
UNGKAPAN
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Selamat membaca .....
Semua orang yang berada di Kediaman Utama sedang berkumpul santai disore hari minus Varen dan Nathan yang
belum kembali dari Perusahaan. Minus juga Papa Lucca beserta keluarga kecilnya dan Keluarga Cemara yang esok hari baru datang setelah dikabari mereka yang dari London sedang datang ke Jakarta.
“Belum ada kabar dari Rendy soal Kevia, Little Star?”
“Belum Mom Ayank”
Mom Ichel dan Andrea sedang berkumpul bersama yang lainnya di ruang santai keluarga.
“Keras juga ya itu si Kevia”
Momma berkata.
“Macam kamu engga?”
Poppa yang menyahut cepat sambil melirik malas pada si Momma yang kemudian tertawa.
“Rasanya juga bukan dia seorang tuh yang kerasnya macam si Kevia itu”
Daddy Dewa menimpali, melirik pada sang Istri sambil mesam – mesem.
“Sama sudah kalian juga semua. Si Kevia itu macam kalian kerasnya” Sambar Daddy R dan ucapannya tertuju
pada semua wanita dalam keluarganya.
Ucapan Daddy R pun diaminkan oleh para pria, termasuk Gappa.
“That’s good right? (Bagus bukan?)”
Itu Gappa yang berbicara.
“Compatible with all of them, right? (Cocok dengan mereka semua, kan?)” Menunjuk pada para wanita dengan gerakan kepalanya.
“I couldn’t agree more! (Aku setuju sekali!)” Timpal Gamma yang duduk berdekatan bersama Oma. “Bukan begitu
Anye?”
“Yes, betul. Kalau dia lembek justru ga cocok ada ditengah – tengah kita”
Oma Anye dengan pendapatnya.
“Iya kan, Yuna?. Setuju ga gadis bernama Kevia itu jadi cucu menantu?”
“Ya setujulah. Kalau memang gadisnya mau, nikahkan aja buru – buru ya Ji?”
Mama Jihan yang ditanya pendapatnya oleh Nenek Yuna pun mengangguk cepat.
“Iya aku juga maunya begitu. Tapi masalahnya apa Kevianya masih mau sama Nathan?” Ucap Mama Jihan.
“Iya sih” Andrea dan Momma menyahut bersamaan. Sisanya mengiyakan dengan anggukan.
“Kalau dia mau?” Tanya Mami Prita.
“Ya bagus” Poppa yang menyahut. “Memang sudah seharusnya begitu. Bocah tengik nomor dua itu sudah merusaknya kan?. Kecuali dia memang gadis nakal, nah itu terserahlah. Tapi karena kita tahu latar belakangnya, kurasa memang sudah seharusnya Nathan menikahinya dengan segera”
Mami Prita dan yang lainnya manggut – manggut.
“Sorry nih ya, tapi gadis itu kan punya riwayat .. ya kalian paham deh..” Sambung Mami Prita.
“Halah, diantara kalian bukannya ada yang lebih gila dan aneh – aneh kelakuannya?” Itu Daddy R yang melirik pada Momma.
“Gue lagi..” Yang dilirikpun merasa.
“Memang iya sih, Sweety”
Mommy Peri menimpali sembari terkekeh kecil.
“Iya benar, lo ga kurang sakit jiwa apa Jol?. Macam – macam kan kelakuan lo?. Dari mulai di FC sampai Italy?. Belum lagi waktu lo tenggak itu satu strip pil kontrasepsi, sampai lo kabur dari London ke Indo Cuma bawa diri gara – gara ngambek sama si Donald Bebek?”
“Sama duit paspor visa si!”
Momma menyela.
“Hah Iya! Belum lagi gara – gara kejadian di RED! Membuat kami hampir kena serangan jantung”
“Jangan lupa waktu dia bawa mobil gue terbang di jalanan RC”
Daddy Jeff dan R menimpali. “Dan kegilaan – kegilaan lo yang lain Jol!. Makanya si Little Star kalau aneh – aneh dan absurd kelakuannya ya ga heran”
Momma nyengir dengan indahnya.
Sisanya ya cekikikan saja.
“Lagipula saat itu dia sakit karena perbuatan orang tuanya” Ucap Poppa. “Dia tidak sampai bunuh diri saja itu sudah syukur”
“Kalau menurut cerita Kak Rendy sih, dia sering mencoba. Sampai Kevia akhirnya pacaran dengan Nathan, dia
berhenti mengkonsumsi obat penenang yang sering dia minum melebihi dosis” Timpal Andrea. “Ya benar sih Pop karena orang tuanya, ibunya bunuh diri, sementara papanya menikah dengan sahabat ibunya. Aku juga kalau jadi Kevia akan berpikir seperti itu tentang papanya”
“Makanya kan selalu dibilang, jangan menjudge orang tanpa tahu storynya!” Sambar Daddy R.
Yang lain pun manggut – manggut.
“Aku ga kebayang deh kalau jadi Kevia”
“Ih Coy! Coy! Juleha!” Sambar Momma, yang kemudian membuat lainnya terkekeh. “Momma sama Poppa harmonis gini si!”
“Iya, Iya .. Momma sama Poppa super duper harmonis memang. Kalah aku sama Abang juga!”
“Nah tuh paham!” Sahut Momma. “Iya kaaann Donald Bebeeeek???? ....” Bergelayut dengan manjanya memeluk si Poppa yang mesam – mesem pada akhirnya.
“Ini kode ya?”
Donald Bebek memainkan alisnya.
“Halah! Ga jauh – jauh!” Celetuk Papi John.
“Iri? ....”
“Bilang Boooss....” Kompaknya Tuan dan Nyonya Bebek.
Dan mereka semua pun akhirnya tergelak bersama.
****
“Permisi semua, Tuan, Nyonya” Salah seorang asisten rumah tangga di Kediaman menyambangi para tuan dan nyonya nya yang sedang berkumpul di ruang santai keluarga.
“Iya, Dis?” Mommy Peri yang menjawab.
“Ada Tuan Rendy dan temannya Nyonya”
“Rendy anaknya Dokter Clarissa?” Tanya Mami Prita.
“Iye siapa lagi coba Rendy yang kita kenal?” Sahut Momma. “Bule koplak istrinya oneng banget”
“Iya, Nyonya Prita”
“Oh ya sudah. Makasih ya Dis” Ucap Mama Jihan.
“Iya, Nyonya. Sudah saya persilahkan duduk di ruang tamu”
**
“Janjian sama Abang itu si Rendy, Little Star?”
“Engga kayaknya. Abang ga bilang Kak Rendy mau datang. Kak Rendy juga ga bilang apa – apa sama aku
perasaan. Ga ada chat atau telpon aku mau datang”
“Ya udah temuin sana. Sama temennya kata Adis? Siapa tau pacarnya udah mau nikah?. Nganter undangan kali?”
“Kak Rendy ga punya pacar si Mom. Lagian siapa tahu temannya cowo”
“Ya sudah temui dulu, dia kan sahabat suamimu. Nanti kami menyusul menemuinya” Ucap Poppa dan Andrea
mengangguk lalu langsung berdiri dari duduknya, bergegas ke ruang tamu untuk menemui Rendy dan temannya.
__ADS_1
Andrea kembali tak lama kemudian, dengan wajah yang sumringah campur terkejut juga.
Jadi terlihat aneh raut wajah Andrea dalam pandangan keluarganya yang masih berkumpul di ruang santai keluarga.
“Kenapa Little Star?”
“Itu! Itu!”
“Ita itu, apaan?!”
“Kak Rendy!”
“Iya kenapa?”
“Datang sama Kevia!”
**
“Via ..” Nathan gugup.
Wajah Nathan menggambarkan seolah dia tak percaya, kalau saat ini dia disuguhi Kevia didepan matanya.
Kurang lebih sama saat Mama Jihan juga melihat gadis itu yang tahu – tahu muncul di Kediaman Utama mereka, tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Sosok yang beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan hangat dalam keluarga mereka. Gadis yang Nathan
sakiti, namun begitu Nathan cintai.
“Hai”
Nathan berdiri dihadapan Via yang sudah bangkit dari duduknya, namun tak bergeser dari tempatnya. Nathan yang duluan menghampiri. Mengayunkan langkah setelah sejenak tertegun tadi.
Jantung Nathan pun ga bisa santuy sedikit saja.
Kevia menyapa santai, lengkap dengan senyuman. Dan Nathan, ingin sekali ia tarik Kevia dalam pelukan agar Kevia tak lagi pergi dari hadapan.
“Apa kabar?”
Kevia mengulurkan tangan.
“Ba – ik, aku baik”
Nathan terbata. Kevia mengangguk pelan dengan senyumnya.
Uluran tangan Kevia Nathan sambut dengan bahagia. Meraih tangan gadis yang dari ujung rambut sampai ujung
kakinya begitu Nathan rindukan. Nathan fokus menatap Kevia, dengan matanya yang sudah berkaca – kaca. Memandangi Kevia dengan tatapan sarat makna.
Hingga kemudian terdengar suara Kevia berkata,
“Bisa tolong lepasin tangan aku?”
Nathan terkesiap. “Ma – af ..” Dilepaskan tangan Kevia dengan berat.
Setelahnya Nathan nampak salah tingkah. Keluarganya yang berada didekat Nathan cengengesan saja melihat si Tan – Tan sekarang.
“Ga duduk?” Ucap Kevia pada Nathan yang orangnya sudah kembali ke duduknya semula.
“Oh – eh, iya ..” Sekali lagi Nathan terkesiap. Kemudian baru mengedarkan pandangan pada orang – orang
disekelilingnya yang nampak cengengesan.
Didetik itu Nathan kemudian sadar, yang bersama Kevia saat ini bukan dia seorang. “Gugup nih ye” Itu Momma yang nyeletuk, celetukan yang bikin lainnya cekikikan kemudian.
“Anak lo terlihat begitu bodoh sekarang, Jeff” Bisik Daddy R pada Daddy Jeff yang lagi cekikikan.
“Memang dia bodoh. Kalau pintar, gadis itu seharusnya ga dia sia – siakan”
Mulai deh bisik – bisik tetangga, eh bisik – bisik keluarga.
Nathan sudah mengambil duduk di sofa yang berdekatan dengan Kevia setelah Mami Prita bangkit dari duduknya.
Rangkaian kalimat yang sudah Nathan susun kini ambyar seketika. Ingin berbicara, tapi kikuk rasanya.
‘Ini mereka ga peka banget sih?’ Terlebih lagi, kini hampir seluruh keluarga termasuk Rendy mengelilingi.
Berharap ia bisa ditinggalkan berdua oleh Kevia untuk berbicara secara pribadi.
rasanya?.
“Kamu” Akhirnya Nathan bersuara. Pelan saja, gugup sih lebih tepatnya. “Kamu apa kabar Vi?”
“Aku baik” Jawab Kevia. “Terima kasih sudah bertanya” Menyunggingkan sedikit senyumnya.
Oh, Kevia. Kenapa datar saja?. Nathan jadi salah tingkah juga kan dibuatnya. Ditambah Kevia seolah menghindari
kontak mata dengannya.
Padahal Nathan rindu pada sepasang telaga bening milik Kevia. “Eum, Vi ...” Nathan yang terlihat jelas
kegugupannya itu bersuara lagi.
“Ya?” Kevia memalingkan pandangannya pada Nathan. Pandangan yang nampak biasa saja, sekedar menjawab.
“Itu.. kita .. ngobrol di halaman belakang?” Nathan mengajak Kevia untuk memisahkan diri, karena dirinya merasa, mata – mata para juliters itu kian menikamnya.
“Kedatangan aku kesini semata – mata hanya untuk meluruskan pandangan keluarga kamu atas apa yang pernah terjadi antara kita. Dulu...”
Kevia tersenyum tipis.
“Video yang Kak Rendy kirimkan padaku, adalah alasan kenapa aku memutuskan untuk datang kesini”
“Video? ..”
****
“Kemari”
“Ya, Dad?”
“..”
“Ngapain Mom?”
(Andrea bertanya dengan berbisik pada sang Momma yang mengeluarkan ponselnya, lalu nampak merekam apa
yang sedang mereka lihat saat ini dimana Daddy R, Poppa dan Nathan sedang berdiri berjarak dari mereka)
“Udeh diem”
(Momma mulai merekam, adegan yang sedang ia lihat bersama keluarga lainnya selain ketiga orang yang berjarak
di hadapan)
“Kau ingin pujian dariku atas kelakuanmu?”
“Tidak, Dad”
“Mungkin dia mau diberikan penghargaan?”
“....”
“Maafkan aku Dad.... Pop
......”
(Momma menghentikan rekaman kemudian, saat adegan ketegangan sudah berubah menjadi keharuan).
“Ponsel kamu mana Juleha?”
“Nih” (Andrea menunjukkan ponselnya pada Momma)
“Tuh, video yang Momma kirim, kamu kirim ke Kevia”
“Aku ga punya nomornya”
“Ya kirim ke Rendy aja kalau begitu. Bilang kasih lihat ke Kevia”
“Buat apa?”
(Masih saling berbisik)
“Udeh lakukan apa yang Momma suruh. Otak kamu ga bakalan sampe, Juleha”
__ADS_1
(Yang mendengar cekikikan)
(Pelan tapi, karena yang tadi beradegan nampak akan kembali menggabungkan diri)
“Udah lakuin aja yang Momma kamu bilang itu. Siapa tahu berguna buat si Tan – Tan kemudian”
“Iya betul. Sudah cepat itu kirim ke Rendy. Kalo die banyak tanya, suruh telpon Momma Udeh cepetan”
“Iya, okeee ..”
****
Itu.. kita .. ngobrol di halaman belakang?”
“Kedatangan aku kesini semata – mata hanya untuk meluruskan pandangan keluarga kamu atas apa yang pernah terjadi antara kita. Dulu...”
“....”
“Video yang Kak Rendy kirimkan padaku, adalah alasan kenapa aku memutuskan untuk datang kesini”
“Video? ..”
Kevia mengangguk sekali.
Nathan dengan raut wajahnya yang kebingungan. Namun sekilas ia melirik, Momma mengangkat jempolnya.
‘Thanks Mom’ Nathan membatin, tersenyum tipis segaris pada Momma yang kemudian dibalas dengan
senyuman juga oleh Momma yang tadi mengangkat sebentar jempolnya.
Nathan tak perduli lah video apa yang dimaksud Via, nanti toh dia bisa bertanya juga pada keluarganya.
Tak lupa akan berterima kasih pada Momma, yang entah video apa itu, yang jelas bisa membawa Kevia datang ke Kediaman mereka.
Kesulitan Nathan untuk berusaha mencari tahu keberadaan Kevia terbang sudah, karena orangnya sudah datang sendiri ke hadapannya.
Seperti yang Nathan selalu katakan, kalau keluarganya begitu ia syukuri.
Gimana ya, Keluarga Adjieran Smith itu kelewatan solidnya.
Setiap orang seperti tahu masing – masing porsinya. Gercep kalau soal membantu menyelesaikan masalah dan meringankan beban. Seperti halnya yang sudah Momma dan entah siapa lagi yang terlibat dalam urusan video yang dikirim pada Kevia.
Yang jelas itu sangat membantu Nathan yang pada akhirnya bisa bertemu lagi dengan Kevia.
“Iya, video saat kamu sedang disidang oleh keluarga kamu”
Kevia berpaling ke arah keluarga Nathan yang masih ada bersamanya.
“Maaf, jika aku boleh bilang begitu?”
Dengan sopan Kevia berbicara.
