THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 166


__ADS_3

#  MORE THAN WORDS  #


( Lebih Dari Sekedar Kata – Kata )


Selamat membaca ....


 


*************************


London, England...


Lucca dan Fabiana sedang duduk dan mengobrol santai bersama dengan Mom dan Dad di Mansion Utama yang berada di London sabtu ini. Reno dan Ara yang memang stay di London juga sekarang, bisa dibilang berbagi tugas dengan dua J berikut Prita dan Jihan untuk jaga – jaga atas dua bumil di keluarga mereka itu.


Valera sedang bersama Mama Anye di ruang bermain. Karena Varen lebih memilih untuk ikut Andrew dan Fania juga Andrea pergi ke Indonesia sejak dua bulan lalu.


“Have you both already prepared name for you little baby girl when she born later?. ( Apa kalian berdua sudah menyiapkan nama untuk bayi perempuan kecil kalian saat ia lahir nanti?.”


“Already Mom. ( Sudah Mom ).”


“When exactly my next grand daughter will born?. ( Kapan tepatnya cucu  perempuanku selanjutnya akan lahir? ).”


Dad ikut bertanya seperti Mom. Dua kakek nenek yang sudah punya banyak cucu itu tetap saja merasa bergembira setiap kali mereka akan mempunyai cucu lagi. Toh mau berapa lusin cucu yang mereka akan punya pun, rasanya harta keluarga mereka masih lebih cukup untuk membiayai mereka hingga mereka beranak pinak pula.


“Judith said, the prediction is about a week ahead. ( Judith bilang, diprediksikan sekitar minggu depan ).”


Tidak seperti Andrew yang tidak pernah mau mengetahui jenis kelamin anaknya bahkan sejak Fania mengandung Andrew, Lucca kebalikannya. Pria Italia dengan sebutan hantu itu, sudah gatal dari sejak tahu Fabiana mengandung untuk mengetahui pula jenis kelamin anaknya. Biar bisa mempersiapkan dari awal katanya. Dan yah, memang biangnya hantu itu benar – benar mewujudkan ucapannya.


Lucca benar – benar mempersiapkan segala hal untuk menyambut bayinya dan Fabiana. Bahkan berlebihan kalau menurut Fabiana.


“Could be less or more. ( Bisa kurang atau lebih ).”


Reno bersuara. Pria yang sudah punya dua anak itu nampak sudah paham segala kemungkinan yang terjadi pada bumil saat waktu melahirkan sudah dekat. Lucca dan Fabiana pun manggut – manggut.


Tak berapa lama Ben datang dengan seseorang yang nampak membawa paket yang besar ke ruang tengah, tempat dimana enam orang tersebut berkumpul. “Excuse Me, Sirs, Madams. ( Permisi Tuan – Tuan, Nyonya – Nyonya ).”


Ben menyapa Dad, Mom, Reno, Ara, Lucca dan Fabiana.


“A man from Silver Cross Balmoral Pram is here to meet Mister Lucca. ( Seseorang dari Silver Cross Balmoral Pram datang untuk bertemu Tuan Lucca ).” Ucap Ben sambil mempersilahkan seorang pria yang membawa paket cukup besar itu untuk memajukan dirinya.


“Ah, Finally!. ( Ah, akhirnya! ).” Lucca sumringah.


“Another Stroller?. ( Stroller lagi? ).” Celetuk Ara melirik pria yang berseragam yang mengantarkan paket tersebut yang sudah bisa Ara dan Reno serta Dad dan Mom tebak apa paket yang baru saja datang untuk Lucca itu.


Paket dari sebuah Perusahaan yang notabene Ara sangat kenal karena Varen dan Andrea serta Valera menggunakan kereta bayi yang sama dari Perusahaan tersebut.


Sebuah Perusahaan pembuat kereta bayi yang saat ini menduduki rekor sebagai penjual Stroller termahal di dunia. Tempat di mana Pangeran William dan Kate Middleton memesan kereta bayi untuk putri mereka, yakni Putri Charlotte. ( Manteb! )


“Yup!.” Sahut Lucca cepat dengan wajahnya yang nampak senang dan langsung menghampiri si pengantar barang


yang lebih mirip pelayan restoran mewah karena pakaiannya yang tidak menyerupai kurir sama sekali.


Well, stroller seharga 30 hingga 40 juta per unit itu pastilah akan diantar secara eksklusif bukan?. Lucca memberikan tips cukup besar setelah menerima stroller yang ia pesan untuk calon bayi dan Fabiana yang mungkin akan lahir dalam hitungan hari.


