
(MASIH)
KILAS BALIK
CERITA CINTA NATHAN
( Bagian 3 )
*****************************
Selamat membaca..
**********************
Nathan : Vi
Nathan mengetikkan pesan pada Kevia, tak lama setelah ia sampai di Kediaman Utama tempat tinggalnya, dan kini sudah masuk ke kamarnya.
Nathan : Vi
Dua pesan itu hanya dibaca saja oleh orang yang dikirimkan pesan oleh Nathan.
Membuat Nathan mendengus sebal karenanya.
Nathan : Gue telpon lo sekarang ya?
Nathan : Bales woi! Jangan Cuma di read doang
Nathan : Ngerti nulis pesan di smart phone ga sih?!
Nathan : VIIII ..!!
Nathan : Senin di sekolah awas lo ya!
Via : Sabodo!
Via : Diem jangan wa gue berisik gue mau tidur!
Nathan tersenyum tipis. Entah kenapa bibirnya kecentilan banget membentuk senyuman saat Kevia membalas
pesannya.
Setidaknya Nathan sedikit tenang. Itu anak ketus seperti biasa padanya. Setelah tadi Nathan merasa serba salah saat berada ditengah – tengah perseteruan adu mulut panas di rumah Kevia.
Hingga akhirnya dengan sangat terpaksa, karena jadi tak enak dan canggung sendiri dan terpaksa pamit pulang.
Tapi setelahnya Nathan jadi sedikit tak tenang.
*
Nathan termenung di atas ranjangnya otaknya sedang memikirkan Kevia. Entah kenapa apa yang tadi disaksikan Nathan di rumah Kevia sedikit mengusik relung hatinya. ‘Kayaknya sih begitu deh....’* Nathan membatin.
Nathan meyakini, setelah mengurutkan sikap Kevia pada sang papa dari sejak ia dan Kevia tiba di rumah gadis itu.
Bahwa hubungan Kevia dengan sang papa sangatlah tidak baik, begitu juga dengan seorang wanita yang Nathan tebak dan pasti benar adanya adalah ibu tiri Kevia. Karena Kevia menyebutnya dengan sebutan ular berbisa.
Nathan teringat saat Kevia bilang,
“Waktu anda berselingkuh dibelakang mama kalian enak – enak aja. Waktu mama mati terus ga lama kalian nikah pun saya lihat anda enak – enak aja, enak banget malah kan? Sampai – sampai itu calon anak ular dan suami ga ada akhlak ada diperut itu perempuan!”
‘Via .. cerita hidup lo menyedihkan juga ya?’
***
Hari senin datang......
“Are you okay? (Lo baik – baik aja?)” Tanya Nathan pada Kevia.
Nathan mendatangi rumah Kevia, karena hari ini Kevia tak datang ke sekolah.
Ga tau kenapa, Nathan ga tenang aja. Dari kemarin sebenarnya.
Ponsel Kevia tak aktif seharian dari kemarin, sampai detik Nathan mengirimkan pesan dan sampai Nathan tiba ke rumah Kevia pun sepertinya ponsel Kevia juga belum aktif, tapi Nathan nekat datang, saking tak tenang. Ada orangnya dirumah syukurnya. Tapi sedikit kacau, kayaknya belum mandi tapi kecantikan paripurnanya Kevia masih nempel aja.
“Maksud?” Tanggapan Kevia atas pertanyaan Nathan barusan.
“Ya elo baik – baik aja?. Ga masuk sekolah hari ini. Takut lo sama ancaman gue waktu hari sabtu?”
“Engga”
“Jadi?”
“Apanya?”
“Hish!” Nathan mendengus. Si Kevia ini kalo ditanya jawabannya ngeselin. Tapi kok sekarang Nathan merasa
semakin peduli pada Kevia. “Ya elo kenapa ga masuk?” Tanya Nathan ketus.
“Malas!”
“Belum mandi lo ya?”
“Malas”
“Amit!”
“Bodo!”
“Mandi sana!”
“Nanti. Baru juga bangun!”
“Parah! Anak cewe jorok, mandi malas, tidur kebluk!”
“Efek obat” Sahut Kevia dan Nathan mengernyitkan dahinya.
“Obat?. Lo sakit?”
“Engga”
“Nah terus minum obat?”
“Ck! Udah ah bawel banget sih lo!”
“Orang diperhatiin bukannya terima kasih!”
“Gue ga minta perhatian lo!”
“Hish!” Nathan mendengus lagi, tapi ga tahu kenapa ia memilih menyabarkan diri menghadapi cewe yang nyebelin dan ketusnya minta ampun ini. “Btw, rumah lo sepi banget. Papa lo kemana? Kerja ya?”
“Tau deh!” Kevia mengendikkan bahunya.
Nathan diam sesaat. Ingat kalau hubungan Kevia nampak tak baik dengan papanya.
“Lo sendirian di rumah?”
“Hum”
“Pada kemana memang?. Orang tua lo kerja semua?”
Kevia menatap Nathan dengan pandangan yang sulit Nathan artikan. “Yang lo bilang orang tua, itu kayaknya ayah biologis gue, sementara istrinya yang sekarang itu bukan ibu gue! Mama kandung gue sudah mati!”
Nathan menggigit bibir bawahnya. Merasa kikuk sendiri jadinya.
“Sorry”
“Mereka yang bunuh” Ucap Kevia datar, namun nampak ada luka tak terlihat dimatanya.
Nathan diam memandangi Kevia. “Jangan ngomong gitu, ga baik” Ucap Nathan pelan.
“Memang itu kenyataannya”
“......”
“Mama kandung gue bunuh diri. Over dosis. Kalo lo mau tau. Mereka penyebabnya. Buat gue mereka itu pembunuh. Suami ga ada akhlak sama ular berbisa. Perempuan murahan”
Nathan terkejut, ia membasahi bibirnya. “Sorry gue ga maksud” Ucap Nathan merasa tak enak.
“Biasa aja”
“Nih, gue ga disuguhin apa – apa gitu? Tamu ini gue”
Nathan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
“Tamu tak diundang”
‘Sabar ..’ Nathan menyabarkan dirinya.
“Ambil sendiri kalau mau minum, disini ga ad pembantu”
“Pasti ga tahan sama lo. Pedes kan mulut lo”
“Gue yang ga ngijinin ada pembantu. Biar itu ular berbisa ga Cuma tau ngangkang doang diatas ranjang!”
‘Astaga’ Nathan tak sangka kalimat itu keluar dari mulut Kevia.
“Mau minum apa?”
Kevia berdiri dari duduknya.
“Es jeruk”
“Ga ada”
“Soda”
“Ga ada”
“Es teh manis kalo engga teh hangat juga ga apa – apa”
“Ada, tapi gue males bikinnya. Air putih aja. Namu ke rumah orang jangan ngerepotin”
“Ya ngapain lo tanya dodol! ...”
Gemasnya Nathan ama ini cewe yang kelakuannya bikin geregetan.
“Eh?”
Nathan terkesiap sesaat.
Kevia terkekeh sebentar.
“Bisa juga ketawa?”
“Monyet aja bisa ketawa, gue manusia, pasti bisa lah!”
Nathan memandang Kevia sebal. Tadinya mau memuji, Kevia tambah keliatan cantik kalo ketawa. Berhubung
jawabannya ngeselin, jadi pujian Nathan urungkan.
***
__ADS_1
Beberapa hari berlalu......
“Ngapain?” Tanya Kevia saat Nathan menyambangi ke kelasnya.
“Ya mau nganter lo pulang lah!”
“Lo kalo suka bilang aja si?. Pedekate lo kelamaan!”
“Idih pede lo! Lagian gue heran sama lo nih ya, kenapa sih lo nunggu sekolah sepi dulu baru pulang? Ngerokok lo jangan – jangan di kelas” Cicit Nathan.
“Sembarangan lo! Hidung lo normal ga? Lo cium ada bau rokok emangnya?”
“Ya aneh aja habisnya!” Sahut Nathan. “Ya udah cepet ah gue anter lo pulang, Lagian bokap lo kan ternyata kenal sama bokap gue katanya. Satu klub dulu. Jadi paling engga gue nunjukin kesan yang baik sebagai anak bokap gue”
“Halah pencitraan!”
“Lo tuh ya, nethink aja sama orang!. Asli, gue serius peduli sama lo, meski pun seandainya papa lo ga kenal sama Dad gue”
Kevia sejenak terdiam, memandang Nathan.
“Ga usah repot – repot peduli sama gue. Ayah biologis gue aja ga peduli perasaan gue waktu dia nikahin itu ular berbisa dan membawanya kerumah setelah mama gue mati. Trus Mama gue juga pergi gitu aja seenaknya bunuh diri, ga peduli gimana nantinya gue”
Nathan terpaku ditempatnya. Hatinya mencelos mendengar repetan kalimat Kevia, yang sedang merapihkan
peralatannya sekolahnya.
“Lo hitungannya orang lain. Jadi jangan repot. Makasih, tapi gue ga butuh. Gue sudah terlalu nyaman dengan diri gue sendiri. Jadi sekarang lo pulang aja sana. Hari ini dan seterusnya lo ga usah repot mikirin gue lagi”
Kevia menjeda apa yang dia lakukan, berdiri menghadap Nathan.
“Thanks ya, tapi serius lo jangan ngerepotin diri mikirin gue”
“Kalo gue sendiri yang mau repot?”
Kevia tak menjawab, hanya tersenyum miring, lalu berbalik lagi meneruskan memasukkan peralatan sekolahnya yang Nathan heran selalu berhamburan. “Kurang kerjaan emang lo, ngerepotin diri lo buat gue?”
“Gue tanya, kalau gue sendiri yang mau repot kenapa?”
“Mending lo cari pacar sana! Biar ada kesibukan, kan jadi ga usah ngerepotin diri peduli sama gue” Kevia seolah mengalihkan. Nathan membasahi bibirnya sendiri, menghadapi si Kevia yang menurut Nathan kepala batu ini.
“Jawab dulu pertanyaan gue yang tadi, kalau gue yang mau repot peduli sama lo gimana?”
“Ga gimana – gimana” Sahut Kevia yang sudah siap merapatkan resleting tas ranselnya.
“Udah ayo ah!” Nathan menarik satu lengan Kevia dengan tergesa, membuat ransel Kevia jatuh ke lantai dan sesuatu yang menggelinding pelan dari dalam tas Kevia membuat Nathan mengernyitkan dahinya.
Tangan Kevia ingin segera meraih wadah kecil berwarna kuning transparan dan tertutup rapat yang menggelinding dari dalam tasnya itu.
Namun kalah cepat dengan tangan Nathan.
“Siniin!”
Nathan menepis tangan Kevia, sembari memperhatikan wadah kecil yang dipegangnya. Terlihat butiran – butiran
kecil berwarna putih didalamnya. Mata Nathan membulat, kini pandangannya beralih menyipit pada Kevia. “Lo minum ini?!”
“Bukan urusan lo! Siniin!”
“Gue tanya lo minum ini?!”
Suara Nathan sedikit meninggi. Pasalnya Nathan mengenali itu obat apa.
Kevia menatap Nathan lalu menjawab dengan santainya. “Kalo iya lo mau apa?”
“Lo tau ga ini obat apa?!”
“Kalau ga tau ga bakal minum! Lagian gue butuh, gue perlu tidur. Kalo ga minum itu gue ga bisa tidur”
“Tapi lo dapat sesuai resep dokter?” Suara Nathan kembali normal.
“Siniin” Kevia hendak merebut obatnya dari tangan Nathan yang tangan itu kemudian digenggam Nathan sambil memandangi Kevia lekat – lekat.
Pertanyaan Nathan yang tak dijawab Kevia sudah cukup bagi Nathan untuk membuat kesimpulan. Membuatnya
menghela nafas kemudian.
“Kenapa?”
“Nggak apa – apa. Gue hanya butuh tidur, dan itu bisa membantu gue tidur. Sayangnya Cuma sebentar, padahal gue berharap ga bangun lagi setelahnya. Dah siniin”
Oh Via, sampai sebegitunya.
Didetik itu Nathan membawa Kevia dalam pelukan.
“Jangan lagi, jangan diminum lagi. Gue mohon..”
Kevia diam saja, tak menolak pun berontak. Namun juga tak balik mendekap.
“Gue cape nyimpan dendam. Gue rasanya mau bunuh papa kalau lihat dia”
Kevia bicara dalam dekapan Nathan yang mencelos hatinya.
“Tapi ga bisa. Gue benci sama papa, tapi gue hanya sanggup membalasnya dengan ucapan menyakitkan
untuknya. Dendam yang ga penuh gue salurkan buat gue sesak. Kalau mata gue terbuka, sakit aja yang gue rasa. Jadi gue butuh tidur, tidur yang lama. Berharap itu obat bantu gue agar jangan bangun lagi, gue pasti bahagia. Karena seumur hidup papa pasti tersiksa melihat gue ‘pergi’ dengan cara yang sama seperti mama. Puas gue pasti. Balas sakit hatinya mama”
‘Via...’
Hati Nathan terasa nyeri mendengar ucapan Kevia.
Nathan mengeratkan dekapannya.
“Jadi tolong balikin obat gue” Kevia menolakkan tubuhnya dari dekapan Nathan. “Sini” Pinta Kevia yang pipinya sudah basah dengan air mata.
Baru ini Nathan melihatnya, ekspresi Kevia yang terluka. Yang selama ini ditutupi dengan kecetusannya, sikap menutup dirinya.
“Jadi gue harap lo berhenti peduli... gue ...”
Kevia tak bisa melanjutkan kata – katanya, karena Nathan membungkam bibir Kevia dengan bibirnya.
Dimana Kevia langsung membulatkan matanya. Mencoba berontak namun Nathan menahan tengkuknya, mendekap dirinya dengan erat.
“Jangan lagi minum ini. Kapanpun jam berapapun lo butuh gue, minta gue dateng, gue akan dateng ...” Ucap Nathan setelah melepaskan bibirnya dari bibir Kevia. "Gue sayang sama lo Vi"
“Gue mau pulang. Kita kelamaan disini, nanti dikira ngapa – ngapain sama satpam”
Ah dasar Kevia – Nathan menarik sudut bibirnya. Sikap Kevia yang seperti ini mungkin yang bikin Nathan suka.
“Ya udah ayo!”
“Obat gue siniin”
Nathan mengabaikan. Mengantongkan obat itu dalam sakunya. Nanti akan dia buang.
“Ngapain?”
“Ngecek siapa tahu ada lagi” Nathan mengambil ransel Kevia dan mengecek setiap kantong ransel tersebut. Lalu
menutupnya setelah yakin Kevia tak memiliki persediaan obat lain. “Yuk!”
Nathan menggenggam tangan Kevia, membawanya keluar kelas dan menenteng ransel Kevia.
**
Nathan tersenyum dengan manisnya. Pagi – pagi dia sudah sampai di rumah Kevia. Rapih berseragam dengan
motor sport kesayangannya. Yang ga perlu dilihat dengan seksama, baca merk motornya pun sudah terbayang harganya dikisaran berapa.
Nathan sudah dipersilahkan masuk dan duduk oleh papanya Kevia yang tadinya sedang sarapan bersama istrinya. Sepertinya mau berangkat kerja.
Kevia kalau dibilang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Meski bukan seorang CEO besar seperti para
Daddiesnya, tapi yang Nathan tahu, papanya Kevia itu bekerja di sebuah Perusahaan besar dan posisinya juga lumayan. Terlihat dari rumah yang ditinggali Kevia meski yah memang tak sebesar kediaman keluarganya.
Persis seperti yang Kevia bilang. Dan kalau ingat alasannya, membuat Nathan meringis sendiri.
“Ngapain?”
Kevia sudah menghampiri Nathan di ruang tamu. Sudah rapih berseragam juga.
“Jemput pacar” Sahut Nathan pelan.
“Emang kita pacaran?”
“Lupa kemarin di kelas kamu kita ngapain?”
“Kamu?”
“Ck! Iya kamu. Ga mau ngomong gue elo lagi sama pacar”
“Gue ga ngerasa jadi pacar lo”
“Terserah. Buat aku kita pacaran mulai sekarang. Ya udah ayo, berangkat” Ajak Nathan yang sedari tadi bicara pelan nyaris berbisik. “Eh iya sarapan dulu deh kamu. Belum sarapan kan?” Ucap Nathan seraya bertanya.
Disaat yang sama papanya Kevia menghampiri Nathan dan Kevia.
“Via, sarapan dulu sayang. Papa sudah buatkan nasi goreng kesukaan Via. Ajak Jo sekalian” Ucap papanya Kevia dengan lembut.
“Iya om, terima kasih. Aku sudah sarapan tadi. Via aja, aku tungguin” Sahut Nathan sopan.
“Ayo” Kevia berjalan ke arah pintu mengabaikan sang papa. Lagi – lagi membuat Nathan salah tingkah.
“Via...” Papanya Via memanggil putrinya pelan. “Nanti Via sakit perut kalau ga sarapan” Ucapnya sambil memandang punggung sang putri yang terus saja berjalan. Putrinya tetap mengabaikan.
“Nanti biar aku yang bujuk Via sarapan di sekolah Om”
“Makasih ya Jo”
“Iya Om. Saya permisi kalo begitu” Pamit Nathan.
“Iya hati – hati. Om titip Via ya? Baru kamu teman yang dibawa Via kesini. Jadi Om rasa dia nyaman sama kamu. Selama ini Via ga pernah membuka diri”
“Iya Om” Nathan mengangguk pelan. “Permisi ya Om, saya dan Via berangkat dulu”
Papanya Kevia tersenyum ramah dan berjalan bersama Nathan menuju arah teras depan rumahnya.
***
“Vi”
“Hm?”
Nathan dan Kevia mampir di tukang bubur ayam dekat sekolah. Kevia yang minta. Lapar katanya. Nathan
mengiyakan karena memang sudah niat mau bawa Kevia sarapan. Syukurnya si yayang minta duluan.
Iya Yayang. Buat Nathan sekarang dia dan Kevia udah pacaran. Masa bodoh sama sikapnya Kevia.
“Sikap kamu sama papa kamu, apa ga keterlaluan?” Ucap Nathan tapi Kevia nampak datar. “Sebesar apapun
kesalahannya sama kamu, dia tetep orang tua kamu loh Vi. Dia sayang banget sama kamu, kelihatan dari sikapnya ke kamu. Belum lagi pandangannya kalau kamu ketus sama dia”
__ADS_1
“Lo ga tahu story jadi jangan sok ambil kesimpulan”
Nathan pun memilih diam.
***
“Ngapain ngikutin?” Tanya Kevia pada Nathan yang mengikuti langkahnya.
“Mau anter pacar ke kelas lah”
“Sejak kapan gue jadi pacar lo?. Gue ga ngomong apa – apa perasaan”
“Gue cium lagi nih ya” Gemasnya Nathan pada Kevia.
Kevia diam kemudian, sedikit melirik sinis pada Nathan. “Lo kan belom nembak gue secara resmi. Asal sosor aja kemarin”
Nathan tersenyum lebar. “Oh, jadi dek Via mau ditembak?” Godanya.
Kevia tak menyahut, kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Nathan kembali mengikutinya.
“Kok ga dijawab?”
“Malas! Gaje!”
“Dih, gaje darimana?. Aku padamu ini” Goda Nathan lagi sambil terkekeh lalu merangkul pundak Kevia. Membuat keduanya jadi perhatian para siswa – siswi yang sudah ada di sekolah, dan langsung jadi bahan gibahan instan. Kevia diam saja. Bersikap masa bodoh pada Nathan seperti biasa jika gadis itu nampak sebal padanya.
Hingga jam istirahat tiba, bau – bau kebucinan mulai melanda.
“VIAA!! KEVIAAA!!”
Itu Nathan yang berteriak antusias dari lapangan basket memanggil Kevia yang baru keluar dari kelasnya saat jam istirahat tiba.
Membuat Nathan tentu saja jadi puncak perhatian satu sekolah. Termasuk anak tim basketnya. Yang terperangah sekaligus heran memandangi sang kapten tim yang cengengesan setelah berteriak hingga yang dipanggil menoleh kaget, termasuk teman – temannya.
“AKU PADAMU VIAA!! I LOVE YOU! ICH LIEBE DICH! SARANGE EONNI VIAA!..”
Membuat Kevia membulatkan mata, suasana sekolah riuh seketika bukan karena berebut ke kantin atau ke tukang jajanan diluar sekolah, tapi riuh dan berkumpul memperhatikan Nathan yang setengah berlari menghampiri Kevia.
Sony dan teman – teman Nathan dan lain pun menganga. Kenapa si Jo jadi sereceh itu sekarang. Kebanyakan cewe yang nembak dia biasanya. Pun kalo si Jo yang nembak duluan juga simpel aja omongannya. Mau jadi pacar gue? Mau sukur engga ya udah.
Tapi sekarang coba lihat itu si Jo yang lagi nembak Kevia. Receh bin Alay, tapi ngegemesin ga sih.
“Tuh sudah aku tembak. Sekarang kita resmi pacaran, satu sekolah saksinya” Nathan berdiri didepan Kevia, sedikit membungkukkan badannya, pada Kevia yang nampak masih terkesima. “SON!”
Nathan menoleh dan memanggil sahabatnya itu.
“Bawa sini itu coklat!” Seru Nathan pada Sony yang mengumpat, karena coklat titipan Nathan ternyata buat nembak si Kevia yang juga Sony incar. “Buat kamu, ga boleh nolak”. Ucap Nathan yang sudah beralih lagi pada Kevia dengan menyodorkan sekotak coklat. “Bunganya nyusul”.
“Ada orang nembak nyicil?” Kevia bersuara.
“Iya udah terima dulu. Nanti bunga pilih sendiri”
“Maksa?”
“Ga suka?”
“Engga” Sahutan Kevia membuat Nathan menatap sebal padanya.
“Yaa ditolak pak kapten!”
Ejekan dari teman – teman se-tim Nathan.
“Serius ga suka?”
“Iya” Sahut Kevia. “Bunganya. Tapi coklat, gue suka” Mengambil coklat yang tadi disodorkan Nathan hingga membuat Nathan kegirangan.
“Jadi?”
“Apanya?”
“Kita”
“Kenapa?”
“Statusnya?”
“Maunya?”
“Pacaran?”
“Ya udah”
Nathan pun jijingkrakan, mengepalkan tangan antusias simbol keberhasilan. Cewek terbadai Nathan dapatkan, setelah banyak cowo di sekolahnya yang Kevia berikan penolakan.
“Oke, saudara – saudara! Sudah jelas ya semuaa?? ... Kevia punya gue!. Kalian remahan rengginang harap minggir! Buang jauh – jauh mimpi kalian jadikan Kevia pacar! Punya gue dia sekarang!”
Nathan mengoarkan pengumuman. Saat Kevia sudah berjalan menuju kantin yang tidak diikuti Nathan. Belum sih, nanti pasti Nathan susulin.
“Bangke... ******...” Celetuk Sony kemudian. Nathan terkekeh.
“Pangeran selalu didepan”
“Heleh!”
“Dah bubar – bubar!”
Nathan mengibas – ngibaskan kerumunan. Dimana banyak wajah – wajah lesu mendominasi. Hari patah hati
nasional di sekolah Nathan. Si cewe terbadai udah jadi punyanya Nathan, si pangeran sekolahan.
“Aduuuh, hati abang rasa kek kebelah dua”
Begitu kira – kira komennya mereka. Termasuk Sony dan dua teman akrabnya Nathan. Yang sebodo amat Nathan tak perdulikan. Meski mereka memang mengincar Kevia, tapi tetap saja tak mempengaruhi pertemanan. Rezekinya si Jonathan emang.
***
“Sabtu dandan yang cakep ya” Nathan berkata setelah dua minggu Kevia jadi pacarnya.
“Mau ngelamar?” Celetuk Kevia asal.
“Kepingin banget aku nikahin?”
“Engga tuh!”
