THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 40


__ADS_3

💗 BIKIN GUMUSH 💗


************


Jakarta, Indonesia ......


John tak mampu menghentikan senyumnya saat ini. Bahagia dalam hatinya begitu membuncah, meski sempat geram sebelumnya.


Prita menerima cintanya!.


Dan kini John merasa seperti seorang abg yang baru merasakan cinta. Terlalu berbunga – bunga.


John sempat khawatir kalau Prita akan tersinggung yang langsung mencium bibir Prita.


Karena kalau itu terjadi, Prita akan menjauh lagi dan John merasa dirinya akan frustasi. Tapi untungnya hal itu tidak terjadi. Prita tak menolak ciumannya, terlebih lagi rasa dalam hati Prita untuknya masih ada.


Dan kini John bahagia. Bahkan sampai hingga ia memejamkan matanya, senyumnya tak mampu ia hentikan.


“Oh Prita... aku tak sabar menunggu pagi datang ....”


Cieeee, yang bucin.


***


“Love Me. (Cintai aku) sepenuh hati kamu. Sebagaimana penuhnya hati aku yang mencintai kamu.”


‘Mimpi ga sih ini gue?.’


Prita begitu bahagia, berguling – guling ga jelas diatas ranjang milik John dikamar laki – laki itu, yang sudah dua kali ia tempati untuk menginap.


John tidak mengijinkan Prita untuk tidur di kamar tamu. Laki – laki itu justru yang mengalah untuk tidur di kamar tamu dan membiarkan gadis yang ia cintai itu tidur dikamarnya.


‘Hadeehh bukan penuh lagi hati gue juga. Lubeerrr....’


Senyuman lebar terpatri di bibir Prita.


‘Ya ampun lembut juga itu bibirnya si bule koplak.’


Si Priwitan gemes sendiri sembari menyentuh bibirnya, kemudian menggigit gemas bibir bawahnya sendiri dan cengengesan ga kelar - kelar.


‘Aaa ... pengen dicium agiiii....’


Amit dah ....


***


Kita ke bucin yang lainnya dulu..


“Hi Ji.” Jeff melakukan panggilan video keponsel Jihan.


“Halo Jeff ...” Sapa Jihan dari sebrang ponsel.


‘Halo juga cinta.’ Batin bucin Jeff menyahut. ‘Cantik banget ya Tuhan ....’


Batin Jeff terpesona.


“Kamu di kantor?.” Tanya Jeff basa – basi. Padahal ia sudah tahu dengan pasti jam berapa sekarang di Indonesia.


“Iya.. dimana lagi?.”


“Hemm ...”


“Kalau kamu mau bicara dengan Nathan sekarang kamu hubungi nomor ibu aja, Jeff.”


“Sudah.”


“Maksudnya kamu sudah telpon Nathan?.”


“Yap. Kenapa?.” Jeff bertanya karena Jihan nampak mengernyitkan dahinya.


“Hmm, ya ga apa – apa juga sih.” Sahut Jihan.


“Ga boleh kalau aku telpon atau video call kamu meski Nathan ga ada bersama kamu?.”


“Yang bilang ga boleh siapa juga?.” Jihan menyahut sambil tersenyum tipis.


“Cantik.”


Jeff menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


Jihan terdiam sejenak. “Baru sadar aku cantik emang?.”


“Sudah sadar dari dulu. Dari sejak Nathan on proses.” Jeff tersenyum jahil. 'Bikin gue gemas setiap kali ketemu sekarang.'


“A – apa?.”


“Aku sempat memperhatikan kamu kok saat aku terbangun lebih dahulu setelah malam panas kita waktu itu.” Si bule gila menampakkan wajah tengilnya.


“Ehem.” Jihan berdehem. Sedikit salting. “Sebaiknya itu jangan dibahas lagi.”


“Kenapa? Malu?. Atau takut?.” Ucap Jeff.


“Takut? Takut apa?.”


“Takut kamu menginginkannya lagi?.” Jeff masih menyeringai jahil.


“A – aku .. “ Semburat merah muncul diwajah Jihan. “Jangan bicara sembarangan, Jeff....”


“Wajah kamu merona, Ji. Ada kemungkinan aku benar ya?. Kalau kamu suka terbayang akan malam itu?.” Jeff terkekeh.


“Aku banyak kerjaan, bye!.”


Klik!


Jihan mematikan hubungan video call nya dengan Jeff. Alih – alih tersinggung, si bule gila malah tergelak. Merasa puas mengerjai dengan menggoda mamanya Nathan itu.


‘Aku rasanya bertambah yakin Ji, kalau kamu punya perasaan lebih sama aku.’


Jeff membatin sambil tersenyum memandangi ponselnya.


**


Kembali ke cerita bucin sebelumnya ...


Hari belum terlalu terang saat John sudah terbangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju tirai dalam kamar tamu di apartemennya dan membukanya lebar - lebar. John hendak berjalan keluar dari kamar tamu yang ia tempat untuk menuju ke kamarnya, mengecek Prita apakah gadis itu sudah bangun atau belum. Rasanya John tak sabar ingin lagi dan lagi melihat wajah Pritanya yang semalam bersemu meraih setelah ia mencium gadis itu.


Trinnnnggg!


‘Siapa sih pagi – pagi begini udah telfon?!.’


John menggerutu kembali kearah ranjang untuk mengambil ponselnya diatas nakas.


“Ya Halo Bi.”


“Selamat pagi Tuan John.”


“Iya Bi, ada apa?. Apa Bibi baik – baik saja?.” Tanya John sambil melirik jam di dinding kamar tempatnya berada sekarang.


“Maaf Tuan John, hari ini Bibi mungkin datang agak siang ke apartemen, anak, menantu dan cucu Bibi baru saja sampai Tuan.” Ucap wanita yang dipanggil Bibi oleh John itu, yang merupakan orang yang biasa mengurus apartemen John agar senantiasa bersih dan rapih.


“Ga apa Bi. Bibi ambil cuti saja.”


“Apa benar ga apa – apa Tuan?.”


“Ga apa – apa Bi. Ambil cuti selama yang Bibi inginkan.”


“Terima kasih Tuan John.”


“Sama – sama Bi. Salam untuk keluarga Bibi.” Ucap John.


“Iya Tuan, akan Bibi sampaikan. Terima kasih sekali lagi Tuan John.”


“Iya Bi.”


John pun memutuskan panggilan dan meletakkan kembali ponselnya diatas nakas.


John berjalan ke dapur setelah keluar dari kamar tamu yang ia tempati itu. Ia menyeduh kopi dan teh untuknya dan Prita, karena John belum melihat tanda – tanda Prita ada dilantai bawah. Ia berpikir untuk membawakan sarapan untuk Prita karena pengurus rumah yang biasanya datang untuk menyiapkan segala keperluannya jika John sedang berada di apartemen, sedang dibebastugaskan.


'Kalau gue bawakan sarapan untuk Prita ke kamarnya, kira - kira gue bisa dapat morning kiss ga ya?.'


John pun senyam - senyum sendiri, teringat lagi rasanya bibir si Priwitan semalam.


****


Prita terbangun dan langsung bersandar dikepala ranjang. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya..


“Waduh lewat subuh udah.” Gumam Prita saat melirik jam digital diatas nakas. “Ah lagian juga kaga ada mukena


disini.” Gumamnya lagi sambil bangkit dari tempat tidur untuk mencuci muka. “Kalo dirumah gue udah dikepret aer ini sama si mamah.”

__ADS_1


Prita  pun bergegas keluar dari kamar John setelah ia mencuci muka.


‘Eh iya gue belom ijin pinjem bajunya Kak John buat gue pake tidur.’ Prita membatin sambil berjalan keluar kamar menuju tangga. ‘Bodo ah. Sapa suruh ga mau anter gue ketempat Diana. Orang ga naro baju juga disini. Untung aje gue selalu pake short pant buat daleman, kalo kaga gue cuman pake celana dalem aje ama ini kaos.’


Prita terus menggerutu sambil berjalan yang tau – tau sudah berada dilantai bawah. Langkahnya tertuju ke dapur, sambil melirik kearah pintu kamar tamu yang ia lewati.


‘Belom bangun kali ya dia?.’ Batin Prita saat melihat pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Ia pun melanjutkan lagi langkahnya menuju dapur untuk meminum segelas air, dan mungkin membuatkan secangkir kopi buat ayang beb.


Ca elah... Si Priwitan cengengesan sendiri.


Langkah Prita terhenti saat ia melihat seorang pria tampan dengan celana panjang training abu tua tanpa kaos yang menutupi dada dan perutnya yang nampak berotot itu tengah sibuk sepertinya sedang membuat sesuatu.


