
# SMALL CAIN #
(Keributan Kecil)
Selamat membaca ..
***********************
Massachusetts, USA ......
“Morning Little Star .... Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam Abang. Abang baru sampai apa sudah dari tadi?.”
“Sudah dari beberapa jam lalu.”
“Kok ga langsung hubungi Drea?. Chat juga engga?.”
“Abang ga mau ganggu Drea. Nanti ganggu istirahat kamu.”
“Drea ga mungkin merasa terganggu Abang ...”
“Mau berangkat sekolah?.”
“Iya, sedang siap – siap.”
“Diantar siapa?.”
“Hari ini diantar Poppa. Mau sekalian ke Perusahaan si Poppa katanya. Dan mau menyapa Pak Rizal.”
“Kemarin?.”
“Dijemput Kak Arya.”
“Ada apa dia jemput kamu?.”
“Kak Arya memang biasa begitu kan dari dulu juga. Suka tiba – tiba datang. Ya karena Drea ga enak, jadi Drea bareng dia ke Sekolah. Drea juga sudah ijin Poppa kok.”
“Hmmm ... ya sudah kalau begitu.”
“Abang....”
“Ada apa, hem?.”
“Drea kangen.”
“Iya, Abang pun kangen sama Little Starnya Abang.”
“I love you Abang.”
“Love you more, Little Star.”
“Ya udah Abang lanjutin istirahat ya?. Jangan lupa makan ya.”
“Iya Abang sudah meminta staf Abang di kantor untuk membelikan makanan.”
“Abang di kantor?.”
“Iya.”
“Abang kan baru sampai. Kok langsung kerja sih?.”
“Biar cepat selesai dan cepat kembali ke Jakarta.”
“Iya tapi kan ga gitu juga Abang.”
“Ga apa – apa demi Drea.”
“So Sweeeetttt .....”
“Abang sudahi dulu ya?.”
“Iya Abang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
****
Tiit... Tiit... Tiit...
(Ponsel kedua Varen yang hanya ia yang tahu, berbunyi. Tanda ada pesan yang masuk ke ponsel Andrea)
‘Pagi Cantiiiik’
‘Pagi Kak’
‘Sorry ya hari ini ga bisa jemput, ada kuliah pagi’
‘Ok’
‘Tapi nanti pulang sekolah gue jemput ya? Kangen soalnya. Hahaha’
‘Lo kangen ga sama gue?’
‘Idih! Pede amat!’
‘Hahaha’
‘Ya udah gue jemput ya. Soalnya dua hari ini gue mau ikut seminar diluar kota. Bakal kangen gue deh sama Dek Drea dua hari. Jadi hari ini mau gue puas – puasin liat mukanya Dek Drea’
‘Bayar’
‘Iya nanti gue bayar pake hati’
‘Idih!.’
‘Hahahahaha’
‘Slow res. Udah bel.’
‘Oke cantik. See ya!’
Tak!
(Varen melempar pelan ponsel yang tadi ia pegang setelah membaca rentetan pesan yang saling berbalas di ponsel Andrea).
“Stev, my office now. (Stev, ke ruangan gue sekarang).”
“Aye, Capt!. ( Iya Bos! ).”
****
“Is there another meeting after the meeting with Mister Aaron?. (Apa ada pertemuan lain setelah pertemuan dengan Tuan Aaron?).”
__ADS_1
“Nope. But we will discuss about everything that we must prepared for our new office at Bristol, and you need to hear all reports of our progress untill last month. (Kita akan berdiskusi tentang persiapan untuk kantor baru di Bristol, dan kau perlu mendengarkan laporan tentang kemajuan sampai bulan kemarin). Include the financial reports (Termasuk laporan keuangan).”
“When?. (Kapan?).”
“Tomorrow. (Besok). Because they still haven’t finished it now. (Karena mereka masih belum menyelesaikannya sekarang). I asked to make it by today, so tomorrow morning we can go on for the meeting (Gue sih sudah minta mereka menyelesaikannya hari ini, jadi besok pagi kita bisa langsung rapat).”
“Arrange the meeting for today. (Atur rapat itu untuk hari ini).”
