THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 49


__ADS_3

🍁REAKSI 🍁


*******


Selamat membaca.....


Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia


“Jadi kamu udeh dilamar tadi sama si John, Prita?.”


“Iya Mah.”


“Ini cincinnya nih yang dikasih si John?.”


“Iye.” Sahut Prita pada Mama Bela yang kini sedang berada di kamarnya dan sedang mengobrol soal si Priwitan yang udah dilamar sama sibule koplak.


“Cakep beut ini cincin. Tapi kenape kenape muka kamu lesu begitu?.”


“Kak Fania kan belom tau Mah, soal Prita sama Kak John. Prita takut deh si kakak ga percaya sama Kak John.”


“Ya udeh kamu mendingan ngomong Prita. Pelan – pelan jelasinnya sama dia, kasih tau kalo si John itu beneran serius sama kamu.”


“Nah itu Kak Fania kadang suka kaga percayaan, kadang suka susah diyakinin.” Ucap Prita. ‘Gue malah lebih takut sama Kak Fania daripada sama mamah dan papah.’ Batinnya. “Kalau si kakak ga setuju gimana ya Mah?.”


“Ya berarti si John kudu berjuang biar si Kajol percaya sama kesungguhannya ke kamu. Nah kamu bantuin deh itu calon laki kamu ngeyakinin kakak kamu itu kalau seandainya dia ga percaya ape ga setuju sama hubungan kalian.”


****


Frognal, Kediaman Pribadi Andrew dan Fania, London, Inggris


“Hera, prepare Andrea’s stuffs for staying at Mansion, would you? ( Hera, tolong siapkan barang – barang Andrew untuk menginap di Mansion, ya? ).” Fania sedang berada di kamar Andrea, sementara Andrew berada di kamarnya dan Fania.


“Yes Ma’am ( Baik Nyonya ).” Sahut Hera sang pengasuh Andrea.


“Also I left Andrea’s here with you, I want to check my brownies ( Sekalian juga tolong jaga Andrea disini, aku mau mengecek brownis dulu ).”


“Sure Ma’am ( Tentu saja Nyonya ).”


Fania melangkah turun ke arah dapur untuk mengecek brownis yang tadi dia buat untuk dibawa ke Mansion.


Triiiinggg ...


“Hello my Sistah Michelle ma Belle!. Aya naon?.” Sapa Fania rame sendiri saat menerima panggilan dari Michelle kala ia sedang mengecek brownis dalam oven.


‘Kak Faniaa!!!!.’ Pekik Michelle dari sebrang ponsel.


“Buset deh Michelle! Sakit ih kuping gue!.”


‘OMG!! Kak!.’


“Ada apaan sih?.” Ucap Fania heran. “Heboh amat.”


‘Ih Kak Fania nih!.’ Sahut Michelle.


“Bentar Chel gue pindah ke loud speaker dulu.”


Fania menekan tombol speaker, lalu memperhatikan lagi browniesnya sambil mengambil segelas air putih.


“Ngomong deh. Ada apaan?.” Tanya Fania sembari meminum air dalam gelas ditangannya.


‘Kak Fania!.’


“Hem.”


‘Gila sumpah aku ga sangka kalau Kak John melamar si Priwitan!.’


BLLURF!.


“APA?!.”


****


Grup Dadakan The Daddys.......


Andrew mengetik ...... ( Sepertinya sih bukan Andrew nya yang nampak sedang mengetik pesan dalam bagian atas grup ).


Andrew : Greetings To All Of Brothers!.


Beberapa menit berlalu belum ada yang menyahut..


Dewa perespon pertama.


Dewa : Hadir! Gimana berita terbaru?. Naomy gimana?.


Reno : Little F gimana Ndrew?.


Jeff : Kajol mengamuk ga Ndrew?.


Andrew : Apa sudah kumpul semua wahai My Brothers?.


Dewa : Hey bodoh, udah tau ini grup dadakan minus si John, masih nanya aja lo!.


