THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 227


__ADS_3

⏩  ANXIOUS  ⏪


( Gelisah )


******************


Selamat membaca .......


 


“Mmmppphhhh Abaaannggg ...” Andrea hampir kehabisan nafas rasanya, mendorong pelan dada Varen.


Namun belum sempat rasanya Andrea mengatur nafas dengan benar, tangan kekar Varen tiba – tiba sudah ada


dibelakang lehernya. Kembali Andrea dibuat kewalahan mengatur nafasnya, karena bibirnya kembali terbungkam oleh sepasang benda kenyal milik Varen yang menciumnya lembut namun dalam.


Ada geli menelisik dalam diri Andrea kala bibir Varen mulai menggelitik lehernya. Membuatnya sedikit menggelinjang kegelian.


Baru sekali Andrea rasa sensasi seperti ini.


Andrea rasa Varen begitu lihai dalam perlakuannya pada Andrea saat ini.


Yang membuat Andrea pasrah namun juga mulai menikmati setiap kecupan lembut dileher hingga naik lagi dan


bibir Varen kembali m*lum*t bibirnya lagi. Mengajak bibir Andrea ikut menari seirama ritme gerakan bibirnya. Hingga tahu – tahu tubuh Andrea sudah direbahkan diatas sebuah benda empuk yang terasa nyaman dipunggungnya.


Andrea memejamkan matanya, sesaat setelah tubuh kekar Varen mengukungnya dan sang Abang yang kini sudah


menjadi suaminya itu tersenyum dengan tampannya, membuat Andrea seolah terbius dan memasrahkan dirinya.


Andrea membuka matanya lagi dengan perlahan, disaat yang bersamaan tubuh Varen yang menjulang diatasnya namun masih berjarak itu kian mendekatkan wajahnya pada Andrea.


Andrea kembali memejamkan matanya, menunggu aksi Varen selanjutnya.


Bibir Abang kenapa lama sampainya di bibir Drea


Ah, basah .....


****


‘Eh?’


Lamunan Andrea buyar, saat knop pintu kamarnya ia lihat terputar pelan.


Andrea spontan bangun dari duduknya.


Entah kenapa rasanya dia begitu malu kalau bertemu si Abang sekarang.


Canggung, meski hari masih sore. Andrea langsung melesat cepat ke kamar mandi, kala pintu sudah terdengar


terbuka.


****


“Little Star...” Suara Varen terdengar dari luar pintu kamar mandi didalam kamar Andrea bersamaan dengan suara ketukan dipintu tersebut.


“I-iya! ...”


Andrea menyahut dari dalam kamar mandi.


“Sebentar!”


“It’s okay Little Star, take your time. ( Tak apa Little Star, santai saja )”


***


Andrea membuka matanya lagi, disaat yang bersamaan tubuh Varen yang menjulang diatasnya namun masih berjarak itu kian mendekatkan wajahnya pada Andrea.


Andrea kembali memejamkan matanya, menunggu aksi Varen selanjutnya.


Bibir Abang kenapa lama sampainya di bibir Drea


Ah, basah .....


Semakin basah ...


..........


‘Abanngg ....’


..........


‘Abangnya bukannya mau cium Drea lagi? Kok ini malah....’


..........


‘Iiihhhh Abang ngapain sih????!!!....’


Andrea gelagapan.


‘Ih!’ Kenapa wajahnya terasa begitu basah??? ....


Harusnya kan ...


Ah, sudahlah


Andrea seka sedikit kasar wajahnya.


“......”


“Ih!” Andrea membuka mata dan langsung mengernyitkan dahinya setelah matanya menangkap sosok yang sedang


terkekeh didepannya.


Sruuutt!...


“TAN – TAAANNN!!! ....”


Tangan Andrea spontan menepak wajah Nathan, yang kemudian meringis sebentar lalu tergelak kemudian.


Sruuutt!...