“Why you buy another stroller again, Tesoro?. ( Kenapa kamu beli kereta bayi lagi, Sayang? ).” Tanya Fabiana setelah Lucca kembali lagi ke tempatnya dan dengan tak sabar membuka stroller yang dikemas dengan indah itu, dibantu oleh Ben.


‘Ga mau kalah pasti ni orang sama gue dan Andrew.’


Daddy R membatin. Pasalnya Lucca sudah membeli dua buah stroller juga sebelumnya, dengan harga yang cukup


bisa dibilang mahal. Tapi saat tahu kalau Andrew dan Reno memesan stroller yang sama dengan keluarga kerajaan, yah.. seperti yang Reno pikirkan.


Si Hantu itu tidak mau kalah dengannya dan Andrew dan akhirnya Lucca pun memesan stroller dari Perusahaan


kereta bayi tempat R ‘n D membelikan stroller untuk buah hati mereka.


“Is it gift for Andrew and Fania’s baby?. ( Apakah ini hadiah untuk bayinya Andrew dan Fania? ).” Tanya Fabiana lagi.


“No, it’s for our baby. ( Tidak, ini untuk bayi kita ).” Sahut Lucca sambil senyum – senyum sendiri setelah pembungkus stroller sudah copot sepenuhnya.


“But we already have two, such a waste!. ( Tapi kita sudah punya dua, ini pemborosan! ).” Ucap Fabiana. “Why don’t we make this a gift for Andrew and Fania’s baby?. ( Kenapa kita tidak menjadikan ini sebagai hadiah untuk bayinya Andrew dan Fania? ).” Sambung Fabiana.


Lucca menggeleng pelan. “Andrew already prepared stroller for his baby, similar with this. Beside he will mocking me if I only give this for his baby gift. ( Andrew sudah menyiapkan stroller seperti ini untuk bayinya. Lagipula dia akan mengejekku kalau aku hanya memberikan ini sebagai hadiah kelahiran bayinya nanti ).”


Ara, Dad, Mom dan Reno pun terkekeh.


Lucca memandangi mereka yang terkekeh. “I am right, isn’t it? That bald man will high hatted me if I only give his baby with things less than five thousand poundsterling. ( Aku benar kan? Pria botak itu akan merendahkan ku habis – habisan kalau aku hanya memberikan anaknya hadiah yang harganya kurang dari lima ribu poundsterling ).”


Empat orang yang sebelumnya terkekeh tadi pun terkekeh lagi mendengar ucapan si setan alas itu, kali ini Fabiana pun ikut terkekeh juga melihat wajah sebal Lucca saat ini yang mengingat betapa lemes nya mulut si Donald Bebek kalau soal mengejek para saudara laki – lakinya yang lain.


****

__ADS_1


“LUCCAA!!!!!..” Lucca dan Reno yang sedang berada di ruang gym sontak langsung menghentikan kegiatan mereka saat suara Ara terdengar cetar membahenol didalam Mansion. ( Ketularan si Kajol ).


Tidak hanya Lucca dan Reno yang kaget jadinya, tapi juga seisi Mansion Utama keluarga cetar yang berada di London itu.


“What is it???! .. ( Ada apa?????! .. ).”


“The baby is coming! ( Bayinya mau lahir! ).”


“What?!!!!! .. ( Apa?!!! ) ..” Lucca pun seketika panik dan langsung berlari menuju kamarnya dan Fabiana.


“Tesoro.. ( Sayang ) ..”


Fabiana yang terduduk ditepian ranjang nampak meringis sambil mengusap – usap panggul belakangnya.


“Cara .. ( Sayang.. ).” Lucca langsung mengangkat tubuh Fabiana tanpa pikir panjang. “Hang on, hm?. ( Tahan, hm? ).” Ucap Lucca yang sudah membawa Fabiana dalam gendongannya untuk segera keluar dari kamar mereka.


****


Lucca keluar dari kamarnya dengan panik dengan menggendong Fabiana dengan buru – buru menuju mobil untuk


langsung ke rumah sakit.


Reno dan Ara juga sudah siap menemaninya, sementara Dad dan Mom akan menyusul untuk membawakan peralatan bayi yang sudah disiapkan dan mungkin dibutuhkan. Hanya saja empat orang itu terkikik termasuk juga para maid yang melihat Lucca yang sedang menuju mobil itu.


“Perasaan waktu Varen mau lahir aku ga sebodoh dia walau panik .. “


Daddy R pun nyeletuk sambil melihat pada Lucca, dan mereka yang mendengar serta paham ucapan Reno pun


terkikik geli.