Reno : Stupid memang!.


Jeff : Too much milk. ( Mabuk susu ).


Andrew : Answer my video call!.

__ADS_1


Panggilan video dalam grup pun memanggil dilayar masing – masing anggota.


Tiga orang selain Andrew dalam grup pun menerima panggilan grup dari nomor Andrew tersebut.


Ternyata oh ternyata bukan wajah Andrew yang terpampang nyata dilayar ponsel mereka.


Melainkan wajah si Kajol dan Andrew nampak duduk disampingnya dengan wajah setengah meringis pada tiga saudara laki – lakinya itu.


“HALE TO ALL MY UNBELIEVEABLE BROTHA!!. ( SALAM UNTUK PARA KAKAK LELAKIKU YANG SUKAR DIPERCAYA!! ). Yang tadi bilang gue bodoh??!.”


GLEK!


‘Rasakan.’ Batin Andrew cengar – cengir.


****


Flashback on..


“D....”


Fania kala itu menghampiri Andrew yang sedang berada dikamar mereka, dan suaminya itu ada di balkon serta nampak sibuk dengan ponsel disatu tangannya dan sebatang rokok disatu tangannya yang lain.


Andrew langsung menoleh saat mendengar Fania memanggilnya, bersamaan dengan sosok istri tercintanya itu yang muncul.


“Hey Heart, sudah matang browniesnya?.”


“Hampir.” Sahut Fania. “Lagi berkirim pesan sama siapa sih?. Serius amat kayaknya?.”


“The Daddysbiasa.” Ucap Andrew dan Fania manggut – manggut.


“D.”


“Yes Heart?.” Andrew kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku.


“Seberapa besar kamu mencintai aku?.” Tanya Fania nampak santai.


Andrew tersenyum sambil mengkode Fania agar lebih mendekat padanya. “Tumben nanya begitu?. Sedang cemburu sama siapa?.”


“Jawab dulu pertanyaan aku barusan.”


“Lebih dari nyawaku sendiri.”


“Sounds sweet. ( Terdengar manis ).” Ucap Fania. “Tapi itu hanya bualan!.”


“Hey, kok begitu bicaranya?.” Sahut Andrew keheranan. “Sini.”


“Beneran jadi?.”


“Benar lah Heart, masih kurang pembuktian aku memangnya?.”


“Tapi kenapa masih ga jujur dan terbuka sama aku, hem?.” Fania tersenyum dengan suangat manis, tapi terkesan dipaksakan.


“Soal ini misalnya?.” Fania menunjukkan layar ponselnya, yang sedang membuka suatu laman medsos dimana ada sebuah foto yang membuat Andrew membulatkan matanya.


‘Oh Sht. Udah gue terka. Senyumnya terlalu manis tadi.’ Andrew sedikit tegang dan ia berdiri dari duduknya. “Heart ....”*


Fania mensedekapkan tangannya kemudian dengan ponselnya yang masih ia pegang. “Jangan bilang kamu ga tahu soal ini, suamiku sayang?.”


“Maaf Heart, bukan aku mau menyembunyikan hal itu dari kamu. Aku sedang menunggu saat yang tepat untuk membicarakan hal itu dengan kamu. Dan memang rencananya hari ini aku mau bilang.”


Andrew menggenggam tangan Fania dan membawa istrinya itu untuk duduk dikursi balkon. “Begitu ya?. Menunggu saat yang tepat sampai aku nampak bodoh karena ga tahu apa – apa?. Bahkan sejak kapan mereka pacaran pun aku ga tahu.”


Andrew langsung mendekap Fania. “No Heart, jangan bicara begitu.”


Andrew pun menghadapkan Fania padanya.


“Begini Heart, kalau soal mereka pacaran itu memang baru satu hari. Tapi John sudah mencintai Prita sejak lama.”


“Masa pacaran sehari tau – tau udah melamar?.” Fania tak percaya.