Percikan air sampai lagi diwajah Andrea. “TAN – TAAANNN!!! KURANG AJAR BANGET SIH LO!!!!! .....”


“HAHAHAHA! ..”


Nathan tergelak tanpa akhlak. Andrea menyeka wajahnya sebal.


“Bangun makanya! Gue semprot lagi nih kalo ga mau bangun! Kebluk banget dibangunin sama orang – orang dari


tadi” Seru Nathan yang nampak memegang sebuah pistol air, yang Andrea kenali sebagai salah satu mainan para adiknya.


‘Eh, apa nih?. Kok si Tan – Tan ada disini? Tadi bukannya Abaaannnng.....’


Nathan menarik bantal Andrea yang berada dibawah kepala gadis itu, yang kemudian terhenyak.


‘Gue mimpi?. Pernikahan gue dan Abang cuman mimpi?’


Satu pencetan di hidungnya kembali membuat Andrea terhenyak. “Tan – Tan ih! Sakit tau ga?!”


Satu tepakan kencang sampai dibahu Nathan dari tangan Andrea.


“Sudah cepet! Udah ditungguin orang dibawah mau makan malam tuh!”


“......”


“Malah bengong lagi. Cepaaaatttttt Andrea Havana Onana! Gue sudah lapar nih!” Cerocos Nathan lagi.


“Eh tunggu Tan!. Abang ....”


“Abang, Abang. Emang dasar istri ga solehah lo! Bukan ngurus suami, malah tidur!”


***

__ADS_1


“Little Star...”


“I-iya! ...”


........


“Sebentar!”


“It’s okay Little Star, take your time. ( Tak apa Little Star, santai saja )”


***


‘Eh, Abang mana?’ Andrea membatin saat Varen tak ia lihat kala ia sudah keluar dari kamar mandi.


Andrea melangkah ragu, pasalnya tadi ia buru – buru masuk kamar mandi tanpa membawa baju ganti, jadi saat ini ia hanya menggunakan bathrobe saja, yang kemudian ia ketatkan ditubuhnya dengan jantung yang cukup cepat debarannya, berjalan menuju walk in closet dalam kamarnya.


“A-bang???”


Andrea memanggil Varen dengan sedikit gugup dan pelan.


Tak ada sahutan.


Andrea benar – benar melangkah masuk ke dalam walk in closet nya.


Kosong.


“Kemana ya?” Gumam Andrea yang kemudian mengendikkan bahunya dan langsung membuka lemari untuk mengambil pakaian dan buru – buru memakainya.


*****


Andrea melirik jam digital diatas nakas samping ranjangnya. Hampir jam tiga sore. Hatinya sedikit bimbang antara menunggu Abang masuk lagi ke kamarnya atau dia keluar dari kamarnya itu.


‘Abang kemana ya?. Belum ganti baju kan itu dia?’


Andrea membatin, lalu duduk ditepi ranjangnya.


Beberapa menit terlewati, pada akhirnya Andrea merebahkan diri diatas ranjangnya. Tiduran agak ketepi, hati – hati agar tidak terlalu membuat berantakan ranjang pengantinnya.


Merebahkan diri sebentar, karena merasa badannya agak sedikit lelah, sambil menunggu Abang.


***


“Malah bengong lagi. Cepaaaatttttt Andrea Havana Onana! Gue sudah lapar nih!”


“Eh tunggu Tan!. Abang ....”


“Abang, Abang. Emang dasar istri ga solehah lo! Bukan ngurus suami, malah tidur!”


‘Eh, istri? Suami? Jadi pernikahan gue dan Abang bukan mimpi dong ya?’


“Astogeee bengong lagi! Kesambet lo lama – lama bengong melulu! Cepat Drea! Ditunggu orang – orang dibawah mau pada makan, nunggu lo doang ini!”


“Iya! Iya!”


Andrea mencebik pada Nathan.


