
🎭 SESUATU YANG BURAM 🎭
****
Selamat membaca ..
****
Jakarta, Indonesia..
“Mereka sedang meeting sepertinya.”
John sudah berada di R Corp saat ini. Sudah sedari tadi mencoba menghubungi Reno tapi belum bisa tersambung. Sudah mencoba menghubungi Fania juga, namun ponsel si Kajol nampaknya sedang mati.
John hendak menghubungi Nino ataupun Ezra namun sekertaris pribadi John datang ke ruangannya. “Tuan John, perwakilan dari IS sudah tiba.”
“Oh iya, saya akan segera kesana.”
“Baik Tuan.”
***
‘John, gue belum berhasil menghubungi Andrew. Gue juga sudah coba menghubungi Fania tapi ponselnya mati. Gue sedang ditengah meeting sekarang. Nanti gue coba hubungi mereka lagi setelah selesai meeting.’
Jeff mengirimkan pesan ke ponsel John.
‘Gue juga sudah mengirimkan pesan pada mereka bertiga. Tapi belum ada yang terbaca. Andrew dan R mungkin sedang meeting.’
Kemudian Jeff kembali fokus pada meeting yang sedang di pimpinnya saat ini.
***
London, Inggris ....
“Hi, Miss Fania. How are you? ( Hai, Nona Fania, apa kabarmu? ).”
“I’m good Ben ( Aku baik, Ben ).” Sahut Fania pada sapaan supir kepercayaan Keluarga Adjieran Smith selama bertahun – tahun itu.
“You want to go to the Royal or Frognal, Miss? ( Anda mau ke Royal atan Frognal, Nona? ).”
“Are Andrew and my brother at the Company right now? ( Apa Andrew dan kakakku ada di Perusahaan sekarang? ).” Tanya Fania sambil melirik arloji ditangannya. “Is it eleven pm now, Ben? ( Apa sekarang jam sebelas siang, Ben? ).”
“Yes Miss ( Iya Nona ).”
“Okay!.” Fania mencocokkan waktu diarlojinya dengan waktu setempat saat ini.
“Mister Andrew and Mister R was already went to the Company since eight ( Tuan Andrew dan Tuan Reno sudah pergi ke Perusahaan sejak jam delapan ).”
“Take me there, then ( Antar aku kesana kalau begitu ).” Ucap Fania.
“Yes Miss ( Ya Nona ).”
‘Pas nih sampe pas jam makan siang. Abis itu gue baru temuin Walker.’
Fania memejamkan matanya sejenak.
****
Smith Company, London, Inggris
Andrew dan Reno sudah berada di Lounge lantai kerja pribadi khusus Andrew dan para staf terpilihnya.
Mata dua pria itu nampak tak berpaling dari seorang pria yang duduk bersama dua orang wanita muda berparas cantik disampingnya. Yang satu nampak tenang sembari menunjukkan senyumnya pada Andrew dan Reno, yang satu lagi nampak tidak setenang wanita yang sepertinya berbeda tiga tahun diatasnya.
“Both of them are your daughters? ( Mereka berdua adalah putrimu? ).” Reno bertanya pada pria yang sedang duduk bersebrangan dengannya, sementara Andrew berdiri dibelakang Reno sambil mensedekapkan kedua tangannya. Pria tua yang usianya kira – kira hampir sama dengan Dad itu mengangguk pasti dengan tersenyum pada Reno dan Andrew.
“You offered them to us for making you free from your debt to us? ( Kau menawarkan mereka pada kami untuk membuatmu terbebas dari hutangmu pada kami? ).”
“With all do my respect to both of you ( Dengan segala hormat saya pada anda berdua ).” Pria itu bersuara. “If I have to give you my company, that would be the hardest thing for me, because I feed my family with everything I got from there ( Jika aku harus menyerahkan Perusahaanku, itu akan menjadi hal yang sangat berat, karena aku menafkahi keluargaku dari sana ).”
__ADS_1
Andrew dan Reno tersenyum miring.
“I see ( Begitu ya ).” Andrew bersuara.
“You pushed them? ( Kau memaksa mereka? ).”
“Oh No, not at all ( Oh tidak, tidak sama sekali ). They are willing to do this to help our family ( Mereka sukarela melakukan ini untuk menolong keluarga kami ).”
“Is that true? ( Apa itu benar? ).”
“Yes.. ( Ya .. ).”
“I’m asking your daughters, not you Mister Jill ( Aku bertanya pada kedua putrimu, bukan padamu Tuan Jill ).”
“I – I’m sorry.... ( Ma – maafkan saya... ).” Pria yang dipanggil Jill itu kemudian menyenggol lengan salah satu putrinya yang kemudian langsung berbicara sambil tersenyum pada Andrew dan Reno.