Bagaimana Lucca tidak jadi bahan kekehan orang – orang di Mansion?. Saat ini pria tersebut masih bertelanjang dada selepas berolahraga di ruang gym bersama Reno dan sudah bersiap masuk mobil tanpa ngeh kalau dia hanya memakai celana pendek dan sepatu olahraga saja. Hantu kalo panik begitu ye?.


“Stupid Ghost. ( Hantu yang bodoh ).” Gumam Reno.


“R, Ara , Come on!! ( R, Ara, Cepat!! ).”


“Hey Moron! Look at you now!. ( Hey Bodoh! Lihat diri lo itu! ).”


Lucca sempat tak paham maksud ucapan Reno, namun sesaat akhirnya ia pun sadar kalau ia belum memakai kaos dan ia pun langsung mengumpat.


“Tesoro.. ( Tesoro.. ).” Suara Fabiana yang berucap sembari meringis itu kembali membuat Lucca panik.


"Si, Si!. ( Iya, Iya! )."


“Here. ( Ini ).”


Mama Anye yang menggendong Valera sambil senyum – senyum datang dengan selembar kaos untuk Lucca yang


langsung di sambar oleh Lucca dengan cepat dan juga langsung mengenakannya.


“Thank you, Mam!.” Ucap Lucca cepat dan langsung masuk ke kursi penumpang belakang untuk menemani Fabiana.


Reno yang mengambil alih kemudi dan Ara duduk disampingnya.


Untung saja Valera seperti Varen dan para krucil lain yang tidak gampang menangis jika ditinggal orang tua mereka. Jadi Reno dan Ara bisa menemani Lucca dan Fabiana yang dipastikan panik karena ini adalah kelahiran anak pertama mereka.


*****


Jakarta, Indonesia


“Kita langsung ke ruangan persalinan ya Fania.”


Clarissa yang sudah dihubungi langsung oleh Jihan saat Fania pecah ketuban di Rumah Utama, tampak sudah berada di rumah sakit tempat Fania akan melahirkan anak keduanya dan Andrew.


Fania sudah langsung di baringkan diatas ranjang dorong pasien saat mereka datang ditemani Papa Herman dan Mama Bela juga Prita dan John. Sisanya menjaga para krucil dan menunggu kabar disana sembari berdoa agar Fania dan bayi keduanya sehat.


“Iya Ris.”


“Gue boleh menemaninya kan, Clarissa?.” Ucap Andrew sambil menggenggam erat tangan Fania saat ini.


Meski ini bayi keduanya dan Fania, namun ini kali pertama Andrew menemani Fania untuk melakukan proses persalinan, begitu juga Fania yang kali ini akan menjalani kelahiran dengan proses normal, meski sebelumnya Andrea yang lahir di tujuh bulan akibat kecelakaan itu lahir dengan cara operasi dadakan untuk menyelamatkannya.


Beruntung, kondisi kesehatan Fania stabil saat ini, sehingga sesuai harapannya untuk kelahiran anak keduanya ia ingin bisa merasakan keutuhan seorang wanita dengan melahirkan secara normal, dan menikmati setiap prosesnya walaupun dibilang sakit.


“Tentu saja.”


Clarissa sudah mengiyakan, Andrew nampak sedikit lega mendengarnya. Namun tak menampik selain panik, Andrew punya ketakutannya sendiri dengan Fania dan Rumah Sakit. Bayang – bayang mengerikan dan momen – momen yang menyayat hati Andrew pada setiap kejadian yang menimpa Fania dulu kembali terputar diotaknya kini.


“Santai Bro.” John menepuk – nepuk bahu Andrew yang sudah akan masuk ke ruang persalinan menemani Fania.


John paham kondisi psikis Andrew saat ini, paham traumanya Andrew dengan Fania dan Rumah Sakit.

__ADS_1


Papa, Mama dan Prita juga ikut menenangkan kegelisahan hati Andrew atas ketakutannya soal Fania.


“Terima kasih, ya.”


Andrew pun sudah masuk ke ruang persalinan, dan tangannya tak lepas menggenggam tangan Fania yang sudah


nampak gelisah dalam baringnya itu.


“Heart, is it hurt?. ( Sayang, apa kamu kesakitan? ).” Tanya Andrew dengan matanya yang berkaca – kaca karena melihat Fania yang gelisah, dan terus – terusan meringis.


Fania menyempatkan dirinya untuk tersenyum pada Andrew.