“Ih Tan – Tan! Berantakan tuh kan jadinya ranjang gue!”


“Alah, nanti malam juga lebih berantakan”


Ehem!


Nathan mengerling jahil pada Andrea.


Andrea bersemu.


“Dih! Dih! Drea mesuuum!!! Hahaha!!! ....”


“Ih!”


“Hahahaha ...”


“Jadi berarti gue ketiduran gitu??? ....”


‘Ah masa sih? .....’


Andrea membatin.


“Mimpi jorok lo ya?! ...”


“Sok tahu lo!”


“Halah bilang aja iya. Lo pasti udah kebayang sosis jumbo kan lo?!” Goda Nathan yang kemudian langsung tergelak tanpa akhlak.


“Yeeeee....”


Andrea seolah menyangkal.


‘Iya sih, sedikit. Hehehe ....’


Batin mesum Andrea berbisik.


‘Yah berarti yang tadi, Cuma mimpi dong?. Ah, sayang sekali!’


Ada sedikit kecewa dihati Juleha.


'Eh, ini kan sudah waktu makan malam? Berarti habis makan malam dong nanti gue dan Abang..'


***


“Nah, tuh penganten bangun juga akhirnya”


Momma langsung nyeletuk saat Andrea dan Nathan sudah nongol ke tengah – tengah mereka.


“Hey”


Abang menyapa dan menghampiri Andrea dengan tersenyum.


“Nyenyak tidurnya?” Tanya Abang sambil mengelus kepala Andrea yang langsung mengangguk pelan, juga


memberikan senyuman.


“Inget sudah punya suami. Sudah harus mulai mengurus ga Cuma diri sendiri” Ucap Momma lagi.


“Iya, maaf” Jawab Andrea pelan.


“It’s okay, Mom. Mungkin Andrea kelelahan”


Varen membela istrinya.


“Jangan dibiasain dibelain kalo salah dia. Makin tuman nanti”


“Iya Momma”


“Ya udah, yuk makan semua”


***


Andrea sudah kembali ke kamarnya.


Begitupun semua orang yang langsung pergi ke kamarnya masing – masing setelah makan malam.


Kegugupan Andrea tadi siang kini menyelimuti hatinya lagi. Hatinya berdebar tak karuan, sembari ia duduk di sofa dalam kamarnya.


Ceklek.


Andrea spontan menggigit bibir bawahnya, jantungnya seolah loncat – loncat saat pintu terbuka dan Varen terlihat disana.


“Hey Little Star ...”


“H-hai Abang...”


Sumpah mati, Andrea gugup.

__ADS_1


“Kok belum tidur?” Tanya Varen yang kemudian mengambil tempat disamping Andrea yang sedang duduk disofa.


“Be-lum mengantuk.....”


Varen mendekatkan dirinya pada Andrea, membuat jarak wajah mereka hanya sepersekian senti saja.


Andrea jadi kikuk dibuatnya.


Cup!


Gluk!


Andrea meneguk kasar salivanya, kala bibir Varen mendarat di keningnya.


Ah, inikah saatnya?. Ini kan sudah malam, ya?....


Andrea tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.


“Tidurlah...”


“.....”


“Besok kamu sekolah ...”


“Iya .....”


Varen tersenyum memandangi Andrea.


Eh tunggu – tunggu, Andrea seperti menyadari sesuatu.


“Apa tadi Abang bilang?”


“Drea tidur sekarang, besok sekolah”


“Apa?”


Varen manggut – manggut.


“Besok kan hari rabu, kamu masih masuk sekolah kan?”


“I – iya sih, tapi...”


“Ga ada tapi – tapi, tidur ya?. Besok Abang antar ke sekolah”


“Loh kok gitu?”


“Kenapa, hem?. Ga mau Abang antar ke sekolah memangnya?” Varen menyampirkan satu sisi rambut Andrea


kebelakang telinga gadis itu.