“Our Dad was right, he didn’t push us to do this. And to be honest, I will be very glad to become one of you both woman ( Ayah kami memang benar, dia tidak memaksa kami untuk melakukan ini. Dan sejujurnya, aku merasa sangat senang untuk menjadi salah satu wanita kalian ).”
Andrew terbahak. Ia maju dua langkah dan berdiri disamping Reno dan kini posisi kedua tangannya sudah berada disaku celananya. “And what makes you think that me and my brother will accept both of you and forget about taking your Dad company? ( Dan apa yang membuat kalian berpikir kalau aku dan saudara laki – lakiku akan menerima kalian berdua dan melupakan untuk mengambil perusahaan ayah kalian? ).”
Tiga orang dihadapan Andrew dan Reno itu terdiam.
“They’re still virgin ( Mereka masih perawan ).”
Andrew dan Reno sedikit terkejut mendengar ucapan pria bernama Jill barusan.
“Are they? ( Masa? ).”
“I bring their visum report to confirm that ( Aku membawa laporan visum mereka untuk mendukung itu ).” Pria bernama Jill itu menyodorkan satu amplop berwarna coklat pada Reno dan Andrew, namun dua pangeran itu hanya melirik, tanpa menyentuh amplop persegi yang diletakkan Jill diatas meja.
Andrew terkekeh sinis, sementara Reno tersenyum miring.
“You think we’re stupid Jill?! ( Kamu pikir kami bodoh, Jill? ).”
“That kind of trash, is very easy to make ( Sampah seperti itu, sangat mudah dibuat ).”
“No! Please.... do not feel offend ( Tidak! Tolong ..... jangan tersinggung ). This report is real, I won’t have any braveness to make a fool to both of you ( Laporan ini asli. Aku tidak akan memiliki keberanian untuk berusaha membodohi kalian ).”
“You know ... ( Kau tahu.....).” Andrew memandang sinis pada pria bernama Jill itu. “Since you have a very big amounts of debt to us and it’s been quite long we’ve been patience because we know Eun Ha and we have a very good relation with him ( Sehubungan dengan hutangmu yang begitu besar pada kami dan sudah terlalu lama kami bersabar karena kami mengenal Eun Ha dan kami memiliki hubungan yang sangat baik dengannya ).”
“We let you ( Kami membiarkanmu ).” Reno melanjutkan ucapan Andrew. “But we already on our limit of patience. Big sum of money you owed us ( Tapi sekarang kami sudah sampai dibatas kesabaran kami. Hutangmu terbilang dalam jumlah besar pada kami ). And all that time, you seems that you thought it’s not a big deal if you not to pay ( Dan selama ini, sepertinya kau berpikir kalau bukan masalah besar jika tak membayar ).”
“We can kill you right here, right now if we want to ( kami bisa saja membunuhmu sekarang juga jika kami mau ).”
“No!. Please! I beg to both of you ( Tidak! Jangan! Saya mohon pada kalian berdua ).” Pria bernama Jill itu langsung berdiri dan kemudian berlutut dihadapan Andrew dan Reno. “I was so confused to thinking how to pay my debts to both of you ( Saya benar – benar bingung memikirkan cara untuk membayar hutang saya pada kalian ). Really ... ( Sungguh..).”
“Please, have a mercy... ( Tolong, berbelas kasihanlah ).” Salah satu putri Jill ikut berlutut disamping ayahnya.
“My company is also not in the good condition, you both also will have difficulties if still want to take it ( Perusahaanku juga sedang dalam kondisi yang tidak bagus, kalian berdua akan mendapatkan kesusahan jika tetap ingin mengambilnya ).”
“But from what we know, you also have another business beside Exist ( Tapi dari apa yang kami tahu, kau juga punya bisnis lain selain Exist ).”
“Ennggg... ya that’s right, but it’s not belong to me only, Mister Eun Ha and me are sharing ( Ennggg...ya itu benar, tapi itu bukan hanya milikku sendiri. Tuan Eun Ha dan aku berbagi saham ).”
Pria bernama Jill itu belum berubah dari posisinya.
“Look, my daughters are the best offered that I can give to both of you. I can guarantee they will obey you. Beside, I really need to keep Exist Company for my family ( Begini, dua putriku ini adalah hal yang sangat aku andalkan untuk kuberikan pada kalian berdua. Saya jamin mereka kan patuh. Saya benar – benar harus mempertahankan Exist Company untuk keluargaku ).”
“So you think by giving your daughters to us, we will let go all your debts? ( Jadi kau berpikir dengan memberikan dua putrimu ini pada kami, kami akan membebaskanmu dari segala hutang? ).”
Andrew melangkah lagi.
