THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 322


__ADS_3

**CONSTELLATION OF EMOTION **


( Konstelasi Emosi )


 


 


Selamat membaca...


 


Rumah Sakit ..


“Drea sudah kotor Abaanngg ...”


“Little Star, Sayang. Hey, lihat Abang. Drea, lihat Abang”


“Drea sudah tak pantas untuk Abaanngg .....”


“Little Star!” “


Varen sedikit mencengkram lengan Andrea.


“LEEEEPPPAASS!!! JANGAN SENTUH AKUUUUU!!...”


Andrea yang tadi sempat meracau sambil menangis itu kemudian kembali histeris saat Varen sedikit mengguncang tubuhnya.


“LEEEEPPPAASS!!!”


“LITTLE STAR!!!!”


“PERGIIIII!!!! ....”


Andrea tak mengindahkan ucapan maupun keberadaan Varen didekatnya, malah Andrea mendorong tubuh Varen dengan begitu kuat. Bahkan jarum infus di tangan kiri Andrea sampai terlepas hingga membuat punggung tangannya berdarah


Namun Varen termasuk Momma, Mommy Ara dan Nathan sigap memegangi Andrea, lalu salah satu dari mereka


menekan tombol pemanggil perawat.


“Drea..... Drea..... ini Momma sayang ... Momma, Abang, Mommy Peri sama Tan – Tan ini Drea.....”


Momma mencoba menenangkan dan disaat yang sama Rendy dan Marsha datang. Keduanya langsung spontan berlari saat melihat Andrea yang histeris.


Marsha meminta ruang, menggantikan Momma dan Mommy Ara disisi Andrea, yang kini mulai berontak, namun


Varen mendekapnya kuat.


“JANGAN SENTUH AKUUUUU!!... JANGAN SENTUH AKUUUUU!!... LEEEEPPPAASS!!!”


***


Hari sudah beranjak pagi di keesokan hari


Rendy dan Marsha yang masih bertahan di ruang rawat Andrea, kini duduk bersama Varen di sofa panjang dalam


ruangan bersama juga Nathan.


Sedang Momma dan Mommy Ara sedang berada didekat Andrea kembali bersama Marsha, setelah Marsha yang


menggantikan Dokter Alan itu terpaksa harus memberikan Andrea penenang sekali lagi.


Varen sempat protes jika Andrea kembali harus diberikan obat penenang untuk yang kedua kalinya, namun opsi kedua yang diberikan Marsha tidak mungkin bisa Varen terima, jika harus mengikat istri kecil tercintanya itu.


Sudah beberapa jam berlalu, dan efek penenang kedua itu Marsha bilang hanya sebentar saja.


Tidak selama penenang yang diberikan Dokter Alan sebelumnya.


Meski begitu hati Varen rasanya masih sedikit tak terima jika Andrea harus terus dibuat tak sadarkan diri.


“Sabar, Va....”


Rendy menepuk – nepuk pelan pundak Varen yang nampak kian frustasi karena kondisi Andrea itu.


Varen tertunduk lesu, dengan kedua tangan yang tertaut diatas pahanya sambil sesekali ia mengusap kasar


wajahnya lalu menghela nafas dengan sedikit kasar.


“Ini ga akan berkepanjangan. Toh Andrea bukan pecandu”


“Tapi gue sakit, melihat dia seperti ini Ren!”


“Gue paham perasaan lo, Va ...”


“Lo ga akan paham! Lo lihat istri gue?! Dia dibius dengan obat bius untuk hewan! Hewan besar bahkan! Dan tidak Cuma satu dzat itu aja! Dia ga sadar selama berjam – jam, yang setiap detiknya itu seolah menikam gue meski kalian bilang dia akan baik – baik saja! Tapi saat dia sadar coba?! Dia histeris! Bahkan gue sendiri sulit menanganinya! Lalu? Terpaksa gue harus merelakan istri gue dibuat ga sadar lagi semata – mata untuk menenangkan dia!”


“Abang .....” Momma yang melihat Varen mencerocos didekat Rendy dan Nathan itu mendekat pada putra sekaligus menantunya. Nathan bergeser duduk, begitu juga Rendy untuk memberikan ruang bagi Momma dan Mommy Ara.


Sementara Marsha masih tetap berada di sisi Andrea.


“Tenang Abang.....”


“Bagaimana aku bisa tenang, Mom?!”


Varen kembali berbicara dengan gusar.


“Mom dan Momma lihat seperti apa Drea?! Bahkan penenang saja hanya membuat dia tidur sejenak, lalu saat dia


bangun kembali, kalian lihat sendiri bagaimana kondisinya! Lo juga liat kan Tan?!” Varen kini setengah histeris.


“Tadi kan Dokter Alan juga sudah bilang, kalau ada kemungkinan reaksi Andrea yang histeris tadi akan berlangsung selama beberapa waktu. Kita harus sabar Abang ...”


Momma dan Mommy Ara sama – sama mengusap lengan dan punggung si Abang.


“Sabar......” Varen mendengus getir. “Heh..”


“Abang tenang ya?”


“Little Star bahkan mengabaikan ku Mom... dia tidak mendengarkanku, tak melihatku... Bagaimana? Bagaimana aku bisa tenang? .....”


Segala macam emosi rasanya terlihat di wajah Varen sekarang.


“Aku merasa tak berguna..”


“Abang, jangan bicara begitu.. Abang sudah melakukan yang terbaik buat Drea ...”


“Apanya yang terbaik Mom?! ... Aku hanya bisa pasrah melihat dia histeris, lalu diberi obat penenang!”


“Aunt Fania benar Alva, Andrea seperti ini bukan kesalahan kamu. Toh kamu menyelamatkannya disaat yang tepat”


Marsha datang mendekat.


“Dosis obat bius yang cukup banyak yang Andrea terima, akan membuat siapa saja yang mengalaminya akan


bereaksi sama seperti Andrea”


“.......”


“Di tambah, mungkin saat disuntikkan obat tersebut Andrea langsung tak sadarkan diri. Dan ingatan terakhirnya adalah saat dia hendak dilecehkan, hingga membuat alam bawah sadarnya berpikir kalau dia sudah mengalami hal tersebut”


“.......”


“Dan dipastikan ketakutan yang sudah bergelung dalam pikirannya, memikirkan hal yang terburuk sudah dia alami” Sambung Marsha. “Jadi yah, efek obat bius yang ada dalam dirinya berputar sekitar itu. Rasa takut dan tak terima mungkin juga penyesalan dan segala macamnya lagi, bercampur jadi satu dalam hati dan pikiran Andrea saat ini”


Varen pun kembali menghembuskan nafas frustasinya dan ia kembali tertunduk lesu.


**


“Momma dan Mommy lebih baik pulang saja dulu. Kalian berdua beristirahatlah di Kediaman. Biar Nathan yang antar”


“Poppa dan Daddy R juga akan kesini sebentar lagi. Jadi kami menunggu mereka datang dulu. Toh mereka yang di


Kediaman juga mau datang kesini kok, Bang”


“Aku akan pesankan sarapan untuk kalian” Ucap Marsha.


“Tidak usah Sha, nanti saja. Nanti orang dari Kediaman datang membawakan sarapan untuk kita”


“Ya sudah kalau begitu Aunt”


****


“Bang....”


Nathan yang sudah berdiri dan tadinya hendak melihat Andrea itu berucap pelan.


“Drea sadar itu kayaknya” Ucap Nathan.


Varen sontak melonjak dari duduknya.

__ADS_1


Namun tangan Marsha seolah memberi kode agar jangan dulu mendekat pada Andrea.


“Aku perhatikan tadi, jika Andrea mendapatkan kontak fisik, maka dia jadi histeris” Ucap Marsha pelan saat Varen


hendak dengan tergesa menghampiri Andrea sambil menjegal Varen dengan tangannya.


Suara racauan mulai terdengar pelan. Namun mereka yang didalam ruangan bisa mendengarnya. “Jangan! Tolong Jangan!” Racauan yang pelan itu perlahan semakin jelas, seiring tubuh Andrea yang bergerak gelisah.


“Sabar Alva, jika kita mendekatinya dengan tiba – tiba, ada kemungkinan Andrea akan histeris lagi. Jadi tunggulah dulu” Ucap Marsha masih menjegal Varen yang sudah lagi ingin menghampiri Andrea dan mencoba menenangkan.


“A-bbaangg...”


“Dia mencariku, Sha..”


Marsha masih menahan Varen sembari mengangkat satu tangannya melihat pada arloji yang ia kenakan. “Tunggu


sebentar lagi”


Selang beberapa menit, Andrea tak lagi terdengar meracau. Namun racauannya berganti dengan isakan.


Sungguh Varen mencelos melihatnya. Ingin sekali rasanya ia memberikan pelukan ternyaman nya untuk Andrea.


Namun apa yang dikatakan Marsha benar juga. Andrea sudah dua kali histeris, namun saat ada kontak fisik dengan Andrea, istri kecilnya itu semakin tambah histeris.


“Kalian tunggu disini sebentar. Biar aku yang menghampirinya duluan”


Sedikit berat, namun Varen mengangguk. Begitupun Momma, Mommy Ara dan Nathan.


**


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith ...


Poppa keluar dari kamarnya dengan tergesa. Daddy R yang juga hendak turun setelah keluar dari kamarnya itu


seketika menoleh dan bertanya pada Poppa yang sudah rapih dengan pakaiannya dengan wajah yang nampak tegang sembari memegang ponsel yang tertempel di telinganya.


Melihat Poppa yang seperti itu, Daddy R mendekatinya.


“Apa kau yakin, Alan?”


“......”


“Baiklah. Setidaknya aku yakin sekarang. Paling tidak aku sedikit tenang” Poppa masih berbicara di telepon dengan Dokter Alan.


“......”


“Okay I get it ( Baiklah aku mengerti )”


“......”


“Thanks Alan”


Poppa memutuskan panggilan.


“Ada apa Ndrew?”


“Little F tadi call gue. Dia bilang Little Star sudah siuman namun dia histeris berkali kali. Jadi gue call  Alan menanyakan hal itu”


“Apa karena reaksi Opiod Sintetis dan lainnya yang masuk ke tubuh Little Star?”


“Ya”


“Lalu Alan bilang apalagi?”


“Gue menanyakan hasil visum Little Star. Karena kalau menurut gue mungkin apa yang terakhir dia ingat soal dia yang hendak dilecehkan. Meski Abang yakin belum sempat terjadi apa – apa meski Drea sudah tidak memakai atasan, tetap saja gue penasaran”


“Dan hasilnya?” Tanya Daddy R lagi.


“Alan bilang hasilnya oke. Pelecehan pada Little Star tidak sampai sejauh itu” Jawab Poppa.


“Syukurlah jika begitu” Ucap Daddy R nampak lega.


“Ya sudah gue jalan dulu” Poppa bergegas untuk pergi ke Rumah Sakit.


“Wait gue ikut!”


**


Rumah Sakit ..


“Little Star ...”


Maka dia mempersilahkan Varen dan dua Mommynya serta Nathan jika ingin mendekat sekarang.


“Little Star ...”


Varen kembali memanggil dengan lembut.


Namun berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan kontak fisik dengan Andrea sesuai nasihat Marsha meskipun hanya sekedar menyentuh ujung baju pasien yang Andrea kenakan.


Varen coba tahan.


“Drea ...” Momma, Mommy Ara dan Nathan juga ikut memanggilnya.


Namun Andrea terdiam. Tidak histeris, tidak lagi meracau bahkan isakannya pun tidak lagi terdengar. Hanya ada bulir air mata yang turun terus menerus dari kedua bola matanya.


Yang ingin sekali Varen hapus dengan segera, lalu mendekapnya untuk mengatakan semua sudah baik – baik saja,


Little Starnya Abang tidak kenapa – kenapa. Tapi sayangnya Varen mengurungkan niatnya semula, karena Momma menahan tangannya lalu menggeleng pada Varen.


Abang patuh.


Andrea hanya berbaring dalam diam. Benar – benar diam. Dengan air mata yang belum berhenti dan matanya


memandang teguh ke langit – langit kamar diatasnya.


“Hei, Little Star...”


Varen memanggil lagi dengan selembut mungkin. Kini perlahan memajukan wajahnya agar Andrea bisa melihatnya.


“Drea....”


“Little Star ... Little Star bisa dengar Abang? ...”


“.....”


“Lihat sini Sayang....”


Andrea bergeming. Tatapannya kosong saja, bak raga tanpa nyawa.


“Little Star ...”


“A – ku sudah kotor ..”


“No, Little Star! Engga, Sayang!”


Varen sudah tak tahan. Di tangkup dengan cepat wajah Andrea dengan kedua tangannya dan langsung di tolehkan pada dirinya. Mereka yang bersama Varen terkesiap termasuk khawatir jika Andrea histeris lagi. Namun tidak. Untungnya Andrea tidak kembali histeris.


Tapi Andrea juga tak menunjukkan respon atas sentuhan Varen di wajahnya, meski Varen sudah memposisikan wajahnya sendiri tepat di hadapan wajah Andrea dengan begitu dekat.


Andrea tetap bergeming. Bola matanya seolah tak bergerak.


“Ka – lian jahat ...”


“Demi Tuhan Little Star, ini Abaang..”


“A – ku sudah tidak .. punya muka bertemu Abang ..”


“Little Star!”


“Drea....”


“Lihat Abang Little Star! Mereka ga sampai menyentuh kamu!”


Varen nampak sedikit hilang kendali. Di goyangkannya wajah Andrea, sedikit paksaan agar Andrea teralih padanya. Namun,


Nihil.


Andrea tetap bergeming, hanya mulai kembali meracau dengan tatapan kosongnya.


“Sadar Drea, Sayang ..” Momma melirih. Air matanya turun juga pada akhirnya. Seperti halnya Mommy Ara dan Nathan.


“Dengarkan Abang, Sayang” Varen mendekatkan mulutnya ditelinga Andrea. “Abang sudah menolong kamu. Mereka tidak sampai menyentuh kamu. Drea ga sampai diapa – apakan. Drea pingsan saat Abang datang”


Begitu, kalimat yang Varen ucapkan dengan pelan di telinga Andrea.


“Itu hanya pikiran kamu saja, Sayang. Little Star Abang Okay. Hal yang Drea takutkan tidak pernah terjadi, Sayang” Ucap Varen lagi. “Little Star dengarkan suara Abang, hem?”


Varen menarik wajahnya dari dekat telinga Andrea, dan menghadapkan kembali wajahnya itu dengan wajah Andrea.

__ADS_1


“Little Star..... dengar, kan?”


Namun sayangnya, Andrea masih bergeming. Tatapannya masih kosong, saja.


“Little Star...”


“Drea....”


“Ja ... Jahat....”


Sudah benar – benar mencelos hati Varen, seiring tenggorokannya yang tercekat. Hatinya pun terasa di remat, melihat Andrea yang tak meresponnya sama sekali padahal mereka sangat dekat sekarang.


“Do something.. (Lakukan sesuatu)... Sha....”


Varen rasanya begitu terpuruk melihat kondisi Andrea sekarang.


Istri kecilnya itu masih sesekali meracau dengan suaranya yang melirih. Dan itu seperti mengiris hati Varen dan dua Mommynya serta Nathan.


“Aku harus menunggu infusan sebelumnya habis dulu, Va. Baru aku bisa memberikan Andrea obat lain”


“Dia sampai tak mengenaliku begini Sha ..”


“Setelah masuk obat nanti, dia akan berangsur lebih baik Va. Bersabarlah sedikit lagi”


Marsha dan Rendy mengusap pelan pundak dan punggung Varen yang nampak putus asa itu.


“Ba...”


“Per .. gi ....kalian pergi.... per-gilah .. aku mohon ..”


“Little Star.....”


Varen tak jadi melanjutkan kalimatnya pada Marsha, karena Andrea intens meracau sambil terisak lagi.


“Ya... Drea... Cute Girl..” Nathan membelai kepala Andrea. “Ini kita Ya, orang – orang jahat itu udah ditangkep Drea ....”


“Ku-mohon pergi..”


“Ya Tuhan Little Star.. ini Abaannggg ...”


“PERGIIIII!!! ...”


Jeritan Andrea menggema lagi, ia mulai histeris lagi.


***


Varen melepaskan dirinya dari Andrea setelah Marsha sekali lagi menyuntikkan penenang pada istrinya itu. Varen bangkit perlahan dengan matanya yang sudah juga nampak berair, namun wajahnya kian mengetat dengan rahangnya yang nampak sangat mengeras.


Kondisi Andrea yang disaksikannya terasa begitu menyakitkan hati Varen. Berkali – kali ia menelan pedih salivanya. Mata Varen sudah memerah, warna merah yang menggambarkan luka, bercampur sedih dan amarah. Tangannya terkepal dengan kuat disisi kanan dan kirinya. Ia menggeleng pelan.


Nathan dan dua Mommynya menyadari raut wajah Varen sekarang. “Sudah...” Varen terdengar menggumam. Nathan dan Rendy mendekatinya.


“Bang ....”


“Aku sudah tak tahan!!”


“Abang ..” Momma dan Mommy Ara sama – sama berucap.


“Aku titip Drea!” Varen melangkah menuju pintu ruangan.


Varen nampak tergesa. Langkahnya berbalut gusar dan geramnya.


“Abang!”


Momma dan Mommy Ara mengejar, begitupun Nathan dan Rendy.


“Bang!”


“Va!”


Tangan Momma kesampaian mencekal langkah Varen hingga membuatnya berhenti.


“Abang mau kemana? Abang mau apa?” Tanya Momma.


“Membuat mereka membayar apa yang sudah mereka lakukan pada Little Star”


“Jangan Abang.... Mereka semua sudah dipenjarakan. Biar hukum yang menjerat mereka dengan ganjaran yang


pantas mereka terima. Mereka pasti akan dihukum berat Abang..”


“No Momma. Aku tidak percaya hukum. Jika hukum memang ada, hal ini tidak terjadi pada Little Starku” Ucap Varen dengan memandang pada Momma yang sedang mengiba, mencoba mencegah agar si Abang tidak melakukan hal – hal yang Momma takutkan.


Varen memegang tangan Momma yang berada di lengannya.


“Abang, jangan gegabah, Momma mohon ..” Pinta Momma. “Momma tahu Abang emosi, tapi Abang jangan


bertindak sendiri. Abang pasti gelap mata nanti. Jangan ya Abang ..... Abang disini aja temani Drea. Nanti dia cari kamu pasti ..”


“Iya Abang, tenanglah Sayang. Mereka tidak akan lepas dari jeratan hukum. Dads pasti akan membuat mereka tidak bisa lepas dari itu. Hukuman seberat – beratnya pasti akan menjerat mereka” Mommy Ara mendukung Momma yang menahan Varen untuk pergi.


Varen tersenyum miring.


“Aku, Sekarang aku lah hukum yang berlaku untuk mereka yang membuat Little Starku menjadi seperti itu”


Varen memandang dua Mommynya bergantian dengan tersenyum tipis.


“Aku titip Little Star”


“Abang!”


***


To be continue ...


💗💗💗💗💗💗💗💗


💟 DADDY R



 


 


💟 DADDY DEWA



 


💟 DADDY JEFF



 


 


💟 TAN - TAN



 


 


💟 POPPA



 


 


💟 PAPI JOHN



 


 


💟 ABANG



💖💖💖 AWAS MIMISAN 💖💖💖


😃😃😃😃😃😃😃😃😃😃

__ADS_1


__ADS_2