“Aku akan baik – baik aja, D. Cuma mulas kok ini. Iya kan Ris?.” Ucap Fania menenangkan Andrew seraya meminta Clarissa agar juga ikut menenangkan Andrew yang nampak begitu khawatir saat ini.


Clarissa mengangguk sembari tersenyum juga pada Andrew. “Tenang aja, Ndrew. Dia akan baik – baik saja, begitu juga bayi kalian.”


Andrew mengangguk pelan pada Clarissa.


“Sepertinya sudah siap, Dok. Pembukaan sudah lengkap.”


“Oke.” Sahut Dokter Clarissa pada asistennya yang memberitahukan kalau anak Fania dan Andrew sepertinya sudah waktunya lahir.


Fania sudah mulai mengejan sesuai arahan Dokter Clarissa dan mencoba melakukan dengan benar seperti yang ia pelajari di kelas kehamilan. ‘Heart ...’


“Tarik nafas sedikit panjang sekali lagi, dan mengejan dengan kuat dan benar ya Fania. sudah sedikit lagi.”


Fania mengangguk pelan dan mengikuti apa yang Dokter Clarissa intruksikan padanya barusan.


Peluh sudah membasahi dahi Fania dan Andrew menyeka dengan tangannya dengan matanya yang nampak basah. Hatinya rasa mencelos melihat perjuangan sang istri yang berusaha sekuat tenaga melahirkan anak kedua mereka.


Satu tangan Andrew yang lain masih tetap menggenggam erat tangan Fania, tak perduli mungkin kuku Fania yang


sudah tak terlalu panjang itu tetap menancap di kulitnya.


Rasa perih itu terabaikan oleh Andrew dengan melihat perjuangan Fania saat ini. Bahkan Andrew berharap jika bisa, ia bisa mengambil rasa sakit itu dari Fania yang nampak sudah kelelahan mengejan dengan nafasnya yang sudah tersengal.


“I Love you .. ( Aku mencintaimu .. ).”


Andrew menundukkan dirinya dan berbisik ditelinga Fania, mengatakan dan menyalurkan cintanya, semata – mata untuk memberikan dukungan berikut cintanya yang begitu besar dengan matanya yang semakin basah. Benar – benar Andrew menyaksikan betapa sulitnya berjuang saat melahirkan dengan proses normal.


Hingga kemudian suara tangisan nan melengking menggema dalam ruangan, dan seketika itu pula pertahanan Andrew runtuh. Andrew menangis haru, anak keduanya dan Fania sudah lahir ke dunia.


Dan air mata Andrew kian turun saat bayi merah yang nampak lebih mirip Fania itu diperlihatkan padanya.


Fania juga menitikkan air mata, ia bahagia.


“Jagoan.” Ucap Dokter Clarissa, yang kemudian memberikan bayi laki – laki mungil itu pada asistennya untuk dibersihkan setelah menunjukkan jenis kelamin sang bayi pada ayah dan ibunya.


“He’s so.. ( Dia begitu )..” Kalimat Andrew tertahan karena terlalu kagum dan ia benar – benar terharu dengan bayi merah yang ditunjukkan Dokter Clarissa padanya dan Fania. Ia menghapus air matanya lalu menghujani wajah Fania dengan kecupannya.


Fania hanya bisa tersenyum dengan perlakuan Andrew setelah Dokter Clarissa memberikan bayi mereka pada asistennya untuk dibersihkan, ditimbang dan diukur dan segera membawanya kembali untuk Andrew Adzani dan untuk Inisiasi Menyusui Dini ( IMD ) dengan meletakkannya nanti didada sang ibu.


Dimana sang bayi akan melakukan kontak skin to skin dengan sang ibu untuk melakukan proses menyusui pertama kali.


Meski air mata Andrew dan Fania masih turun sebulir, namun senyum bahagia di wajah mereka tak bisa dihentikan.


“Selamat ya. Sekarang kalian sudah punya sepasang.” Ucap Clarissa dengan tersenyum pada Andrew dan Fania


yang dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh keduanya pada Dokter Cantik itu.


*****


The apples of my eyes,


( Yang Sangat Berarti Bagiku )


My Heaven, My Everything


( Surgaku, Segalanya Bagiku )


My Fania and My Two Captivating Kids


( Fania-ku dan Dua Anak – anakku Yang Menawan )


Thank You For Coming into My Life


( Terima Kasih Sudah Datang Dihidupku )


*****


To be continue...

__ADS_1


Emak mo nyari kado dulu ...


Ada yang mau ikut besuk????..


__ADS_2