu melanjutkan langkahnya menuju bagian depan sekolah untuk menaiki mobil dan pulang ke Mansion Utama.
***
Tiga ke lima hari, hingga sampai seminggu Ann dan Rery masih terlibat perang dingin. Ann benar-benar tidak sekalipun datang ke Mansion Utama jika Rery ada disana. Setiap kali sarapan dan makan malam selama satu minggu ini sudah minus Ann. “Mau kemana Val? ...”
Rery spontan bertanya saat melihat Valera hendak menuruni tangga kala Rery baru keluar dari kamarnya.
“Ini aku mau berikan pada Sky!.....”
Valera mengangkat sebuah paper bag yang berada di tangannya.
“Memangnya itu apa?” Tanya Rery lagi.
“Pakaian Ann....” Sahut Valera. “Tadi Ann habis dari sini sekaligus mengambil ini beberapa pakaian kesukaannya, tapi lupa membawa saat pulang”
“Jadi Ann habis dari sini?” Tanya Rery.
“Hu’um”
Valera manggut-manggut.
“Berarti aku ga melihat Ann di sekolah karena dia membolos lagi?...”
“Kan sudah dibilang, Ann hanya akan kesini kalau kamu tidak ada disini Rery..”
Rery pun mendengus.
“Sudah ah, aku mau memberikan ini dulu pada Sky! Ada baju yang mau dipakai Ann karena Papa Lucca dan Mama Fabi mau mengajaknya pergi..” Ucap Valera sembari menuruni tangga.
***
“Kalian sedang buat apa Moms? ....”
Rery menyambangi dapur kala ia mengetahui dua Moms sedang membuat sesuatu disana.
“Bubur sum-sum..” Momma dan Mommy Ara menyahut berbarengan.
“Siapa yang minta dibuatkan bubur sum-sum?....”
“Itu satu aki sama dua nini-nini...” Celetuk Momma. Dan Rery juga Mommy Ara cekikikan.
“Ngomong-ngomong Rery, besok kamu ke Chapel Down mau dibawakan bekal cemilan ga?”
“Boleh” Sahut Rery.
“Mau dibuatin apa?”
“Apa saja Mom”
“Wait ( Tunggu )”
Mommy Ara meminta salah satu asisten rumah tangga yang sedang standby di dapur untuk mengambil sesuatu dari show case khusus camilan.
“Mommy buat nastar kemarin. Mau bawa ini? Atau ini stollen?” Mommy Ara menyodorkan dua macam kue kering kehadapan Rery.
“Stollen aja. Nastar untuk bekalnya Ann aja... Ini kan kue kering kesukaannya ...” Ucap Rery. “Minta saja seseorang disini untuk mengantarkannya ke Mansion Papa Lucca jadi besok kan Ann bisa menyiapkan untuk dibawa saat kami kunjungan ke Chapel Down”
“Ga Rery aja yang anter sendiri kesana?”
Rery menggeleng.
“Tumben kamu sekeras ini sama Ann, Rery?”
“Habis, jika aku yang membujuknya terlebih dahulu, dia akan besar kepala dan menganggap sikapnya yang keterlaluan menyerang teman sekelas aku adalah hal sepele. Aku hanya ingin Ann bersikap lebih teratur, Mom......”
“Heemm ... ya udah itu sih terserah Rery sama Ann mau bagaimana. Kami juga sudah menasehati Ann kok” Ucap Mommy Ara.
“Mudah-mudahan saja setelah ini Ann lebih bisa menjaga sikapnya pada orang lain ..”
Mommy Ara mengelus pelan lengan Rery.
“Ann itu hanya terlalu sayang sama kamu, Rery”
Rery manggut-manggut.
“Tapi sikapnya berlebihan, Mom ... Dan kali ini sudah keterlaluan ..”
“Ya udeh, terserah Rery mau gimana. Cuma, pesen Momma, jangan musuhan lama-lama. Ga baik”
“Tergantung bagaimana setelah ini Ann bersikap, Mom,” Ucap Rery. “Aku kan seperti ini juga maksudnya untuk kebaikan Ann sendiri.....” Sambungnya.
“Iya udah......” Sahut Momma. “Tuh nastar kamu bawa aja kalo emang mau, kamu kan suka juga. Ann tadi sudah bawa beberapa. Lagipula kata Mama Fabi Ann tidak mau ikut kunjungan ke Chapel Down”
“Apa karena kunjungan gabungan dan ada aku jadi dia tidak mau ikut? ..”
“Kalau kata Mama Fabi sih, Ann hanya mau mengikuti kegiatan belajar di sekolah saja..” Ujar Momma.
“Oh ya?” Timpal Rery.
Momma dan Mommy Ara manggut-manggut bersamaan.
“Tapi katanya Mama Fabi sih, ada kemungkinan besar, sesuai permintaan Ann, kalau Papa Lucca, Mama Fabi dan Ann, akan segera pindah ke Italia ...”
***
🍹 BONUS CHAPTER 10 🍹
Ditunggu Bon-chap yang ke 11 ye
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak
Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari