THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 343


__ADS_3

TEGARKAN HATI


Selamat membaca ...


***********************


“And keep it in your both head. No matter what will happen in future, our family will find the way for sure even the sky is tumbling down (Dan camkan ini di kepala kalian berdua. Tidak masalah apapun yang akan terjadi di masa depan, keluarga kita pasti akan menemukan cara meskipun langit mulai runtuh)”


Daddy R berkata dengan tegasnya, namun senyum kehangatan kemudian mengurai di wajah tampan ayah kandung si Abang itu.


“And of course, we need to stand side by side as always (Dan tentu saja, kita harus selalu berdiri berdampingan seperti biasa)”


“Yes, of course! (Ya, tentu saja!)”


Ucapan Poppa membuat semua pria The Adjieran Smith yang bersamanya langsung manggut – manggut.


****


Satu per satu pria The Adjieran Smith keluar dari ruang billiard mengikuti Varen yang sudah lebih keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut, takut jika Andrea terbangun dan mencarinya.


“Mom ..”


“Abang ..... baru Momma mau panggil”


“Apa Little Star terbangun dan mencariku?”


Momma menjawab dengan gelengan.


“Sepertinya dia cukup pulas tidurnya, baru aja Momma cek. Momma dan yang lain sudah agak mengantuk, makanya mau panggil kamu”


Varen manggut – manggut sembari tersenyum. “Thanks ya Momma” Ucap Varen.


“Yeee apa sih, tanks tenks tanks tenks!....” Momma mengacak rambut si Abang yang terkekeh kecil.


“Ya sudah Momma pergilah beristirahat”


Momma mengangguk dan berjalan pergi setelah memberikan ucapan dan pelukan selamat malam pada si Abang.


****


Yang Varen dapati saat ia memasuki kamarnya sesuai dengan apa yang Momma katakan kalau Andrea memang


nampak tertidur sangat pulas. Tidak seperti saat di Rumah Sakit, yang sedikit – sedikit Andrea terbangun.


Varen mendekati lalu mengelus lembut dan perlahan pipi Andrea.


Takut sih membangunkan Andrea, tapi Varen selalunya gemas setiap melihat istri kecilnya itu kala tidur.


“Nitey Nite (Selamat malam), Little Star” Varen berbisik di telinga Andrea.


Andrea sedikit menggeliat namun tak sampai bangun. Varen membetulkan selimut Andrea.


‘Sepertinya memang Little Star tidur sangat nyenyak...’ Abang Varen membatin. ‘Aku tinggal berendam sebentar mungkin tak apa ....’


Varen melirik jam digital diatas nakas samping ranjangnya dan Andrea, dan memang Abang merasa tubuhnya sedikit butuh relaksasi.


Dan rasanya berendam sebentar di bathtub dengan aromaterapi dapat sedikit meredakan keletihan yang Varen rasakan pada tubuhnya.


“Aku tinggal sebentar ya Little Star ..” Ucap Varen seraya bergumam dan langsung menegakkan dirinya lalu masuk ke kamar mandi.


**


Varen sudah menenggelamkan setengah tubuhnya dalam bathtub berisikan air hangat yang sudah ia campurkan


dengan minyak aroma terapi, dan menyandarkan punggung nya dengan kepala yang juga ia sandarkan di bantal penyangga bathtub dan kedua tangannya terulur santai dikedua sisi bathtub.


Varen melirik ke arah pintu kamar mandi dan menatap sebentar kearah ranjang dimana Andrea masih nampak


lelap disana.


Varen memang sengaja tidak menutup pintu kamar mandi bahkan membukanya lebar – lebar, semata – mata agar


ia tetap dapat mengawasi Andrea dari tempatnya. Ia menyunggingkan senyum tipis kala melihat Andrea masih bergeming dalam  tidurnya, dan setelahnya Varen membenarkan posisi kepalanya di bantalan bathtub sembari memejamkan matanya sebentar untuk merilekskan dirinya sejenak.


*****


‘Ya ampun! Bisa – bisanya gue ketiduran!....’


Varen terkesiap dengan posisi masih berendam dalam bathtub yang airnya kini sudah tidak terasa hangat lagi. Varen langsung mengusap wajahnya dan beranjak dari bathtub untuk membasuh tubuhnya di bawah guyuran air dalam bilik shower.


Mata Varen melirik juga ke arah ranjang saat dia keluar dari dalam bathtub. Sedikit mengernyit karena mata Varen sepertinya tak melihat Andrea ada diatas ranjang. ‘Little Star! ..’ Varen langsung menyambar bathrobe yang tadi sudah ia bawa dan memakainya dengan tergesa.