“Yaa bukan begitu ... tapi kan kita baru saja menikah?”


“Lalu?”


“La – lu ... ya ...”


Andrea sedikit tergagap, menggantung kalimatnya. Ada pertanyaan yang ingin Andrea tanyakan. Soal malam pengantin. Tapi dalam hati saja. Ga mungkin juga kan dia blak – blakan membicarakan itu pada sang Abang, yang meski kini sudah menjadi suaminya.


Varen seperti menunggu Andrea menyelesaikan kalimatnya. “Sudah, ayo”


‘Eh?’


Andrea terhenyak, kala Varen menggenggam tangannya dan kemudian berdiri sambil sedikit menarik genggamannya agar Andrea ikut bangkit dari duduknya.


‘Eh, sekarang nih?’


Lagi – lagi Andrea membatin. Kala Varen membimbingnya ke arah ranjang.


'Kalau melakukannya malam ini dan besok gue harus sekolah, tapi nanti kan .. bukannya ... nanti jalan gue..'


Jantung Andrea kembali tak karuan. Berdiri dibelakang Varen saat mereka sudah ditepi ranjang dan si Abang


menyingkap bed cover ranjang Andrea. Ia teringat akan hal yang pernah ia dengar soal hubungan i*tim yang pertama.


'Sakit sekali katanya, kan?'


“Ayo, naik sini” Ucap Abang sambil menggerakkan sedikit kepalanya dan Andrea mengangguk pelan.


Varen tersenyum, dan Andrea lagi – lagi meneguk ludahnya, saat ia mengambil tempat naik ke ranjang, setelah


melepas slipper nya.


Varen merebahkan tubuh Andrea perlahan setelah mengatur bantal. Jantung Andrea semakin tak karuan, semakin


besar Andrea rasa bunyi debarannya.


Cup!


Satu kecupan dikening mendarat lagi di kening Andrea dari Varen, hingga membuat mata Andrea terpejam.


“Nitey Nite, Little Star.... See you tomorrow, hem?. ( Selamat tidur, Little Star.... sampai besok, hem? ). Pintu kamar Abang ga dikunci, jika nanti kamu butuh sesuatu.”


Andrea membuka matanya, seiring dengan ia kerutkan dahinya.


“Kamu kan suka bangun tengah malam karena merasa lapar. Nanti bangunkan Abang saja, ya?”


Andrea kok jadi ga paham?.


‘Bukankah aku dan Abang sudah menjadi suami istri?. Kok Abang barusan bilang, dia mau kekamarnya?’ Batin Andrea.


Abang masih tersenyum padanya. “Sudah ya, Abang tinggal dulu”


Andrea mengangkat alisnya.


“Abang mau kekamar Abang sendiri, gitu?” Andrea mengajukan pertanyaan. Varen mengangguk pasti.


“Loh?.. Tapi kan kita .. sudah menikah ..? Kenapa kita masih tidur di kamar masing – masing?”


“Little Star ..”


“Drea ga paham deh. Kita seharusnya sudah boleh tidur di kamar yang sama kan?”


“Kita memang sudah menikah, tapi sebelum kamu lulus sekolah, kita akan tetap tinggal di kamar masing –


masing”


“Hah?! Apa?! Kok gitu?!”


“Have  a nice dream , Sweetheart. ( Mimpi yang indah ya, Sayang )”


Cup!


“Love you”


Andrea melongo. Hingga sampai Varen keluar dari kamarnya dan menutup pintunya dengan rapat, Andrea masih melongo.


“Yah, kok begitu???!...”


Andrea menggumam tak percaya.


‘Ih, kok begini?. Bukan seperti ini kan harusnya?. Tapi kenapa malah ..’


Andrea mengusap kasar wajahnya.


“Pernikahan macam apa ini?!!!”


Gadis itu jadi kesal sendiri.


‘Oh sosis jumbo ..’


***


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2