“Ga apa. Memang benar begitu” Varen yang menyahut. “Jika kamu mau melaporkan dia ke jalur hukum, sekalian
biar disidang karena perbuatannya ke kamu, kami ikhlas dunia akhirat”
Ah, Abang. Pengen Nathan deh cubit ginjalnya.
“Benar kan?”
Abang mengumpulkan dukungan.
“Benar”
Sialnya bagi Nathan, dukungan penuh si Abang dapatkan.
Ya ga apa kalau Via memang maunya begitu juga. Nathan ikhlas sih. Yang penting sudah bisa ketemu dengan
Kevia, habis itu mau dilaporin ke jalur hukum pun Nathan rela, kalau itu memang maunya Kevia.
“Engga kok. Ga harus sampai begitu”
Kevia menyahut dengan menampilkan senyumnya.
“Ga apa .. Vi... kalau harus begitu pun, ga apa ...” Ucap Nathan. “Kalau mau melaporkan aku, silahkan, aku rela ...”
“Kalau aku mau melaporkan seharusnya dari empat tahun lalu, kan?”
“Bisa diangkat kok, kasusnya ...”
“Sudahlah Jo, aku sudah melupakan”
“Maaf ... Via ..” Nathan meneguk salivanya. “Bisa, kita bicara berdua..?”
Kevia menyunggingkan senyum tipisnya lagi, menoleh pada Nathan sebentar lagi.
“Seperti yang aku bilang tadi, aku kesini bukan khusus untuk bertemu kamu, Jo. Aku hanya ingin meluruskan, agar kamu tidak terlalu disalahkan”
Nathan dan keluarga terenyuh mendengarnya. Gadis yang hanya berbeda satu atau dua tahun dengan Andrea, yang pernah dikecewakan Nathan dengan sangat, ternyata setulus ini.
Disaat yang sama Nathan sedih, Kevia nampak berubah. Nathan merasa Kevia tak ada lagi rasa padanya.
Padahal selama ini Nathan bergelung dengan rindunya pada Kevia.
“Maaf, Via.... untuk semua yang pernah aku lakukan ke kamu, aku mohon maaf ...”
“Sudah aku maafkan. Sejak dulu sudah aku maafkan”
“Makasih ya Vi..”
“Sama – sama”
“Aku ... kesalahanku ..”
“Bukan hanya salah kamu kok Jo, waktu itu aku juga mau ... jadi jangan khawatir, aku tidak menyalahkan kamu
sendirian untuk hal itu” Ucap Kevia dengan tenangnya.
“Maaf ...” Lirih Nathan.
“Ya sudah ya, aku permisi. Aku sudah menjelaskan semua dan meluruskan segala hal agar kamu tak terlalu
dihakimi”
“Vi ..”
Nathan mencoba menahan Kevia yang sudah berdiri, untuk berpamitan dengan keluarga Nathan yang lain.
“Kasih aku kesempatan Vi ...”
Nathan kini tak perduli, dihadapan keluarganya dia berucap pada Kevia, memberanikan diri. Tak tahu malu memang setelah apa yang pernah Nathan lakukan pada Kevia, lalu sekarang kesempatan Nathan minta.
Suasana hening sekarang.
“Aku ingin memperbaikinya .. apa yang pernah kita jalani empat tahun lalu ..”
“...”
“Aku sayang Vi, sayang sama kamu ...”
“Aku engga”
Kevia menyambar sebelum Nathan menyelesaikan kalimatnya. Nathan mencelos seketika.
“Udah engga”
Rambatan sakit dihati Nathan rasa.
“Tapi kamu yang pergi Vi, aku selalu bilang, kan?. Aku ga akan kemana – mana... tapi kamu pergi ... disaat kita...”
“Kita ... – udah ga ada Jo .. hari dimana kamu memberikan aku obat penggugur kandungan, dihari itu juga ‘kita’ sudah selesai”
Oh, Hati...
****
Ambyar Mak Pyar Balik Kanan Bubar Jalan
😄😄😄😄😄😄😄
****
To be continue ......
__ADS_1