Varen berjalan cepat untuk keluar dari kamar mandi karena matanya positif tidak melihat keberadaan Andrea di atas ranjang mereka. Varen langsung mengecek balkon untuk mencari Andrea.


“Little Star?”


Varen memanggil Andrea sembari berjalan menuju pintu.


‘Apa Little Star turun untuk mencari snacks (cemilan)?’


Namun seketika Varen tersadar karena ia masih mengenakan bathrobe dan tidak memakai apa – apa lagi dibaliknya.


‘Tapi pintu masih terkunci rapat..’ Batin Varen yang sempat melirik keadaan pintu yang sepertinya tidak berubah saat dia masuk, menutup lalu menguncinya.


Varen berjalan menuju walk in closet sedikit cepat untuk berpakaian dan mencari Andrea di lantai bawah yang mungkin saja pergi ke dapur seperti biasa, karena memang Andrea sering ngemil malam – malam.


**


“Little Star!!!”


Varen sontak saja langsung membulatkan matanya, terkejut mendapati Andrea yang berada di dalam walk in closet mereka dan Varen menjadi panik.


Yang membuat Varen menjadi panik adalah, Andrea duduk meringkuk disalah satu sudut walk in closet dan badannya nampak bergetar berikut wajahnya yang terlihat pucat seperti orang yang sedang kedinginan.


“Di-ngin Ab-baanngg ...”

__ADS_1


Tak berpikir panjang, Varen yang mendengar Andrea berkata kalau dia sedang kedinginan langsung membuka


lemari dan menyambar sebuah jaket miliknya yang langsung ia balut rapat di tubuh Andrea yang Varen angkat kemudian.


Varen langsung membaringkan Andrea diatas ranjang, menyelimutinya dengan rapat tanpa membuka jaket yang


tadi ia pakaikan pada Andrea dan mematikan pendingin udara dalam kamar sebelum mengecek kembali suhu tubuh Andrea yang memang sudah dingin kala Varen menyentuh tangan Andrea di walk in closet tadi.


“Di-ngin Ab-baanngg ...”


“Sebentar- a-aku ambilkan selimut tambahan ....”


Varen yang nampak panik dan gusar itu kembali melangkah dengan cepat menuju walk in closet pribadinya dan


Andrea. Varen mengambil sembarang baju dan celana untuk lekas dia pakai dan mengambil selimut tambahan untuk Andrea.


“Hish! Stupid!”


Varen mengumpat pelan, karena ingat kalau seluruh persediaan set bed cover dan segala sesuatu yang


berhubungan dengan itu disimpan disuatu tempat khusus dan biasanya memang menjadi urusan para asisten rumah tangga mereka.


“Ab-baangg....”


“Iya!.....”


Varen bergegas keluar dari walk in closet dengan tergesa menghampiri Andrea.


“Oh Tuhan Little Star!”


Varen semakin panik dan khawatir karena Andrea nampak semakin pucat dan Andrea yang tadi dibaringkan


Varen kini sudah duduk meringkuk seperti saat Varen menemukannya di dalam walk in closet tadi. Badan Andrea nampak lebih bergetar dari sebelumnya, bahkan giginya terdengar ber gemeletuk.


“Di-ngin Ab-baanngg ...”


“Little Star ...”


Varen langsung membawa tubuh Andrea yang menggigil hebat itu dalam dekapannya sembari menarik selimut dan


membalut tubuh Andrea ketat dengan selimut tersebut baru Varen mendekap erat dan kuat Andrea sembari mengusap – usap bagian lengan Andrea dari selimut yang dibalutkan Varen ke tubuh istri kecilnya itu.


***


Kekhawatiran terus melanda diri Varen, pasalnya tubuh Andrea tak berhenti menggigil bahkan setiap menit


sepertinya tubuh Andrea terasa semakin dingin dan Varen yang sudah menghubungi Dokter Alan untuk memberitahukan kondisi Andrea menunggu tak sabar kedatangan ayah dari sahabatnya itu untuk segera mengecek kondisi Andrea.


Varen tidak bisa tenang, melihat Andrea yang nampak sangat kedinginan meskipun suhu kamar sudah Varen


rasakan mulai panas.


Dokter Alan sudah memberitahukan Varen untuk memberikan salah satu obat Andrea yang ada dalam resep yang dia berikan untuk dikonsumsi Andrea selama tahap observasi kondisinya.


“Di-ngin Ab-baanngg ...”


Varen membatin dengan sangat cemas. Pasalnya suhu tubuh Andrea yang Varen rasakan melalui dahi istri


kecilnya itu terus saja bertambah dingin, namun buliran keringat juga bermunculan disekitar wajah Andrea.


“Tung-gu sebentar, hem?!”


Varen berdiri dengan cepat dan tergesa dari ranjang.


***


“MBA ADIISS!!....” Varen berteriak dengan keras di reling tangga yang berada di depan kamar pribadinya dan Andrea.


Varen tak sabar. Salah seorang asisten rumah tangganya yang sudah dia hubungi lewat interkom dari kamarnya langsung ke kamar salah seorang asisten rumah tangganya yang bekerja sekeluarga di Kediaman Utama untuk membawakannya selimut itu belum juga datang, sementara Andrea sudah semakin menggigil.


“Iya Deennn!! ....” Terdengar sahutan dengan suara tergesa bercampur panik juga dari lantai bawah. Dan setelah sahutan dari asisten rumah tangga yang Varen tunggu tak sabar itu, dengan cepat Varen kembali ke dalam kamar untuk memberikan obat pada Andrea yang disarankan Dokter Alan padanya lewat saluran telepon tadi untuk penanganan pertama.


“Ada apa, Bang???!!”


Nathan yang keluar dari kamarnya dengan wajah terkejut karena dia dan Kevia yang memang belum tidur itu


mendengar suara teriakan si Abang barusan.


Namun Varen mengabaikan Nathan yang bertanya padanya sembari keluar dari kamarnya itu disusul Kevia yang nampak panik juga.


Varen mengayunkan langkahnya lebar – lebar dan cepat ke dalam kamarnya dan Andrea.


Pemandangan yang Varen lihat kemudian membuatnya langsung berlari ke arah ranjang, dan melupakan niatnya


untuk mengambil obat yang akan diberikan pada istri kecilnya itu.


“LITTLE STAR!!!” Varen berteriak karena Andrea terlihat mengejang dan bibirnya yang mulai membiru.


“DREA!!” Nathan yang dengan tergesa mengekori si Abang juga memekik saat melihat kondisi Andrea, termasuk


Via.


Nathan dan Via langsung mendekat sementara Varen sedang memegang wajah Andrea yang nampak menegang.


“Little Star, buka mulut kamu! .... Buka Little Star!”


“Ya Allah Non Drea! ....” Mba Adis yang datang langsung saja memekik dan meletakkan selimut yang dibawanya di atas ranjang dekat Varen yang sedang menangkup wajah Nyonya mudanya itu, lalu berdiri dengan panik di dekat Varen yang sedang membujuk Andrea untuk membuka mulutnya itu karena Mba Adis sendiri juga bingung harus bagaimana.


Di belakang mereka, orang – orang yang berada di lantai atas Kediaman Utama tak lama juga berhamburan keluar dari kamar mereka, setelah memastikan mereka mendengar suara Varen yang berteriak sebanyak dua kali.


Beberapa sudah mendengar sayup – sayup suara teriakan Varen yang memanggil salah seorang asisten rumah


tangga mereka itu, namun tidak langsung keluar.


Namun ketika mendengar teriakan kedua si Abang yang menyebut panggilan sayang Andrea, disusul suara teriakan Nathan yang menyebut Andrea juga, pada akhirnya semua orang yang kamarnya berada di lantai dua langsung berhamburan tanpa menunggu lagi.

__ADS_1


“Buka mulut kamu Little Star! Buka, Sayang!....” Mereka yang keluar dari kamarnya tadi langsung masuk ke kamar Varen dan Andrea yang memang terbuka lebar dimana pemandangan yang mereka dapati sungguh membuat mereka nampak syok. Varen sedang mencoba membuat Andrea membuka mulutnya, yang Varen curigai kalau istri kecilnya itu sedang menggigit lidahnya sendiri.


Momma dan semua yang datang bersamanya memekik bersamaan dan langsung mendekati ranjang. Tak bertanya apa yang terjadi karena keburu panik dengan sangat, melihat Andrea yang mengejang dengan wajah pucat dan bibir yang mulai membiru.


“Obat! Keranjang obat Little Star!” Varen berseru setelah ia berhasil membuka mulut Andrea dengan sedikit


pemaksaan dengan Nathan yang memegangi tubuh Andrea hingga Varen bisa fokus membuat Andrea membuka mulutnya. Dan kini Varen merelakan tangannya untuk menahan mulut Andrea agar tidak kembali tertutup jadi Andrea tidak sampai menggigit lidahnya sendiri.


Poppa yang kemudian langsung menyambar keranjang obat Andrea dan menumpahkan isinya ke atas nakas dengan cepat.


“Yang mana Bang?!” Tanya Poppa dengan cepat.


Varen rasanya blank saat ini, padahal tadi Dokter Alan sudah memberitahukan obat mana yang perlu diberikan untuk menstabilkan kondisi Andrea sebelum ayahnya Rendy itu tiba.


“Sesuatu untuk membuatnya berhenti menggigil Pop!!..”


“Ini!”


Poppa langsung memberikan obat tersebut pada Varen setelah dibantu Daddy R tadi untuk membaca setiap nama


obat hingga tahu yang mana yang Varen maksud meski Varen tak menyebutkan nama obatnya.


***


“Gimana tangan lo Bang?”


Nathan bertanya pada Varen saat Andrea sudah mulai tidak lagi nampak menggigil dan mengejang. Dan dia


berdiri disamping Varen saat ini.


Kini Andrea sudah dibaringkan karena Dokter Alan sudah datang dan sedang mengecek kondisi Andrea.


“Okay” Jawab Varen yang mengabaikan rasa perih di lengannya akibat gigitan Andrea sembari memperhatikan


dengan seksama Andrea yang sedang diperiksa oleh Dokter Alan.


“Ab-ang ..”


Varen langsung merengkuh tubuh lemah Andrea kala Little Star-nya itu memanggilnya setelah Dokter Alan selesai memeriksa Andrea.


Sementara Dokter Alan sendiri kemudian beranjak dari tempatnya dan mendekati para orang tua yang berdiri untuk mendengar penjelasan Dokter yang merupakan kerabat mereka itu.


“How is she? .. (Bagaimana keadaannya?)”


“Mengapa dia bisa seperti itu? ..”


“Dari sejak kembali dari Rumah Sakit hingga beberapa jam yang lalu Drea nampak baik – baik saja. Tapi kenapa sekarang dia bisa menjadi seperti tadi?”


Para Dads dan Gappa juga Ake mengajak Dokter Alan untuk berbicara di balkon kamar Varen dan Andrea. “Begini..”


Dokter Alan mulai berbicara untuk menjelaskan kondisi Andrea terkait beberapa zat adiktif yang sudah masuk ke tubuh Andrea, dimana salah satunya memang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan beberapa efek jangka pendek maupun jangka panjang bagi orang yang terlanjur mengkonsumsi dzat tersebut dengan sengaja atau tidak sengaja.


Mereka yang mendengar penjelasan Dokter Alan kemudian sama – sama menghembuskan nafas mereka sedikit


berat. “Tapi laporan hasil pemeriksaan darah Drea mem perlihatkan kalau kandungan zat adiktif yang sempat masuk ke tubuhnya sudah hampir bersih bukan?” Tutur Poppa.


Para pria yang bersama Poppa juga turut mengiyakan.


Dokter Alan manggut – manggut. “Memang....” Sahut Dokter Alan.


“Lalu mengapa Andrea bisa seperti tadi?”


“Barbiturat. Yang kemungkinan besar menyebabkan Andrea mengalami hipotermia seperti tadi. Dan tadi sudah


kukatakan kalau beberapa zat adiktif lainnya termasuk yang paling berbahaya, meskipun sudah ternetralisir dalam darahnya, namun kemungkinan besar sedikit banyak sudah sampai ke sistem saraf Andrea terlebih dahulu”


“Solution? (Solusi?)”


“Aku sudah meminta seseorang untuk membawakan cairan infus dan beberapa obat untuk Andrea, nanti setelah


habis bawa Andrea ke Rumah Sakit untuk kembali diobservasi”


“Apa harus Drea kembali di rawat?”


“Tergantung pada hasil pemeriksaan lab-nya nanti”


“Apa ada kemungkinan Drea mengalami hal seperti tadi dalam waktu dekat?”


“Semoga tidak” Jawab Dokter Alan. “Aku sudah menyiapkan beberapa obat nanti untuk mencegah hal yang dialami


Andrea barusan jangan terjadi lagi. Tetapi....”


Dokter Alan menjeda kata – katanya yang membuat semua yang bersama Dokter tersebut menatapnya was – was,


menunggu Dokter Alan meneruskan kata – katanya.


Dokter Alan melipat bibirnya sebentar.


“Aku khawatir kalau yang terjadi pada Andrea adalah gejala ‘menagih’”


Ucapan Dokter Alan semakin menambah kecemasan para pria The Adjieran Smith saat ini.


Dan para pria tersebut tercengang setelah Dokter Alan menambah ucapannya lagi. “Jika memang itu terjadi seperti yang aku khawatirkan, dan tubuh Andrea tak mampu menahan, maka tidak ada cara lain selain rehabilitasi”


***


To be continue......


Support kalian selalu emak tunggu ya sayang – sayangnya emak semua.


Mohon maaf update masih lambat banget ya.


Terima kasih untuk support dan pengertian, serta kesetiaan kalian mantengin karya receh emak dan salam


sayang selalu buat kalian.

__ADS_1


__ADS_2