“What?. (Apa?).”
“You heard what I’m saying. (Lo dengar yang gue bilang barusan). Prepare it. I will comeback here and finished all things that you said by today right after I finished with Mister Aaron. (Persiapkan. Gue akan kembali dan menyelesaikan segala hal yang lo bilang tadi tepat setelah gue selesai dengan Tuan Aaron).”
“Damned Man, there still hundred papers to be check and arrange. Beside, you just came, don’t you still feel jet lag and tired?. (Gila lo, ada ratusan berkas yang harus dikoreksi dan diatur. Lagipula, lo kan baru tiba, apa lo ga jet lag dan lelah?).”
“Do as I said. If they not feel capable, they can give me they resign paper by today. (Lakukan seperti yang gue bilang. Kalau mereka rasa tidak mampu, mereka bisa memberikan surat pengunduran diri mereka ke gue hari ini juga).”
Prok! Prok!
(Varen menepuk kedua telapak tangannya).
“Move ... you wasting time. Tell them to do what I said, give me what I want, if they still want to work here. I’m heading back to Jakarta tonight. (Bergerak..... lo membuang waktu. Katakan pada mereka untuk melakukan apa yang gue bilang, berikan apa yang gue minta, kalau memang mereka masih mau bekerja disini. Gue akan kembali ke Jakarta malam ini).”
“What?!. (Apa?!). But ... you just arrive few hours ago (Tapi ... lo baru saja sampai beberapa jam lalu)”
*“Just move you a*. (Sudah cepat kerja sana).”
“Unbelievable. (Benar – benar) ...”
(Laki – laki yang bernama Stevan, yang merupakan teman kuliah Varen itu akhirnya berjalan keluar dari ruangan Varen untuk melaksanakan perintahnya, sambil geleng – geleng kepala)
‘Gue harus segera kembali ke Jakarta dan menyelamatkan bunga gue dari serangga pengganggu’
***
‘Little Star, sudah masuk kelas ya?. Abang mau bicara sebentar, bisa?.’
(Varen mengetikkan pesan di ponselnya ke nomor Andrea)
‘Iya sebentar Abang, Drea ijin ke toilet dulu.’
***
Triiiing...
(Ponsel Varen berdering dan ia langsung mengangkatnya).
“Little Star...”
“Ya Abang...”
“Setelah ini, kamu jangan hubungi Abang dahulu sebelum Abang menghubungi kamu ya?.”
“Abang sibuk banget ya?.”
“Lumayan.”
“Seharusnya Abang istirahat dulu saat sampai jangan langsung bekerja. Nanti Abang sakit, malah Abang ga datang ke Pestanya Drea.”
“Abang pasti datang. Jangan meragukan Abang.”
“Ya udah iya..”
“Abang sudahi dulu ya?. Abang hanya ingin mengatakan itu secara langsung, ga enak kalau lewat chat”
“Iya.”
“Abang juga.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
***
Saat ini..
Andrea dan Varen sudah berada di dalam mobil yang dikendarai supir. Mereka berdua duduk dikursi penumpang belakang.
“Abang, kok jam segini Abang sudah sampai di Jakarta lagi?.” Tanya Andrea sembari menoleh pada Varen.
“Ga boleh memang?.”
Varen menjawab datar dan tersenyum tipis.
“Ih, Abang, Drea kan tanya. Kalau jam segini Abang sudah sampai di Jakarta berarti Abang ga bermalam di Massachusetts?.”
“Begitulah.”
Varen melandaikan duduknya. Cukup lelah, menempuh perjalanan puluhan jam, bahkan tak beristirahat dengan cukup lalu berangkat lagi dan menempuh puluhan jam diudara untuk segera sampai Jakarta.
Varen menghela nafas berat, dan dari helaan nafas itu Andrea tahu si Abang pasti cape banget, bisa juga dia jet lag. Karena Varen merebahkan sedikit kepalanya di sandaran jok sambil menutup mata.
“Abang terlalu memaksakan diri sih, jadi kelelahan kan sekarang?.”