“Aku mau ajak kamu”
“Kirain mau ngelamar”
“Ya enggalah kalau sekarang sih ...”
“Bagus deh. Jangan”
“Apanya yang jangan?”
“Ngelamar. Ga sekarang atau nanti, ga usah. Ga minat nikah”
“Kenapa? Trauma karena orang tua kamu?” Nathan membelai kepala Kevia.
“Bukan”
“Terus?”
“Kasihan nanti suami gue” Ucap Kevia membuat Nathan mengernyitkan dahinya.
“Kenapa?”
“Jadi duda dengan segera. Karena gue ga berencana hidup lama”
Detik itu Nathan teremat hatinya, memandangi Kevia dalam diam. “Aku ga suka denger kamu ngomong begitu”
Membawa Kevia bersandar didadanya dalam ruang tamu Kevia. “Kamu harus hidup lama, buat aku”
“.....”
“Tolong, jangan lagi merasa sendirian. Ada aku kan sekarang?”
“....”
“Vi?”
"Apa?"
"Janji ya? jangan bicara kayak gitu lagi. Jangan minum obat penenang lagi"
“Iya...”
"Awas ya, pokoknya akan aku cek. Tiap minggu aku akan ajak kamu cek darah"
**
Hari sabtu, hari yang ditunggu Nathan pun tiba. Dengan semangatnya ia pergi mengendarai mobilnya ke rumah Kevia. Sebenarnya hari ini Nathan mau membawa Kevia ke Kediaman. Mau dikenalkan pada Daddy dan Mamanya. Berikut seluruh keluarga yang tinggal bersama mereka.
Baru ini Nathan begitu ingin mengenalkan pacarnya pada seluruh keluarga. Nathan yakin pada perasaannya atas
Kevia.
Nathan mau dia dan Kevia terus bersama seterusnya. Sudah membulatkan tekad, saat lulus SMA ga akan menunda kuliah. Terus kerja, yang jelas pasti disalah satu Perusahaan milik Daddy atau keluarganya. Mau buat Kevia bangga, ya selain orang tua keluarganya. Habis itu melamar Kevia.
Sudah sejauh itu rencana Nathan.
“Vi?” Nathan memanggil Kevia. Pintu rumahnya terbuka lebar, saat Nathan memasukkan mobilnya di pekarangan rumah Kevia. Namun rumah itu nampak sepi, garasi juga terbuka lebar dan hanya ada satu mobil disana. Setahu Nathan biasanya ada dua.
Nathan memperhatikan sekeliling. Rajin, menutup pagar kayu cukup tinggi rumah Kevia yang tadi terbuka lebar, sepertinya ada yang pergi dengan tergesa.
Mudahan saja bukan Kevia, karena sedari pagi ponsel pacar Nathan itu tidak aktif. Nathan berjalan masuk
setelah menutup pagar, sambil matanya juga iseng jelalatan. Membatin saat melihat CCTV di pekarangan yang ngapain dipasang kalau ga diaktifkan. Rusak kali - pikir Nathan. Karena lampu CCTV nampak mati.
‘Ini ....??’
Langkah Nathan terhenti diteras rumah karena tetesan warna merah diatas lantainya.
“VI!”
Nathan memekik ketakutan menyadari kalau noda berwarna merah itu adalah darah yang entah darah siapa. Namun mengingat Kevia yang selalu bicara ingin menyusul sang mama kandungnya, atau saat Kevia bilang ingin membunuh papanya, jadilah praduga Nathan membuatnya takut tak terkira.
Nathan khawatir Kevia pendek akal dan melakukan hal gila.
“VIA!” Mata Nathan membulat sempurna. Kevia nya disana, dengan tangan yang dibubuhi warna merah yang sama
seperti noda diteras rumah.
***
To be continue ...
Usut punya usut ini episode jumlahnya tiga ribu kata keknya. Panjang ye, biar lamaan dikit bacanya.
Penasaran ape bosan?
Ah tapi biarin aje deh ye, biar jelas urutan nye.
__ADS_1
Tapi episode ke depan bisa jadi kesengklak plotnya campur kemasa sekarang.
Gitu aje, enjoy