“Heart, sebenarnya John sadar, kalau dia mencintai Prita sejak adik kamu itu mulai menjauhi dan memusuhinya. Itulah kenapa dia sering menanyakan pada Prita pada kita. Bahkan waktu kamu bilang Prita ada di New York, dia itu diam – diam kesana.”


Andrew menjelaskan pelan – pelan.


“Tapi saat dia merasa kalau dia jatuh cinta pada Prita waktu itu, dia masih belum berani mengumumkan. Masih takut kalau tidak ada yang percaya dengan perasaannya itu. Dan sejak dia bisa bertemu dengan Prita lagi dan komunikasi mereka mulai membaik, well, John sudah tidak sanggup menahan perasaannya lagi.”


“Lalu kenapa kamu menyembunyikan itu semua dari aku?.” Tanya Fania yang memandang serius pada Andrew.


“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, Heart. Beberapa kali aku coba membahas dengan kamu soal perasaannya John pada Prita kan?. Ingat ga?. Tapi kamu selalu menganggap dan bilang kalau ga mungkin, karena menurut kamu itu hanya rasa bersalahnya John saja pada Prita.”


“Harusnya kamu ngomong to the point dong?. Heart, John itu jatuh cinta sama Prita! Jatuh cinta beneran!.” Fania masih berargumen.


“Oke aku salah untuk itu.”


“Denger ya D, Prita itu adek aku, tapi coba lihat?. Aku malah jadi orang terakhir yang tahu soal Kak John yang nembak dia, soal mereka pacaran, bahkan sampai segala acara lamar melamar. Sedih tau ga aku?.”


“Maaf banget Heart. Tapi sungguh, aku ga bermaksud apa – apa.”


“Siapa aja yang sudah duluan tahu soal ini?.”


“Aku, R, Jeff dan Dewa.” Ucap Andrew. “Ara juga tahu, tapi hanya tahu soal John yang cinta pada Prita.” Lanjutnya. ‘Sorry brothers, kalau gue harus kena semprot, kalian pun sama!.’ Batin Andrew.


“Ponsel kamu sini.”


“Untuk?.”


“Mau ngasih apa engga?.”

__ADS_1


“Iya, aku kasih Heart. Aku kan hanya tanya.”


“Yang mana nih grup yang isinya tiga orang tadi?.”


“Grup dadakan The Daddys yang ga ada John nya.”


“Hemmmm.”


Fania pun langsung mengetikkan sesuatu di grup chat atas nama Andrew tentunya.


“Dan kamu ya D, aku ingin kamu melakukan apapun yang aku minta. Karena kalo engga, aku tarik hak kamu untuk merasakan semua goyangan.” Ancam si Kajol. ‘Tau rasa!.’


‘Alamak.’ Batin Andrew. "Everything I do, I'll do it for you Momma! Don't you worry! ( Aku lakukan semua untuk kamu, Momma! Jangan khawatir! ). Pegang omongan aku!." Sahut Andrew cepat. 'Masa bodohlah dengan si John!.'


Flashback off..


***


“HALE TO ALL MY UNBELIEVEABLE BROTHA!!. ( SALAM UNTUK PARA KAKAK LELAKIKU YANG SUKAR DIPERCAYA!! ). Yang tadi bilang gue bodoh??!.”


GLEK!


“Sorryyyy Naomy, aku kira si botak.” Ucap Dewa duluan cari aman.


“Afedersiniz, my Dear Little F. ( Maaf, Sayangku Little F ) ga ada maksud, oke. Lo mau minta dibelikan apa, hem?. Bilang sama kakak.” Reno tersenyum manis. “Love you... Hehehehe....”


“Gue ga ngatain lo bodoh loh ya!.” Pembelaan si bule gila.


Wajah Dewa, Reno dan Jeff langsung berubah tegang berjamaah saat melihat wajah Fania yang mendominasi di layar ponsel Andrew. Wajah cantik itu tak nampak marah, masih cantik, sedang tersenyum pada mereka malah.