Andrea berkata sambil memiringkan tubuhnya dan memperhatikan gurat wajah Varen yang benar seperti Arya bilang kalau wajah Varen terlihat sangat cape.
“Tell me ... ( Katakan )... apa Abang tidak cukup untuk kamu?.”
“Maksud Abang?.” Andrea tak paham maksud ucapan Varen barusan.
“Apa memiliki Abang sebagai pasangan kamu itu masih tidak cukup sampai kamu mencari pasangan lain?.”
Varen menegakkan lagi tubuhnya, dan duduk menghadap Andrea sambil menatap lekat, tersenyum tipis pada Andrea namun wajah Varen terlihat serius.
“Hem?.”
“Kak Arya ... maksud Abang ...?.”
Varen masih tersenyum tipis tanpa memalingkan tatapannya dari Andrea.
“Kan Abang tahu, dari sejak Drea kelas satu SMA, Drea sudah berteman dengan Kak Arya.”
“Teman ya?. Apa teman memakai gelang pasangan?.”
***
Andrea sesekali melirik Varen yang selepas mengatakan padanya kalau hanya berteman dengan Arya kenapa pakai gelang pasangan, si Abang tak berbicara lagi padanya dan merebahkan kepalanya kembali di sandaran jok sambil menutup mata.
“Ini...”
“Bangunkan Abang jika sudah sampai rumah.”
‘Abang ih, ngeselin!. Kasih gue waktu ngejelasin kek! Gue juga baru tahu tadi kalau ternyata ini gelang samaan dengan yang Kak Arya pakai.’
Andrea sedikit kesal, mau merengek, tapi ga tega juga melihat si Abang yang memang nampak lelah itu. Akhirnya Andrea biarkan si Abang tidur sepanjang perjalanan dari sekolah Andrea sampai ke rumah.
Andrea menyandarkan kepalanya di kaca mobil setelah melirik si Abang yang nampak pulas itu.
__ADS_1
***
“Mikirin Arya?.”
Andrea terhenyak dari lamunan setelah mendengar suara Varen yang orangnya sudah ga ada ditempatnya, tapi sudah berdiri diluar mobil sambil sedikit menundukkan tubuhnya dan menatap Andrea.
“Apa sih Bang?.”
“Sudah sampai.” Ucap Varen datar.
Andrea celingukan dan kemudian turun dipintu yang sama dimana Varen berada setelah menyadari kalau memang sudah sampai di rumah.
“Ada pacarnya disamping, bela – belain pulang pergi menempuh puluhan jam. Malah asik memikirkan orang lain.” Ucap Varen datar sambil melirik Andrea yang sudah berada disampingnya dan mereka berjalan berdampingan memasuki rumah.
“Abang apaan sih!. Jangan menuduh!.”
Andrea menghentikan langkahnya dan menatap Varen setengah sinis.
“Ya kalau ga merasa kenapa harus marah?. Atau karena merasa, hatinya terbagi sekarang jadi marah?.”
“Terserah Abang deh ah!.” Seru Andrea lalu berjalan cepat sambil menghentakkan sepatunya di lantai menuju kamarnya.
Sementara itu mereka yang berada dalam kediaman sedikit terkejut juga dengan kehadiran Varen yang datang bersama Andrea, tapi terheran juga karena gadis itu nampak kesal dan berjalan cepat menaiki tangga tanpa menoleh kanan kiri.
***
Semua orang tengah berkumpul untuk langsung makan selepas waktu maghrib telah lewat. Semua orang, terkecuali si Juleha yang mengurung diri di kamarnya sejak sepulang sekolah.
“Si Drea mane?. Kaga keliatan dari tadi?.”
“Tadi pulang sekolah cemberut, langsung masuk kamar. Padahal dateng bareng si Abang.”
“Si Abang mana?. Belum makan kan tuh dia?. Ketiduran ape?. Suruh turun itu anak dua.”
“Biar Jeff yang panggilkan, Ma.”
***
“Jadi kamu hanya beberapa jam di Massachusetts dan terbang kembali ke sini hari itu juga, Bang?.”
Varen menjawab pertanyaan sang Mommy dengan anggukan karena sedang menenggak jusnya.
“Segitunya yang ga bisa jauh – jauh dari pacar.”
“Oma semakin usil.”
“Terus itu kenapa Little Star ngambek sama kamu?.”
“Entah. Aku hanya bicara dan bertanya, tapi dia malah marah.”
Varen menjawab santai, sambil menuang lagi jus jeruk ke gelasnya.
“Then, what did you asked untill Drea become upset?. (Memang kamu tanya apa sampai Drea kesal?).”
“Never mind, Mam (Bukan apa – apa, Mam). Aku akan panggil dia.” Ucap Varen sambil membawa gelas berisikan jus ditangannya.
***
Tok... Tok...
“Little Star...”
Varen mengetuk pintu kamar Andrea.
Tidak ada jawaban dari dalam. “Abang masuk ya?.”
Masih tidak ada jawaban.
“Kalau dikunci Abang dobrak ya?.”
Masih tidak ada jawaban. Varen geleng – geleng.
‘Harusnya kan dia yang baik – baik kan gue...’ Batin Varen sembari mencoba membuka pintu kamar Andrea yang
ternyata tidak dikunci. “Little Star ...” Varen memanggil sembari celingukan karena Andrea tak ada diranjangnya dan di area kamar. Varen meletakkan gelas yang ia pegang diatas meja dekat sofa dalam kamar Andrea.
Varen mengernyitkan dahi kala ia juga tak menemukan Andrea di balkon kamar. Mengetuk walk in closet, memanggil dan perlahan membukanya karena tidak ada sahutan. Kosong. Tempat terakhir, Varen mengecek kamar mandi. Menempelkan telinganya di pintu kamar mandi, namun terdengar sunyi tak ada aktifitas nampak.
“Little Star... kamu didalam?.” Panggil Varen sambil mengetuk pintu kamar mandi Andrea. “Ga jawab, Abang masuk nih ya.”
Tak ada sahutan juga. Ragu – ragu Varen membuka pintu kamar mandi Andrea. Kosong.
Varen mengayunkan langkahnya keluar dari kamar Andrea dan berpapasan dengan Mba Adis. “Drea sudah turun,
Mba?.” Tanya Varen.
“Setahu saya, Non Drea belum keluar kamar dari tadi pulang sekolah Tuan. barusan dari bawah juga ga ada. Malah sedang menunggu Tuan sama Non Drea. Ini saya disuruh memanggil kalian oleh Nyonya Besar.” Jawaban Mba Adis membuat Varen mengernyitkan dahinya.
“Tapi Drea ga ada di kamarnya.”
“Masa sih Tuan?.”
Varen masuk lagi ke kamar Andrea. Tas dan ponselnya ada. ‘Kemana dia?.’ Lalu melebarkan kakinya untuk menuju lantai bawah.
***
“Where’s Drea?. (Drea mana?).”
“She’s not in her room. (Dia ga ada di kamarnya).”
“Masa sih?. Dad ga lihat dia turun sejak tadi sore. Dad kan disini sampai kami jamaah tadi.”
“Coba lihat di kolam renang. Mungkin dia kesana tanpa kita lihat.”
Varen mengangguk lalu melangkahkan kakinya ke halaman belakang dan mengecek kolam renang. Kosong, airnya pun tenang. Handuk yang tersampir di kursi kayu pun nampak rapih, kursinya pun kering.
“Coba di Sasana atau di ruang Gym.”
Varen menghela nafasnya sambil melangkahkan kaki ke arah dua tempat yang disebutkan Gamma yang menyusulnya ke halaman belakang.
Kosong juga. Varen menghela nafasnya lagi. ‘Haish Little Star ... kamu kemana sih?. Masa hilang di rumah sendiri?.’
Varen menggerutu kesal dalam hatinya, namun tak menampik kalau ia sudah merasa cemas dan khawatir kini.
“ASTAGFIRULLAHHAL’ADZIIMMMM!!! .... DREAAA!!!”
Suara teriakan Momma mengagetkan Varen yang langsung berlari kemana sumber suara Momma yang kencang
itu.
Hati Varen langsung berdebar kencang.
‘Little Star...’
***
To be continue .....
__ADS_1