‘Oh ya ampun, manekin toko versi idup.’ Prita tanpa sadar menelan salivanya. ‘Rasanya gue pengen minta di kekep.’


Bukan kali pertama dia melihat laki – laki yang shirtless, karena beberapa teman dancer nya yang pria kadang suka mengganti bajunya asal, bahkan kadang saat menari pun mereka tak menggunakan atasan. Tapi rasanya mereka semua tak se - menggoda makhluk yang sedang Prita lihat saat ini.


“Hey, Morning Prita.” Suara John memecah lamunan Prita sebelum menjadi ngeres beneran.


‘Morning juga cinta....’


“Baru bangun?.”


“I – iya Kak..” Sahut Prita.


“Sini, aku sedang buat sarapan. Bibi yang biasa datang sedang cuti hari ini.” Ucap John dan Prita mengangguk sambil berjalan mendekati John yang nampak sedang membuat sarapan itu.


“Emang Kak John bisa masak?.” Tanya Prita yang sudah berdiri didekat John namun terhalang meja marmer dapur.


“Bisa banget sih engga, tapi kalau pancake sama seduh kopi aja sih bisa.” Jawab John.


“Perlu bantuan?.” Prita mendekati John yang sedang membuat pancake itu.


“H-ha?. G – engga perlu. Sebentar lagi selesai kok.” Ucap Joh setengah terbata sehabis melirik si Prita yang berdiri


sambil menuangkan air putih kedalam gelas dan meminumnya. ‘Ish ini anak.’ Jantung John seketika berdebar melihat penampilan Prita yang mengenakan kaosnya itu. Bukan karena keberatan kalau Prita menggunakan kaosnya, John justru senang.


Tapi masalahnya kaos yang hanya sebatas paha itu menimbulkan tanda tanya besar karena tak nampak ada celana dibawah kaos yang Prita kenakan.


‘Ini dia hanya pakai kaos sama und*rwe*ar aja apa?.’ Bain John yang sedikit pecah fokus itu menerka – nerka dengan sedikit berdebar.


“Eh iya Kak, sorry ya gue pake kaos lo nih buat tidur. Abis lo nyuruh gue nginep disini sementara gue ga punya baju kan yang gue simpen disini.”


‘Oh Tuhan beneran dong Prita hanya pakai und*rwe*ar aja ini dibalik kaos?.’ Si piktor dalam otak John mulai menerawang.


“Oy, Kak John!.”


*‘S**t!.’ Tubuh John langsung meremang saat Prita menyentuh pelan lengannya. Terasa ada yang mulai nyut – nyutan diantara sela paha sibule koplak hingga ia spontan mengumpat. “Ap – pa ....?.”


“Ini kaos lo gue pake.” Ucap Prita lagi. “Malah bengong!. Hangus tuh pancake!.”


“Aish... kamu sih nih.” John setengah panik karena pancake diatas wajan teflon itu nampak hangus. Ia buru – buru mengangkatnya.


“Dih kok gue?. Elonya aja yang bengong.”


“Kamu ajak ngobrol lagian.” Sahut John. ‘Jadinya gue gagal fokus!.’


“Ini juga udah cukup kali, Kak.” Ucap Prita yang melihat beberapa lembar tumpukan pancake yang sudah jadi diatas piring hanya belum diberi topping. John menoleh.


“Yakin cukup itu untuk perut kamu?.” Ledek John sambil terkekeh.


“Ck! Apaan sih.”


Prita sekuat tenaga untuk bersikap biasa didepan John saat ini, padahal Prita sedang menahan air liurnya agar tak menetes yang kini sudah melihat lebih dekat perut berotot milik John.


‘Ai goo pengen gue usap – usap itu roti sobek.’


“Benar cukup nih buat kamu?.”


“Iya. Itu ada roti bakar juga kan. Cukuplah.”


“Ya sudah.” John menyajikan pancake didua pring yang berbeda menaburinya dengan gula halus putih dan madu


diatasnya.


Sebagian gula halus berwarna putih entah bagaimana ikut tertabur ke perut John serta pipinya.


“Kamu mau yang mana?. Pancake atau toast?.” Tanya John pada Prita.


‘Aku mau jilat itu gula putih yang nempel diperut kamu aja, Kak.’ Batin nakal si Priwitan berkata.

__ADS_1


**


To be continue...


__ADS_2