“I really wish that will possible, but if not, just consider this as my half payment ( Saya sangat berharap itu mungkin, tapi jika tidak pun tolong pertimbangkan ini sebagai setengah pembayaran dari hutang saya pada kalian ).”
Pria bernama Jill itu masih memohon.
“You know is the hardest thing for a father to trade his two virgin daughter for paying a debt ( Kalian tahu adalah hal yang berat bagi seorang ayah untuk menukar dua anak gadisnya yang masih perawan untuk membayar hutang ).”
“Virgin heh? ( Perawan ya? ).”
__ADS_1
Andrew dan Reno tersenyum miring.
“Well, we need to test it directly to confirm, I guess ( Aku rasa, kami harus mengetesnya secara langsung dulu agar yakin ).”
***
“Mrs. Fania, you’re here? ( Nyonya Fania, anda disini? ).”
Wajah Eve sangat terkejut saat melihat Fania keluar dari ruang kerja pribadi Andrew.
“Ah. Hi Eve.. ( Ah. Hai Eve.. ).” Fania yang sedang tidak fokus itupun sedikit terkejut melihat Eve saat ia keluar dengan sedikit tergesa dari ruang kerja pribadi Andrew.
“Are you okay? ( Apa anda baik – baik saja? ).”
“Hah?.” Fania masih sedikit tak fokus.
“Are you.. okay? .. ( Apa anda... baik – baik saja? ) .. Because ... ( Karena )..”
Eve menunjuk ragu – ragu pada mata Fania yang nampak basah. Fania pun menyadarinya.
“Oh this ( Oh ini ).” Fania buru – buru menyeka matanya. “I’m just a little bit sleepy ( Aku hanya sedikit mengantuk ).” Ucap Fania pada sekertaris pribadi Andrew yang sudah akrab dengannya itu.
“Mister Andrew is in the middle of meeting with his and Mister R guests, but I can tell him that you’re here ( Tuan Andrew sedang meeting dengan tamunya dan Tuan R, tapi aku bisa mengatakan padanya kalau anda disini ).”
Eve menawarkan pada Fania agar dirinya memanggil bosnya itu.
“No, no need Eve. I’m about to leave. I have another things to do ( Ga, ga perlu Eve. Gue mau pergi juga. Ada urusan lain ).” Ucap Fania sambil tersenyum tipis pada Eve. "I'll be back later ( Gue akan kembali lagi nanti ). I don't want to disturb ( Gue tidak mau mengganggu )." Sambungnya. "Just let my husband and my brother fokus to what they are doing right now ( Biarkan saja suami dan kakak gue fokus dengan urusan mereka saat ini )."
“Oh, okay ( Oh, baiklah ).”
“See ya, Eve ( Sampai ketemu, Eve ).” Fania kemudian melenggang pergi menuju lift.
****
Fania sudah sampai di lobi Perusahaan dan ia meminta seorang petugas untuk memanggilkan taksi untuknya.
“Miss, why are you taking a cab? ( Nona, kenapa memanggil taksi? ).” Ben sudah menghampiri Fania dengan mobil yang tadi ia gunakan untuk menjemput dan mengantar Fania.
“Ah, Ben, it’s okay, you can go back to Mansion. I have an appointment with my friend ( Ah Ben, ga apa – apa, kamu bisa kembali ke Mansion. Aku ada janji dengan temanku ).”
“But, Miss..... ( Tapi, Nona.. ).”
Fania sudah keburu masuk ke dalam taksi sebelum Ben meneruskan kalimatnya.
“I will be okay, Ben! ( Aku akan baik – baik saja, Ben! )."
Fania setengah berseru dari dalam taksi pada Ben.
****
Fania terbayang dengan apa yang tadi disaksikannya dalam PC di ruang kerja Andrew. Kamera di lounge yang terhubung dengan PC Andrew itu membuat Fania tak sengaja melihat dengan siapa Andrew dan Reno sedang berbicara, dan mendengar sedikit banyak pembicaraan mereka.
‘Apa kamu sudah berubah, D?... apa aku sudah tak cukup buat kamu?...’
Fania menyeka air matanya yang keluar sedikit diujung matanya itu.
“Well, we need to test it directly to confirm, I guess ( Aku rasa, kami harus mengetesnya secara langsung dulu agar yakin ).”
Fania menggeleng pelan, setengah terisak.
‘Aku ga sanggup mendengar lagi ucapan kamu selanjutnya, D ..’
Fania masih menyeka lagi air matanya yang turun sebulir.
“Aku pikir aku sudah sangat mengenal kalian ... tapi mungkin aku memang belum benar – benar mengenal kalian... Atau kalian yang sudah berubah..??.....”
***
To be continue....
__ADS_1