‘Senyumnya Cruela.’ Batin Reno.


‘Perasaan gue mulai ga enak.’ Batin Jeff.


‘Senyum membawa luka.’ Batin Dewa.


“Wah, wah, ganteng – ganteng sekali wajah kalian wahai kakak – kakak lelakiku para penyembunyi fakta! Kalian anggap apa gue, HAH?!....”


Fania mulai nyerocos.


“Maaf Little F, ga ada maksud.” Sahut Reno.


“Iya ga ada maksud Jol. Kan kita mikirnya lo ga setuju kalau si John sama Prita.” Jeff menimpali.


“Sabar Naomy.” Ucap Dewa.


“Kaga ada!.”


Hanya Andrew yang tak bersuara. Ia hanya nampak sesekali memijat keningnya.


“Maksud kalian semua apa, Hah?!. Lo pada ga anggap gue ada?!. Bisa – bisanya kalian nyimpen kabar soal si Kak John yang nembak Prita, bahkan sampe ade gue sendiri dilamar aja gue juga ga tau?!.” Cerocosan Fania auto lanjut.


“Bukan gitu Jol ....” Jeff bermaksud menyela omongan Fania.


“Halah diem lo! Bener – bener ga pada menghargai gue lo ya?! Bla ... bla ... bla ....”


Yah kurang lebih setengah jam lah si Kajol nyerocos pada empat orang lelaki yang tak sanggup menginterupsi cerocosannya itu, termasuk Andrew.


‘Paru – parunya besar sekali mungkin ya, dia bicara seperti itu tanpa titik dan koma dalam satu tarikan nafas sepertinya.’ Batin Andrew.


“Ya udah, gue minta maaf ya adikku sayang?.” Ucap Reno saat Fania sudah nampak selesai dengan unek – uneknya. “Kak Reno minta maaf kalau lo tersinggung karena ini. Please?.”


‘Rapper juga ini kayaknya si Naomy. Panjang banget dia nyerocos tapi ga keliatan ngos – ngosan.’ Batin Dewa. “Iya, sorry, sorry, Naomy....” Ucap Dewa pada Fania yang masih terhubung di video call grup dengan mereka.


“Saranghae, Kajol yang cantik jelita tiada dua.” Ucap Jeff sambil tangannya membentuk simbol Saranghae bak oppa korea.


“Bodo!.”


Hanya satu kata jawaban si Kajol, dan panggilan video grup pun terputus. Sementara Ara dan Michelle yang ada disekitar Reno dan Dewa saat dua laki – laki itu sedang dicerocosin oleh Fania, hanya cekikikan ga kelar – kelar melihat suami mereka yang tak berdaya menghadapi si Kajol yang sedang kesal itu.


“Kan aku sudah bilang, Hon. Buru – buru kasih tahu Little F, kalian malah santai aja.” Ucap Ara sambil masih cekikikan.


“Ck!.” Sahut Reno.


*


“Kasihan deh Boo – Boo dimarahin Kak Fania! Emang enak dimarahin sama dia?. Haha!.” Ucap Michelle yang kemudian tergelak.


“Kamu sih nih!.” Sahut Dewa.


“Ih, kok aku?!.”


“Iya kamu yang telpon Naomy duluan kasih tau soal yang ada di IG nya John.”


“Ye, mana aku paham kalau ka Fania ga tau.”


“Ah ribet deh nih!. Bisa ga jadi dimodif gratis nih mobil aku, kalo si Naomy ngambek.”


*


Sementara Jeff melirik arlojinya.


“Gila! Setengah jam lebih si Kajol nyerocos!.”


*


To be continue...*

__ADS_1


Teriring doa dari Author untuk kita semua yang sedang merasakan Lock - Down kembali, semoga semua ini cepat berlalu. Dan kita semua diberikan kesehatan. Aamiin.


__ADS_2